Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Menolong Susi


__ADS_3

Kejadian yang menimpanya di hotel, membuat Anggita semakin benci dan dendam pada Annisa dan juga keluarga Furqan. Ia berpikir, semua hal buruk yang terjadi pada dirinya adalah karena mereka.


Aku benci kalian...aku benci! kalian membuatku kehilangan segalanya. Aku tak akan membiarkan kalian hidup tenang. aaaaahhhhh, hiks hiks hiks!


Masih dalam keadaan menangis, tiba-tiba Anggita mengingat Ronald.


Ronald...apa yang kau lakukan padaku? kau bajingan!


Anggita tak pernah mengira, jika Ronald akan menghancurkan hidupnya dengan membiarkan pria lain mengobrak-abrik tubuhnya. Seketika Anggita berdiri dan menyemangati dirinya.


Aku tak ingin lagi meminta bantuan siapapun untuk mewujudkan tujuanku. Akan kulakukan sendiri!


Anggita beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri didepan cermin. Air matanya kembali mengalir melihat kondisi dirinya yang kotor yang perlakuan suruhan Ronald. Ia seka air matanya. Tak ada lagi air mata dan rasa sakit melainkan dendam membara yang semakin membakar dirinya. Anggita mengubah penampilan yang semula selalu tampil anggun dan berkelas menjadi seorang wanita tomboy urakan. Dendamnya membuat Anggita tak memperdulikan rasa ditubuhnya. Anggita akan memulai aksi balas dendamnya pada keluarga Furqan. Sebelum beraksi, Anggita mengumpulkan anak buah ayahnya yang masih setia pada keluarganya untuk membantu dalam menjalankan rencananya. Beberapa hari kemudian, Anggita menuju kediaman Fani. Sesampainya di kediaman Fani, Anggita langsung saja menerobos masuk dan tidak perduli dengan larangan security. Ia justru memukul Security hingga pingsan. Setelah itu, Anggita menggedor-gedor pintu rumah yang masih tertutup. Susi segera keluar dan melihat siapa yang datang. Hampir ia tak mengenal Anggita. Tanpa ada percakapan antara keduanya, Anggita langsung saja menyekap Susi hingga pingsan dan memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Susi ke dalam mobil. Anggita dengan mudah membawa Susi ke tempat tertentu.


Susi sadar dari pingsannya dan melihat sekeliling tempat ia berada. Ia kaget mengetahui dirinya di ikat di sebuah kursi. Di depannya ada Anggita yang sedang menatapnya penuh dendam.


"Anggita...apa yang kau lakukan? lepaskan aku!" ucap Susi.


"Apa? jangan mimpi kak Susi!" ucap Anggita penuh penekanan.


"Kamu sudah gila. Mengapa kamu menyekap aku ditempat ini?" tanya Susi.


"Kenapa? kamu takut, hmmm?" tanya Anggita pada Susi dengan senyum sinis.


"Apa maksudmu melakukan ini?" Susi balik bertanya.


"Mau tahu apa alasannya? karena kalian ibuku masuk penjara, dan karena kalian juga aku kehilangan segalanya, pekerjaanku dan harga diriku. Kalian harus mengalami hal yang sama, paham!" Jelas penuh amarah.


"Seharusnya kamu ngaca Anggita! semua yang terjadi dengan ibumu juga dirimu adalah karena kesalahan kalian sendiri, bukan kami penyebabnya". jelas Susi.


Mendengar perkataan Susi, Anggita serentak berdiri dan melayangkan tamparan yang begitu keras kepada Susi. Alhasil, stempel lima jari terlihat nyata di pipi mulus Susi. Bukan Susi namanya jika ia mengeluh karena perihnya tamparan tersebut. Tamparan itu justru membuatnya memandang sinis pada Anggita. Dirinya yang dulu bar-bar dan tomboy ternyata membuatnya menjadi wanita kuat.

__ADS_1


Kamu sangat menjijikkan Anggita. Kamu benar-benar nggak tahu malu. Kamu memaksakan diri untuk mendapatkan Furqan, meskipun Furqan menolakmu. Jika kamu wanita yang memiliki harga diri, tentunya kamu tidak akan pernah menunjukkan wajahmu di depan seseorang yang menolak cintamu.Tapi kamu, justru mengikuti permainan ibuku dan mau menjebak Furqan. Kamu sendiri yang menghilangkan harga dirimu sebagai wanita berpendidikan dan berkelas. Mengapa sekarang kamu menyalahkan orang lain?" jelas Susi dengan santainya.


"Tutup mulutmu atau aku akan menyuruh mereka untuk menjamah tubuhmu, kamu terlalu banyak bicara!" bentak Anggita sembari menarik rambut Susi.


"Lakukan saja apa yang kamu inginkan, Anggita!" tantang Susi.


"Kamu menantang ku!"


"Untuk apa menantangmu. Aku siap melayani anak buahmu itu. Lakukan, ayo lakukan!" desak Susi.


Anggita sedikit ciut melihat keberanian Susi. Ia nggak menyangka jika seorang Susi tidak takut dengan ancamannya. Anggita dan Susi saling mengancam satu sama lain, sedangkan security rumah Fani baru sadar dari pingsannya. Ia langsung menghubungi Fiona yang kebetulan sedang di luar rumah.


Fiona yang sedang berada di rumah Fardan kaget karena gawainya berdering. Ia melihat nama yang tertera di ponselnya. Ia segera menerima panggilan dari rumahnya.


"Halo non! cepat pulang, non Susi di culik!" ucap pak Min.


"Apa...kak Susi di culik?! pak Min hubungi kak Furqan, saya akan segera pulang!" jawab Fiona.


Furqan, Annisa dan Fiona, tiba di rumah bersamaan. Mereka keluar dari mobil masing-masing. Pak Min menemui majikannya dan menceritakan kejadiannya. Mereka masuk ke dalam rumah dan melihat rekaman cctv yang memantau dalam rumah. Tak kejadian mencurigakan dalam rumah. Furqan beralih ke cctv yang ia pasang khusus untuk memantau depan rumahnya. Dan terlihat jelas ada beberapa orang berada didepan rumah. Furqan tak mengenali wajah Anggita. Setelah Anggita balik dan membawa Susi, Furqan melihat jelas wajah Anggita dengan penampilan barunya.


"Anggita yang menculik kak Susi!" ucap Furqan.


"Ha...Anggita?!" jawab Annisa dan Fiona bersamaan.


"Dia merubah penampilannya agar tidak dikenali. Sepertinya dia ingin balas dendam pada kita karena apa yang terjadi padanya dan ibunya". jelas Furqan.


"Terus...kak Susi gimana kak?" tanya Fiona khawatir.


Sebelum Furqan menjawab Fiona, Annisa segera memperlihatkan rekaman perjalanan Anggita yang dikirim Erina.


"Lihat ini!" pinta Annisa.

__ADS_1


Furqan dan Fiona serta pak Min, memperhatikan dengan seksama video tersebut.


"Pak Min...!"


"Iya Tuan!"


"Pak Min dan Fiona tetap di rumah. Biar saya dan Annisa yang ke sana!"


"Tapi kak, aku mau ikut!" jawab Fiona.


"Ajak saja Fiona. Bantuannya kita butuhkan". ucap Annisa.


"Jika dia ikut, kita nanti kewalahan karena harus menjaganya dari anak buah Anggita".


"Tenang saja, dia bisa menjaga dirinya. Ayo dek!" ajak Annisa.


Furqan, Annisa dan Fiona segera meluncur ke tempat di mana Susi di tahan atas pentunjuk dari Andrew. Benar saja, setibanya disana, dri luar rumah, mereka bertiga melihat Susi diikat di sebuah kursi dengan kondisi berantakan karena ulah Anggita.


"Anggita...!" teriak Furqan tanpa memperdulikan anak buah Anggita yang berusaha menahannya.


Beberapa anak buah Anggita tak mampu melawan Annisa. Annisa dan Fiona menyusul Furqan ke dalam.


Anggita kaget dengan teriakan Furqan. Anggita tak menyangka kalau Furqan akan menemukannya secepat itu. Rencananya, ia akan menyuruh anak buahnya untuk memperkosa Susi secara bergiliran. Akan tetapi, nasib baik tidak berpihak padanya.


Anggita mendekati Susi dan menjambak rambutnya, tapi Susi tak menunjukkan kalau dia kesakitan. Anggita menodongkan pisau di leher Susi. Susi dengan tenang memperhatikan situasi agar dirinya bergerak dengan baik untuk membuat Anggita terkecoh. Furqan, Annisa dan Fiona sudah berada diruangan dimana Susi di ikat. Dengan mudah Annisa melumpuhkan Anak buah Anggita. Melihat keadaan bisa dikendalikan oleh Furqan dan Annisa, Susi berusaha mendorong tubuhnya ke belakang dengan sekuat tenaga. Usahanya tidak sia-sia meskipun pisau sedikit melukai lehernya. Anggita tak mampu menjaga keseimbangan, badannya terhuyung ke belakang. Fiona yang berada disamping Annisa bergerak lebih cepat dan berhasil melumpuhkan Anggita. Anggita menahan sakit akibat tendangan Fiona. Annisa membantu Susi melepaskan ikatan di tubuhnya. Anggita tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan apa yang akan dilakukan Furqan padanya.


"Perbuatanmu kali ini aku maafkan. Jika kamu masih berani menyentuh keluargaku, akan kupastikan kamu menyusul Tante Lidia ke penjara!". Furqan memperingati Anggita.


"Rasain kamu, dasar wanita gila!". ledek Fiona.


Fiona, Furqan, Annisa dan Susi meninggalkan Anggita dan anak buahnya yang masih tak berdaya. Sedangkan Anggita merasa kesal karena usahanya sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2