
Mbok Minaiya ingin menceritakan perihal perusahaan keluarga Darmajaya pada Aldi. Aldi belum ingin mengurus perusahaan. Aldi akan fokus pada urusan adiknya. Keadaan Annisa sudah tenang, dan Aldi mendekati Annisa untuk menyampaikan perasaan Furqan pada adiknya.
"Dek!"
"Ya, kak! ada apa?"
"Duduk dekat kakak dulu, baru kakak cerita!" Annisa g malu lagi duduk di samping kakaknya.
"Gini dek, mungkin ini terlalu cepat, tapi kakak ingin yang terbaik untukmu. Kakak ingin kamu terima cinta seseorang. Sebenarnya dia menyukaimu sejak pertama kamu menabraknya di rumah makan. Kamu masih ingat kan orangnya?"
"Gimana Nisa g ingat kak, dia kan bosnya kakak!. Dia nyuruh kakak untuk bilang itu padaku? g beranian amat sih jadi orang. Lagian juga kenapa sih kakak mau di suruh untuk memberitahu aku?!"
"Kakak g di suruh. Ini kemauan kakak sendiri. Kakak hanya ingin laki-laki yang bertanggung jawab seperti dia. Apalagi dia itu seorang yang mapan, yang bisa menjamin kehidupanmu."
"Tapi kak, dia kan sepupu kita. Gimana bisa aku akan jadian dengannya?!"
"Dia bukan sepupu kandung kita. Dia hanya anak dari kakak angkat ayah!"
"Tapi kak, apa yang dia lihat dariku? Aku hanya wanita biasa, g sepadan dengan dia!"
"Itulah yang kakak suka darinya. Dia g memandang wanita dari kedudukannya, tapi dari akhlaknya. Adikku jelas masuk dalam kategori itu. Untuk itulah kakak memilih dia untukmu. Apalagi dia jatuh hati padamu!"
"Entahlah kak, aku takut!"
"G usah takut, dia g makan orang. Dia hanya suka sama kamu. Mau ikut barengan g?"
"G, aku berangkat sendiri saja. Nanti kalau teman-temanku tahu kak Aldi adalah kakakku, aku yang kerepotan. Kakak tahu kan, gimana reaksi wanita kalau melihat laki-laki ganteng?!"
"Ya sudah, kakak berangkat dulu!" Aldi lebih dulu ke kantor. Sedangkan Annisa nyusul belakangan ke tempat kerja.
Di kediaman Furqan
"Tante...!"
"Anggita...! datang sendiri sayang?"
"Iya, Tan! Tan, gimana dong dengan janji Tante menyatukan aku dengan Furqan? sampai sekarang Furqan masih Ilfil denganku. Apa sebenarnya yang Furqan inginkan? Anggi sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati Furqan, tapi semua sia-sia, Tante. Furqan malah makin benci sama aku. Bantu aku, Tante!" Anggita merengek pada Fani.
Fani melihat ke seluruh dalam rumah, memastikan jika tak ada orang lain yang akan mendengarkan percakapan mereka. Fani tak tahu kalau Fiona g kuliah. Melihat gelagat ibunya yang mencurigakan, Fiona bersembunyi di belakang sofa dibagikan sudut ruang tamu. Fiona pasang telinga mendengarkan percakapan ibunya dengan Anggita.
"Ada satu cara yang belum kamu lakukan, Anggi!"
"Gimana,Tante?"
"Jebak dia! Kamu undang kami untuk makan malam di rumahmu. Kamu masak masakan kesukaan Furqan, cap cay. jangan lupa campur dengan obat perangsang pada makanan itu. Setelah makan malam, kita semua akan ngobrol santai. Setelah obat itu bereaksi, kamu pura-pura khawatir padanya dan membiarkannya istirahat di kamarmu. Di situlah kamu beraksi, buat seolah-olah Furqan ingin memperkosamu. Tante akan datang untuk membuktikan kalau Furqan benar-benar ingin melecehkanmu. Untuk menjaga nama baiknya kalian berdua, kalian harus dinikahkan. Bagaimana, kamu setuju?!"
"Setuju, Tan! itu cara yang ampuh. Kali ini, anak Tante akan menjadi milikku. Kalau begitu Anggi pamit dulu Tan, untuk menyiapkan keperluan makan malam nanti!" Anggita senang dengan rencana Fani. Ia bergegas pulang kerumahnya. Tidak lupa ia ceritakan kepada ibunya tentang rencana mereka.
Setelah kepergian Anggita dan ibunya keluar rumah, Fiona keluar dari persembunyiannya. Ia dengarkan kembali rekaman percakapan Anggita dan ibunya, kemudian rekaman itu ia kirimkan pada kakaknya.
Dasar model tak berakhlak! Sudah ditolak, masih juga ngejar-ngejar, mau ngejebak lagi. Ibu juga sudah g waras, anak sendiri mau di jebak. untung aja aku mendengarkan percakapan mereka. Silahkan kalian bersenang-senang dengan rencana kalian, tapi jangan nangis kalau gagal. Fiona kok di lawan, ha ha ha!
Di Kantor
Furqan mendengarkan rekaman yang di kirim adiknya. Senyum tipis tercetak di bibirnya semakin menambah ketampanannya.
Anggita, berani sekali kau mengikuti rencana ibuku. Akan kubuat kau menyesali perbuatanmu, bathin Furqan
Aldi heran dengan Furqan yang senyum sendiri. Jiwa keponya muncul dan mendekat untuk mengetahui penyebabnya munculnya senyuman itu. "Apa yang membuat bapak senyum sendiri?"
Furqan memperdengarkan rekaman dari Fiona. Alangkah terkejutnya Aldi mendengar rencana murahan Anggita dan Fani. "Nekad juga wanita itu?!"" ucap Aldi
"Karena ada ibuku yang mendukungnya. Ibu terus memaksaku untuk menerima wanita itu. Aku tak membutuhkan wanita sibuk seperti dia. Ibu tak pernah mau tahu bagaimana perasaanku, apa yang kuinginkan dia tak perduli. Aku lelah menghadapi ibu!"
__ADS_1
"Kalau Abang lelah, tinggalkan dulu pekerjaannya dan kita makan siang di rumah makan "Sahabat". Sekalian, Abang utarakan isi hati Abang pada Annisa. Abang g boleh melewatkan waktu kalau tidak ingin di dahului orang lain!" Aldi memberi saran pada Furqan.
Keduanya meninggalkan kantor. Pekerjaan kantor Furqan serahkan kepada Maya. Hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk sampai ke tempat tujuan. Aldi dan Furqan keluar dari mobil dan menyita perhatian para karyawan wanita yang sedang makan siang. Keduanya merupakan cowok idaman setiap wanita, mapan, cakep, tidak sombong dan tentunya tidak melihat status pasangannya. Kaya dan miskin tidak menjadi tolak ukur asalkan bisa menjadi pendamping yang baik untuk keduanya. Aldi dan Furqan menuju ruang VIP. Seperti biasa, yang akan melayani mereka adalah Annisa. Berbeda dengan sebelumnya, jika bertemu dengan keduanya Annisa menahan rasa malu dan ragu, tapi setelah Aldi menjadi kakaknya ia tak ragu lagi. Aldi akan melindunginya dari siapapun yang ingin melecehkannya.
Annisa membawa pesanan dua cowok ganteng mempesona tersebut. Ketiga temannya selalu menawarkan diri untuk menggantikan posisinya, tapi Annisa tidak bisa berbuat apa-apa meskipun dia menginginkannya. Pelanggan adalah raja, jika menolak maka tamatlah riwayat pekerjaannya.
Annisa meletakkan makanan di atas meja. Aldi memberikan kode pada Furqan agar menahan Annisa sebentar saja. Furqan mengerti maksud Aldi dan menahan Annisa.
"Bisa tunggu sebentar?!"
"Ada apa ya?" baru kali ini Annisa menatap wajah Furqan. Dalam hatinya mengagumi kegantengan makhluk ciptaan Tuhan yang ada didepannya. Aldi tersenyum melihat ekspresi adiknya kala melihat Furqan lebih dekat. Biasanya, Annisa g konsentrasi melihat wajah Furqan, sehingga Ia g pernah melihat dengan jelas kelebihan yang dimiliki Furqan. Kakaknya benar, jika Furqan berbeda dengan laki-laki kaya pada umumnya. Annisa mulai merasakan desiran perasaan pada laki-laki tampan itu. Annisa mulai mengerti mengapa bos kakaknya itu selalu meminta dirinya yang melayani jika ke rumah makan, dan menjadi pengantar makanan untuknya. Annisa jadi malu pada dirinya sendiri dan berdiri meninggalkan Aldi dan Furqan.
"Bos! Aku sudah meminta Annisa untuk membuka hatinya. Dan permintaanku dia kabulkan. sekarang giliran bos untuk mendekatinya!Jika ingin lebih mengenal dia, datanglah ke rumahku sebentar malam untuk memastikan hubungan kalian berdua!"
"Oke!" jawaban singkat namun mengisyaratkan hatinya sangat bahagia.
Malam hari
"Fur...kita di undang Anggita ke rumahnya. Kita akan malam bersama mereka. Cepat siap-siap, sayang!"
Furqan mengikuti perintah ibunya. Setelah bersiap, Furqan turun kebawah menemui kakak, Adik dan ibunya. "Ayo kita berangkat!"
Semangat yang ditunjukkan Furqan meyakinkan Fani jika rencananya akan berhasil. Fiona menatap kakaknya meminta penjelasan. Fiona mengira jika kakaknya setuju dengan Ibunya. Fani dan Susi lebih dulu masuk ke mobil. Fiona mendekati kakaknya yang hendak masuk ke mobil.
"Kak, maksudnya?!"
"Kita lihat saja nanti. ayo masuk, nanti ibu curiga!" keduanya pun masuk ke mobil. Dalam perjalanan ke rumah Anggita, Fani memulai obrolan.
"Kalau kita sudah di sana, jangan ada yang buru-buru pulang. Bila perlu kita bermalam di rumah Anggita!" Ucapan Fani tak mendapat respon dari anak-anaknya. Susi, Furqan dan Fiona memilih diam seribu bahasa hingga tak terasa mobil sudah memasuki halaman rumah Anggita. Anggita dan ibunya keluar menyambut Furqan sekeluarga. Anggita menggunakan dres selutut dan agak sedikit terbuka di bagian atas hingga sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Kulit putihnya akan mengganggu mata setiap laki-laki yang melihatnya tapi tidak dengan Furqan. Anggita berharap Furqan akan memujinya seperti halnya laki-laki lain yang akan langsung memujinya jika melihat Anggita tampil cantik. Furqan seolah tak melihat wanita cantik, ia sibuk dengan gawainya.
"Jeng Fani, kirain g jadi datang? Ayo, kita langsung ke meja makan! Anggita sudah memasak kesukaan Furqan lo!" Lidia mengajak Bu Fani sekeluarga untuk menikmati makan malam yang telah tersedia.
"Anggi sayang, ayo cepat sajikan makanan kesukaan Furqan!"
"Ini dia, cap cay kesukaan Furqan! Anggi masaknya dengan cinta Lo, Tan." Anggita meletakkan makanan tersebut di depan Furqan. Furqan menatap Anggita dan tersenyum padanya. Anggita ingin meleleh mendapat tatapan yang sudah beberapa bulan diharapkannya.
"Ayo semua, nikmati makanannya, anggap rumah sendiri!" Lidia mempersilahkan tamunya.
Fiona menatap Furqan tak mengerti. Bukannya marah malah ingin menyantap makanannya. Sejenak Fiona menatap Anggita yang tersenyum melihat Furqan hendak menyantap makanan tersebut. Baru saja Fiona ingin melarang kakaknya, Furqan bersuara lebih dulu.
"Anggi, bisa g duduk di sampingku?" Seketika Anggita berdiri dan duduk di samping Furqan.
Kau akan menjadi milikku malam ini, bathin Anggita
"Ayo dimakan, nak!" Lidia menyuruh Furqan untuk makan.
"Tante dan yang lain duluan saja. Aku ingin makan di temani Anggita, tapi bukan di sini. Aku ingin makan di taman belakang, boleh?"
"Anggi...! ayo nak, temani Furqan makan di taman belakang!"
Anggita mengangkat makanannya ke taman di susul oleh Furqan. Anggita meletakkan makanan di meja taman dan menyuruh Furqan untuk duduk. Furqan duduk berhadapan dengan Anggita. Ia menyendok makanan dan menyuapi Anggita. Anggita kaget dengan perlakuan Furqan. Bagaimanapun, makanan itu telah dibubuhi obat perangsang. Dirinya berusaha menolak untuk makan.
"Nggak, Fur! kamu aja yang makan. Itu spesial buat kamu!"
"Kalau kamu g mau makan denganku, artinya kamu menolakku. Kalau kamu menolak, lebih baik aku pulang!" Bisik Furqan di telinga Anggita. Napas Furqan yang mengenai telinganya menimbulkan gairah dalam dirinya.
"Bagaimana kalau aku ambil satu piring juga?!"
"Aku ingin kita makan sepiring berdua. Aku akan menyuapimu, setelah itu kamu suapi aku!"
Ucapan Furqan membuat hati Anggita berbunga-bunga sekaligus khawatir. Ia berpikir sejenak, kemudian ia menyetujui keinginan Furqan.
Kalau aku dan dia sama-sama memakannya, efek dari obat itu akan membuat kami berdua terangsang. Sepertinya itu lebih baik, ucap Anggita dalam hati
__ADS_1
"Ayo suapi aku, Fur!"
Furqan mulai menyuapi Anggita, satu sendok, dua sendok bahkan sampai sepuluh sendok. Anggita mulai was-was, karena g ada tanda-tanda Furqan minta di suapi. Furqan tersenyum memperlihatkan gigi ginsulnya yang membuat wanita-wanita diluar sana meleleh, tak terkecuali Anggita. Wajah Anggita mulai pias, sudah 15 menit mereka di taman dan reaksi obat mulai terasa. Sebelum reaksi obat menunjukkan kedahsyatannya, Furqan mengajak Anggita masuk dan duduk bersama yang lain di ruang keluarga. Lidia, Susi, Fiona dan Fani asyik ngobrol tak memperhatikan perubahan sikap Anggita. Fiona mencuri pandang pada Anggita, kemudian kakaknya yang di balas dengan senyuman dan kedipan mata oleh Furqan. Sepuluh menit setelah mereka duduk, Anggita mulai gerah dan merasakan getaran hebat dengan nafsunya. Anggita menatap ibunya dan Fani yang sudah menyadari perubahan Anggita.
"Ibu, Tante, ehemmmm! bantu aku. Aku g tahan lagi!" Anggita sudah g tahan dengan nafsunya. Dia menggeliat minta di cumbu oleh Furqan.
"Fur...antara Anggita ke kamarnya, cepaaat!" perintah Lidia pada Furqan
"No. Fiona, bawa Anggita ke kamarnya!" jawan Furqan dan justru menyuruh adiknya. Fiona memapah Anggita ke kamarnya.
Anggita terus merintih dan meracau kepanasan karena nafsu birahi yang memuncak. Fani menatap putranya, g ada perubahan apapun pada dirinya.
Jangan-jangan, Anggita yang makan makanan itu, anak bodoh, bathin Fani.
"Furqan... tolong aku sayang. Aku g kuat lagi, peluk aku sayang!" rintih Anggita.
"Aku bukan Furqan, tapi Fiona! Tunggu, aku panggil tante Lidia dulu," Fiona meninggalkan Anggita dan menguncinya dari luar dan menemui Lidia.
"Tante, cepat bantu Anggita!"
"Fur... bantu Anggita cepat! Hanya kamu yang bisa bantu dia, nak!" Fani membujuk putranya.
"Rendam dia dalam bak mandi, dan aku pulang duluan, ada pekerjaan yang belum aku selesaikan!" Furqan berlalu meninggalkan Tante dan ibunya yang masih syok dengan apa yang terjadi. Sebelumnya dia telah menghubungi Aldi untuk menjemputnya dan ternyata Aldi sudah stanbay tidak jauh dari rumah Anggita.
"Senjata makan tuan." Fiona berucap tapi terdengar ibunya.
"Fiona, apa maksudmu senjata makan tuan?!"
"Maksudnya, Kak Furqan tahu rencana Tante, Ibu dan kak Anggita. Bukannya kak Furqan yang kena jebakan tapi justru yang membuat jebakan yang kepeleset. Lebih baik Tante bantu kak Anggita sekarang, sebelum dia kenapa-kenapa. Ini kunci kamarnya, Tan!"
Lidia dan Fani berlari ke kamar Anggita. Dari luar kamar terdengar teriakan Anggita yang meminta pertolongan untuk memuaskan hasratnya.
"Jeng! gimana ini? bagaimana cara menyadarkan Anggita?"
"Kamu dengar yang Furqan katakan? rendam dia dalam bak mandi." jawab Fani. kedua masuk ke dalam dan syok melihat kondisi Anggita yang telah melepaskan semua pakaiannya.
"Ayo, kita angkat dia! Bukannya berhasil malah merepotkan." Fani ngomel karena rencana gagal.
Sementara Furqan dan Aldi telah sampai di rumah Aldi. Kedua masuk ke dalam rumah dan langsung menuju meja makan. Makan malam telah tertata rapi di atas meja makan.
"Mbok, ajak Annisa turun ya!"
"Iya, tuan!" Mbok Minaiya menyuruh salah seorang anak buahnya untuk memanggil Annisa.
Tak lama kemudian, Annisa turun dengan berpakaian rumahan tapi kecantikannya tetap terlihat meskipun tak memakai riasan. Furqan yang melihat Annisa turun dari lantai dua, menyenggol Aldi pertanda meminta penjelasan mengapa Annisa bisa ada di rumahnya.
"Nanti aku jelaskan. Kita makan malam dulu, lapar g?"
"Sedikit." Furqan menjawab pertanyaan Aldi dan tatapannya tertuju pada gadis cantik yang di samping Aldi. Hatinya masih diselimuti beribu pertanyaan, mengapa dan mengapa Annisa bisa se santai ini di rumah Aldi. Melihat Furqan diam dan Annisa terus menundukkan kepalanya, Aldi iseng bertanya pada Furqan.
"Bagaimana, bos? apa bos yakin ingin serius dengan gadis ini?"
Furqan menatap Annisa dengan tatapan cinta dan membuat Annisa salah tingkah. "Jika aku langsung melamarnya, apakah dia bersedia?" Furqan balik bertanya.
"Bagaimana Annisa, apakah engkau mau menerima bosku ini?"
"Kalau langsung melamar, aku belum siap karena belum kenal siapa dirinya. Sebaiknya kami pendekatan dulu, agar mengetahui pribadi masing-masing!" Annisa menjawab malu-malu.
Furqan seakan ingin lompat dan memeluk Annisa, tapi dia masih memiliki urat malu. Jika cinta sudah menguasai jiwa seseorang, hal konyolpun akan dilakukan. Seketika Furqan menghabiskan makanan yang ada didepannya. Aldi dan Annisa hanya bisa menertawai dia.
"Terima kasih, bro! akhirnya aku bisa melihat cintaku dengan nyata. Selama ini, aku hanya melihat bayangan yang entah kapan bayangan itu akan menjadi nyata dan menghampiriku. Tapi kau, masih berhutang penjelasan padaku, mengapa Annisa bisa ada dan tinggal di rumahmu?!" Furqan mengungkapkan kegundahannya soal Annisa.
Aldi memberikan kesempatan pada Furqan dan Annisa untuk bicara berdua. Annisa yang semula malu, mulai membuka diri untuk bicara. Keduanya saling menyalahkan atas apa yang mereka rasakan selama ini. Annisa dan Furqan ngobrol hingga g sadar kalau malam telah larut. Furqan pamit pulang dan mengingatkan Annisa untuk memimpikan dirinya. Annisa hanya bisa tersenyum mendengar kekonyolan Furqan. Annisa dan Furqan melalui malam yang penuh dengan mimpi indah.
__ADS_1