
Pagi-pagi buta, Annisa mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak barang yang penting yang di bawanya, hanya surat berharga, pakaian dan kalung kenangan hadiah dari bapaknya. Setelah semuanya beres, Annisa ke rumah pak RT. Meskipun Annisa pergi sepagi ini, itu tidak akan mengganggu pak RT, karena pak RT selalu bangun lebih awal untuk menunaikan kewajibannya, kemudian duduk santai di teras rumahnya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh! lho, Nisa... masih pagi kok dah bertamu?"
"Maafin Nisa, pak RT! Nisa sengaja datang pagi-pagi sekali, kalau datangnya dah kesiangan, takut telat masuk kerja, pak! Nanti Nisa di pecat."
"Ada apa, Nisa? sepertinya serius ini?!"
"Gini, pak! Nisa mau pindah ke rumah Abang sepupu Nisa dari pihak ibu, soalnya Nisa takut tinggal dirumah sendirian. Pak RT ingat g, waktu awal Nisa kuliah? yang waktu Nisa mau dilecehkan itu pak? sekarang orang itu terus menerus meneror saya. Saya mau pamit sama Bapak dan Ibu, karena selain bapak RT di sini, bapak juga adalah orang yang telah menjaga Nisa selama ini. Maafin Nisa ya Pak, kalau Nisa ada salah sama Bapak dan Ibu!"
"Wusss, ngomong apa kamu ini? Kamu g ada salah sama kami, Nak!" ucap Bu RT uang tiba-tiba muncul dan berdiri di samping pak RT.
"Nanti, Nisa ke sini kalau ada waktu."
"Hati-hati kamu disana! kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan, telepon bapak!"
"Iya, pak. Annisa titip rumah ya, pak! Nisa pamit ya, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab pak RT dan istrinya
Annisa kembali ke rumahnya. ternyata didepan rumah sudah ada Aldi.
"Sudah siap?"
"Udah, kak!"
Semua barang milik Annisa di masukkan kedalam bagasi mobil. Annisa menatap rumahnya yang sederhana tapi menyimpan kenangan yang begitu indah bersama kedua orang tuanya. Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena jalan masih sunyi. 20 menit kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan elit yang membuat Annisa takjub dengan bangunan rumah dengan desain yang bergaya Eropa. Aldi menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah megah dua lantai berwarna putih. Annisa terpesona dengan rumah yang ada di depannya.
"Kak, rumah siapa?!" tanya Annisa yang takjub dengan megahnya rumah Aldi.
"Disinilah kamu akan tinggal! Ini rumah kakak."
"Kak, apa aku pantas tinggal di sini? rumahnya terlalu mewah, kak!"
"Jangan membuatku marah. Ayo keluar!"
Annisa keluar dari mobil. Di depan pintu sudah berdiri seorang ibu yang menunggu kedatangan mereka. Annisa mendekati si ibu dan menyalaminya serta mencium kedua punggung tangannya. Si ibu menarik tangannya, karena merasa g enak dengan majikannya. Aldi yang melihat ke canggungan diantara mereka berdua segera mendekat.
"G apa-apa, mbok! Dia adikku."
Annisa menundukkan kepalanya dan tersenyum melihat si ibu. Saat Annisa hendak ke mobil ingin mengeluarkan barang-barangnya, Aldi memanggilnya.
"Mau kemana, dek?"
"Ngambil barang aku, kak!"
"Semua barangmu sudah ada dikamarmu. Ayo masuk!" ajak Aldi pada adiknya.
"Tuan, sarapannya sudah siap!"
"Dek, kita sarapan dulu. Nanti kakak yang antar ke tempat kerja!"
Annisa dan Aldi duduk di meja makan. Annisa melihat sekeliling seolah mencari sesuatu.
"ada apa?"
"Si mbok mana, kak?"
"Mungkin di dapur. Dia kepala pelayan di sini, jadi semua harus dia yang kontrol."
"Kak, ajak mereka makan bersama ya! dihadapan manusia memang status berbeda, tapi di hadapan Allah kita sama. Jangan karena mereka pembantu, mereka g boleh makan di meja makan semahal ini!" Annisa membujuk kakaknya untuk mengajak pekerja rumah makan bersama.
"Mbok!" Aldi memanggil kepala pelayan
"Iya, Tuan?"
"Mbok, panggil semua ke mari!"
Mbok Minaya segera memanggil para pekerja rumah untuk berkumpul. Semua sudah berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Kalian ikut sarapan pagi bersama kami! g ada yang boleh bertanya ataupun menolak."
__ADS_1
Semua pekerja terpaksa duduk bersama majikannya dengan diselimuti rasa takut.
"Kalian g usah takut. Ayo makan! makan bersama lebih nikmat walau makanannya sederhana apalagi makanan semewah dan seenak ini, iyakan kak?" Annisa berusaha menghilangkan rasa takut para pelayan kakaknya sambil tersenyum.
"hummm." Aldi menjawab seadanya.
Selesai sarapan, para pelayan segera membersihkan meja makan, sedangkan Annisa dan Aldi berangkat ke rumah makan. Hanya 4 menit saja, mereka berdua sampai di depan rumah makan. Annisa menyalami kakaknya dan segera turun. Aldi melanjutkan perjalanan menuju kediaman Furqan. Furqan ingin Aldi yang menjemputnya.
Annisa duduk di kursi satpam dan membelakangi jalan. Sebuah tangan kekar melingkar dilehernya dan si pemilik tangan ingin mencium pipi Annisa. Annisa melakukan perlawanan sehingga bisa melepaskan diri dari orang yang memeluknya. Annisa menatap lekat pada si pria tersebut. Dirinya hampir jantungan karena kaget dan tidak percaya, kalau Herman akan mengulangi perbuatan asusilanya. Saat Annisa masih dalam keterkejutannya, Annisa mendengar Herman memerintahkan anak buahnya untuk menahan Annisa. Keadaan rumah makan masih sunyi, sehingga memudahkan Herman untuk mendekati Annisa.
"Tangkap dia!"
Dua orang anak buah Herman mendekat dan menyerang Annisa. Annisa melakukan perlawanan, kemampuan beladirinya ia tunjukkan kepada ke sepuluh preman yang ada di depannya. Pukulan Annisa menumbangkan dua preman yang lebih dulu menyerangnya. Beberapa gigi mereka berdua menghilang Alias copot. Melihat dua orang temannya tumbang, ke delapan preman tersulut emosi dan langsung menyerang membabi buta. Annisa mencari posisi yang lebih baik, sehingga ia bebas menerapkan tendangan menyapu batok kepala. Melihat preman-preman itu mulai g seimbang, Annisa memburu mereka dengan pukulan dan tendangan mematikan. Alhasil mereka semua pingsan.
Annisa berdiri tenang dan menatap Herman.
"Brengsek!" Herman panik melihat anak buahnya tumbang dalam sekejap. Saat dirinya hendak menyerang Annisa, sebuah mobil putih berhenti depan rumah makan. Seseorang keluar dari dalam mobil. Ternyata Aldi kembali kerumah makan. Aldi keluar dari dalam mobil bersamaan munculnya mobil Bu Farah dan juga teman-teman Annisa. Bu Farah keluar dari mobil dan mendekati Annisa. Sedangkan Aldi merekam setiap kejadian yang dia saksikan.
"Ada apa, Nis?siapa mereka?" Bu Farah bertanya pada Annisa sambil memperhatikan preman-preman pingsan.
"Maaf, Bu! saya terpaksa menciptakan pemandangan yang buruk di depan rumah makan ini. Laki-laki bejat ini, datang dan ingin melecehkan saya. Kemudian menyuruh anak buahnya menyerang saya!"
Bu Farah menatap sinis pada Herman. Bu Farah tersulut emosi dan memaki Herman.
"Kamu lagi? ada apa sebenarnya dengan dirimu? apa pekerjaanmu sebagai seorang penerus kerajaan Agung Pratama seperti ini? mana wibawamu sebagai seorang CEO? kalau saya perhatikan, kamu tidak pantas disebut sebagai penerus Agung Pratama, tapi kamu pantas menjadi preman di pasar!"Bu Farah menceramahi Herman. Kemudian, Bu Farah menelpon polisi untuk mengangkut preman-preman yang menyerang Annisa.
"Herman, ada yang ingin bicara denganmu?" Egi memanggil Herman.
"He, cecunguk! hentikan omong kosong mu dan jangan ikut campur urusanku dengan Annisa!"
Ternyata Egi menelpon pak Kuncoro. "Saya serius!"
Egi mengaktifkan speaker gawainya. Teriakan pak Kuncoro jelas terdengar oleh putranya.
"Herman...!!! apa yang kamu lakukan ha? memalukan! pulang sekarang juga!"
Herman tak menyangka kalau salah seorang pelayan berani menelpon ayahnya. Terpaksa Herman meninggalkan rumah makan dengan kesal. sepeninggal Herman, mobil polisi tiba di TKP dan menahan semua preman yang sudah mulai sadar lalu di bawa ke kantor polisi.
"Bu Farah, kami akan membawa rekaman cctv sebagai bukti!" ucap seorang polisi.
"Kalian semua, lanjutkan pekerjaan. Bereskan semua kekacauan sebelum pelanggan datang!" perintah Bu Farah pada anak buahnya
Keadaan kembali normal seperti semula. Aldi menemui Bu Farah.
"Pagi, Bu Farah!"
"Pagi juga, pak Aldi! ada yang bisa saya bantu?"
"Saya minta rekaman cctv untuk saya serahkan kepada atasan saya."
Tidak heran kalau Aldi bebas meminta apapun yang berkaitan dengan rumah makan "Sahabat", sebab Fendi sudah memberitahu Bu Farah. Bu Farahpun menyerahkan rekaman cctv tersebut. Aldi meninggalkan rumah makan tanpa pamit pada Annisa. Aldi tidak ingin mengganggu adiknya.
Di rumah Furqan
Furqan yang sedang memperhatikan depan rumahnya melalui cctv di ruang kerjanya. Fani masuk menemui putranya.
"Fur... Ibu mau bicara!"
"Soal apa, Bu?"
"Soal perjodohanmu dengan Anggita, sayang! Anggita rela meninggalkan pekerjaannya demi perjodohan kalian. Dia wanita yang pantas untuk mendampingimu. Ibu akan membahas pernikahanmu dengan Tante Lidia. Kamu harus menerima keputusan ibu!"
"Maaf, Bu! Aku tidak bisa menerima wanita itu. Anggita sudah tahu keputusanku. Ibu jangan memaksaku dan membuatku melawan ibu!"
Furqan meninggalkan ibunya yang terkejut dengan ucapannya. Aldi sudah berada di depan rumah untuk menjemput Furqan. Tak ingin berlama-lama, mereka berdua meninggalkan kediaman Furqan.
"Lihat ini!" Aldi memberikan gawainya kepada Furqan.
"Apa yang ingin kau perlihatkan?"
"Lihatlah, jangan banyak tanya!"
Furqan meraih dan membuka gawai yang diberikan Aldi. Matanya melotot melihat rekaman cctv yang diperlihatkan Aldi.
__ADS_1
"Kalau bukan karena ayahnya, akan kubuat perusahaan Agung Pratama tak meninggalkan bekas. Rupanya dia tidak berhenti mengganggu Annisa. Kapan kau ambil rekaman ini?"
"Abang, Abang! meskipun tersulut emosi, jangan lupa memperhatikan yang lainnya. Perhatikan waktunya kejadiannya!"
"Bangsat kau, Herman! rupanya kau ingin main-main denganku!"
Furqan segera menghubungi kepolisian untuk segera menyelesaikan semuanya. Dirinya tidak ingin melihat ataupun mendengar tentang Herman mengganggu Annisa lagi. Setelah menelpon polisi, Furqan menghubungi pak Kuncoro.
"Halo, nak Furqan!"
"Paman, maafkan saya! Saya terpaksa harus melaporkan perbuatan Herman Ke polisi. Saya harap, paman tidak melindunginya!"
"Maafkan paman, nak! Paman sudah ikhlas jika itu yang terbaik."
"Baik, paman!" Furqan memutuskan sambungan teleponnya.
Aldi yang sedang menyetir hanya bisa tersenyum melihat sepupunya yang sedang di mabuk cinta hingga melangkah sejauh itu. 25 menit kemudian, mereka sampai di kantor. Keduanya menuju lift khusus petinggi perusahaan. Hari ini, perusahaan akan mengadakan rapat direksi. Setelah rapat selesai, Aldi dan Furqan ke kantor polisi untuk mengetahui perkembangan laporannya. Ternyata polisi bergerak cepat menahan Herman. Herman tak bisa melawan, sebab ayahnya sendiri yang menyetujui penahanannya. Furqan mendekati Herman.
"Herman! aku pastikan kau akan membusuk dalam penjara. Siapapun tidak akan bisa mengeluarkanmu dari sini, termasuk ayahmu. Sudah aku katakan, jangan main-main denganku, tapi kau malah bergerak seperti virus. Sayangnya, gerakkanmu yang lambat hanya akan membuatmu menjadi penghuni setia penjara ini!"
"Jangan senang dulu, Furqan! aku hanya sementara di sini. Pengacaraku siap mengeluarkanku dari sini. Ingat Furqan, jika aku sudah keluar nanti, akan kupastikan kau akan membayar semua ini, ingat itu Furqan!" Herman meluapkan emosinya.
"Sepertinya kau bermimpi! Kamu lupa dengan semua bukti kejahatanmu. Sebenarnya sudah lama aku ingin menjebloskanmu ke dalam penjara, tapi aku masih mengingat paman Kuncoro yang sangat aku hormati. Kamu malah merusak nama baiknya. Selamat atas keberadaanmu ditempat ini. Fendi pun menginginkan hal yang sama denganku. jadi, tenanglah! tidak akan ada yang berani mengganggumu."
Ucapan Furqan membuat Herman semakin menaruh dendam padanya. Dirinya g menyangka, kalau temannya sendiri akan tega melakukan itu. Herman bersumpah pada dirinya sendirinya akan membalas kedua sahabatnya tersebut.
Setelah selesai berurusan dengan kepolisian, Furqan dan Aldi meninggalkan kantor polisi dan menuju restoran Fendi. Fendi dan Ainun menunggu mereka diruangan pribadi. Tak lama kemudian, Aldi dan Furqan sampai di restoran dan langsung menemui Fendi dan istrinya.
"Bagaimana perkembangan kasus Herman?" Fendi langsung bertanya masalah yang akan mereka bahas.
"Kamu tenang saja, semua sudah aku urus. Anak itu tidak mudah keluar dari kediaman barunya. Ayahnya sendiri menyetujui langkah yang aku ambil meskipun terpaksa!" Jelas Furqan
"Maksudmu?!"
"Pak Kuncoro jelas paham maksudku. Perusahaannya g hancur karena bantuan dariku. Jika dia tidak menyetujuinya, terpaksa aku harus menghentikan bantuan itu. Apa yang dilakukan Herman, sudah sangat keterlaluan. Aku ingin melihat bagaimana perubahan Herman jika dipenjara cukup lama? jika dia bisa berubah dan bertobat, apa salahnya kita beri kesempatan. Bagaimana menurut kalian berdua?!"
"Itu yang terbaik. Dengan dia dipenjara, mungkin dia bisa merenungi jika yang dilakukannya adalah salah. Dengan demikian, dia tidak menyombongkan diri lagi dengan hartanya!" jawab Ainun mewakili suaminya.
"Lepas dari sini, kalian mau kemana?" tanya Fendi
"Kami akan ke kantor cabang, ada sedikit masalah di sana!"
"Sebelum kalian pergi, nikmati dulu menu terbaru kami. Kami yakin, ini sangat enak. Kalian adalah juri pertama kami, he he he!" kata Fendi sambil tertawa kecil memperlihatkan gigi putihnya.
Mereka berempat menuju meja yang telah di penuhi dengan masakan baru yang belum di masukkan dalam daftar menu direstoran. Aldi dan Furqan benar- benar menyukai makanan baru tersebut.
"G salah kalian menyajikan ini untuk kami berdua. Makanan ini sangat enak, membuatku pengen nambah terus ini. Siapa yang memiliki resep masakan ini? aku mau di rumahku ada makanan ini!" ucap Aldi serius.
"Itu rahasia istriku. Dia yang memasaknya. Nantinya masakan ini akan jadi menu utama direstoran baru kita!"
"Luar biasa! pelayan hotel yang prima plus makanan yang enak, otomatis banyak yang akan menuju hotel kita. Kerja sama ini akan semakin menguntungkan!" Furqan semakin antusias.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian bertiga. Apakah sudah saatnya aku mengutarakan perasaanku pada Annisa? Aku tidak bisa lagi menunggu terlalu lama. Tolonglah! bantu aku untuk meyakinkannya. Gadis itu terlalu sulit untuk aku taklukkan."
"Sebaiknya, kau jujur saja pada gadis itu!" Fendi ikut memberikan saran.
"Sehebat apapun dirimu dalam dunia bisnis, ternyata Abang hanyalah pengecut di dunia percintaan. Terrrrlaaaalu!"Aldi mengejek Furqan.
Ejekan Aldi membuat Furqan jadi bahan tertawaan. Karena masih ada urusan yang harus diselesaikan, Furqan dan Aldi pamit pada Fendi dan istrinya. Mereka berdua meluncur ke kantor cabang untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Masalah pelik yang terjadi, membuat Furqan dan Aldi menghabiskan waktunya di kantor cabang.
"Bagaimana pak Susno? sudah bapak bereskan semuanya?" tanya Furqan pada orang kepercayaannya.
"Sudah, Pak! sesuai perintah bapak. Sebenarnya sudah lama ini terjadi, tapi saya tidak berani melaporkan karena sepertinya mereka telah mempersiapkan segalanya. Bahkan sempat saya mendengar percakapan Pak Kunto di telpon, kalau dia memiliki beberapa orang suruhan yang sewaktu-waktu bisa dia suruh untuk menyakiti siapa saja yang berani melaporkannya pada bapak!" Jelas pak Susno.
"Baiklah! sekarang kamu boleh pergi dan jangan takut. Tak akan ada yang tahu kalau pak Susno yang memberikan informasi ini padaku."
"Terima kasih, Pak! kalau begitu saya permisi dulu!"
"Silahkan, pak!"
Setelah urusan selesai, Furqan kembali ke rumahnya dijemput sopir pribadinya. Sedangkan Aldi langsung menuju rumah makan untuk menjemput Annisa. Aldi parkir agak jauh dari rumah makan agar tidak diketahui oleh teman-teman Annisa kalau dirinya datang menjemput Annisa. Tak lama kemudian, Bu Farah dan anak buahnya keluar dari rumah makan. Masing-masing meninggalkan rumah makan. Annisa tak ingin diantar Fitri karena beralasan akan dijemput oleh sepupunya. Setelah keadaan aman, Annisa segera berlari kecil menuju mobil kakaknya.
"Ayo!" ajak Aldi
__ADS_1
Keduanya masuk dan dan Aldi meluncurkan mobilnya menuju kediamannya. Karena jarak rumah Aldi dan rumah makan tidak terlalu jauh, mereka pun sampai rumah lebih cepat. Annisa segera turun dan masuk ke dalam dirumah, disusul oleh Aldi. Karena letih bekerja seharian, keduanya istirahat dikamar msing-masing.