
Hari H pun tiba. Sudah banyak tamu undangan sudah hadir. Anak-anak panti sudah duduk dengan manis di barisan paling depan. Annisa menyiapkan tempat khusus bagi mereka. Semua tamu yang hadir, saling ngobrol satu sama lain. Pernikahan Aldi dan Fitri diadakan secara sederhana tapi dengan konsep mewah. Tak lama kemudian, Kedua mempelai keluar dan menuju singgana raja dan ratu sehari. Siska melongo melihat Fitri yang dirias natural tapi luar biasa cantiknya.
"Nia...lihat Fitri, dia sangat cantik, benar-benar perfect!"
"Ia, Sis! ditambah dengan senyumnya yang manis, rasanya aku ingin ke sana mencubit pipinya. hmmm, cantiknya sahabatku!" ucap Kania dengan gemas.
Semua yang hadir di acara tersebut, tak henti-hentinya memuji kedua pasangan tersebut. Tak sadar, air mata Annisa turun bah air yang turun dari dataran tinggi ke dataran rendah. Dihari bahagia kakaknya, tidak didampingi kedua orang tua mereka. Air mata bahagia Annisa dan Erina, membuat para tamu ikut merasakan haru.
Anak-anak panti dipersilahkan untuk foto bersama dengan kedua mempelai. Merekapun kegirangan foto bersama orang yang begitu baik pada mereka. Setelah foto, anak-anak panti disuguhkan hidangan lezat. Tamu yang lain pun menikmati hidangan yang telah disiapkan, hidangan ala restoran mewah sambil dihibur dengan sebuah lagu yang sangat menyentuh hati yang dinyanyikan oleh seorang anak panti.
Anak-anak panti sudah siap diantar pulang. Mereka semua membawa pulang amplop berisi uang plus hadiah lainnya. Tamu yang hadir, berbondong-bondong foto bersama kedua mempelai. Ketika Kania and the geng hendak foto bersama, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan hadirnya sosok-sosok yang membuat mereka terganggu sehingga harus batal foto bersama. Walau sedikit terlambat, Kuncoro hadir bersama putranya yang sudah bebas karena kemurahan hati Aldi. Anggita hadir bersama Deni. Aldi sudah mengingatkan Furqan untuk menyambut pak Kuncoro tanpa ada rasa kesal. Furqan pun menyambut Kuncoro dan Herman dengan ramah. Sedangkan Annisa menyambut Anggita dengan senyum khasnya. Anggita merasa malu bertatap muka dengan Annisa, tapi Deni memberikan support agar Anggita memberanikan diri berhadapan langsung dengan Annisa.
"Hai Anggita!" sapa Annisa.
Lama Anggita menjawab sapaan Annisa. Lidah terasa kaku dan rasanya ia ingin berlari menjauh. Deni memahami perasaan Anggita. Ia segera menjawab sapaan Annisa.
"Hai juga, Nis! maaf...kami datang terlambat!" Deni balik menyapa Annisa.
"G apa-apa kak, yang penting kak Deni sudah Hadir. Kok bisa bersama Ang?!" Annisa tidak melanjutkan menyebut nama Anggita.
"Dia teman aku sekaligus kekasihku. Cantikkan?" jawab Deni.
"Yang benar kak?!" tanya Annisa penasaran.
"Aku senang kak Deni dan Anggita bersama. Itu artinya, kak Deni harus lebih baik lagi, dan jadi pria yang bisa dibanggakan dan dibutuhkan dalam situasi apapun. Anggi...aku senang banget kamu dekat dengan kak Deni!" ucap Annisa panjang lebar.
Anggita bingung dengan keadaan yang dihadapinya. Dia hanya bisa menatap Deni dan Annisa secara bergantian. Sementara, Kania and the geng menatap Annisa heran. Siska mengerutkan kening saat melihat Anggita hadir dipernikahan bosnya.
"Kenapa ular jantan dan betina itu bisa hadir di sini sih? siapa yang undang mereka? perasaan, saat aku bagikan undangan g ada tuh nama mereka! tapi kenapa sekarang mereka bisa muncul ya?!" Siska bertanya pada teman-temannya dengan heran.
__ADS_1
"Sis...pasti pak Kuncoro di undang khusus sama kak Aldi dan kak Furqan. Sedangkan Anggita, siapa lagi kalau bukan Annisa. Aku heran sama Annisa, masih aja baik sama orang macam Anggita!" ucap Kania.
"G perlu heran dan g perlu bergosip. Selama orang itu mau berubah apa salahnya kita merangkulnya dan menjadi teman baik sekalipun dia pernah mau menghilangkan nyawa kita. Kita ini hanya manusia biasa, kadang benar kadang salah. Jadi berhentilah bergosip!" Hendra memberi peringatan pada sahabatnya.
"Baik pak Ustadz, kami mohon maaf jika kami bergosip dan mengganggu kenyamanan anda!" canda Kania.
"Semuanya kembali bekerja. Kak Aldi memberi tugas padaku untuk mengawasi kalian agar tidak melalaikan tugas masing-masing!" ucap Hendra.
Siska, Kania, Hendra dan Egi kembali menjamu tamu dengan ramah, Annisa masih ngobrol dengan Anggita dan Deni.
"Den...kamu kenal dia?!" tanya Anggita heran.
"Kamu masih ingat cerita aku waktu di taman? dia perempuan yang aku maksud, yang mampu menyadarkan lelaki bajingan sepertiku. Dan, sekarang menjadi kekasihmu. Aku janji padamu, aku akan membawamu ke pelaminan dan menjadi suami yang baik. Kamu siapkan mendampingi aku?" tanya Deni.
Anggita menundukkan kepalanya karena malu.
"Baiklah!" jawab Deni.
Annisa meninggalkan Deni dan Anggita. Anggita menatap Annisa dengan hati sendu.
Terima kasih atas kemurahan hatimu, memaafkan kesalahanku, memberikan pelajaran kepadaku hingga bisa melihat kebenaran dalam hidupku. Akan kuungkapkan rasa terima kasih ini dilain waktu!
Setelah itu, Anggita menatap Deni dan menggenggam tangannya.
"Terima kasih karena sudah menerimaku apa adanya!" ucap Anggita pada Deni.
"Kita harus berterima kasih pada Annisa. Annisa orang yang dikirim Tuhan untuk menyadarkan kita!" Deni merangkul Anggita.
Keduanya pun menuju hidangan yang telah disiapkan untuk para tamu. Sementara Annisa bergabung dengan sahabat-sahabatnya untuk foto bersama dengan pengantin. Siska yang berdiri disamping Annisa, menyempatkan diri untuk bertanya tentang alasan diundangnya Kuncoro, Herman dan Anggita.
__ADS_1
"Nis...!"
"Apa?"
"Yang undang mereka siapa sih? kamu?! kenapa sih kamu undang mereka? mereka lawan kita. Kalau mereka bikin rusuh dihari yang membahagiakan ini, bagaimana?" bisik Siska pada Annisa.
"Kan ada ye yang bisa diandalkan. Udah, mau foto g?!"
"Maulah!"
"Kalau mau jangan bicara dulu. Fokus ke kamera, nanti wajah cantikmu g masuk".
"Enak saja. Kalau aku g masuk dalam bingkai, akan kupatahkan lehernya". Ancam Siska sembari nunjuk ke arah Fotografer.
Kania yang mendengar obrolan mereka, mencubit lengan Siska. Tentu saja Siska merasakan sakit dan menahannya.
"Bisa diam g!" ucap Kania.
Siska terpaksa diam. Hingga sesi foto bersama selesai, Siska g bicara lagi. Erina tertawa melihat Kania dan Siska seperti kucing dengan tikus.
Acara berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Semua tamu sudah meninggalkan tempat acara. Yang tersisa hanyalah keluarga inti. Annisa and the geng istirahat sejenak sambil ngobrol.
"Nis...siapa yang undang Anggita dengan si Kuncoro dan anaknya itu? Herman dan Anggita itu adalah lawan. Bisa-bisanya mereka datang kepernikahan kak Aldi. G tahu malu amat jadi orang!" Siska ngomel tidak jelas.
"Husss, ngomong apa kamu? mereka bukan lawan kita. yang mengundang pak Kuncoro itu kak Aldi. Sedangkan Anggita, aku yang undang. Kamu g perhatikan perubahan Anggita. Jika dia lawan kita, dia akan melakukan keributan sejak pertama dia masuk. Nyatanya, dia sama seperti tamu yang lain. Ingat, dia bukan lawan kita!" Annisa mengingatkan sahabat-sahabatnya.
"Makanya, kalau ngomong disaring dulu supaya yang keluar bukan ampas tapi sarinya. Ngerti!" Hendra ikut bicara.
Akhirnya, yang terdengar hanyalah suara tawa bahagia. Kebersamaan yang mereka bina tak goyah walau sering ada perdebatan diantara mereka.
__ADS_1