
"Sayang! mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu?"
"Kak, kita ke panti dulu ya. Udah lama aku g ke sana, tapi kita singgah dulu beli makanan untuk mereka. Kita kerestorannya kak Fendi aja, kan udah dekat dari sini?!"
"Oke, sayang! sopir siap mengantar nona kesayangan ke manapun."
"g jadi deh!"
"kenapa g jadi?"
"kakak sih, godain aku terus! kakak mau aku mencair seperti es batu yang kena panas, ha!"
"Ha ha ha, kamu ini selalu membuatku tertawa. Maaf deh kalau gitu. Di maafin g?"
"Aku maafin, tapi jangan diulangi lagi!" ucap Annisa.
"Siap, komandan!" Furqan memberi hormat pada Annisa seolah menghormati pemimpin upacara bendera.
"Sayang! aku ingin kita selalu seperti ini sampai maut memisahkan, bahagia, bercanda dan saling menyayangi. Semoga engkau mau menemaniku dalam suka dan duka, hanya kamu satu-satunya wanita yang kuinginkan sampai aku mati. Aku menemukan diriku sendiri pada dirimu, untuk itulah aku buka hati untuk mencintai lagi. Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis, tapi restu ibuku menjadi penghalangnya. Ibu tidak menyetujui hubungan kami berdua dan ibu mau bunuh diri jika aku mempertahankannya. Harapanku hanya padamu, Nisa! aku tidak akan pernah lagi jatuh cinta. Aku tidak ingin kehilangan kamu seperti aku kehilangannya. Aku tak perduli lagi dengan restu ibuku." Furqan menghela napas perlahan mengingat kenangannya dengan mantan kekasihnya.
Entahlah kak, apakah aku bisa melakukannya atau tidak. Restu ibumu sangat berarti bagi hubungan kita. Tapi sekarang, restu itu tak akan ada untuk kita. Aku hanya tidak ingin menyakitimu saat ini. Itulah mengapa aku tak memberitahumu soal ucapan ibumu padaku, bathin Annisa sambil menyapu pandangannya keluar jendela.
Mereka memasuki area restoran, kemudian Annisa keluar untuk memesan beberapa paket makanan. Setelah selesai, Annisa dan Furqan menuju panti jompo. Saat keduanya parkir di depan, keduanya di kejutkan oleh keadaan di panti yang sepi dan hanya terdengar suara tangisan. Furqan dan Annisa segera keluar dan langsung masuk ke dalam. Ternyata ada salah satu penghuni panti yang meninggal. Furqan dan Annisa mengurus semuanya. Selesai pemakaman, Furqan dan Annisa langsung pulang.
"Assalamualaikum, Bu!" ucap Annisa pada Erina yang kebetulan ada di taman depan.
"Waalaikumsalam, Nak! udah pulang!"
"Iya, Bu! masuklah dan istirahat. Furqan mana?"
"Aku suruh dia pulang." jawab Annisa. Erina tersenyum mendengar jawaban Annisa.
Di rumah Furqan
"Halo! bagaimana? rencana berhasil?" tanya Fani pada pelayan kepercayaannya.
"Maaf, nyonya! rencana gagal, bahkan saya ketahuan kalau saya menaruh racun di makanan itu." jawab si pelayan.
"Apa? kamu ketahuan? lalu apa yang dilakukan putraku padamu?"
"Yang tahu rencana saya bukan putra nyonya, tapi kekasihnya. Dia tidak memberitahu tuan Furqan. Dan, gadis itu tidak memperpanjang masalah ini, nyonya!"
__ADS_1
"Bagus kalau begitu! untuk sementara kamu cuti dulu. Kemungkinan akan ada yang mencarimu. Kalau sampai gadis itu melaporkan kamu pada ibunya, tamat riwayatmu. Kalau kau berani menyebut namaku, seluruh keluargamu akan saya habisi, mengerti!"
"Mengerti, nyonya!" jawab si pelayan. Fani menutup teleponnya.
Fani mondar mandir seperti setrika karena memikirkan rencananya yang gagal.
Dari mana Annisa tahu kalau pelayan itu menaruh racun? apakah pelayan itu tidak mematikan cctv sebelum melakukannya? aku harus waspada dan menyusun rencana baru, gumam Fani.
Sedang pusing memikirkan masalahnya, gawai Fani berdering. Ia melihat siapa yang menelponnya. Fani tersenyum melihat siapa yang menelponnya dan segera mengangkatnya.
"Halo, sayang! mengapa nelpon Tante?"
"Tante...gimana rencana kita? berhasil g sih?" tanya Anggita.
"Tenang, sayang! Tante sudah menjalankannya dan gadis itu tidak akan berani lagi menampakkan dirinya di depan Furqan. Kamu harus kembali ke Indonesia Minggu depan. Tante akan mengumumkan pertunangan kalian ke publik. Semua harus tahu, siapa calon mantu Tante. Dengan demikian, Annisa akan menjadi gunjingan orang saat dia jalan bareng dengan Furqan. Bagaimana? kamu siap?"
"Siap, Tante! Aku senang mendengarnya." Anggita hampir saja melompat mendengar ucapan Fani. Kemudian, Anggita menemui ibunya di balkon.
"Bu...Ibu!" Anggita terus berteriak memanggil ibunya.
"Ada apa, sayang? sepertinya anak ibu bahagia hari ini?!"
"Tante Fani nyuruh aku ke Indonesia Minggu depan, Bu!"
"Untuk mengumumkan pertunangan aku dengan Furqan, Bu!"
"Yang benar, sayang! akhirnya keinginanmu tercapai. ingat, jaga sikapmu di depan Furqan, agar dia tidak ilfil denganmu."
"Tenang, Bu! aku sudah siap. Aku akan urus pekerjaan dengan cepat agar pertunanganku tidak terganggu dengan hal lain." ucap Anggita menyakinkan ibunya
"Aku akan ke kantor sekarang." Anggita meraih tasnya dan segera berangkat ke kantor untuk menandatangani kontrak lebih awal sebelum ke Indonesia.
Di Kediaman Annisa
Erina, Aldi dan Annisa sedang duduk bersama di taman belakang. Erina sengaja mengajak keduanya untuk membahas siapa yang ingin meracuni Annisa.
"Bu...siapa yang mencoba meracuni Annisa?" tanya Annisa.
"Sesungguhnya, pelayan itu hanya di suruh oleh seseorang untuk meracuni Annisa."
"Apa tujuan mereka melakukannya?" tanya Aldi dengan tenang.
__ADS_1
"Untuk memisahkan Annisa dengan Furqan. Soal ini, Furqan tidak tahu apa-apa. Selain itu, karena dia melihat langsung ibu dengan Annisa berdua. Seperti yang ibu katakan sebelumnya, akan ada percobaan pembunuhan pada kalian berdua."
"Itu artinya, ibu tahu siapa orangnya?" tanya Annisa.
"Fani, ibunya Furqan. Dia tidak merestui Annisa dan Furqan. Inti dari semua kejadian ini adalah kebersamaan ibu dengan Annisa. Ada sesuatu yang Fani sembunyikan dari anak-anaknya soal masa lalunya yang ada hubungannya dengan kalian berdua".
"Maksud, Ibu?" tanya Annisa dan Aldi berbarengan.
"Ibu akan menceritakannya sekarang juga pada kalian berdua. Keputusan ada di tangan kalian bagaimana tindakan selanjutnya!" Erina tidak ingin lagi menyembunyikan rahasia besar pada Annisa dan Aldi.
"Fani ada hubungannya dengan kematian Tuan dan nyonya." ucap Erina sedih.
"Kok bisa?!"
"Dialah yang meracuni ayah dan ibumu!"
"Apa? Tante Fani yang membunuh ayah dan ibuku?!"
"Bukankah ibu pernah bilang kalau ayah dan ibu meninggal kecelakaan?" ucap Aldi dengan hati bergemuruh.
"Maafkan ibu, Aldi! ibu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu, karena waktu itu kamu belum dewasa. Ibu khawatir, kamu akan jadi target selanjutnya. Sebelum meninggal, tuan dan nyonya berpesan pada ibu, agar menjaga rahasia ini hingga kamu dewasa. Jika ibu membuka rahasia kematian tuan dan nyonya lebih awal, sudah pasti kamu akan juga diburunya karena kamu adalah pewaris tunggal perusahaan Tuan dan nyonya yang kini ada di tangan Fani dan keluarganya." Erina menitikkan air mengingat betapa bejatnya Hartawan dan istrinya.
"Tuan dan nyonya adalah orang yang sangat dermawan. Banyak perusahaan kecil yang terancam bangrut di bantu oleh perusahaan ayahmu. Kesuksesan ayahmu membuat Hartawan dan istrinya iri dan dengki. Kedengkian itulah yang membuat mereka berani melakukan kejahatan itu."
"Bu... mengapa mereka begitu jahat pada orang tua kami? hanya karena harta, mereka jadi pembunuh. Apakah aku harus tetap dekat dengan Furqan atau aku harus membencinya, Bu?" Aldi jadi ragu terhadap kedekatannya dengan Furqan.
"Aldi...yang membunuh adalah orang tuanya bukan anak-anaknya. Furqan g tahu apapun tentang kejadian itu. Fani menjaga rahasia ini dari anak-anaknya. Meskipun aku adalah pengacara tapi aku tidak bisa bertindak gegabah, karena taruhannya adalah dirimu. Ibu terpaksa menyamar jadi pembantu untuk menyelamatkanmu dari niat jahat mereka. Mereka tidak mengusikmu selama ini, karena kamu g tahu apa-apa tentang rahasia besar itu, nak!" kata Erina.
Meskipun Annisa tidak bersama orang tuanya sedari kecil, tapi dari cerita Erina membuat hatinya sakit mendengar cerita pembunuhan orang tuanya.
Kak, apa yang harus aku katakan tentang orang tuamu? aku tidak ingin di antara kalian berdua ada perselisihan. aku ingin menghormatinya walaupun dia membenciku, tapi kenyataannya dialah yang membunuh orang tuaku. Pantaskah aku menghormatinya? ataukah aku harus membalasnya? Maafkan aku jika suatu saat nanti aku tak bisa lagi menghormatinya, bathin Annisa.
Annisa berdiri dengan perasaan tak menentu. Tak menyangka jika dia akan berhadapan dengan pembunuh orang tuanya. Annisa mendekati kakaknya dan mereka berpelukan dengan derai air mata.
"Kak...apa yang harus kulakukan? Aku mencintai Furqan tapi bagaimana dengan orang tuanya? sebenarnya, ibunya tidak merestui hubungan kami tapi aku tidak memberitahu Furqan. Aku takut Furqan kecewa dan membenci orang tuanya." ucap Annisa dengan seduh sedannya.
"Tetaplah bersamanya, dengan begitu ibunya akan semakin murka dan melakukan hal tak terduga. Kita tunjukkan pada Furqan siapa Fani sebenarnya!" ucap Aldi tenang.
Aldi, Nisa! Bersiaplah, besok ibu akan melakukan jumpa pers untuk mengumumkan keberadaan kalian. Publik harus tahu, penerus Darmajaya masih hidup. Selanjutnya, ibu akan mengeluarkan surat sah kepemilikan perusahaan Putra Jaya ke publik. Aku ingin tahu, apa yang akan mereka lakukan?"
"Bagaimana jika mereka menuntut kita, Bu?" tanya Aldi.
__ADS_1
"Tenanglah, Nak! semua bukti kejahatan mereka ada pada ibu. Jika mereka melawan ibu, itulah yang ibu inginkan. Dan kalian, hiduplah dengan ketegasan, jangan pernah mengalah pada kejahatan karena mereka akan terus mengejar kita!" perintah Erina.