Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Nasehat Annisa


__ADS_3

Seminggu Berlalu.


Seminggu di rumah sakit, Fani mulai membaik. Selama ibunya dirumah sakit Furqan jarang kekantor. Ia serahkan pekerjaan kantor pada Maya. Furqan selalu memberi tahu Annisa tentang perkembangan kesehatan Fani. Kebencian Fani pada Annisa selalu di balas dengan doa yang tulus oleh Annisa.


Annisa akan kerumah sakit menjenguk Fani. Tapi, dia hanya sebatas depan ruang perawatan. Annisa tak ingin kedatangannya ke rumah sakit, mengganggu kesehatan Fani.


Sampai di rumah sakit, Annisa menyerahkan kotak makanan pada Susi.


"Kak...ini! semoga Tante menyukainya. Makanan itu aman untuk Tante!"


"Makasih ya, Nis! semoga ibu menyukainya". ucap Susi. Susi membawa makanan kedalam kamar perawatan. Furqan keluar menemui Annisa dan mengucapkan terima kasih atas. kepedulian Annisa pada ibunya.


"Makasih sayang! kamu sangat peduli pada ibuku meskipun dia membencimu".


"G apa-apa, kak! kita tak harus membalas kebencian dengan kebencian. Sebaliknya, balaslah kebencian dengan kebaikan. Jika semua orang saling membalas karena benci, g sedikit yang akan masuk penjara karena saling adu jotos. Jangan sampai Tante tahu kalau hubungan kita masih jalan. Takutnya, emosinya kumat lagi". ucap Annisa.


"Ia. Kak Susi juga tak berani cerita tentang kamu jika di dalam!" jawab Furqan.


"Kapan Tante bisa keluar dari sini?"


"Dia masih harus dirawat".


Annisa manggut-manggut tanda mengerti.


"Semoga Tante Fani cepat sembuh. Yang sabar ya, kak! Tante Fani pasti akan sehat kembali".


Fani bangun dari tidurnya dan memanggil Susi karena ia ingin makan.


"Susi...ibu mau makan, nak!" kata Fani pada putrinya.

__ADS_1


"Biar Susi suapin, Bu! tadi, Furqan bawa makanan enak untuk ibu. Ibu pasti suka". Susi Susi sengaja membohongi ibunya.


Susi menyuapi ibunya dengan sangat hati-hati.


"Susi...makanan apa ini?" tanya Fani.


"Kenapa, Bu? Ibu g suka?" tanya khawatir.


"Makanannya enak sekali. Nanti beliin makanan ini lagi ya!"


"Iya, Bu! nanti Susi beritahu Furqan. Ibu makan yang banyak, biar cepat sembuh!" ujar Susi pada ibunya.


Fani menghabiskan makanannya. Setelah selesai makan, Fani duduk selama setengah jam, lalu kembali berbaring. Setelah ibunya tidur, Susi keluar menemui Furqan dan Annisa diluar. Mereka berdua tidak ada ditempat.


Lah, mereka ke mana? tanya Susi pada dirinya.


Saat hendak masuk kembali ke dalam, Furqan yang baru datang memanggilnya.


"Kalian dari mana? aku mencari kalian, tapi kalian malah menghilang!"


"Kami dari kantin rumah sakit, isi perut sedikit". jawab Furqan.


"Tau g, ibu menyukai makanan yang di bawa Annisa!"


"Kakak g bilangkan, kalau itu dari Annisa?!"


"Kalau kakak bilang ke ibu, itu sama saja dengan membangunkan singa yang sedang tidur. Aku hanya bilang, kalau kamu yang beli. Ibu minta makanan itu saja yang kamu beli untuknya, katanya enak".


"Benarkah?! Alhamdulillah, kalau Tante menyukainya. Nanti besok, aku kirimkan makanan itu lagi". Annisa merasa senang.

__ADS_1


"Semoga dengan terus makan masakan Annisa, ibu bisa ketularan hal baik dari Annisa!" kata Furqan.


"G boleh bicara seperti itu tentang Tante, g baik, kak! cukup kalian bicara yang baik-baik saja pada Tante. Seperti, menceritakan kisah-kisah yang menyentuh hati. Sekeras apapun hatinya, pasti akan luluh juga".


"Annisa benar, Kak! kita harus selalu memberi wejangan pada ibu agar hati ibu terisi oleh hal-hal positif. Kalau kita diamkan, ibu akan semakin terjebak dengan penyakit hatinya". Furqan mendukung usul Annisa.


"Benar juga apa katamu, Nis! selama ini, tak ada yang berani menasehati ibu. Ibu selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang g bagus untuk orang seusianya. Kalau g bergosip bersama teman arisannya, pasti hura-hura. Ibu sudah harus menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya". Susi pun setuju dengan usul Annisa.


"Kak...Aku mewakili keluarga, meminta maaf karena sudah membuat Tante menderita. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sempat benci pada Tante, tapi...aku ingat pesan orang tuaku. Sejahat apapun orang pada kita, jangan balas pula dengan kejahatan. Tunjukkan sikap baik kita pada orang yang menjahati kita. Tak ada yang tak mungkin. Secara perlahan, pasti akan sadar juga".


"Kamipun seperti itu. Atas nama keluarga, aku juga minta maaf. Karena ibuku, Kamu dan Aldi kehilangan kedua orang tua kalian. Aku juga hanya bisa berdoa, semoga dengan sakitnya ibu, ibu bisa menyadari kesalahannya selama ini. Sudah lelah aku mengingatkan ibu, agar tidak lagi memelihara dendam, tapi...ibu selalu saja banyak alasan. Aku sudah berencana tinggal di apartemen, ibu malah tersandung kasus. Terpaksa aku urungkan niatku. Satu lagi, yang membuat aku tetap bertahan di rumah, yaitu keluargamu. Aku sampai iri pada mereka". Kata Susi panjang lebar.


"Keluarga lebih penting dari segalanya. Harta bisa kita dapatkan asalkan kita mau berusaha. Tapi keluarga, terutama orang tua. Mereka adalah orang berjasa dalam hidup kita. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakannya, walau terkadang ada hal yang dia inginkan bertolak belakang dengan keinginan kita. Jangan karena satu keinginan kita tidak ia setujui, lantas kita mau membantahnya. Sewaktu kita masih dalam asuhannya, banyak hal yang dia korbankan untuk kebahagiaan kita. Rela tidak makan, asal kita tidak lapar. Jika anaknya sakit, maka ia akan berdoa agar rasa sakit itu dipindahkan kepadanya. Ia menjaga anaknya agar tidak ada yang menyakitinya. Yang dilakukan Tante Fani dimasa lalu, itu juga pasti demi anak-anaknya. Tidak bisakah satu kesalahannya ditutupi dengan seribu kebaikannya? Tidak mampukah kita menjaga hatinya agar ia tidak merasa buah hatinya menyia-nyiakannya? Kak...kenapa aku selalu menunggu restu dari Tante? karena aku tak mau menjauhkan seorang anak laki-laki dari surganya. Sebahagia apapun kakak dengan pasangan kakak, jika seorang ibu terabaikan maka tak akan pernah ada surga dan kedamaian dalam keluarga itu. Bersabarlah! jika Allah berkehendak, jodoh tak akan kemana. Bahagiakan lah dia selagi masih ada kesempatan. Jangan sia-siakan pengorbanannya saat seorang ibu melahirkan kita". Annisa memberi wejangan pada Susi dan Furqan. Furqan hanya bisa berucap dalam hatinya.


Tak terasa air matanya membasahi pipi mulusnya. Jika sudah membahas tentang orang tua, ia selalu teringat kedua orang tua yang membesarkannya. Ia tak pernah lupa pengorbanan orang tuanya. Bukannya hanya Annisa yang meneteskan air mata, Susi seakan ingin berteriak mengingat perilaku kasarnya pada ibunya. Furqan yang mendengar kata-kata Annisa seakan tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Furqan seakan tak bisa menelan ludahnya. Napasnya terasa sesak seolah tak ada ruang untuk bernapas. Furqan hanya bisa berucap dalam hatinya.


Hatimu terbuat dari apa sih, Nis? Hatimu selembut sutra. Semakin engkau sering mengingatkanku, hati ini makin dipenuhi olehmu. Cinta tak membuatmu buta hati. Justru dengan cintamu, engkau menyadarkanku dari keegoisan.


Dengan sesenggukan, Susi meraih tangan Annisa dan menggenggamnya.


"Nis...terima kasih atas semuanya. Kamu telah menyadarkan aku. Aku banyak salah sama ibu selama ini. Aku...aku selalu membangkang, hiks hiks hiks!"


Susi mengakui kebaikan hati Annisa. Itulah sebabnya, Ia mendukung penuh hubungan adiknya dengan gadis berparas cantik dan berakhlak tersebut.


"Oh ya, kak! kalau gitu aku pulang dulu ya. Soalnya masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Dan...nih, buat kak Susi. Tidak boleh di tolak. Ini bukan sogokan, kak. Kebetulan, bisnis aku udah melebihi target. Karena sudah melebihi target, sebagian keuntungan berupa uang ataupan barang akan bagikan kepada saudara sebagai hadiah. Emang sih, kakak bisa membelinya, tapi g ada salahnya kakak menerima pemberianku!"


Susi menyeka air matanya.


"Makasih ya, Nis! tapi...apa ini?"

__ADS_1


"Nanti aja bukanya, setelah aku pulang!" Annisa pun pamit pulang. Furqan mengantar Annisa sampai di parkiran. Kemudian, Ia kembali menemui Kakaknya.


Keduanya duduk merenungi semua ucapan Annisa. Ucapan Annisa seperti aliran listrik yang dapat menghanguskan tubuh mereka.


__ADS_2