
Setelah pertemuannya dengan Annisa, Furqan kembali merasakan kebahagiaan yang sempat hilang dalam hitungan detik. Sebelum ke kantor, Furqan sarapan bersama kakak dan adiknya. Susi mengamati perubahan adiknya yang menunjukkan kalau dia sedang bahagia. Furqan menikmati sarapan paginya dengan santai.
"Fur...kayak ada yang aneh dengan kamu?!"
"Aneh gimana, kak? aku biasa aja".
"Kemarin kamu tak ada semangat hidup, hari ini, aku lihat kamu seperti sedang bahagia!"
"Itu perasaan kak Susi aja".
Ponsel Furqan berdering. Furqan segera menerima panggilan yang ternyata dari kantor polisi.
"Halo...pak Furqan! kami ingin menyampaikan, kalau ibu Fani baru saja kami bawa ke rumah sakit" Sehat Bersama" Beliau tiba-tiba pingsan!" Kata pak polisi.
"Apa? saya segera kesana".
"Ada apa, Fur?" Susi penasaran.
"Ibu di bawa ke rumah sakit. Polisi mengatakan kalau ibu tiba-tiba pingsan".
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Furqan pada kakak dan adiknya.
Ketiga anak Fani segera menuju rumah sakit. Furqan, Susi dan Fiona menghawatirkan ibunya. Setibanya di rumah sakit, Furqan segera keruangan dimana ibunya dirawat.
"Dok...bagaimana keadaan ibu saya?"
"Kita bicarakan di ruangan saya".
Furqan mengikuti dokter keruangannya.
"Apa ada yang serius dengan ibu saya, Dok?"
"Ibu anda mengalami hipertensi sehingga menimbulkan masalah pada jantungnya. Kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Ibu Anda mengalami gagal jantung!"
"Apa, Dok! gagal jantung?!"
"Ibu Fani harus dirawat secara intensif agar bisa sembuh. Keluarga harus menjaganya agar emosinya tetap stabil. Jangan ada sesuatu yang membuat ibu Fani marah atau kepikiran".
"Lakukan yang terbaik untuk ibu saya, Dok!"
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Tetaplah berdoa, semoga ibu Fani segera sembuh!"
"Terima kasih, Dok!"
"Sama-sama".
Furqan keluar dari ruangan dokter Indra. Furqan menemui Susi dan Fiona diruang perawatan VIP. Karena Fani seorang napi, polisi siap siaga di pintu ruang rawat.
__ADS_1
"Apak kata dokter?" tanya Susi pada Furqan.
"Menurut hasil pemeriksaan, ibu mengalami gagal jantung. Ibu harus dirawat agar bisa sembuh".
Susi segera mendekati ibunya yang belum siuman.
"Bu...maafkan kami! kami selalu g nurut sama ibu. Ibu jangan khawatir, kami akan menjaga ibu di sini sampai sembuh. Ibu juga harus semangat ya!" Susi berbicara pada ibunya yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Perlahan jari tangan Fani bergerak dan Fani berusaha membuka matanya. Susi yang larut dalam kesedihan karena penyakit yang diderita ibunya, tidak menyadari kalau tangan ibunya bergerak. Fiona memperhatikan ibunya dan memberitahu kakaknya kalau tangan ibunya bergerak. Susi dan Furqan langsung memperhatikan dengan seksama. ternyata benar, perlahan Fani bisa membuka matanya dan menatap ketiga anaknya. Tanpa di beri komando, Fiona segera menekan tombol yang ada diruangan perawatan sebagai kode untuk dokter dan perawat.
"Ibu di mana, nak?" tanya Fani terbata-bata.
"Ibu pingsan dan dibawa polisi ke rumah sakit".
Fani berusaha bangun, tapi badannya terasa tak mampu ia gerakkan.
"Ibu jangan bergerak dulu. Dokter sedang menuju ke sini". Fani mengikuti larangan putrinya. Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Fani.
"Biarkan ibu Fani istirahat dulu. Setelah kondisinya sedikit membaik, kami akan melakukan pemeriksaan kembali!" Ucap Dokter Andre pada anak-anak Fani.
Meskipun dokter menyuruhnya istirahat, tapi Fani tidak bisa bisa istirahat dengan baik. Ia penasaran dengan apa yang menimpanya. Sepeninggal dokter, Fani bertanya pada Susi tentang dirinya.
"Susi...apa kata dokter, nak?"
Mendengar pertanyaan ibunya, Furqan uang sedang duduk di kursi segera berdiri dan mendekati ibunya.
"Ibu jangan terlalu banyak pikiran. Ibu harus banyak istirahat supaya cepat sembuh!"
"Ibu sakit apa, Nak?" Fani bertanya Furqan.
"Ibu g mau, tapi ibu juga g mau balik ke penjara. Biarlah ibu di sini".
"Sebaiknya ibu istirahat, jangan banyak gerak dulu!" Furqan menasehati ibunya. Fani tak ingin bertanya lagi. Setelah Fani istirahat, Fiona pamit pada kakaknya karena harus kekampus.
"Kak...aku ke kampus dulu ya!"
"Nanti pak Tio yang antar kamu!" ucap Furqan pada Fiona. Kemudian, Fiona keluar dari ruangan perawatan ibunya dan menemui Tio di parkiran. Setelah kepergian adiknya ke kampus, Furqan mengirimkan pesan pada Annisa.
Ada pesan! ada pesan! ada pesan!
"Fit...coba cek ponsel aku, pesan dari siapa?"
Fitri meraih ponsel di atas meja tidak jauh dari tempat ia duduk dan melihat siapa yang mengirim pesan untuk Annisa.
"Furqan, Nis!" ucap Fitri sembari menyerahkan ponsel Annisa. Annisa membuka dan membaca pesan yang dikirim kekasihnya.
"Sayang...ibu masuk rumah sakit, aku dan kak Susi sedang menjaga ibu!"
"Astagfirullah! boleh g aku menjenguknya?" balas Annisa.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan dulu. Kata dokter, emosi ibu harus stabil, sebab ibu menderita gagal jantung!"
"Gagal jantung?! yang sabar ya, kak. Semoga Tante Fani cepat sembuh!"
"Terima kasih, sayang!"
Setelah ngobrol dengan Annisa pesan, Furqan kembali menatap layar ponselnya. Wajah Annisa dengan senyum khasnya, menghiasi layar ponselnya. Senyum kecil menghiasi bibirnya. Susi yang melihat adiknya senyam senyum sendiri, berdiri dan mendekati Furqan.
"Kenapa senyam senyum sendiri, Fur?"
"G ada apa-apa, kak".
"G ada apa-apa, kok bisa senyum begitu. Lihat apa sih di layar ponselmu?" tanya Susi penasaran. Furqan terpaksa jujur pada kakaknya.
"Aku lihatin foto Annisa. Kak...terima kasih udah menyetujui hubunganku dengan Annisa. Hanya dia yang aku cinta saat ini, hingga ke depannya. Semoga saja, ibu bisa menyadari kalau pilihanku tidak salah. Jika Annisa adalah gadis lain, belum tentu dia bisa memaafkan keluarga kita. Dia bisa saja balas dendam atas kematian kedua orang tuanya. tapi Annisa, kemuliaan hatinya menjadikan dia wanita yang pantas untuk aku pertahankan dan aku perjuangkan. Aku rela kehilangan perusahaan, tapi aku tidak bisa kehilangan permata yang tak ternilai itu kak, aku tidak sanggup!"
"Awal kedatangan Annisa ke rumah, kakak sempat ragu kalau dia wanita yang pantas untukmu. tapi...setelah kakak Annisa dan Fiona ngobrol bersama, aku merasa Annisa berbeda dengan yang lain. Saat ibu merendahkan Annisa di rumah, dia tak marah sedikit pun. Bahkan dia, menyuruh kakak dan Fiona merahasiakan apa yang dilakukan ibu padanya. Kakak syok dengan ketenangannya menghadapi ibu yang menghinanya. Tak ada dendam yang terpancar di wajahnya. Hanya senyum ikhlas yang kakak lihat. Itulah sebabnya, kakak mendukungmu dengan Annisa. Perjuangkan dia, kamu akan sulit menemukan gadis sebaik dia!" Susi mendukung penuh hubungan Adiknya dengan Annisa. Susi menepuk pundak Adiknya.
Mengenal keluarga Annisa, membuat Susi membuka mata hatinya, tentang harus bagaimana ia harus menjalani kehidupannya. Setelah ngobrol dengan Susi, Furqan pamit hendak ke kantor. Karena ibunya sedang tidur, Susi bergegas ketoilet. Saat masih ditoilet, Anggita masuk dan merengek pada Fani sambil menggoyang-goyangkan tubuh Fani.
"Tante...Tante jahat padaku! katanya Tante akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendekatkan aku dengan Furqan. Ternyata, Sampai hari ini tidak ada tanda-tanda kalau Furqan akan memilihku. Tante keterlaluan".
Mendengar suara seseorang sedang berbicara dengan ibunya, Susi segera keluar dari toilet dan kaget melihat siapa yang berani mengganggu ibunya.
"Angita...jauhkan tanganmu dari ibuku! ibuku sedang istirahat. apa-apaan kau ini?"
"Kak Susi...aku datang kemari untuk menagih janji Tante padaku".
"Janji apa?"
"Tante berjanji akan membuat Furqan jatuh cinta padaku. tapi nyatanya, Furqan makin benci padaku".
"di rumahmu ada cermin g?"
"Ada. Untuk apa, kak?"
"Untukmu. Lebih baik kamu pulang dan bercermin dengan baik, agar kamu tahu alasan mengapa Furqan tidak memilih dirimu. Dasar model gila! keluar g? kalau tidak aku suruh puisi diluar untum menyeretmu ke penjara. Keluar, ayo keluar!" Susi mengusir Anggita.
Anggita berat hati untuk keluar. setelah diancam, barulah kakinya bisa diajak keluar. Setelah Anggita keluar, Susi menemui polisi yang berjaga di depan pintu.
"Pak...kenapa gadis itu bisa masuk?!"
"Maaf, Dek! tadi Saya ketoilet".
"Kalau gadis gila itu datang lagi, jangan izinkan dia masuk, pak!"
"Siap!"
__ADS_1
"Terima kasih, Pak!"
Kemudian, Susi masuk kembali dan menemani ibunya.