Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Kekhawatiran seorang Kakak


__ADS_3

Furqan masih belum bisa memaafkan Broto. Karena perbuatan Broto dan simpanannya, ia hampir kehilangan cintanya. Ia tidak rela jika wanita yang ia perjuangkan dihadapan orang tuanya harus hilang karena perbuatan orang lain. Furqan sempat menghubungi orang suruhannya dan ia perintahkan untuk membawa supir Broto. Tapi setelah itu, Furqan berubah pikiran. Ia menganggap, orang tua itu tidak bersalah karena hanya di suruh oleh tuannya. Yang harus ia temui sekarang adalah Herman. Furqan segera melajukan kendaraannya menuju rutan di mana Herman di tahan.


Setelah melewati pemeriksaan, Furqan dipersilahkan menemui Herman di ruang besuk. Sebelum Furqan bicara, Herman lebih dulu buka suara.


"Bagaimana pembalasanku Furqan?"


Furqan menatap Herman sinis diselingi dengan senyum mengejek.


"Aku akui kalau kamu sangat profesional dalam hal buruk Herman. Meskipun kamu hidup di bui, tapi kamu tetap bisa bekerja dari balik jeruji besi ini. Kamu beruntung memiliki wanita simpanan yang sangat mencintaimu. Demi cintanya kepadamu, ia rela melakukan hal bodoh yang justru akan membawanya hidup bersamamu di sini. Dia pasti sudah menemuimu dan cerita kalau dia bisa menjebakku dengan sangat mudah. Tapi, sangat disayangkan kalau wanita simpananmu sangat bodoh!"


"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Herman dengan nada emosi.


"Aku tak melakukan apapun padanya. Hanya saja, dia sendiri yang ingin menemanimu di sini. Aku mempunyai bukti tentang perbuatannya itu. Bagaimana? apa aku kirim saja dia ke sini?" tanya Furqan dengan nada mengejek.


"Kau!" Herman murka dengan Furqan.


"Kenapa? mau membelanya?! sayang, wanita itu memiliki simpanan lain selain dirimu. Sebejad apapun seorang laki-laki, ia pasti ingin mencari seorang wanita yang bisa menjaga kehormatannya. Tapi kamu...malah memilih wanita yang bebas menjajakan dirinya kepada lelaki yang dianggapnya raja. Kasihan sekali dirimu. Kegagalan wanita itu adalah bagian dari kekalahanmu. Aku ingatkan padamu, jangan pernah lagi kamu melakukan sesuatu yang akan membuatku murka. Kalau tidak, aku akan menghancurkan keluargamu. Seandainya aku tidak ingat paman Kuncoro, sudah kubuat kau kehilangan segalanya. Camkan itu!" Furqan memberi peringatan pada Herman.


Herman menatap Furqan penuh dendam. Seandainya bukan di dalam tahanan, Ia ingin menghajar Furqan. Furqan menyadari tatapan Herman.


"Gunakan saja matamu untuk menatap simpanan kesayanganmu yang murahan itu. Tapi, sepertinya dia sekarang sedang berada dalam selimut laki-laki lain yang lebih menjamin hidupnya".


"Furqaaaaan!" Herman meneriaki Furqan karena tidak tahan mendengar penghinaan yang dilontarkan Furqan atas Lena.


Petugas jaga segera datang.


"Ada apa ini? jangan membuat keributan.


"G ada apa-apa pak. Pak, saya sudah selesai bicara dengannya!" Herman sudah tidak ingin bicara dengan Furqan.


"Baik!" petugas jaga pun membawa Herman kembali keruang tahanan.

__ADS_1


Sedangkan Furqan, pulang dengan dada bergemuruh menahan amarah terhadap Herman. Ingin rasanya ia menghajar Herman hingga ia tak mengenali lagi siapa dirinya. Herman sudah terlalu melangkah jauh. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Menyadari jalanan sedang sunyi, Furqan menepi dan ngerem mendadak. Bunyi ban yang bergesekan dengan aspal membuat telinga yang mendengarnya bisa tuli. Setelah mobilnya berhenti, ia mengusap wajahnya karena kesal dan emosi terhadap Herman.


Aku harus bisa menahan emosi. Aku g boleh dikuasai oleh amarah karena si brengsek itu. Apa yang akan terjadi jika wanita sialan itu berhasil menggerayangi tubuhku dan memberikan rekaman itu pada Annisa? aku g bisa bayangkan apa yang akan terjadi padaku jika Annisa membatalkan pernikahan kami. Terima kasih ya Allah, Engkau menunjukkan kebenaran padaku sehingga aku bisa membuktikan pada Annisa jika aku tidak selingkuh!


Setelah pikirannya tenang, Furqan kembali melajukan mobilnya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia pun mencari Susi.


"Mbok...kak Susi mana?"


"Di belakang Tuan!"


"Tolong panggilkan ya mbok!"


"Iya tuan!"


Si mbok pun segera ke dapur dan memberi tahu Susi.


"Non...tuan memanggil Non tu!"


"Di mana mbok?"


"Aku tinggal ya mbok!"


"G apa-apa non. Masakannya nanti mbok yang selesaikan!"


Susi segera menemui Furqan. Susi pun duduk di sofa tepat di depan Furqan. Ketika Susi memandang adiknya, ia melihat garis kekhawatiran di wajah Furqan.


"Fur...ada apa? kamu baik-baik saja kan?"


"G ada apa-apa kak, Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menanyakan kesiapan pernikahanku nanti!" Furqan mencoba menyembunyikan kegusarannya.


Semakin lama ia bicara dengan kakaknya, semakin ia g tenang. Susi merasa ada sesuatu yang di sembunyikan adiknya.

__ADS_1


"Fur...jangan kamu bohongi kakak. Biar bagaimana pun, kakak adalah pengganti ibu di rumah ini. Kakak punya firasat jika kamu ada masalah. Cerita ke kakak, jangan di pendam sendiri".


Furqan g sanggup membohongi kakaknya. Memang benar, selama ibunya dipenjara Susilah yang mengurus mereka. Ia menghela napas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Kemudian, Furqan memberikan ponselnya pada Susi.


"Kenapa kamu berikan ponselmu?!" tanya Susi heran.


"Bukalah! kakak akan tahu sendiri".


Susi pun mengikuti perintah Furqan. Ia membuka rekaman yang dimaksud adiknya. Baru setengah dari rekaman itu, Susi syok dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya.


"Kamu...apa yang kau lakukan? siapa perempuan itu dan mengapa kalian berdua selingkuh? bagaimana jika Annisa tahu soal ini? Kamu akan segera menikah, tapi kenapa kamu malah tidur dengan wanita itu, kenapa dek?" Susi marah pada adiknya.


Fiona yang sedang santai di salah satu kamar, kaget mendengar suara Susi seperti orang marah. Ia pun keluar mendekati kedua kakaknya.


"Kak Susi, kak Fur...kalian berdua kenapa? lho, itu hp kenapa ada di lantai kak?!" Tanya Fiona heran.


Susi mengalihkan pandangan ke arah lain. Fiona pun yakin jika ada masalah di antara kedua kakaknya. Fiona mengambil ponsel yang ada dilantai dan membukanya. Sama seperti Susi, Fio juga syok melihat rekaman video tersebut.


"Kak... apa yang kakak lakukan dengan perempuan ini? kakak nggak mikirin kak Annisa? kak...mengapa kakak lakukan ini?" tanya Fiona dengan berlinang air mata.


Fiona menangis karena pikirannya tertuju pada Annisa. Yang ia ketahui, setiap wanita yang diselingkuhi oleh kekasihnya akan merasakan sakit, sedih dan kecewa. Terlebih lagi, jika mereka akan segera menikah. Ia menyamakan dirinya dengan Annisa.


"Kak...bisa saja apa yang kakak lakukan ini akan menimpa salah satu di antara kami berdua. Kakak pasti marah jika itu terjadi pada kami kan?!"


"Kalian perhatikan kembali rekaman itu sampai selesai! setelah itu terserah kalian mau melakukan apa padaku, aku pasrah. Ayo!" Furqan menyuruh Susi dan Fiona untuk melihat rekaman itu hingga akhir.


Susi tidak merespon adiknya karena merasa kecewa. Fiona mengikuti arahan kakaknya. Setelah melihat rekaman video tersebut hingga selesai, Fiona meminta maaf pada Furqan.


"Kak...maafin Fio! Fio sudah menuduh kakak. Ternyata kakak hanya dijebak oleh wanita itu. Si Herman belum tobat juga. Dia menggunakan wanita simpanannya untuk balas dendam pada kita. Kak...sudah, jangan marah lagi pada kak Furqan!" ucap Fiona pada kedua kakaknya.


Susi menatap Fiona penuh tanda tanya. Fiona menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa yang ia katakan itu benar.

__ADS_1


"Dek...maafin kakak! kakak hanya tidak ingin kamu melakukan hal tidak baik diluar sana. Kakak mengkhawatirkan kamu dan Annisa jika itu benar-benar terjadi. Maafin kakak ya!" Susi meminta maaf pada Furqan.


Furqan memaafkan Susi dan mereka bertiga berpelukan. Mereka bersyukur karena Furqan tidak melakukan hal menjijikkan diluar sana.


__ADS_2