
Jam 8 pagi, rumah makan "Sahabat" masih sepi. Para karyawan masih sibuk mempersiapkan segela keperluan, baik di dapur maupun di meja pelanggan. Bu Farah terus memperhatikan Annisa yang sedang sibuk.
Apa benar yang dikatakan laki-laki kemarin tentang Annisa ? sepertinya Annisa g seburuk itu? Dia gadis yang baik dan selalu menjaga lima waktu, atau laki-laki itu hanya mengada-ada?!" bathin Bu Farah
Annisa merasa Bu Farah memperhatikannya. Kenapa Bu Farah memperhatikan Aku? Apa Aku melakukan kesalahan? kalau Aku melakukan kesalahan, pasti beliau akan memanggilku, tapi ini hanya dilihat saja. Ada apa ya?
Tak ingin mengundang perhatian anak buahnya, Bu Farah segera masuk keruangannya walaupun masih banyak pertanyaan dibenaknya.
Mereka menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Tak lama kemudian, pelanggan mulai berdatangan. Semua sibuk melayani pelanggan. Saat menjelang makan siang, pengunjung makin ramai. Bu Farah mengingatkan anak buahnya untuk melayani mereka dengan sebaik mungkin. Kemudian Bu Farah memanggil Annisa.
"Nis...!"
"Iya Bu!"
"Tugasmu khusus melayani ruangan VIP, tak boleh diganti oleh yang lain!"
"Baik Bu!"
Annisa segera membawa pesanan ke ruangan VIP dan meletakkan pesanan di atas meja dengan hati-hati. Saat Annisa hendak keluar, suara seseorang menghentikannya.
"Tunggu!"
Annisa membalikkan badannya dan kaget melihat orang yang ada di depannya. "Kak Furqan!"
Pantas aja yang datang orang kantoran semua, ternyata bosnya ada di sini, bathin Annisa
"Duduk, temani Aku untuk makan!"
"Maaf, bukan tugas saya untuk menemani Anda. Saya masih banyak pekerjaan!"
"Kamu menolak?!"
"Ya!" jawab Annisa tegas
"Kamu mau di pecat?!"
"Maksud Anda?!"
"Jika kamu menolak, jangan salahkan Saya jika Kamu dipecat!"
"Lakukan saja apa yang ingin Anda lakukan. Permisi!" Annisa melangkah meninggalkan Furqan.
Furqan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Annisa. Gerakannya yang cepat, membuatnya mudah menjangkau lengan Annisa dan menariknya untuk duduk bersamanya.
"Duduk! apa susahnya mengikuti perintahku? atau kamu lebih suka dekat dengan temanku yang kemarin?!"
"Teman?! iapa yang Anda maksud ?"
"Sebelumnya Aku mengagumimu, tapi kejadian kemarin membuka mataku, kalau Kamu dan perempuan diluar sana sama saja! Pura-pura alim, ternyata menyimpan noda yang tak bisa dilihat!" Kata Furqan sengaja memancing reaksi Annisa
Plak!
Spontan tangan Annisa mendarat sempurna di pipi mulus sang CEO. Furqan merasakan kekuatan besar mengalir dari tangan Annisa. Dia tak menyangka reaksinya akan sebesar itu.
"Mengapa orang-orang seperti kalian tak memiliki perasaan? kalian hanya tahu merendahkan orang. Kalaupun Saya murahan, memangnya kenapa? bukan urusan Anda kan?" ucap Annisa berapi-api.
"Dan satu lagi Tuan, siapa yang menyuruh Anda untuk mengagumi Saya? masih banyak wanita baik-baik diluar sana, silahkan Anda pilih diantara mereka!" Tegas Annisa sambil berlalu keluar dari ruangan itu.
Furqan sengaja tak menahannya. Melihat reaksinya, Furqan semakin yakin kalau Annisa bukanlah wanita murahan seperti yang diceritakan Herman kepadanya. Dirinya memikirkan bagaimana caranya mencari kebenaran tentang kejadian itu.
Setelah keluar dari ruangan VIP, Annisa memilih duduk menyendiri di bagian belakang. Tak terasa air matanya jatuh.
Bapak, Ibu, kini kenangan memalukan itu, kembali mengusikku. Entah sampai kapan Aku bisa bahagia, Pak?
Aku tidak boleh lemah. Aku harus bisa menolong diriku sendiri. Mungkin dia orang berkuasa, tapi dia lupa jika ada yang berkuasa darinya! bathin Annisa
"Nis... ayo bantu Aku, pengunjung makin rame ni!" Ajak Fitri
"Siap bos!" Annisa berusaha menutupi kesedihannya.
Sementara diruangan VIP, Furqan merasa menyesal telah merendahkan Annisa, walaupun itu hanya sekedar menguji reaksi Annisa.
Apa yang Aku lakukan? tidak sepantasnya Aku mengucapkan kata kasar itu padanya. Maafkan Aku Nisa, Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu! gumam Furqan
Furqan keluar dari ruangan VIP dan menuju ke meja sekretarisnya. "Suruh mereka semua cepat menyelesaikan makan siangnya dan kembali ke kantor, Saya akan duluan ke kantor!"
"Baik, pak!"
Beberapa menit kemudian, semua pelanggan telah selesai menyantap makanannya dan meninggalkan rumah makan. Annisa dan teman-temannya pun istirahat.
"Nis...sepertinya rumah makan kita di boking sama perusahaan "Putra Jaya" deh? Soalnya, Aku sempat mendengar percakapan Bu Farah di telepon. Dia menyebut nama perusahaan itu, lalu Aku dengar beliau menyebut Senin, Kamis dan Sabtu. Artinya, di hari itu mereka akan makan siang di sini!" Jelas Fitri.
"Bagus dong, artinya itu bonus, rejeki anak sholehah!" canda Kania
"Dah pada shalat kan?"
"udah dong!" jawab Siska, Annisa dan Kania bersamaan.
"Kalau udah, ayo balik kerja! Jangan menambah-nambah waktu istirahat, nanti bisa di DO !"
"Emang mahasiswa pake DO!" Jawab Annisa.
Serentak semua berucap "Mahasiswa rumah makan dooooong, ha ha ha!"
Bu Farah yang melihat kelakuan anak buahnya tersenyum bahagia. Kesederhanaan yang dimiliki anak buahnya membuat mereka seperti saudara, selalu bercanda, kalau ada masalah mereka saling membantu dalam menyelesaikannya.
Kalian berhak bahagia, seburuk apapun masa lalu kalian! gumam Bu Farah
Semua kembali bekerja. Meskipun rumah makan "Sahabat" belum lama di buka, tapi kemajuannya cukup memuaskan. Semua karena kerja keras Bu Farah dan anak buahnya. Untuk itu, selalu ada bonus untuk mereka.
"Heee Kamu, kemari!" Siska kaget ada yang memanggilnya dengan kurang sopan.
"Ada yang bisa Saya bantu, pak?"
"Panggilkan pelayan bernama Annisa, Saya ingin bertemu dengannya!"
__ADS_1
"Mengapa Anda mencari Saya?" Annisa tiba-tiba muncul dan bertanya dengan sopan kepada orang yang mencarinya meskipun hatinya bergemuruh tak karuan.
"Urusan Saya denganmu belum selesai! Wanita murahan seperti kamu tidak akan pernah Aku biarkan lepas begitu saja. Mana bosmu?" Herman menanyakan Bu Farah.
"Anda mencari Saya, tuan? sebenarnya apa yang Anda inginkan?"
"Saya tidak ingin buang waktu di sini. Jika Anda ingin rumah makan ini tetap berdiri kokoh, pecat dia atau rumah makan ini saya dengan tanah!"
"Saya tahu Anda orang terkaya di negara ini, dan Anda merupakan pewaris tunggal perusahaan raksasa "Agung Pratama", tapi mengapa Anda bersikap seperti orang tidak berkelas? Apa yang membuat Anda sangat membenci salah seorang anak buah Saya?"
"Memang tuan, rumah makan ini tak sebanding dengan perusahaan Anda, tapi rumah makan ini, telah memberi kehidupan kepada orang-orang yang bekerja di dalamnya!"jelas Bu Farah penuh penekanan.
Sebenarnya Bu Farah ingin bertindak profesional, tapi melihat siapa orang yang mencarinya, membuatnya berani untuk menantang. Bagaimanapun dia harus membela anak buahnya. Itulah pesan Ainun padanya.
"Jika Anda memiliki masalah dengan Annisa, mengapa rumah makan ini yang Anda jadikan sasaran kebrutalan Anda? seharusnya Anda selesaikan dengan yang bersangkutan, karena masalah kalian berdua terjadi sebelum Annisa bekerja di sini!"
"Maaf Bu, Saya benar-benar minta maaf, karena Saya rumah makan ini jadi terbawa-bawa dalam masalah!"
"Annisa, Kamu tidak perlu merasa bersalah! Sekarang, masalahmu menjadi masalah kita semua. Tapi Ibu minta ceritakan masalahnya dari awal, agar Ibu bisa mengambil tindakan!" Pinta Bu Farah. Anak buahnya g tahu kalau suami bosnya itu adalah seorang pengacara hebat yang selalu membela orang lemah.
"Jangan ragu untuk menceritakannya Nis! supaya orang sombong ini punya rasa malu. Itupun kalau dia masih normal!" Hendra ikut bicara.
"Kalian pikir, orang akan percaya dengan cerita wanita seperti dia. Justru dia akan disebut wanita penggoda laki-laki kaya dengan menjual tubuhnya!" Herman tersenyum sinis menatap Annisa
"Tunggu sebentar, Bu! boleh Aku bicara?" Siska memberanikan diri untuk ikut bicara.
Semua kaget dengan keberanian Siska. Bahkan dia kelihatan lebih serius, tak seperti biasanya yang kelihatan ceplas ceplos.
"Kenapa Sis?" Fitri penasaran.
"Dari kacamata Aku, ada yang g beres dengan laki-laki tampan, kaya dan menggoda ini! Begini Bang, kalau memang teman Saya ini yang menggoda Anda, mengapa reaksinya sangat berbeda dengan wanita penggoda lainnya. meskipun teman Saya ini seorang wanita miskin tapi secara dia sangat cantik, anggun dan menawan. Bukan tidak mungkin Anda tidak tertarik! Sebenarnya diantara Anda dan teman Saya, siapa yang menggoda dan siapa yang di goda? biasanya, jika seorang lelaki digoda oleh wanita dan dia menolak, maka lelaki itu hanya akan kasar disaat itu juga, tapi Anda? kemarin, Anda merendahkannya dengan kasar. Hari ini, Anda datang mengancam akan menghancurkan rumah makan ini, ataukah sesungguhnya Abang tampan yang menggoda tapi ditolak olehnya, sehingga kejadian beberapa tahun lalu membuat Abang tampan brutal seperti ini? Abang ganteng tau g, kalau hari ini kami kedatangan pelanggan Gila?!" panjang lebar Siska berbicara.
Yang lain mendengarkan dengan menahan tawa. Siska si cerewet bisa membuat Herman semakin murka dan tentunya kena pukulan telak dengan ocehannya yang diselingi dengan candaan. Bu Farah pun mengakui keberanian Siska
"Siska, hari ini kamu sangat pintar!" Bu Farah memuji Siska
"Kok Ibu baru tahu sih, ini belum seberapa lho Bu!"
"ha ha ha!" semua tertawa tanpa memperdulikan Herman yang keluar dengan menahan rasa malu.
"Nisa, dan kalian semua dengarkan Ibu! apapun yang dilakukan laki-laki itu jangan takut, karena kedepannya kalian akan dapat masalah. Laki-laki itu orang berkuasa dan bisa melakukan apa saja. Apalagi, kalian sudah ikut campur urusannya. Ibu akan membantu kalian selama itu benar, jika kalian salah, Ibu akan berlalu meninggalkan kalian. Siapa diantara kalian yang pernah mendengar nama Faruq Abdullah, pengacara hebat di kota ini?"
"Saya pernah mendengarnya, saat beliau membela puluhan orang petani yang tanahnya digusur oleh sebuah perusahaan untuk membangun pabrik. Bahkan beritanya trending topik, Bu! Tapi Bu, apa hubungannya dengan kejadian hari ini?" Tanya Kania.
"Hubungannya, jika nanti laki-laki itu terus berulah, laporkan dia ke polisi. Pengacara itu yang akan membantu kalian!"
"Haaaa...kok bisa, Bu!" jawab Annisa dan teman-temannya yang merasa g mungkin itu terjadi.
"Tidak perlu kalian pikirkan, beliau pasti membantu kalian jika Ibu yang meminta!" Bu Farah meyakinkan anak buahnya. Kemudian Bu Farah masuk keruangannya.
"Tugas kita sekarang adalah mencari pak Komar, satpam kampus itu. Kita akan mencarinya saat hari libur, bagaimana?" usul Hendra.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang beliau di kampus, siapa tahu datanya masih ada?" sambung Egi
"Emang kamu siapa mau bayar orang segala, macam orang berduit aja! itu bisa mahal lho, apalagi yang di sewa itu mata duitan!" Siska mengejek Egi
"Gi, kamu jangan bercanda ya!" Ucap Hendra dan diiyakan oleh yang lain.
"Aku tidak bercanda. Nama lengkapku Harmegi Setiawan Anggara!"
"Jadi, kamu putra pak Setiawan Anggara?" tanya Hendra syok.
"Tapi mengapa kamu memilih bekerja seperti ini?" tanya Kania
"Sudahlah, Aku g mau jawab. Cukup kalian tau sedikit aja, malas menjelaskannya!"
"Tapi kamu berhutang penjelasan pada kami semua!" tukas Hendra.
"Nanti!"
"Kita hentikan dulu obrolannya, dan lanjutkan pekerjaan. Kasian pelanggan jika tidak dilayani dengan baik!" ucap Fitri dan di iyakan oleh yang lain.
Semua kembali bekerja. Kesibukan membuat mereka lupa dengan waktu. Seperti biasa, waktu shalat Isya tak dilewatkan. Tepat pukul 8 malam, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ribut di luar. Pak Bobi kewalahan menghadapi enam orang preman yang mengacau di luar. Hendra dan Egi segera keluar dan membantu pak Bobi.
"Heee...apa yang kalian lakukan?" tanya Hendra.
"Jangan banyak nanya! kami akan menghancurkan rumah makan ini. Kalian telah berani mempermalukan bos kami!" kata salah seorang preman berambut gondrong.
"Siapa bos kalian?" tanya Bu Farah yang telah berada di depan Hendra
"Tidak perlu kalian tahu! Ayo, hancurkan tempat ini!" ucap si gondrong sambil memerintah teman-temannya.
Pelanggan panik. Tapi Kania, Fitri, Siska dan Annisa menenangkan mereka. Sementara Egi dan Hendra menghalau preman yang hendak masuk ke dalam. Annisa dan Siska yang melihat keadaan tak terkendali segera berlari keluar sebelum preman berhasil masuk. Seorang preman berbadan tinggi dan gemuk hendak memukul Bu Farah, tapi Annisa segera menghalau dengan tendangan cukup keras yang membuat si preman terpental dan mengenai meja pak Bobi.
"Ibu masuk saja ke dalam, Saya akan menghalau mereka!" Pinta Annisa
Seorang preman telah tumbang karena pukulan Siska.
"Nis! sepertinya kita punya pekerjaan baru. Hari ini, khusus melayani pelanggan gila!" kata Siska dengan candaannya.
"Bangsat, berani sekali kau memukulku. Akan kupatahkan tulang-tulangmu gadis kecil!" ngoceh si preman botak yang merupakan ketua dari kelompok preman tersebut.
Sang ketua kembali berdiri dan menyerang Siska yang sedang lengah karena sedang mengejek preman yang lain. Annisa spontan melakukan tendangan lebih sadis hingga preman itu pingsan.
brukk!
Siska menoleh dan tersenyum manis serta mengacungkan jempol pada Annisa. Annisa hanya tersenyum meskipun emosi masih menggebu dalam dirinya.
Fitri dan Kania yang berada di dalam kaget dan syok dengan apa yang dilihatnya. Gadis yang mereka anggap ceplas ceplos dan lemah ternyata melebihi tenaga kuda jika dia marah. Terlebih lagi saat melihat Annisa melakukan gerakan cukup cantik tapi mematikan semakin membuat mereka syok.
Gerakan Annisa semakin menggila. Tak perlu waktu lama, semua preman tumbang bahkan ada yang patah tulang. Lima orang preman dibebaskan dan ketuanya sengaja di tahan. Melihat preman-preman itu sudah dilumpuhkan, Bu Farah keluar di temani Fitri.
"Sini kamu! siapa yang menyuruhmu melakukan perbuatan bodoh ini? g malu, badan besar, berotot, tapi dikalahkan oleh wanita- wanita imut ini! kalau g mau mengaku, nanti polisi yang akan datang kemari!" ancam Hendra.
"Saya tidak tahu namanya, dia hanya menyuruh kami merusak tempat ini!"
__ADS_1
Siska mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto seseorang pada preman itu.
"Apa dia orangnya?"
"Iya, dia orang yang membayar kami!"
"Bapak punya anak istri?" tanya Annisa
"Iya!"
"Apa mereka tahu pekerjaan bapak ini?"
"Tolong jangan beritahu mereka! Saya mohon dek, jangan sampai mereka tahu. Saya tidak ingin mereka kecewa dan malu memiliki bapak seorang preman. Saya terpaksa melakukan ini, karena anak saya butuh biaya untuk operasi. Saya tidak bohong!"
"Baiklah, Kami tidak akan melaporkan bapak ke polisi, tapi bapak harus janji untuk tidak bekerja seperti ini lagi. Jangan sampai anak-anak bapak kehilangan kepercayaan pada orang tuanya. Bapak bisa mencari pekerjaan lain. Kalau bapak mau, bapak bisa bekerja di sini, mengambil bahan makanan dan mengantar pesanan ke pelanggan!" Bu Farah mengampuni preman itu dan menawarkan pekerjaan padanya.
"Saya mau, Bu!"
"Berikan KTP bapak pada Hendra, dan besok bapak sudah bisa masuk kerja. Silahkan bapak pulang dulu dan istirahat!"
Si preman mengeluarkan KTPnya dan menyerahkannya pada Hendra dan pamit pulang dengan perasaan senang bercampur malu. Bu Farah kembali masuk ke dalam dan memerintahkan anak buahnya berkumpul setelah semua pelanggan pulang.
"Annisa, pasang tanda tutup agar tak ada lagi yang datang. Kita bereskan dulu kekacauan ini!" Perintah Bu Farah
"Baik, Bu!"
Setengah jam kemudian, semuanya telah beres.
"Kita tutup lebih awal. Semoga, kejadian tadi tidak terulang lagi. kalian harus lebih hati-hati sekarang! Bisa saja si brengsek itu menyuruh preman lain lagi!" kata Bu Farah
"Baik, Bu!" jawab anaknya buah serentak
Tak banyak basa basi, Bu Farah dan yang lain pulang ke kediaman masing-masing.
Di tempat Lain
"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Furqan pada suruhannya melalui telepon.
"Saya akan mengirimkan video rekaman kejadiannya, Bos!"
Suruhannya mengirimkan video hasil rekamannya melalu whatshapp. Furqan memperhatikan dengan seksama kejadian saat Herman datang hingga suruhannya yang mengacau.
Rupanya, gadisku bisa menjaga dirinya. Herman, engkau terlalu melangkah jauh dengan mengusik cintaku, bathin Furqan
Maya, yang tidur lebih awal karena lelah seharian mengerjakan pekerjaan kantor dikagetkan dengan bunyi telepon genggamnya.
Ia melihat layar handphonenya dan tertera nama bosnya.
Mengapa bos telepon malam-malam gini sih? ganggu aja deh! Kan masih ada besok kalau urusan kantor? gerutu Maya seraya menahan ngantuk.
"Halo, Pak!"
"Batalkan kerja sama kita dengan perusahaan "Agung Pratama". Lakukan sekarang, Saya tidak ingin mendengar alasan apapun!" perintah Furqan dan langsung mematikan telepon secara sepihak.
"Ta...!"
Tut tut tut
Kok dimatikan. Bos kenapa sih, kayak kesetanan gitu? G ada angin, g ada hujan, tiba-tiba mutusin kerja sama! gumam Maya yang diselimuti rasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Tak ingin menunda, Maya segera turun dari tempat tidurnya dan meraih laptop kerjanya. Segera ia mengirim file pembatalan kerja sama. Setelah itu ia kembali ketempat tidur dan kembali melanjutkan tidurnya.
Setelah menelpon Maya, Furqan menelpon Aldi.
"Halo, Bang!"
"Ke apartemen sekarang!"
"Siap, Bos!"
Sepuluh menit kemudian, Aldi sampai di apartemen dan langsung menuju akses utama kamar Furqan.
"Ada apa?"
Furqan melempar tabletnya ke atas sofa di mana Aldi duduk. Aldi meraihnya dan memperhatikan video kejadian di rumah makan "Sahabat".
"Herman!"
"Mengapa Herman mengacau di sana?"
"Karena ada Annisa. Ia terus mengejar Annisa dan mempermalukannya. Lihat perbuatannya, Ia malah menyuruh preman mengacau dirumah makan milik istrinya Fendi, sahabat kita! Dia seperti anak kecil saja dan memalukan. Dia tidak akan berhenti sampai di situ!"
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Aldi bertanya sambil terus memperhatikan video rekamannya. Dirinya fokus menonton aksi Siska dan Annisa. Dua wanita yang bergerak refleks tapi mematikan. Lebih-lebih gerakan Annisa, yang cukup memukau. Jika dirinya menghadapi Annisa, belum tentu dirinya bisa menang.
"Edit Video itu, cukup Herman saja yang kelihatan, jangan dengan aksi Siska dan Annisa!"
"Baiklah!"
"Kamu bermalam di sini malam ini. Ada banyak yang ingin Aku bicarakan denganmu!"
"Tentang Herman atau tentang gadis itu!"
"Dua-duanya!"
"Ternyata benar dugaanku selama ini, Abang jatuh hati pada gadis itu! Tapi ingat Bang, ada bibi Fani yang harus Abang pikirkan. Bibi Fani g akan setuju dengan pilihan Abang. Bibi terlalu pemilih dan memandang orang dari hartanya saja. Sedangkan Annisa hanya gadis biasa, sudah tentu bibi akan menolak keras, sekalipun Annisa menerima Abang nantinya!" jelas Aldi pada Abang sepupunya.
"Bukan mereka yang akan menjalin hubungan, tapi Aku! Aku sudah cukup muak dengan semua keinginan Ibu dan kak Siska. Aku akan berjuang untuk mendapatkan Annisa sekalipun Ibu dan Kak Siska menentangku!"
"Aku mendukungmu, Bang! Annisa gadis baik-baik, Abang harus bisa meluluhkan hatinya!" Suport Aldi. Dirinya menahan kantuk yang teramat sangat.
"Entah kapan Aku bisa meluluhkan kekerasan hati Annisa, Al! Kamu harus membantuku soal itu ! Aku g mau dengar penolakanmu!"
Furqan menoleh ke arah Aldi, dan ternyata dia tertidur.
Brengsek, Aku dibiarkan ngomong sendiri. Furqan melempar sepupunya itu dengan bantal.
__ADS_1
Furqan terpaksa merebahkan diri, menyusul Aldi. Ia memaksa matanya untuk bisa terpejam. akhirnya ia tertidur juga.