Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Annisa Sadar


__ADS_3

Lidia terkurung dalam jeruji besi. Ia hanya berharap Fani bisa mengeluarkannya dari neraka dunia ini.


Anggita yang baru pulang dari berbelanja barang branded tak tahu kalau ibunya ada dikantor polisi. Anggita heran mengapa ibunya g ada dirumah. Anggita mencari ibunya di kamar tapi tak ada. Bertanya pada pekerja rumah pun g ada yang tahu.


"Mbok! ibu kemana, kok g ada dirumah?"


"G tahu non, nyonya keluar g bilang mau ke mana!"


"Ya sudah, makasih ya mbok!"


"Iya non." jawab mbok Minah


Ia pun menghubungi ibunya. Ponsel Lidia yang ada di tangan polisi berdering. Polisi menerima panggilan tersebut.


"Ibu...! ibu kemana sih, kok g ada di rumah?" tanya Anggita tanpa memberi kesempatan pada polisi untuk bicara.


"Maaf nona, ponsel ibu anda di kantor polisi!"'


"Apa? dikantor polisi?!" Anggita berteriak karena kaget mendengar ucapan polisi. Polisi menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriak-an Anggita


"Kok bisa, pak?!"


"Ibu anda terlibat dalam penculikan." jawab polisi


Anggita syok mendengar ibunya tertangkap karena terlibat penculikan. Ia tak sadar ponselnya jatuh dari tangannya. Seketika setetes embun menghiasi pipinya.


Ibu... kenapa ibu bisa terlibat? apa yang ibu lakukan? hiks hiks hiks!, Anggita menangis menyesalkan perbuatan ibunya. Mbok Minah yang melihat majikannya menangis mendekat, dan menanyakan penyebabnya.


"Non, mengapa menangis?"


"Ibu di kantor polisi, mbok! ibu terlibat penculikan."


"Ya Allah Gusti!" mbok Minah g bisa bicara apa-apa.


"Mbok! Anggi ke kantor polisi dulu untuk menemui ibu." Anggita pamit pada mbok Minah dan menghapus air matanya.


"Iya, non! semoga nyonya bisa dibebaskan."


"Iya, mbok! Anggi akan usahakan."


Kemudian Anggita bergegas ke kantor polisi. Ia menolak untuk di antar pak Mumun. Setibanya di kantor polisi, Anggita bertemu dengan Furqan yang juga ingin menemui Lidia. Anggita tak menyapa Furqan sama sekali, begitu pula Furqan. Karena Furqan lebih dulu datang, maka dia yang lebih dulu akan menemui Lidia. Lidia di bawa ke ruangan dimana tahanan dan pembesuk harus bertemu.

__ADS_1


"Pagi Tante!" ucap Furqan menyapa Lidia


"Nak Furqan! baguslah kamu datang. Keluarkan Tante, Tante g mau berada di sini!" ucap Lidia yang senang karena Furqan membesuknya dan berharap Furqan mau membebaskannya.


"Kalau memang Tante g mau disini, kenapa Tante harus melakukan penculikan? Tante tahu kan kalau menculik itu adalah sebuah kejahatan?" ucap Furqan.


"Tante hanya membantu ibumu. Kalau dia tidak meminta bantuan Tante, g mungkin Tante melakukan perbuatan bodoh itu. Dan, kalau kamu tidak mau membantu Tante, terpaksa ibumu harus menemani Tante di sini!" Lidia berusaha mengancam Furqan atas nama ibunya.


"Lakukan saja apa yang Tante inginkan. Kalau memang ibuku bersalah, akupun tidak bisa berbuat apa-apa Tante. Apalagi Tante telah melukai orang yang ku cintai. Tante tidak hanya berhadapan dengan Bu Erina, tapi juga denganku. Walau ibu Erina memberi keringanan pada Tante, tapi tidak denganku. Aku tunggu tindakan Tante selanjutnya!" Furqan memperingatkan Lidia. Setelah Furqan keluar, giliran Anggita yang membesuk ibunya


"Anggita...!" teriak Lidia melihat putrinya datang menjenguknya.


"Ibu...! kenapa bisa ada di sini? apa yang ibu lakukan? apa benar ibu terlibat penculikan?" tanya Anggita bertubi-tubi.


"Jangan membuat ibu makin pusing dengan banyaknya pertanyaanmu. Ibu seperti ini karena membantu Fani."


"Membantu Tante Fani?!" jelas Lidia


"Tapi kenapa ibu harus melakukan penculikan?"


"Tidak perlu banyak pertanyaan, cepat keluarkan ibu dari sini. Kamu mau ibu di penjara?!"


"Cepat lakukan. Setelah ibu keluar dari sini, ibu akan buat perhitungan dengan Fani. Ibu ditangkap, dia g datang membesuk ibu!" Lidia kecewa dengan sahabatnya.


Anggita segera menemui polisi yang menangani ibunya.


"Pak, ibu saya tidak bersalah, dia hanya di jebak! saya akan membayar berapapun, asalkan ibu saya dibebaskan!"


"Dengan jaminan pun ibu anda tidak bisa kami bebaskan. Kasus ibu anda masih dalam penyelidikan. apalagi, keluarga korban akan meneruskan kasus ini ke meja hijau!" ucap polisi pada Anggita.


Anggita kembali menemui ibunya dengan muka lesu. Perasaan Lidia tidak tenang melihat ekspresi wajah putrinya.


"Bagaimana, sayang?"


Anggita geleng kepala pertanda ia tidak berhasil membujuk pihak polisi. Lidia terduduk lemas dengan kegagalan putrinya.


"Pulanglah nak! biar ibu pikirkan cara keluar dari sini."


"Jaga kesehatan ya, Bu!" Anggita meninggalkan ibunya. Lidia sedih melihat putrinya yang pulang dengan berlinang air mata.


Furqan kembali ke rumah sakit. Pekerjaan kantor ia serahkan kepada Maya. Furqan terus menatap Annisa yang belum siuman pasca operasi.

__ADS_1


Aku merindukan canda tawamu. cepatlah kau buka matamu untukku! Aku lebih baik menghadapi ratusan preman daripada aku harus melihatmu seperti ini. Cepatlah buka matamu! gumam Furqan.


Furqan merasakan sesak di dadanya. Di satu sisi, Furqan sangat mencintai Annisa, di sisi lain ibunya ingin memisahkan dia dengan Annisa. Karena mempertahankan cintanya, Furqan harus melawan ibunya.


Saat sedang meratapi kisah cintanya, tiba-tiba Furqan di kagetkan dengan teriakan Fitri dan Kania. Erina sengaja membawa mereka berdua untuk menyemangati Annisa. Fitri dan Kania mendekati Annisa.


"Nis...ini aku, Fitri! bangunlah Nis, jangan tidur terlalu lama. Aku dan Kania tidak bisa melihatmu seperti ini, hiks hiks hiks!" Fitri dan Kania menangis melihat sahabatnya belum sadarkan diri.


"Nis...Bu Farah dan yang lain akan datang menjengukmu, kalau kamu tidak bangun pasti Bu Farah akan marah kepadamu. Kamu bangun ya, hiks hiks hiks!" ucapan Kania sambil menangis.


Kemudian, datang Farah, Siska, Egi dan Hendra. Siska mendeksti Annisa. Entah mengapa, air matanya lolos begitu saja.


"Nis...maaf aku ya, aku tidak membantumu membebaskan Fitri dan Kania. Seharusnya, aku ysng mengejar mereka hari itu bukannya memberitahu kamu, hiks hiks hiks!" Siska sangat sedih melihat Annisa terbaring.


"Kalian jangan menangis di depan Annisa, nanti dia sedih. Kalian harus menyemangatinya tanpa air mata! coba lihat kakaknya, g nangis kan? karena dia g mau Annisa ikutan sedih." Farah menegur anak buahnya.


"Bu...! kan kami beda dengan dia. Laki-laki memang harus tegar Bu, kalau tidak dia akan berubah nama menjadi kak Alda. Iyakan, kak?!" Siska membuat yang lain tertawa. Tanpa mereka sadari, jari telunjuk Annisa mulai bergerak. Furqan yang melihat langsung memanggil dokter.


"Permisi ya, saya periksa dulu!" ucap bu dokter.


Semua menjauh dari ranjang Annisa. Dokter memeriksa Annisa. Annisa perlahan membuka matanya. Dokter tersenyum bahagia melihat pasiennya sudah sadar.


"Bagaimana dokter perkembangan Annisa?" tanya Furqan


"Sangat baik, dia sadar lebih cepat. Besok dia sudah bisa pulang." ucap Bu dokter.


"Terima kasih dokter!" ucap Furqan


"Sama-sama, pak!" jawab dokter. Setelah dokter keluar, Furqan mendekati Annisa dan berbicara dengannya.


"Sayang! terima kasih sudah buka mata untukku. Kamu mau makan apa?" Ucapan Furqan membuat kekepoan Siska kambuh.


Annisa geleng kepala. "Aku g mau makan apa-apa. Kak Aldi dan ibu mana?"


"Aldi sedang keluar dan Bu Erina di toilet." jawan Furqan. Furqan menghubungi Aldi tentang Ssadarnya Annisa.


"Nis... kenapa cepat sadar sih? kalau aku g mau sadar dulu, agar ayangku terus menjagaku siang malam. Jarang Lo ayang ganteng begini mau setia nungguin sampe sadar!" Siska selalu bicara asal bunyi.


"ha ha ha! kalau ayangmu g mungkin jagain kamu, malahan nyuntik kamu biar cepat mampus!" ucap Hendra sambil tertawa.


"ha ha ha!" semua ikutan tertawa. Furqan yang biasanya hanya tersenyum ikut tertawa seperti yang lain. Erina yang baru keluar dari toilet juga ikut tertawa. Mereka bahagia karena Annisa sudah sadar.

__ADS_1


__ADS_2