
Erina menghubungi Andrew untuk memberitahunya soal konferensi pers besok.
"Halo, Bu!"
"Drew...! besok ibu akan mengadakan konferensi pers di hotel Madona. Hubungi pihak media secepatnya!" perintah Erina pada putranya
"Tunggu, Bu! sebaiknya ibu tunda dulu!"
"Mengapa harus di tunda?"
"Biarkan Fani yang lebih dulu melakukannya. Dia akan mengumumkan pertunangan Furqan dengan seorang model bernama Anggita. Ibu harus melihat tindakan apa yang dilakukan Furqan terhadap ibunya. Setelah itu, baru giliran Ibu!" jelas Andrew pada ibunya.
Erina berpikir sejenak atas ucapan putranya. Kemudian, ia menyetujui usulan anaknya tersebut.
"Baiklah, Nak! laporkan terus perkembangan selanjutnya!"
"Oke, Bu!" jawab Andrew
hummm, anak pintar! tidak sia-sia ibu menyekolahkanmu sampai keluar negeri, gumam Erina memuji putranya
Seminggu Kemudian
Di Bandara internasional Changi Singapore
"Anggita...! tungguin ibu dong."
Anggita kesal dengan ibunya yang hampir membuatnya ketinggalan pesawat.
"Gara-gara ibu, kita hampir ketinggalan pesawat!" Ibu dan anak itu melakukan boarding past. Setelah berada dalam pesawat, ibu Lidia memarahi Anggita karena membuatnya kelelahan.
"Ibu hampir mati, Anggi! kenapa sih kamu harus lari kayak kesetanan?"
"Kalau Anggi tidak lari, kita akan ketinggalan pesawat. Karena siapa? karena i b u. Ibu bawa apaan sih? sampai beres-beres aja lama."
"Ibu salah melihat jam, Anggitaaaa! kirain baru jam 6 pagi, ternyata udah jam 8. Makanya, ibu santai!"
Karena perdebatan mereka, penumpang lain merasa terganggu dan menegur mereka.
"Miss, can you be quiet?" ucap seorang penumpang.
"I'm sorry!" balas Anggita. Mereka berdua pun diam hingga pesawat mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Keduanya turun dan dijemput oleh supir pribadinya. Beberapa orang wartawan mendekati mereka dan mewawancarai Anggita.
"Mbak Anggi! apa alasan anda kembali ke Indonesia, apakah karena pekerjaan atau urusan lain?" tanya seorang wartawan
"Saya kembali ke indonesia bukan karena urusan pekerjaan tapi pertunangan saya dengan seorang pengusaha muda dan tentunya sangat tampan!"
"Bisa di sebutkan siapa namanya?" tanya wartawan yang lain
"Tunggu saja besok. Kami akan mengumumkan pertunangan kami di hotel Madona, salah satu hotel bintang lima milik tunangan saya!" jelas Anggita tanpa ragu.
"Bukankah hotel itu milik perusahaan "Putra Jaya?" seorang wartawan tak mau ketinggalan
"Iya, benar!" jawab Anggita dengan percaya diri.
"Sudah, sudah! saya sudah dijemput. Jangan bertanya lagi, tunggu saja besok. Disana kalain akan tahu semuanya, oke!" ucap Anggita pada wartawan.
Wawancara Anggita dengan beberapa wartawan menjadi trending topik baik di televisi maupun di YouTube. Selama beberapa tahun, tak pernah terdengar berita soal CEO Putra Jaya. Sang CEO sangat tertutup soal kehidupannya. Fani yang sedang nonton tv di kamarnya, hampir saja jantungan karena ulah Anggita. Ia pun mematikan televisinya. Segera meraih gawainya untuk menghubungi Anggita yang sudah berada di Jakarta.
Kring kring kring
Anggita yang sudah berada dikediamannya dan sedang istirahat meraih gawainya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ia segera bangun dari tempat tidur dan segera menngangkat handphonenya.
"Halo, Tante!"
__ADS_1
"Anggita...! apa yang kau lakukan?" tanya Fani dengan nada emosi.
"Kenapa, Tante? kok marah-marah?!"
"Bagaimana saya tidak marah, Anggitaaaa...! kamu melakukan kesalahan fatal. Mengapa kamu mengatakan semua rencana Tante pada wartawan?" murka Fani.
"Saya salah apa, Tante? aku ingin semua orang tahu, siapa yang akan bertunangan denganku. Kok, Tante marah sih?!"
"Tante menyembunyikannya dari publik bahkan dari Furqan, tapi kamu malah mengacaukan semuanya, dasar bodoh!" Fani semakin marah. Kepalanya terasa pening memikirkan bagaimana jika Furqan mendengar berita tentang pertunangannya.
Anak sialan! bukannya meringankan malah menambah masalah, umpat Bu Fani
Di Kantor
Maya yang sedang santai, sengaja membuka aplikasi YouTube untuk mencari sesuatu yang bisa membuatnya terhibur. Maya melihat salah satu topik adalah pertunangan CEO Putra Jaya dengan seorang model papan atas uang digelar besok di hotel Madona. Maya penasaran dan membukanya, ternyata seorang model sedang di wawancarai saat di bandara. Yang lebih mengejutkannya adalah nama yang disebutkan model tetsebut adalah nama bosnya. Maya langsung masuk keruangan bosnya tanpa permisi. Furqan tidak marah tapi merasa ada yang aneh dengan sekretarisnya. Tidak biasanya Maya masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Maaf pak, saya masuk tanpa mengetuk!"
"G apa-apa? ada apa?"
"Pak Bos, lihat ini!" Maya menyodorkan ponselnya ke Furqan.
Furqan menatap tajam ke video yang ditontonnya. kemudian, ia mengembalikan ponsel Maya. Maya tak melihat raut marah di wajah bosnya. Furqan kelihatan tenang dan santai. Namun, sudah ada rencana untuk mempermalukan Anggita di acara konferensi pers besok.
"Kembali ke tempatmu!" perintah Furqan pada Maya
"Baik, Pak!" Maya kembali ke tempatnya. Maya berpikir, tamatlah riwayat wanita gila itu. Maya lebih suka kalau Annisa yang mendampingi Furqan. Selain cantik dan anggun, Annisa memiliki kepribadian yang sangat baik.
"Dasar perempuan gila! dia pikir bos suka padanya!" Maya ikut mengumpat Anggita.
Semua karyawan heboh akibat berita yang beredar. Aldi yang baru datang karena ada yang harus diselesaikan di kantor, ikut penasaran dengan kehebohan karyawan.
"Vania...!" Aldi memanggil Vania.
"Ia, Pak!"
"Ini pak!" Vania menyerahkan ponselnya kepada Aldi.
Aldi tak menunjukkan keterkejutannya. Justru dia senang dengan yang dilakukan Anggita. Kemudian, Aldi menyuruh Vania dan yang lain kembali bekerja. Aldi melanjutkan langkahnya keruangan Furqan.
"Kamu tahu tentang pertunangan itu?" tanya Aldi penuh selidik.
"Itu pasti rencana ibu dan Anggita. Besok aku akan ke sana sendiri."
"Kamu menyetujui pertunangan itu?"
"Tak perlu aku jawab. Kamu sudah tahu jawabannya. Tak ada lagi yang bisa menggantikan Annisa dalam hidupku, sekalipun Annisa tidak bisa aku miliki!"
"Apa maksudmu?" Aldi kembali bertanya.
"Jika Annisa tidak berjodoh denganku, maka cukup Annisa yang terakhir membuka dan mengisi hatiku. Aku tidak ingin lagi memikirkan wanita. Sekeras apapun ibu memaksa, sekeras itu pula aku menentangnya." Furqan mengutarakan isi hatinya.
Aldi tak ingin bertanya lagi. keduanya fokus menyelesaikan pekerjaan. Meskipun begitu, Aldi terus berpikir bagaimana perasaan Furqan jika ia tahu kalau perusahaan yang dibesarkannya selama ini adalah miliknya. Hatinya bimbang, antara mengambil kembali haknya atau harus merelakannya.
"Fur...aku balik duluan!Aku harus mengantar Annisa kerumah makan. Dia ingin bertemu sahabat-sahabatnya!" Aldi terpaksa berbohong agar ia bisa segera keluar dari kantor. Jika menyangkut adiknya, Furqan tidak akan pernah keberatan.
Setelah Aldi pulang, Furqan pun meninggalkan kantornya dan menuju kediamannya. Ia disambut ibunya dengan senyum termanisnya sebagai ibu. Hatinya was-was jikalau Furqan akan murka padanya soal ucapan Anggita di media.
"Kok pulangnya cepat?"
"Bu...jam berapa konferensi persnya?"
"Jam 11 siang! ibu harap kamu datang."
__ADS_1
"Aku akan datang. Ibu sudah mengundang semua media kan?"
"Sudah, nak! kamu jangan khawatir." ucap Fani penuh semangat.
"Bu...lalu bagaimana dengan Annisa? hatinya akan terluka. Bukankah ibu sendiri yang mengundang Annisa ke rumah kita? ibu bercerita dengannya, bahkan ibu ingin memberi sesuatu kepadanya. Lalu, untuk apa ibu mengumumkan pertunangan aku dengan Anggita bukan dengan Annisa?"
"Setelah ibu pikir-pikir, Anggita lebih baik dari Annisa, Nak! dia cantik, wanita karir, cerdas dan sepadan dengan keluarga kita. Sedangkan Annisa, hanyalah seorang pelayan rumah makan yang tidak jelas asal usulnya." Fani meyakinkan putranya.
"Terserah ibu saja!" Furqan mengikuti keinginan ibunya.
Di rumah Aldi
"Aldi, Nisa, kemari!" Erina memanggil kedua anak asuhnya
Aldi dan Annisa serta Erina duduk di ruang keluarga.
"Aldi..."
"Ya, Bu!"
"Kamu dah tahu rencana Fani kan?"
"Udah, Bu!"
"Aldi akan ikut serta dalam konferensi pers itu." Aldi memberitahu Erina dan Annisa.
"Aku ingin tahu, apa yang dilakukan Furqan? sepertinya dia akan memberi kejutan untuk Fani dan Anggita." ucap Aldi.
"Kita tunggu apa yang akan terjadi besok?!" ucap Erina.
"Baik, Bu!" jawab Aldi dan Annisa.
Esok harinya
Konferensi pers akan segera di mulai. Awak media sudah g sabar ingin meliput berita tentang CEO muda terkaya saat ini. Fani datang bersama Anggita dan Lidia. Ketiganya duduk di kursi yang telah disediakan. Fani yang akan bicara lebih dulu. Klik kamera terdengar berulang kali.
"Terima kasih sudah hadir untuk meliput acara ini. Saya tahu, kalian pasti penasaran dengan apa yang akan saya sampaikan. Selama berapa tahun, putra saya jauh dari kejaran awak media dan banyak sekali yang ingin mewawancarai saya soal dia, tapi putra saya melarang untuk mengeksposnya ke publik. Hari ini, hari yang sangat berarti untuk kehidupan putraku, hari ini putraku akan bertunangan dengan seorang model papan atas, cantik, wanita karir dan sepadan dengan keluarga kami. Wanita itu ada di samping saya. Gadis Inilah yang akan bertunangan dengan putraku!" Fani sambil menunjuk Anggita. Anggita menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan Fani.
Seorang wartawan yang sering melihat Furqan dan Annisa jalan bersama bertanya soal kejelasan status Anggita dan Annisa.
"Maaf, Bu! jika yang didepan adalah wanita yang akan di tunangkan dengan putra ibu, lalu siapa wanita cantik yang selalu bersamanya?"
"Dia hanya seorang pelayan. Putra saya membayarnya untuk melayani kebutuhannya. Jangan ada yang bertanya lagi." ucapan Fani merendahkan Annisa.
"Sebentar lagi putra saya akan menjelaskan semuanya."
Sepuluh menit kemudian, Furqan datang dan semua kamera tertuju padanya. Furqan tersenyum kepada wartawan yang meliputnya. Kemudian ia duduk di samping ibunya. Fani bahagia melihat putranya nurut kepadanya. Furqan pun buka suara soal pertunangannya.
"Saya g bisa lama. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya tidak akan pernah bertunangan dengan siapa pun kecuali dengan pilihan saya sendiri. Annisa memang hanya seorang pelayan, tapi dialah yang layak untukku, dia pilihanku, terima kasih!" ucap Furqan kemudian pergi meninggalkan ibunya.
Anggita berdiri dan menghentikan Furqan.
"Tunggu...!" Anggita mendekati dan melayangkan tamparan pada Furqan. Furqan menatap tajam pada Anggita yang telah berani menamparnya di depan wartawan.
"Masih mau melakukannya? lakukanlah, ayo lakukan! kalian semua lihat apa yang dilakukan gadis ini!" ucap Furqan dengan tatapan emosi.
"Ma... maafkan aku, Furqan! aku g sengaja
Aku hanya merasa malu dengan perkataanmu." bela Anggita. Sementara Fani diam karena g bisa lagi berbuat apa-apa. Awak media pun kaget dibuatnya dan tidak melewatkan kejadian itu.
"Apa kamu masih memiliki rasa malu? Sejak kemarin kamu sudah mempermalukan aku. Hentikan omong kosongmu itu. Memalukan!" Murka Furqan pada Anggita.
Lidia yang melihat putrinya dimarahi Furqan, ia pun berdiri hendak membela anaknya.
__ADS_1
"Beraninya kau memarahi putriku?!"
"Tante! apakah Tante ingin aku diam saja dengan hal bodoh ini? mengapa Tante tidak melarangnya? Tante dan ibuku sama saja." pertanyaan Furqan membuat Lidia diam. Ia tak mungkin melawan Furqan. Furqan menatap ibunya dengan kecewa. Kemudian ia keluar meninggalkan hotel dan menuju apartemennya untuk menenangkan diri