
Di kediaman Aldi
Saat sedang santai di ruang tengah, Aldi tiba-tiba menanyakan kejadian di restoran yang menimpa Annisa. Annisa nampak tenang mendengar pertanyaan dari kakaknya.
"Sudah Nisa atasi kak. Hanya masalah sepele saja, kak Aldi jangan khawatir!"
"Masalah apa? kenapa ibu g tahu? kalian sengaja menyembunyikannya dari ibu?!" tanya Erina heran dengan tingkah anak-anaknya.
"Maafkan Nisa Bu! bukannya Nisa g mau beritahu ibu, tapi Nisa g mau ibu khawatir. Nisa masih bisa atasi sendiri. Kan ibu yang ajari Annisa agar menjadi wanita tangguh dalam menghadapi situasi apapun. Sepertinya, Annisa harus sedikit mengeluarkan ketegasan Annisa agar tidak diremehkan lagi. Ibu setuju kan?" tanya Annisa pada Erina.
"Itu yang ibu harapkan. Dan kamu Aldi, pantau terus adikmu, sewaktu-waktu dia pasti butuh bantuan!" titah Erina pada kedua anaknya.
"Apa kegiatanmu hari ini?" tanya Aldi pada adiknya.
"Nisa akan menyelidiki Anggita hingga anak buahnya. Setelah itu, Nisa akan membereskannya secara perlahan-lahan". ucap Annisa.
"Jangan gegabah kalau bertindak. Terkadang, kita melihat lawan itu lemah, tapi mereka bisa menghancurkan dalam sekejap".
"Siap kak! Nisa akan berhati-hati".
Erina hanya bisa tersenyum melihat anak-anaknya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dirinya tak perlu terlibat terlalu sering. Ia hanya akan ikut campur ketika diperlukan.
kemudian, Annisa dan Aldi meninggalkan Erina dan siap melakukan tugas masing-masing. Berkat ayah angkatnya, Annisa menjadi gadis yang kuat dan mandiri sehingga ia tak perlu berbangga diri dengan harta peninggalan orang tuanya. Annisa memulai rencananya dengan mengikuti sebuah mobil putih yang ia ketahui kalau itu adalah milik Anggita. Anggita berhenti di sebuah mall untuk belanja keperluannya. Beruntung ia memiliki uang tabungan dan harta orang tuanya yang bisa menjaminnya meskipun ia sudah tidak bekerja lagi. Sedang sibuk belanja, Annisa datang menghampirinya.
"Hai Anggita...apa kabar?" tanya Annisa.
__ADS_1
Anggita serentak menoleh ke belakang karena ada yang menegurnya. Ia tak menyangka kalau Annisa mengenalnya meskipun ia sudah merubah penampilannya dan Annisa berani mendekatinya.
"Bagus juga mata kamu! kami bisa mengenalku dengan penampilanku yang sekarang". ucap Anggita.
"Aku tidak perlu memakai kacamata untuk mengenalimu. Aku ingin bicara denganmu, kamu tidak keberatan kan?" tanya Annisa.
"Oke!" jawab Anggita santai.
Keduanya keluar mall dan mencari sebuah restoran untuk berbicara empat mata. Setelah menemukan restoran yang pas, Anggita dan Annisa memilih tempat yang paling aman.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Anggita.
Annisa menatap tajam pada Anggita. Tatapan itu membuat Anggita sedikit terganggu karena ia tahu siapa Annisa. Gadis yang ia remehkan tapi ternyata mampu menghancurkan kehidupannya.
"Itu bukan urusanmu!"
"Itu menjadi urusanku Anggita. Semua masalahmu dengan keluarga Tante Fani karena hubunganku dengan Furqan, bukan?"
"Jika memang itu alasannya, apakah kamu ingin aku memaafkan kalian?" tanya Anggita.
"Mengapa kamu harus dendam? seharusnya kamu menyadari jika hal buruk yang terjadi padamu juga karena dirimu sendiri. Kamu memaksakan sesuatu untuk menjadi milikmu dengan berbagai cara. Jika Furqan adalah jodohmu, seburuk apapun kamu sekarang ini kamu pasti akan menjadi miliknya. Jika dia bukan jodohmu, sekuat apapun kamu berusaha kalian tidak akan bisa bersama. Berusaha itu perlu tapi jika sudah melewati batas, itu akan merusak diri kita sendiri. Itulah yang kamu alami sekarang ini". nasehat Annisa pada Anggita.
"Aku sudah tidak peduli dengan cintaku pada Furqan. Apa hanya ini yang kamu bicarakan denganku? jangan membuang waktuku Annisa, aku banyak urusan!"
"Anggita...berhentilah melakukan berbagai kejahatan pada keluarga Tante Fani dan juga kepadaku. Aku tahu, anak buahmu berjaga-jaga diluar. Sudah cukup kamu dan Tante Lidia melakukannya. Ataukah kamu ingin menyusul Tante Lidia ke penjara? jika masih memiliki niat untuk membalas dendam kepada orang-orang yang kamu benci, aku sendiri yang akan membawamu ke penjara. Aku memiliki semua bukti kejahatanmu. Sebaiknya jalani hidupmu dengan baik, jangan semakin membuat dirimu terpuruk. Jangan hanya karena seorang laki-laki, kamu melupakan harga dirimu. Tuhan selalu memberi kesempatan kedua bagi hambaNya yang ingin berubah".
__ADS_1
"Jangan menceramahiku, Annisa! aku tidak butuh ceramahmu itu. Sebaiknya engkau pergi dari sini, sebelum aku menyuruh anak buahmu melukaimu!"
"Anggita...aku hanya ingin mengingatkanmu agar tidak melangkah terlalu jauh. Sebagai sesama wanita, sudah kewajibanku untuk mengingatkanmu. Apa yang kau lakukan saat ini hanya semakin membuatmu lebih buruk!"
Annisa meninggalkan Anggita. Baru beberapa langkah, Annisa berhenti dan balik badan, kemudian meminta Anggita untuk memikirkan ucapannya.
"Pikirkanlah!" pinta Annisa pada Anggita.
Kemudian, Annisa meninggalkan Anggita yang menahan amarah. Setelah Annisa hilang dari pandangannya, Anggita melepaskan topi yang dipakainya dengan kasar.
Percuma engkau menceramahiku, aku tidak akan mundur sedikitpun. Dendamku harus terlaksana! ucap Anggita dalam hatinya.
Anggita meninggalkan restoran dengan kesal. Ia kembali ke kediamannya dan menyuruh anak buahnya untuk berkumpul. Anggita mengingatkan anak buahnya untuk lebih berhati-hati terhadap Annisa. Kemudian, Anggita memilih tidur lebih awal agar pikirannya bisa tenang.
Anggita...kasihan sekali dirimu. Engkau tak mampu mengendalikan dirimu. Engkau memalukan Anggita! Furqan g pantas untukmu. Lihatlah dirimu, kau hanya wanita kotor dan menjijikkan. Kau menjijikkan, sangat menjijikkan. Kamu g punya harga diri dan kehormatan, ha ha ha!
Tidaaaaaak...!!!
Anggita terbangun dari tidurnya sambil teriak. Ia mimpi buruk. Dalam mimpinya, Ia dihinakan oleh semua orang. Tak terasa air matanya mengalir. Anggita teringat pertemuannya dengan Annisa.
Kenapa engkau harus hadir dalam kehidupanku, kenapa? engkau menjadi mimpi buruk bagiku, Annisa. Jika engkau tidak menemuiku, aku g akan mimpi seburuk ini. Kau mimpi burukku, Annisa!
Anggita memeluk bantal untuk menenangkan dirinya. Pertemuannya dengan Annisa membuat tidurnya tidak nyenyak. Seketika terngiang pesan Annisa padanya. Semakin ia mengingatnya, air matanya semakin terus membahasi pipinya. Sejahat apapun ia pada Annisa, Annisa masih mau mengingatkannya. Dengan kondisi berantakan, Anggita bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri di depan cermin miliknya. Ia berbicara pada dirinya sendiri.
Ada apa denganku? kenapa aku jadi lemah seperti ini? mengapa aku harus mengingat Annisa? dia hanya menjadi mimpi buruk bagiku. Tidak...aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh terpengaruh oleh ucapannya. Jika aku tidak bisa bahagia dengan Furqan, kaupun g boleh mendapatkannya. Akan kubuat kau mengalami mimpi buruk sepertiku, mimpi yang tidak ingin semua orang mengalaminya. Lupakan tentang nasehat Annisa, karena dia hanya ingin melemahkanku. Annisa...cukup sekali ceramahmu itu menghantui dalam tidurku. Aku tidak akan memberimu kesempatan lagi untuk bicara denganku, karena kau hanya akan menjadi mimpi buruk.
__ADS_1