Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Cinta Bersemi di Bali


__ADS_3

Hari kedua di Bali


Hari kedua di Bali, merupakan hari keberuntungan bagi Furqan. Pada hari kedua, Furqan bisa jalan berdua dengan Annisa tanpa diganggu oleh sahabat-sahabatnya. Di hari kedua, peserta dibebaskan jalan sendiri atau barengan. Furqan tampil lebih fresh dan menampilkan pesonanya. Annisa sudah menunggu di lobi dan terpana melihat kekasihnya tampil sekeren mungkin. Di hatinya, Annisa bersyukur bisa kenal dan dekat dengan sosok yang baik, cakep, penyayang serta bisa menjaga hubungan mereka tanpa embel-embel saling berpelukan. Ainun berdua dengan Fendi, dan yang lain bersama keluarga masing-masing.


"Sudah siap?" tanya Furqan


"Udah!" Jawab Annisa singkat.


Annisa meninggalkan hotel menuju ke tempat wisata yang belum mereka datangi. Sementara di hotel, Aldi menarik Fitri untuk ikut bersamanya. Hendra memaksa Siska untuk menemaninya, begitu pula Egi yang membujuk Kania agar mau jalan berdua dengannya. Saat mereka berpapasan di lobi, Siska langsung tertawa tak terkendali.


"Ha ha ha, ha ha ha!" tawa Siska sambil menekan perutnya karena menahan sakit akibat terlalu tertawa.


"He..Sis! kamu kenapa? kesurupan?!" tanya Fitri yang heran melihat Siska.


"Fit...coba kamu perhatikan, kita semua keluar dengan pasangan palsu. Sedangkan yang lain, dengan pasangannya yang ori. Hari ini kan temanya adalah hari penuh cinta, tapi kita penuh kepalsuan, ha ha ha!" Jelas Siska dengan tawanya.


Aldi tak perduli dengan omongan Siska. Ia langsung masuk mobil bersama Fitri. Fitri mau menolak tapi dihentikan Aldi.


"Masuk!" perintah Aldi dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Fitri. Fitri g berani membantah maupun menolak.


Nanti aku bicara apa dengannya? aku kan g pernah berduaan dengan dia?! Fitri bertanya dalam hatinya


Sedangkan Siska, syok melihat bosnya yang berlalu begitu saja dengan sahabatnya. Hendra menarik lengan Siska agar masuk ke mobil, begitu pula Egi. ke empat pasangan palsu meninggalkan hotel. Karena tanpa perencanaan, keempat pasangan palsu kebingungan hendak ke mana. Sedangkan Annisa dan Furqan tiba di Pura Uluwatu. Annisa dan Furqan foto bersama di pinggir tebing. Sambil menyaksikan hiburan yang ada di Pura Uluwatu, Furqan duduk di pinggir tebing ditemani Annisa sambil memandang luasnya samudra India.


"Sayang...! bagaimana rencana kita ke depannya? aku ingin kita segera menikah. Kalau hubungan kita hanya seperti ini, Aku khawatir kamu di gaet orang. Coba lihat, di sini saja banyak pria menatapmu dengan tatapan penuh makna!" ucap Furqan pada Annisa.


"Idih, ada yang cemburu rupanya. Kak...percayalah! selama kakak berjuang untuk mendapatkan restu Tante Fani, selama itu pula aku akan menunggu. Aku g akan tergoda oleh yang lain. Jika kakak gagal mendapatkannya, tak ada lagi yang harus dipertahankan!" Annisa meyakinkan Furqan sekaligus menakutinya.


"Jangan pernah ucapkan kata itu dek! aku g akan pernah mau hubungan ini hanya sebatas kata. Aku akan mengurus ibu agar memberi restunya untuk kita!"


"Tapi ingat kak, jangan paksa Tante Fani. Jika Tante Fani masih juga tidak memberi restu, itu artinya kita tidak berjodoh. Cinta itu tidak harus memiliki kan?!"


"Kalau pada akhirnya harus berakhir, mengapa kita harus menjalin hubungan? bertahun-tahun aku tidak membuka hati untuk wanita, tapi setelah mengenal dirimu, entah mengapa rasa itu datang dan tak ingin membiarkanmu pergi dariku. Apapun yang terjadi, kamu harus jadi milikku!"


"Kita hanya mampu berusaha, tapi Tuhan yang menentukan. Akupun hanya bisa berdoa semoga ada jalan untuk kita berdua tanpa ada yang disakiti baik Tante Fani maupun Anggita!" Annisa ledekin Furqan dengan menyebut nama Anggita.


"Jangan sebut nama wanita lain, sayang! mau aku berbuat sesuatu?" Furqan merayu Annisa


"Iya deh, maaf bos!" Annisa cepat-cepat minta maaf. Ia tahu maksud ucapan Furqan. Annisa selalu menjaga dirinya dari sentuhan laki-laki meskipun itu kekasihnya.


"Kak...mungkin apa yang kukatakan ini berlebihan dan tidak pantas, tapi...!" Annisa tidak melanjutkan ucapannya


"Tapi apa? kok berhenti?!"


"Aku sangat ingin kakak menjadi imamku. Kakak adalah yang terbaik untukku saat ini, walaupun aku g tahu apa yang akan terjadi kedepannya!" Annisa bicara sambil menunduk karena malu mengakui perasaannya.


"Selama kita bersama, kalimat itu adalah yang terindah yang pernah aku dengar darimu. Bersabar, berdoa dan yakinlah, ibu akan memberikan restunya untuk kita!"


"Semoga ya Kak!" ucap Annisa


"Setelah ini kita ke mana lagi nih?" tanya Annisa

__ADS_1


"Bagaimana kalau ke Tirta Gangga, di sana sangat bagus. Kamu bisa berpose ala permaisuri. Kamu akan tambah cantik dan membuatku ingin memelukmu!"


"Enak aja mau meluk. Belum saatnya Bang!" Annisa mengingatkan Furqan.


Annisa dan Furqan meninggalkan Pura Uluwatu dan menuju Tirta Gangga. Tiba di Tirta Gangga membuat Annisa terpana dengan pesonanya.


"Kak...aku mau foto sendiri aja. Fotoin ya!" pinta Annisa. Furqan dengan senang hati melakukannya. Ia bahagia melihat Annisa tersenyum karena bahagia. Jika ibunya tidak di penjara, Annisa tak akan bisa ke mana-mana.


Bahagiamu adalah bahagiaku sayang. Semoga ibu membuka hatinya dan menghilangkan kebenciannya padamu. Kamu adalah calon menantu terbaik untuknya, hanya saja ia belum menyadarinya, bathin Furqan


Lelah mengelilingi Tirta Gangga, Annisa dan Furqan singgah di sebuah restoran untuk mengisi perut. Direstoran yang sama, Aldi dan Fitri tak menyadari kedatangan Annisa dan Furqan karena terhalang tirai.


"Fit...!" panggil Aldi


"Iya kak, ada apa?" tanya Fitri dengan wajah polosnya


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi jangan paksakan dirimu untuk menjalaninya!"


"Apa Kak?" Fitri penasaran


"Kak...sepertinya, di sebelah kita ada kak Aldi dan Fitri deh!"


Furqan pasang telinga untuk mendengarkan percakapan orang di sebelahnya.


"Sepertinya ada yang sedang nembak seorang gadis, hum hum hum!" bisik Fitri pada Annisa sembari menahan tawa


"Kamu adalah sahabat adikku, dan aku melihat kalian berdua seperti pinang di belah dua. Sifat kalian itu sama, g jauh beda. Selama ini, aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun karena aku melihat mereka hanya mengejar materi. Kamu berbeda dengan yang lain diluar sana. Kamu mau jadi kekasihku?" Tanya Aldi tanpa basa-basi.


"Uhummmm!" Annisa tersedak dan hampir saja menyemburkan air dalam mulutnya.


"Bukan gitu kak, tapi kenapa kak Aldi mengungkapkan perasaan padaku?!" jelas Fitri


"Kamu g dengar apa yang kukatakan? cukup jawab ya atau tidak!" Aldi tidak memberi kesempatan pada Fitri untuk berpikir.


"Beri saya waktu untuk menjawabnya!"


"G bisa jawab sekarang? ya sudah kalau memang kamu g mau!"


"Tapi kak, saya g sepadan dengan kak Aldi. Saya hanya wanita biasa, sedangkan kak Aldi orang kalangan atas. Apa pantas saya jadi kekasih dari seorang bos besar?" tanya Fitri


"Itu alasanmu?!"


"Iya kak!"


"Mulai sekarang, jangan pernah membantah perintahku. Berani membantah, aku bawa kamu ke KUA. Sekarang kita balik ke hotel!" ucap Aldi sambil berdiri meninggalkan Fitri yang masih kebingungan.


"Tapi kak, makanannya?!"


"Tinggalkan saja. Nanti lanjutkan di hotel!"


Tak mau diperpanjang, Fitri terpaksa meninggalkan makanannya yang baru saja ia sentuh. Fitri tak menyangka akan bertemu seseorang yang begitu mempesona, baik dan tidak memandang status sosial pasangannya.

__ADS_1


Dia serius g ya sama aku? buang jauh-juah Fitri pikiran burukmu ini. Dia laki-laki baik, penyayang dan bertanggungjawab. Kamu g akan nyesal menerimanya. Udah ada yang nembak, masih banyak mikir. Fitri bicara dengan dirinya sendiri.


Karena hari sudah sore, Aldi dan Fitri kembali ke hotel. Annisa dan Furqan menyelesaikan makannya dan juga akan kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, Annisa cepat-cepat keluar dari mobil untuk menemui Fitri.


"Sayang...ingat! jangan ledekin Fitri, nanti dia malu sama kamu. Anggap saja kita g tahu apa-apa!"


"Iya kak, tenang aja!" jawab Annisa.


Saat masuk kamar, para ladies sedang berada di atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuh dengan selimut.


"Kalian ini kenapa?!" tanya Annisa heran melihat ke tiga sahabatnya. Tak ada yang menjawab pertanyaan Annisa.


"Ooooo, jadi g mau jawab nih? baiklah! aku bilang aja ke kak Aldi dan yang lain, kalau kalian pingsan!" ancam Annisa


"Nooooooo, jangan! kami g apa kok!" Fitri lebih menjawab.


"Kalian kenapa sih? habis jalan berdua, pulangnya pada aneh!" tanya Annisa


Fitri bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Annisa. Ia malu pada Annisa karena Aldi mengutarakan perasaannya.


"Itu anak kenapa? perasaan, belum lama dari kamar mandi, kok balik lagi?!" Siska heran dengan Fitri.


"Ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku, ayo jawab?" tanya Annisa pada kedua sahabatnya


"Aku saja deh yang cerita. Tapi aku mulai dari mana ya?!" Siska bingung sendiri


"Jujur aja deh, Sis! g usah ada rahasia lagi!" ucap Kania.


"Oke...siapa takut, sekalian aja kita minta pendapatnya Annisa. Nis...kamu tau kan, aku jalan ama Hendra, Egi Ama Kania, Fitri and big bos. Hendra nembak aku sedangkan Egi nembak Kania, kalau Fitri aku g tahu. Menurutmu, kita terima atau tidak?!" tanya Siska pada Annisa.


"Kalau menurut kalian itu adalah yang terbaik, mengapa tidak? kalian juga tahu, gimana Hendra dan Egi? mereka berdua adalah laki-laki baik. Aku yakin, mereka adalah yang terbaik yang Allah pilihkan untukkan kalian. Kita semua sudah tahu kehidupan masing-masing. Jadi untuk menyatukannya g akan sulit!" ucap Annisa memberi wejangan pada sahabat-sahabatnya.


"Trusss...kamu dan Furqan gimana?" tanya Siska perihal hubungan Annisa dan Furqan.


"kalau aku dan Furqan, ceritanya lain dengan kalian. Hendra yatim piatu, Egi ada orang tua tapi g bersamanya dan mereka g peduli dengan Egi. Kalau Furqan kan ada orang tua dan dia menjadi tulang punggung keluarganya. Otomatis, dia harus perhatikan orang tuanya!" jelas Annisa pada sahabat-sahabatnya.


"Tunggu dulu! ngapain Fitri kamar mandi? kok g keluar-keluar?!" tanya Siska


"Iya ya! sejak tadi lo dia di kamar mandi. Pasti dia sengaja lama-lama di kamar mandi atau jangan-jangan dia juga di tembak sama big bos dan malu menceritakannya pada kita!" Kania mencurigai Fitri


Annisa hanya tersenyum mendengar Kania. Annisa berdiri dan mendekati kamar mandi.


"Fit...kamu ngapain di dalam? kamu g usah malu, aku udah tahu kok, kalau kak Aldi nembak kamu kan?" tanya Annisa dari depan pintu kamar mandi. Fitri yang mendengar ucapan Annisa, segera buka pintu dan keluar dari kamar mandi.


"Nis...jangan beritahu yang lain ya, aku malu!" pinta Fitri


"Malu sama siapa dan mengapa harus malu? kamu juga punya hak untuk mencintai dan dicintai. Aku senang kak Aldi memilih salah satu sahabatku. Sana, bergabung dengan yang lain! G baik cerita di sini, banyak 😈 nya!" perintah Annisa. Fitri g nyangka, kalau Annisa akan mendukung hubungannya dengan Aldi. Fitri bergabung dengan Kania dan Siska.


"G usah malu, Fit! kita aja udah cerita Ama Annisa. Kamu malu karena kak Aldi seorang big bos, sedangkan kamu hanya anak yatim? g usah terlalu dipikirkan. Kak Aldi aja g peduli dengan status sosialmu, kenapa kamu yang piyusing? harusnya, kamu itu senang karena ada yang mencintai setulus hati tanpa melihat status. Kalau kamu nolak dia, aku yakin kamu akan menyesal seumur hidup kamu. Betulkan Nia?" Siska menceramahi Fitri


"Betullll sekallliii!" jawab Kania.

__ADS_1


"Ini namanya, cinta bersemi di Bali. Pura-pura menolak ternyata ingin di cinta, ha ha ha!" Tutur Annisa sambil tertawa. Kania, Fitri dan Siska pun tertawa mengingat momen bagaimana mereka menolak ketika diajak berdua.


Fitri membenarkan ucapan sahabatnya. Kemudian, para ladies membersihkan diri. Selesai makan malam, mereka memilih tidur lebih awal karena lelah jalan seharian.


__ADS_2