Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
wanita bayaran


__ADS_3

Waktu terus berputar meskipun banyak yang menginginkannya berhenti sejenak ataupun kembali mengulang waktu yang telah lalu. Entah karena menyesali keadaan hari ini atau ingin mengulangi yang waktu yang telah disia-siakan. Adapula yang selalu mensyukuri atas waktu yang telah diberikan oleh sang pemilik waktu.


Annisa dan rekan kerjanya semakin bersemangat menjalankan aktifitasnya. Rumah makan "Sahabat" semakin maju, bahkan bisa menyaingi restoran besar. Hari ini, rumah makan "Sahabat" akan memberikan diskon kepada orang-orang tertentu yang akan ditentukan dengan mengetahui alasan mengapa memilih menu tersebut. Setiap meja sudah diletakkan satu sampai lima kartu untuk imenuliskan alasannya, tentunya dengan nomor mejanya dan kursinya. Annisa dan teman-temannya kewalahan melayani pelanggan yang sudah ramai.


Beberapa jam kemudian, Sebuah mobil mewah masuk keparkiran. Keluarlah seorang ibu kemudian disusul seorang wanita cantik, tinggi, putih dan menggunakan pakaian yang bernilai puluhan juta.


"Ayo, Bu!" ajak Anggita mengajak ibunya masuk.


"Ayo! sepertinya di dalam makanannya enak-enak deh!"


Ibu dan anak masuk kedalam rumah makan,


Kania yang melihat mereka terkejut dan segera menghampiri Fitri dan Siska.


"Fit, Sis...lihat siapa tamu kita?"


"Emangnya siapa?!" tanya Fitri penasaran


"Itu!" Kania menunjuk kearah Anggita dan ibunya


Fitri dan Siska tertegun melihat Anggita berada di rumah makan Sahabat. Annisa ikut nimbrung bersama temannya.


"Kalian liatin apaan sih?" Annisa ikut penasaran.


"Lihatin model terkenal di negara kita, bahkan diluar negeri!" jawab Kania.


"Mana orangnya? apa dia datang ke sini?!"


"Iya, Nis! dia menjadi langganan kita hari ini. coba kamu lihat meja paling sudut sana, itu orangnya. Dia benar-benar cantik, Nis!" ucap Kania


Annisa pun menoleh ke meja yang ditunjuk Kania. "Emang namanya siapa?"


"Ya Tuhan, Nis...! masa sih kamu g tahu siapa namanya? Kamu g pernah baca koran atau majalah ya?" Kania heran dengan Annisa yang tak mengenal model terkenal di negaranya sendiri


"G sempat baca gituan. Aku sibuk latihan Taekwondo sepulang kuliah atau malam hari. Itulah sebabnya Aku g pernah tahu soal dunia model atau artis!"


"Namanya Anggita Dwipangga, seorang model papan atas yang terkenal sampai ke luar negeri!" Jelas Kania


"Ooo gitu! oke, aku lanjut dulu ya! masih banyak kerjaan di belakang." Annisa bergegas kebelakang meninggalkan teman-temannya yang kesal dengannya karena ketidak tahuannya akan dunia modeling. Fitri, Kania dan Siska pun segera melakukan pekerjaannya. Ketika Kania hendak kebelakang, Dirinya mendengar ada yang memanggil.


"Pelayan!"


Kania menoleh kearah suara, ternyata suara dari Anggita. Kania tak bisa melayani, karena itu tugas Annisa dan Siska. Kania segera mencari keduanya."Nis...! ada pelanggan tu, si model itu."


"Oke!" jawab Annisa


Annisa melayani Anggita dan ibunya. Annisa segera memberikan nota pesanan pada bagian belakang. Setelah menu yang dipesan tersedia, Annisa segera membawa ke meja yang akan di tuju.


Anggita memperhatikan Annisa, kemudian menanyakan namanya. "Nama kamu siapa?"


"Annisa, mbak!"


"Kalau kamu melakukan perawatan, kamu pasti lebih cantik!"


"Terima kasih! Maaf, saya harus kebelakang dulu, permisi!"


"Silahkan!"


Belum juga makanannya di santap, Anggita tiba-tiba berdiri dan memanggil seseorang yang baru masuk.


"Furqan...!"


Furqan menoleh ke arah Anggita. Furqan menunjukkan sikap biasa2 saja, seolah mereka g ada masalah. Furqan mendekati mereka berdua.


"Tante makan di sini?"


"Ia. sejak di Australia, Tante sudah jarang makan makanan khas Indonesia. Kebetulan Tante dan Anggita lewat sini dan melihat tempat ini. ya udah, Tante ajak Anggita makan di sini saja. Tante lihat menu di sini banyak, pasti makanannya enak-enak?!"


"silahkan dilanjutkan,Tante! saya masih ada urusan di dalam," Furqan meninggalkan Anggita dan ibunya.


Anggita kelihatan kesal dengan sikap Furqan padanya. Dirinya belum pernah ditolak seperti Furqan menolaknya. Tapi kenyataannya, dirinya seperti tak berharga di mata lelaki tampan yang berhasil mencuri hatinya.


Furqan masuk keruangan VIP. Furqan menekan tombol intercome yang menghubungkannya dengan bagian pelayan dan ruangan Bu Farah. Bu Farah segera keluar dan menemui salah satu pelayannya. "Annisa! kamu yang layani, segera!" perintah Bu Farah g bisa di bantah.


Annisa menuju keruangan VIP. Sepasang mata terus mengawasi ruangan VIP, termasuk Anggita. Anggita merasa ada yang aneh dengan Annisa, karena Annisa melangkah seolah-olah enggan masuk keruangan VIP. Annisa tiba didepan ruangan VIP, dan menekan tombol sebagai tanda pelayan telah datang.


Furqan menampakkan wajah biasa saja, tapi hatinya sangat senang seolah ingin lompat memeluk sang pujaan.


"Duduk sini, di depanku!"


"Haaaaaa...., duduk! g mau, saya masih banyak kerjaan. Anda mau pesan apa?"

__ADS_1


"G pesan apa-apa. Saya hanya ingin bicara denganmu."


"Tuan yang terhormat, jangan menahanku disini, saya bisa dipecat kalau tidak bekerja!"


"Menemaniku adalah pekerjaanmu!"


"Kalau tidak memesan sesuatu, saya permisi!"


Annisa balik badan untuk keluar ruangan. Tangan Furqan spontan menarik lengannya dan membuat Annisa terduduk di sampingnya. Buru-buru Annisa menjauh.


"Tuan, anda ingin melecehkan saya?"


"Maafkan saya, Annisa! saya tidak bermaksud kurang ajar padamu. Tapi turuti dulu permintaanku untuk menemani saya di sini, sebentar saja, setelah itu kamu bisa keluar!"


"Tapi tuan, saya bukan wanita bayaran yang bisa kapanpun anda perintah untuk menemani tuan. Apa kata orang tentang rumah makan ini, kalau melihat pelayannya menemani pelanggannya seperti ini? jangan karena keegoisan tuan, rumah makan ini dicap yang tidak-tidak oleh pelanggan lain. Tolong mengerti dan pahami keadaan kami!" Annisa meminta pengertian pada Furqan.


Sementara Anggita yang sejak tadi mengamati ruangan VIP semakin curiga pada Furqan dan Annisa. Ia berdiri menuju ruangan itu dan masuk tanpa permisi. Saat dirinya masuk, Furqan duduk dengan santai dan Annisa berdiri dekat pintu masuk dengan memegang menu makanan yang akan diperlihatkannya pada Furqan. Kedatangan Anggita membuat Furqan kaget tapi tidak dengan Annisa. Annisa malah senang karena terbebas dari penjaranya Furqan.


"Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa permisi?"


"Fur, aku cem...!"Anggita menggantungkan ucapannya karena Furqan mengusirnya.


"Keluar, cepat keluar sebelum Aku panggil keamanan!" Furqan mengusir Anggita


"Tapi...!"


Furqan melotot menatap Anggita. Anggita merasa dipermalukan di depan Annisa. Ia menatap Annisa dengan menahan amarah. Segera ia keluar dan menemui ibunya.


"Kamu dari mana?"


"Dari toilet, Bu!" Anggita membohongi ibunya.


Berani sekali dia mengusirku. Apa hubungan dia dengan pelayan itu? dia memang cantik, walaupun tidak menggunakan riasan, kecantikannya nampak begitu nyata. Siapapun yang memandangnya pasti akan tertarik. Aku harus cari tahu apa hubungan mereka, bathin Anggita


"Bu, ayo kita pulang!"


"Tapi Anggita, Ibu belum menghabiskan makanannya. makanannya enak-enak, nak!"


"Kalau gitu, Anggi pulang duluan, Bu!" Anggita kesal dengan ibunya dan pergi hendak meninggalkan ibunya.


"Tunggu ibu, Anggi!" Lidia segera menyusul putrinya.


"Kalian berdua membuatku menunggu lama. Kalian habis dari mana sih?!" Furqan kesal dengan kedua sahabatnya.


"Tapi, kamu senangkan berlama-lama di dalam? setidaknya kamu bisa menatap si dia!" Canda Fendi pada Furqan.


"Senang apanya? g ada senangnya kalau menunggu, paham!"


Sesaat Furqan melihat Anggita. "Fen, Al! Kenalin, Anggita anak sahabat ibuku. Kalian tahu kan siapa dia?" Furqan memperkenalkan Anggita pada Aldi dan Fendi.


"Siapa yang g kenal dia? model papan atas di negara kita dan luar negeri kan?" ucap Fendi dengan santai


"Masih mau ngobrol atau...?!" Aldi menggantungkan ucapannya.


Furqan, Aldi dan Fendi meninggalkan Anggita dan ibunya. Lidia merasa, kedua teman Furqan tak seperti laki-laki yang selalu ia temui kala mendampingi Anggita. Mereka berdua tidak menunjukkan kekaguman pada kecantikan putrinya. Keduanya seolah tidak melihat seorang model terkenal.


"Bu...aku ini cantik g sih?! mereka g ada kagum-kagumnya sama aku!" rengek Anggita pada ibunya.


"Sudah, kita pulang saja! untuk apa memikirkan mereka berdua, fokuskan saja perhatianmu pada Furqan kalau tidak ingin menyesal. Dia tambang emas yang mungkin tidak akan pernah kamu dapatkan kedepannya, ingat itu!" Lidia mengingatkan putrinya yang tergoda dengan kedua teman Furqan.


Lidia dan Anggita pun meninggalkan rumah makan menuju kediamannya setelah seharian keliling kota. Furqan, Aldi dan Fendi membahas kerjasama antara perusahaan Putra Jaya dan "Mitra Abadi". Annisa yang melayani mereka bertiga. Setelah menandatangani nota kesepakatan, mereka bertiga meninggalkan rumah makan dan kembali keperusahaan.


Setibanya di perusahaan, Furqan yang kembali mendapatkan energi karena beberapa jam bersama Annisa segera memanggil sekretarisnya. "Maya...keruanganku sekarang!"


Maya bergegas masuk keruangan bosnya.


"Atur meeting dengan dewan direksi secepatnya!"


"Baik, Pak! oh ya pak, tadi ada yang ingin bertemu dengan bapak, tapi saat saya hubungi nomor bapak tidak aktif!"


"Siapa?"


"Dari perusahaan "Agung Pratama", tapi bukan Pak Herman. Besok, beliau ke sini lagi!"


Pasti pak Kuncoro. Kasihan beliau, akibat ulah putranya, dia harus datang sendiri menemuiku. bathin Furqan.


"Ya sudah, saya sudah tahu. Kembalilah bekerja!"


"Baik, pak!" Maya kembali bekerja seperti biasa.


Terkadang kesibukan membuat orang lupa, baik lupa makan, lupa istirahat dan lupa waktu. Seperti halnya wanita-wanita cantik dan laki-laki gagah yang ada di rumah makan "Sahabat". Karena ramainya pelanggan, membuat mereka lupa waktu. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka sibuk dengan pekerjaan, tapi ditempat lain ada yang sibuk melakukan pendekatan.

__ADS_1


Malam hari, Fani kedatangan tamu. Anggita sering kerumah Furqan agar dirinya lebih dekat dengan keluarga Furqan terutama ibunya.


"Anggita...maafin tante ya, atas penolakan Furqan terhadapmu! tapi kamu jangan khawatir ya sayang, Furqan itu selalu nurut apa kata Tante. Dia tidak mau kalau tante sedih. Furqan pura-pura menolakmu. Siapa yang tidak mau dengan wanita secantik kamu? hanya kamu yang lebih pantas mendampingi dia. Itulah sebabnya, dua tahun lalu Tante tidak menyetujui hubungannya dengan seorang gadis yang dia perkenalkan pada Tante, karena tante ingat kamu. Kamu tenang saja ya, sayang!"


"Ia, Tante! Anggita percayakan ke Tante. Oh ya Tan, yang lain kemana? kok sunyi?!"


"Susi dan Fiona sedang keluar, sebentar lagi mereka pulang. Begitulah anak gadis, maunya happy2 saja. Anggi, dah makan belum?"


"Belum, Tan!"


"kalau gitu, ayo temani Tante makan malam! g usah malu, anggap rumah sendiri. Kamu kan calonnya Furqan!" tawaran Fani membuat Anggita merasa diatas awan.


Fani dan Anggita hanya makan malam berdua. Keduannya makan sambil ngobrol tentang Furqan. Obrolan Anggita dan Fani terhenti tatkala mendengar bunyi klakson mobil. "Siapa, Tan?" tanya Anggita.


"Mungkin Susi dan Fiona."


Tenyata bukan Susi dan Fiona yang pulang, tapi putranya. Bergegas Fani menyambut putranya.


"Furqan...kirain kakak dan adikmu, ternyata kamu! Cepat ganti pakaianmu, temani ibu makan malam!"


Furqan menuju kamarnya. Setelah ganti pakaian, ia segera turun dan menemui ibunya dimeja makan. Furqan kaget melihat Anggita ada dimeja makan. Furqan segera menyantap makanannya. Begitu pula Anggita dan Fani. Hanya beberapa menit, mereka bertiga menyelesaikan makan malamnya. Anggita pura-pura pamit pulang, karena takut kemalaman.


"Tan, aku harus cepat pulang, takut kemalaman!"


"G usah buru-buru! nanti Furqan yang akan mengantarmu," ucap Bu Fani sambil menatap putranya.


"G perlu, Tan! aku bisa pulang sendiri. Nanti aku ke sini lagi."


"Kamu g boleh pulang sendiri. Fur...antar Anggita pulang!" Fani ngotot melarang Anggita dan memaksa Furqan untuk mengantar gadis pilihannya tersebut.


"Ya sudah!" Furqan lebih dulu keluar dan masuk mobil, dan disusul oleh Anggita. Anggita hendak duduk di depan, tapi Furqan lebih dulu mencegahnya.


"Di belakang!"


Anggita nurut saja tapi dalam hatinya berkecamuk. Anggita berusaha menanamkan sifat sabar dalam dirinya yang tentunya bertolak belakang dengan sifat aslinya.


Demi berburu kijang emas, aku harus berani dan sabar melalui jalan penuh rintangan. Kau akan kubuat bertekuk lutut dan mengemis cinta padaku! bathin Anggita


Tak ada percakapan antara mereka berdua, hingga sampai di depan rumah Anggita. Ibu Lidia tersenyum bahagia melihat putrinya diantar oleh Furqan. Anggita turun dan Furqan pamit pada ibu Lidia. Kemudian, Furqan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumahnya.


Sementara dirumah, Lidia kepoin putrinya.


"Cie-cie, pulang diantar sang pujaan!"


"Udah deh, Bu! Ibu tau g, dalam mobil aku seperti patung. G diajak ngobrol sedikitpun, g ada romantis-romantisnya itu cowok. awas aja, akan kubuat dia bertekuk lutut dan mencintaiku hingga dia lupa akan dirinya sendiri!" Ucap Anggita meyakinkan dirinya sendiri.


"Semangat itu yang ibu suka. Jangan putus asa, ataupun menyerah. Lakukan apapun yang bisa membuatnya mencintaimu, oke!" Lidia menyemangati putrinya.


"Oke, Bu!"


Di tempat Lain


Aldi menjemput adiknya dari rumah makan "Sahabat". Mereka berdua tidak langsung pulang ke rumah, tapi hendak ke restoran Fendi. Annisa sengaja tidak makan malam karena sudah janji sama kakaknya.


Annisa dan Aldi sampai di restoran dan segera memakirkan mobilnya. Aldi turun di susul Annisa, dan langsung masuk ke dalam restoran. Aldi sudah reserfasi tempat sebelumnya. Mereka berdua duduk di meja paling sudut agar tidak ada yang mengganggu obrolan mereka. Pelayan datang membawa pesanan.


"Dek!"


"Iya, kak!"


"Kakak mau nanya, bagaimana menurut kamu pak Furqan itu?"


"Ummmmm, gimana ya kak. Selama aku kenal dia, dia itu g ada baik-baiknya. selalu membuatku emosi. Dan, yang paling aku benci darinya adalah dia itu suka memaksa dan terkadang menarik aku agar bisa dekat dengannya. Dia normal g sih, kak?!"


"Ha ha ha! jika dia mendengar pertanyaanmu itu, entah apa yang akan dilakukannya padamu. Jadi, jangan berprasangka buruk dulu sebelum kita kenal dekat dengan orangnya. G baik punya sifat seperti itu!"


"Nisa...dengarkan aku baik-baik! sejak aku memutuskan untuk menjadikanmu adikku, sejak itu pula, aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjagamu dan memberikanmu yang terbaik, termasuk menentukan siapa yang akan menjadi pendampingmu nantinya. Mungkin kamu menilaiku berlebihan, tapi itulah dorongan dari hatiku. Aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku sendiri. Jadi, apapun yang kamu inginkan, beritahu aku tapi jangan yang mahal-mahal, nanti aku g bisa penuhi!" ucap Aldi diselingi candaan karena melihat Annisa menitikkan air mata.


"Kak Aldi! Aku sedih ni, malah digituin!"


"maaf adikku sayang!"


"Dek! mulai besok, kamu harus tinggal bersamaku. meskipun kamu jago bela diri, bahaya itu harus dihindari bukan ditantang. apalagi Herman terus membuat masalah!"


"Tapi...!"


"G ada tapi-tapian. ayo kita pulang, ini sudah larut malam. kakak akan antar kamu pulang, dan besok kakak akan menjemputmu untuk pindah kerumah kakak, oke!"


"Baiklah!"


Aldi dan Annisa segera meninggalkan restoran dan menuju rumah Annisa. Mereka pun sampai di rumah Annisa. Annisa turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya. Aldi pamit dan balik ke rumahnya. Kesunyian malam membuat sebagian penghuni bumi menikmati mimpi indahnya.

__ADS_1


__ADS_2