
Sebulan kepergian Fani, Susi dan Fiona mulai beraktifitas kembali meskipun masih terus mengingat almarhum ibunya. Berbeda dengan Furqan, hampir setiap hari ia ke makam ibunya. Ketika ziarah ke makam, ia kembali mengingat dimana awal mula ibunya tidak menyukai Annisa hingga ibunya berubah 360 derajat. Furqan tak menyangka, hari pernikahannya akan menjadi hari terakhir ia bersama ibunya.
Ibu...bukankah engkau mengatakan kalau Annisa adalah wanita yang tepat untukku, tapi mengapa ibu tidak ingin melihat kami berdua dipelaminan? ibu tahu, Annisa selalu datang ke rumah menemani Fiona yang masih sedih karena kepergianmu. Jika ibu masih ada, ibu pasti akan sangat bahagia karena adanya seorang menantu yang akan memperhatikan dan merawat ibu!
Kemudian, Furqan menabur bunga segar di makam ibunya. Setelah itu, Furqan meninggalkan makam ibunya dengan wajah sendu. Furqan tak langsung kembali ke rumah, tapi ia memilih ke taman kota untuk menyegarkan hati dan pikirannya. Di taman, senyumnya terukir tatkala melihat dua orang bocah berebut es krim. Furqan mendekati kedua bocah tersebut.
"Hai anak-anak ganteng! mengapa rebutan? kan bisa beli lagi!" ucap Furqan.
Kedua bocah itu menoleh ke arah Furqan.
"Uang kami nggak cukup Om, cuma bisa beli satu!" jawab salah satu bocah bernama Farid.
"Orang tua kalian di mana?" tanya Furqan.
Mendengar pertanyaan Furqan, keduanya menunduk. Furqan mengerti maksud dari tunduknya kedua anak tersebut. Furqan pun mengajak mereka membeli es krim sebanyak yang mereka mau.
Furqan menyadari, hidupnya sangat beruntung hidup serba berkecukupan. Semua itu berkat usaha ibunya setelah ayahnya meninggal.
"Terima kasih ibu! engkau menjaga kami dengan sebaik mungkin hingga kami tak mengalami nasib seperti kedua anak ini". ucap Furqan mengingat ibunya.
Setelah itu, Furqan membawa mereka ke panti asuhan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Pertemuannya dengan kedua bocah di taman, membuatnya tenang dan kedua bocah tersebut menjadi contoh nyata baginya bahwa ia tidak seharusnya terlalu bersedih karena kehilangan. Kemudian, Furqan menuju ke kantornya dan seluruh karyawannya sangat senang melihat Furqan sudah masuk kantor. Mereka menyambut Furqan karena ingin mengucapkan sesuatu tapi Furqan lebih dulu berbicara.
"Saya tidak ingin mendengar ucapan apapun. Semuanya harus kembali seperti biasa dan bekerja lebih baik lagi!" ujar Furqan pada bawahannya.
Furqan menuju keruangannya dan disambut oleh sekretarisnya.
"Selamat kembali bekerja pak!"
"Terima kasih Maya. Bagaimana keadaan dikantor saat aku tidak ada?"
"Semuanya aman pak! Rapat yang diwakilkan kepada saya berjalan lancar dan pendatanganan kontraknya hanya menunggu bapak saja".
"Bawa keruangan saya!"
Tanpa basa basi Maya segera membawa berkas yang dimaksud Furqan untuk ditandatangani. Saat Maya akan meninggalkan ruangan, tiba-tiba Furqan memanggilnya.
"Maya..."!
"Iya pak!"
"Sampaikan kepada seluruh karyawan jika gaji mereka akan dinaikkan 20 persen. Kemudian, Minggu depan kalian liburan dulu ke Bali!"
__ADS_1
Maya hampir saja melompat memeluk bosnya tersebut karena senangnya mendengar ucapan bosnya. Mengapa tidak, baru masuk kantor setelah berduka, tiba-tiba menaikkan gaji dan di suruh liburan.
"Apa pak? gaji dinaikkan dan liburan ke Bali pak?!"
"Kenapa? g mau?!" tanya Furqan.
"Mau dong pak. Siapa yang nggak mau dapat rejeki tak terduga, dobel lagi. Terima kasih pak!" jawab Maya dengan senyum sumringahnya.
Maya segera keluar dari ruangan bosnya dan kembali kemejanya. Dengan senyum bahagia, ia meraih intercome dan mengetes suaranya.
"Tes tes... untuk semua karyawan yang bekerja di perusahaan Putra Jaya tanpa terkecuali, mohon perhatiannya!"
Vania dan seluruh karyawan merasa khawatir dengan apa yang akan disampaikan oleh Maya karena sebelumnya belum pernah ada informasi yang disampaikan dengan cara seperti yang dilakukan Maya. Semua karyawan tanpa terkecuali, langsung berkumpul. Maya melanjutkan tugasnya.
"Seperti yang kita ketahui bahwa hari ini, CEO kita baru saja masuk kantor dan memberitahu agar informasi penting ini saya sampaikan kepada seluruh karyawan tanpa terkecuali. Dan informasi itu tentang gaji kita dan soal kinerja kita selama ini".
Vania dan yang lain semakin khawatir.
"Apa gaji kita akan diturunkan? bukankah kinerja kita selama ini bagus? bagaimana ini?" tanya Vania pada Nela sahabatnya yang sekaligus rekan kerjanya.
"Ia Van, aku juga khawatir ni. Tapi kita diam dulu supaya kita tahu apa yang akan disampaikan Bu Maya. Itu Bu Maya berbelit-belit, kita kan jadi sesak napas ni!" ujar Rina.
"Pertama soal gaji. Gaji akan dinaikkan 20 % dan berikutnya adalah Minggu depan kita akan liburan ke Bali. Terima kasih!" Maya langsung mematikan intercomenya.
Sementara karyawan masih asyik membicarakan kenaikkan gaji dan hanya sebagian yang mendengar dengan jelas soal liburan.
"Ini berita mengejutkan dan membahagiakan, gaji naik daaaan liburan!" ucap Melinda pada dirinya sendiri.
Vania yang mendengar Melinda kembali memastikan jika yang baru saja didengarnya adalah benar.
"Mel...siapa yang mau liburan, kamu?!"
"Aduh Van...kamu nggak dengar apa yang Bu Maya sampaikan? Kamu pasti nggak dengar penyampaian yang kedua karena saking bahagianya gaji dinaikkan, iya kan?"
"Emang ada lagi selain kenaikan gaji?"
"Ada. Kita akan liburan ke Bali Minggu depan. Coba lihat wajah-wajah teman kita yang lain, pada sumringah kan?"
"Yang benar Mel?!"
"Kalau nggak percaya, Minggu depan nggak usah ikut. Kamu jaga kantor aja, ha ha ha!" ujar Melinda sembari menertawai Vania.
__ADS_1
"Enak aja. Aku udah lama pengen ke Bali". jawab Vania.
"Mel...kok bisa ya ada kejutan besar seperti ini? kan pak Furqan baru saja berduka?"
"Mau tahu jawabannya, tanya aja ke pak Furqan langsung! g usah banyak nanya dan jauhkan rasa penasaranku, cukup kerja dan ikuti apa kata bos. Atau...kamu mau kedua rejeki yang baru saja kita dapatkan dibatalkan?" Melinda mengoceh dan menghindar dari Vania.
"Melinda...awas kamu ya!" ancam Vania yang kesal dengan ocehan rekan kerjanya.
Melinda menertawai Vania dari jauh. Setelah itu, semua karyawan kembali bekerja dengan perasaan bahagia. Sedangkan Maya, masuk keruangan Furqan.
"Maya...dua jam ke depan, perintahkan beberapa orang karyawan temui saya di ruanganku!"
"Baik pak! ada lagi yang bisa saya lakukan?"
"Sementara tidak ada!"
"Permisi pak!" Maya kembali keruangannya.
Maya heran dengan perubahan bosnya hari ini.
Baru masuk kantor langsung memberi kejutan. Terus...menyuruh beberapa karyawan keruangannya, ada apa ya? Maya bertanya pada dirinya sendiri.
Maya tak melupakan tugasnya. Dua jam kemudian, Dipanggilnya beberapa karyawan terbaik diantaranya Vania dan Melinda untuk menemui Furqan. Beberapa karyawan tersebut pun menemui Furqan dengan jantung deg-degan. Mengapa tidak, setelah diberi kejutan, lalu dapat panggilan.
Furqan menatap ke tujuh karyawannya. Mendapatkan tatapan serius dari atasan, siapa yang nggak deg-degan. Furqan menghela napas panjang. Karyawan didepannya merasa cemas dan takut. Furqan pun bicara langsung pada mereka.
"Pulang kerja jangan ada yang pulang ke rumah. Kalian bersama Maya bagikan beberapa bingkisan kepada anak jalanan!"
Ketujuh karyawan tersebut kompak menjawab.
"Baik pak!"
Furqan pun mau tertawa di buatnya. Melinda sontak bertanya karena penasaran.
"Dalam rangka apa ya pak?"
Vania menginjak kaki Melinda karena lancang bertanya. Furqan dengan tenang menjawab pertanyaan Melinda.
"Mengenang ibuku!"
Mendengar jawaban Furqan, mereka terdiam. Tanpa permisi, mereka meninggalkan ruangan Furqan.
__ADS_1