
Annisa melupakan kejadian di rumah Furqan. Ia tak ingin larut dengan apa yang didengarnya. Annisa kembali fokus dengan bisnisnya yang semakin maju. Annisa berpura-pura baik- baik saja di depan Furqan agar tak menimbulkan kesalahpahaman antara ibu dan anak. Dirinya tak akan memaksakan cintanya pada Furqan jika harus menjadi penyebab renggangnya hubungan ibu dan anak tersebut. Ketika sedang sibuk menata hatinya, Annisa mengingat pesan mbok Minaiya. Annisa keluar dari kamarnya dan mencari mbok Minaiya. Beliau sedang berada di taman belakang bersama Aldi. Annisa tak berani bertanya, takut kakaknya tahu yang sebenarnya. Mbok Minaiya pun belum menceritakan apa yang terjadi dengan Annisa ketika di rumah Furqan.
"Dek! ayo sini, gabung sama kami. Mbok Minaiya sedang membahas bisnismu dengan kakak. Kakak bangga padamu, dek! omsetmu mengalahkan penghasilan kakak."
"Masa sih, kak?! g mungkin deh."
"G percaya? iyakan mbok?!"
"Iya, Non! Luar biasa kemajuan yang dicapai. Mbok juga g percaya kalau pencapaian nona di bisnis ini sangat fantastis!"
"Itu bukan hanya kerja aku, mbok! mbok dan kak Aldi kan ikut berperan juga. Jadi, aku g mau kalau itu disebut hanya pencapaian ku, tapi pencapaian kita bertiga."
"Dek! gimana pertemuanmu dengan orang tua Furqan? lancar g?" tanya Aldi
Sebelum menjawab, Annisa melirik mbok Minaiya dan beliau mengangkat bahunya pertanda terserah Annisa ingin menjawab apa.
"Lancar, kak! ibu serta saudaranya sangat baik padaku."
"Yakin mereka baik?!" tanya Aldi ragu
"Yakin, kak!" jawaban Annisa membuat mbok Minaiya tersenyum. Jika Annisa menjawab ya g sebenarnya, entah apa yang akan terjadi. Aldi tidak akan terima jika tahu yang sebenarnya.
"Mbok! mulai sekarang, mbok dilarang memanggil kami tuan dan nona. Mbok harus memanggil kami dengan sebutan panggilan lain, yang penting bukan tuan dan Nona. Kemudian, kami akan memanggil mbok dengan panggilan Ibu. Mboklah yang kini menggantikan kedua orang tua kami. Mbok g boleh menolak lagi, dan jadilah orang tua kami, mbok!" Mbok Minaiya terharu mendengar penuturan majikannya. Kebaikan dalam diri tuan dan nona mudanya menurun dari kedua orang tuanya.
"Jika kalian menginginkan itu, mbok ada permintaan untum kalian berdua, kalian pun tidak boleh menolak!"
"Apa itu, mbok?"
"Kalian harus menuruti apa pun yang aku katakan selama itu demi kebaikan kalian berdua. Dan, jika kalian ingin mengutarakan isi hati kalian jangan pernah ragu untuk melakukannya. Sudah saatnya mbok keluar dari persembunyian mbok selama ini. Tuan dan nona sudah dewasa dan sudah seharusnya saya menceritakan semuanya tentang tuan dan nyonya besar!"
"Maksud, mbok?"
"Ada banyak rahasia tentang Tuan Darmajaya dan nyonya Berlian. Mungkin kalian akan terkejut jika mendengarnya. Akan tetapi, mbok akan menceritakan semuanya jika nona Annisa telah mengambil keputusan tentang hubungannya dengan Furqan." jelas mbok Minaiya
"Baiklah, kami setuju!" ketiganya saling merangkul. Mbok Minaiya menitikkan air mata mengenang tuan dan nyonya besarnya yang sangat berjasa dalam hidupnya. Kini, kedua anaknya yang kembali memperhatikannya.
Saat sedang asyik ngobrol, suara klakson mobil mengagetkan mereka bertiga. "Sepertinya Furqan yang datang?!" ucap Aldi
Mbok Minaiya menyuruh salah seorang asisten untuk membuka pintu dan menyuruh agar tamunya di suruh masuk. Mbok Minaiya paham kalau dirinya harus pura-pura tidak terjadi sesuatu dengan Annisa dan Furqan. Kemudian, mbok Minaiya menyambut Furqan dan menyuruhnya ke taman belakang untuk menemui Aldi. Annisa bersikap biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Furqan bergabung dengan Aldi dan Annisa. "Kenapa pulang g bilang ke aku? kamu sengaja ya membuatku panik? untungnya ibu sudah menjelaskannya padaku sehingga kekhawatiranku hilang."
"Memangnya Tante bilang apa?"
"Dia bilang, ibu sudah berusaha menahanmu tapi kamu tetap pergi karena ada urusan mendadak. Untuk itu aku kemari menemuimu, untuk meminta penjelasan."
"Apa yang perlu dijelaskan, kak! Tante kan sudah memberitahumu. Aku ada urusan mendadak, ada sedikit masalah dengan bisnisku, dan aku sendiri yang harus menyelesaikannya. Fiona pun menyuruhku untuk menunggumu, tapi aku bilang ke dia nanti aku telepon kak Furqan jika sudah sampai di rumah. Sibuk dengan masalah yang terjadi, akhirnya aku lupa nelepon kak Furqan, maaf ya!"
__ADS_1
"Iya, aku maafin. Lain kali jangan main kabur begitu saja, oke!"
"Oke deh!"
Mbok Minaiya menemui Annisa. "Nisa! temani ibu belanja ya, biarkan Furqan dengan Kakakmu."
"Iya, Bu!" jawab Annisa sembari mengikuti Erina ke dalam rumah. Furqan membiarkan Annisa meninggalkannya.
Erina dan Annisa akan keluar tanpa sopir pribadi. Mereka menuju sebuah mall dan mobil mereka pun memasuki area parkiran. Di saat yang sama, mobil Fani parkir tidak jauh dari mereka. Annisa dan Erina keluar bersamaan dan tentunya mereka dilihat oleh Bu Fani.
Itukan gadis gembel itu! dengan siapa dia?
Fani sedikit mencuri pandang pada Annisa dan Bu Erina. Jantungnya hampir saja copot dan tubuhnya hampir hilang keseimbangan melihat siapa yang bersama Annisa.
Apa? Erina? pengacara itu? tapi, kenapa dia bersama Annisa? apakah Annisa putri Erina? g mungkin? bukankah Erina hanya memiliki satu orang anak laki-laki? ada hubungan apa Annisa dengan Erina? pertanyaan terus berkecamuk didalam hati dan pikiran Fani. Fani segera menelpon orang suruhannya untuk mengikuti Annisa dan Erina di tempat yang sama dengannya. Sementara dirinya, tak mampu lagi bergerak karena syok. Perlahan ia menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia menunggu Erina dan Annisa keluar dari mall.
"Ada yang mengikuti kita, Nisa?"
"Siapa, Bu?!"
"Santai saja, jangan membuat mereka menyadari kalau kita mengetahui keberadaan mereka!"
"Baik, Bu!"
Erina keluar dari parkiran sambil tersenyum karena melihat mobil Fani. Sebelum meninggalkan area mall, Erina mengirim pesan ke Bu Fani.
Handphone Fani bergetar, Fani segera mengeluarkan gawainya dari dalam tasnya.
Siapa yang mengirim pesan? tanya Fani pada dirinya sendiri. Setelah membacanya Fani terkejut dengan ejaan nama pengirimnya. Ia semakin dihantui rasa takut. Entah apa yang ditakutinya dengan Erina. Tak mengindahkan perintah Erina, Fani menelpon seseorang untuk mengikuti Erina, kemudian Fani menelpon preman-preman bayarannya untuk bertemu di mall.
10 menit kemudian, preman-preman itu muncul di tempat yang di sebutkan Fani.
"Halo, bos! sudah lama kita g ke temu. ada yang bisa kami kerjakan?"
"Ada. Dan pastikan pekerjaan kalian berhasil 100 persen. Saya tidak mau kalian gagal, ini bayaran kalian 30 juta. Sisanya setelah kalian menyelesaikannya!" Fani menyerahkan amplop berisi uang puluhan juta. Kemudian menjelaskan tugas yang harus mereka lakukan. Tentunya pekerjaan mereka kali ini sangat berat karena harus berkaitan dengan seorang pengacara yang pemberani meskipun dia hanya seorang wanita plus ditemani gadis mungil tapi berbahaya.
"Ingat, jangan sampai gagal!"
"Baik, Bos! ayo berangkat!" Ketua preman mengajak anak buahnya untuk segera menjalankan tugasnya.
Erina dan Annisa sedang berada di sebuah restoran mewah. Sekilas ada yang mengenal Erina dan Annisa. Jika Erina di kenal karena merupakan seorang pengacara wanita terkenal dan Annisa di kenal karena aksinya yang viral. Seorang laki-laki paruh baya yang usianya kisaran 50 tahun menghampiri Annisa dan Erina.
"Erina! ini Erina kan?" tanya pak Baskoro pada Erina.
Erina menatap ke arah orang yang menyebut namanya. "Baskoro, apa kabar?" tanya Erina melihat sahabat baiknya yang sekian lama tidak bertemu.
"Kamu dari mana saja, Rin? udah lama aku mencarimu, tapi g menemukanmu!"
__ADS_1
"Panjang ceritanya, Bas! lain kali akan aku ceritakan padamu. Bagaimana pekerjaanmu sebagai dosen?"
"Aku fokus jadi dosen, g ingin melakukan pekerjaan lain lagi." jawab pak Baskoro.
Baskoro bertanya tentang Annisa. Erina memberi peringatan pada sahabatnya untuk tidak memberitahu rahasia tentang Annisa pada siapapun. Erina sangat percaya pada Pak Baskoro, karena beliau satu-satu teman yang bersamanya dari SD hingga mereka mendapatkan pekerjaan. Hanya saja, pak Baskoro lebih tua dari Erina.
"Dia Annisa, putri pak Darmajaya dan Bu Berlian!" jawaban Erina membuat pak Baskoro kaget bukan kepalang. Baskoro ingin bertanya lebih jauh tentang Annisa tapi Erina langsung menghentikannya.
"Jangan banyak bertanya, Bas! satu hari aku ceritakan g bakalan selesai. Ingat pesanku, jangan cerita ke siapapun siapa Annisa sebenarnya!"
"Oke! aku akan menjaga rahasia ini."
"Bas! pertemuanmu denganku dan Annisa akan menyusahkan hidupmu karena kamu tahu kan siapa lawanku? mereka sudah mulai melakukan tindakan. Jika aku memberitahu publik siapa Annisa, sudah pasti rencana-rencana jahat di masa lalu akan terulang kembali. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya. Pergilah, sebelum preman-preman itu datang kemari!" Erina terpaksa menyuruh pak Baskoro untuk meninggalkan mereka. Untungnya, Erina sudah tahu sepak terjang Fani sehingga pak Baskoro tidak ketahuan bertemu dengan Annisa dan Erina. Erina dan Annisa pun keluar dari restoran. Kedua masuk ke mobil dan meninggalkan restoran. Dalam perjalanan pulang, mereka diikuti oleh sebuah mobil berwarna hitam.
"Nis! ada yang mengikuti kita!"
"Siapa, Bu?"
"Nanti kamu akan tahu. Kita tidak boleh langsung ke rumah besar karena mereka ingin tahu kita tinggal di mana."
"Lalu kita akan ke mana, Bu?"
"Kita ke rumah lama ayahmu." Erina membelokkan mobilnya ke arah kanan. Benar saja, mobil tersebut terus mengikuti mereka. Sampai di rumah lama pak Darmajaya, Bu Erina turun dari mobil dan menyuruh Annisa tetap di dalam. Ia menunggu mobil yang mengikutinya. Mobil penguntit tersebut terpaksa berhenti dan meladeni Erina karena sudah ketahuan.
"Ada urusan apa mengikuti kami?" tanya Erina pada preman-preman tersebut.
"Untuk menghabisi kalian."
"Silahkan lakukan! apa yang kalian tunggu?" Erina mengundang ke delapan orang preman untuk menyerangnya.
Dari dalam mobil, Annisa melihat pergerakan orang yang mengikuti mereka ingin menyerang Erina. Annisa pun turun dan menemani Erina.
"Kalian berdua menyerah saja jika tidak ingin kami berbuat kasar!" ucap salah satu preman dan di setujui oleh teman-temannya
"Hummm! jika tidak, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Erina memanas-manasi mereka.
"Jika tidak, kami terpaksa akan melakukan kekerasan. Bos kami menginginkan kalian hidup-hidup, menyerahlah!" ucap kepala preman yang bagian dada dan lengannya dipenuhi tato. Erina dan Annisa diam ditempat tak menanggapi ancaman mereka. Ketenangan yang ditunjukkan Annisa dan Erina membuat ke delapan preman kepanasan dan langsung mendekat ingin menahan target, tapi sebelum tangan mereka mencapai tujuan, Annisa lebih dulu memberikan serangan dan tentu saja membuat beberapa preman kaget dengan gerakan Annisa yang begitu lincah dalam memberikan pukulan dan tendangan fatal pada teman-temannya di susul oleh Erina yang menyumbangkan tendangan mautnya. Tak ayal lagi, tendangan itu mematahkan gigi depan dua orang preman. Seorang preman mengeluarkan pistol dari balik bajunya. Saat ia akan menarik pelatuk pistolnya Annisa lebih dulu menyapanya dan di sambut oleh Erina. Karena kehilangan kendali, pelatuk ditarik dan dorrrr! peluru mengenai temannya sendiri. Melihat temannya sudah menjadi mayat, ketujuh preman yang wajahnya telah lebam kebiru-biruan ingin menyelamatkan diri dari Annisa dan Erina.
"Berhenti! bawa serta mayat teman kalian atau kalian semua akan berakhir seperti dia! jika masih ingin hidup, jangan coba-coba mengikuti kami. Sampaikan pada bosmu, temui saya besok direstoran Jepang jam 5 sore!" perintah Erina.
Ke tujuh preman susah payah mengangkat mayat temannya ke dalam mobil. Rasa sakit di sekujur tubuh hampir membuat mereka tidak bisa lagi berdiri. Setelah kepergian mereka, Annisa dan Erina pun meninggalkan rumah lama pak Darma. Annisa terus mengamati rumah tersebut dari dalam mobil.
"Nanti kita ke sini lagi. Ada banyak kenangan di rumah itu yang harus kalian ketahui!"
"Bu...kenapa sih kita diikuti sama mereka? salah kita apa? siapa mereka?" tanya Annisa penasaran!
"Rapikan dirimu, Nisa!"
__ADS_1
"Iya, Bu!" Annisa merapikan dirinya yang berantakan. Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di rumah. Aldi dan Furqan sudah tidak ada di rumah. Kedua langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian dengan pakaian rumahan.