
Aldi dan Annisa duduk santai bersama Erina di taman belakang rumahnya.
"Bu...apa yang harus kita lakukan? semakin hari penyerangan terus terjadi. Lebih baik kita bicarakan semua ini dengan Furqan. Seberat-beratnya kenyataan, Furqan tetap harus tahu semuanya." usul Aldi pada Erina.
"Ibu akan bicarakan lebih dulu dengan yang lain, karena ini bukan masalah kecil." jawab Erina.
Kring! Kring! Kring!
Ponsel Annisa berdering. Annisa pun mengangkat panggilan sahabatnya.
"Nis...Fitri dan Kania di culik di depan rumah makan." Siska panik karena kedua sahabatnya diculik.
"Apa? di culik? kok bisa?!"
"Mungkin ada kaitannya dengan kejadian kemarin!"
"Aku segera ke sana!" Ucap Annisa kemudian memutuskan panggilan diponselnya.
"Ada apa, dek?"
"Fitri dan Kania di culik di depan rumah makan!"
Erina segera menghubungi Andrew untuk memeriksa rekaman cctv di area rumah makan.
Andrew segera melakukan tugas yang diberikan ibunya. Ia memeriksa mulai dari plat mobil hingga ke arah mana mobil itu bergerak. Segera Andrew menghubungi ibunya dan mengirimkan hasil penelusurannya. Erina segera menghubungi anak buahnya untuk mengikuti mobil tersebut. Anak buah Erina segera bertindak dan mengejar mobil yang membawa Fitri dan Kania. Setelah mereka dapat mengikuti para penculik, salah serang dari mereka menghubungi Erina.
"Halo, bos! Kami sudah menemukan mereka."
"Bagus! ikuti terus, kami akan menyusul."
"Baik bos!" jawab anak buah Erina.
Mobil yang menculik Fitri dan Kania berhenti di sebuah kafe yang berada di luar kota. Di kafe itu, Lidia sudah menunggu. Anak buah Lidia turun dan menyeret Fitri dan Kania.
"Bawa mereka masuk! kalian tidak di ikuti kan?"
"Kami di ikuti, tapi mereka akan dihadang oleh yang lain."
"Kerja yang bagus!" ucap Lidia pada anak buahnya.
Sementara anak buah Erina di hadang oleh beberapa orang suruhan Lidia. Sebelum terjadinya adu jotos, salah satu anak buah Erina menghubungi Erina.
"Halo bos! kami di hadang oleh yang lain, sementara mobil yang kami ikuti menuju ke sebuah kafe yang ada diluar kota. Kami berada tidak jauh dari kafe itu." ucap Tirto pada bosnya.
"Tetap di tempat, jangan ada yang bergerak sebelum kami tiba di sana. Kami sudah dekat dengan lokasi!" Erina memberikan arahan pada anak buahnya.
"Baik, bos!" jawab Tirto
"Bagaimana, Tir?" tanya teman Tirto.
"Kita jangan bergerak, tunggu bos datang. Mereka sudah dekat!"
__ADS_1
"Oke!" jawab teman Tirto.
Anak buah Lidia mengedor-ngedor pintu mobil.
"Keluar...cepat keluar sebelum kami menghancurkan mobil kalian!" anak buah Lidia mengancam Tirto dan teman-temannya. Tirto menahan teman-temannya yang sudah emosi.
Seorang anak buah Lidia hendak menghancurkan kaca mobil Tirto, tapi terhalang oleh kedatangan Erina, Aldi, Annisa serta dua orang anak buah andalan Erina. Ketika perhatian anak buah Lidia terpecah, Erina menyuruh anak buahnya untuk menghabisi mereka, sedangkan mereka langsung menuju ke kafe tempat Fitri dan Kania di tahan. Aldi menghentikan mobil agak jauh dari kafe. Annisa dan Erina keluar dari mobil dan mendekat ke kafe sedangkan Aldi dan tiga orang anak buah Erina lewat belakang. Erina dsn Annisa di hadang di depan kafe.
"Berhenti!" teriak seorang preman yang berjaga-jaga di depan. Preman tersebut menyuruh temannya untuk memberitahu Lidia tentang Annisa dan Erina. Kemudian, Lidia keluar dengan bertepuk tangan.
Prok! prok! prok! Lidia bertepuk tangan menyambut Erina.
"Hooo, besar juga nyali kalian!" ucap Bu Lidia pada Annisa dan Erina.
"Lepaskan gadis yang kalian sandra!" perintah Erina pada Lidia.
"Tidak semudah itu! jika menginginkannya, bagaimana jika kalian berdua menjadi penggantinya?" tanya Lidia.
Erina menatap wajah Lidia, kemudian Erina merekahkan senyumnya pada Lidia.
"Membantu sahabat agar putrimu bisa menikah dengan Furqan, ha ha ha! sepertinya, engkau berbakat untuk mengikuti jejak mantan suamimu!" Erina tertawa mengejek Lidia.
"Diam kamu, Itu bukan urusanmu! tangkap mereka hidup-hidup atau habisi saja!" perintah Lidia pada anak buahnya.
Anak buah Lidia menyerang Annisa dan Erina. Sementara di bagian belakang, Aldi dan anak buah Erina sudah berhasil melumpuhkan preman-preman yang menjaga Fitri dan Kania. Aldi menyuruh Anak buah Erina untuk membawa Fitri dan Kania ke mobil, dan dirinya langsung membantu Erina dan adiknya. Seorang preman mengeluarkan pistol dan melepaskan tembakan.
Door! door! door!
aaaakhkhkh! Annisa berteriak menahan sakit. Darah bercucuran membuat Erina panik.
"Tahan, sayang! ibu akan membawamu ke mobil."
"Sakit, Bu!" Annisa terus meringis kesakitan.
Saat preman yang lain hendak melakukan hal yang sama, mobil polisi yang di kirim Andrew tiba dan langsung menyisir tempat kejadian. Alhasil, Lidia yang hendak kabur tertangkap beserta anak buahnya. Polisi menyita semua senjata yang masih tersimpan di dalam sebuah ruangan rahasia.
Erina dan Aldi membawa Annisa kerumah sakit dan langsung keruang operasi. Selesai mengurus adminstrasi, Erina menghubungi anak buahnya untuk membawa Fitri dan Kania ke rumah Aldi. Sedang Aldi menghubungi Furqan tentang kondisi Annisa.
"Halo, Fur! kamu ke rumah sakit sekarang, Annisa tertembak!"
"Aku segera ke sana!" Furqan langsung lari turun ke bawah. Tak perduli dengan ibu yang memanggil-manggil namanya. Furqan segera mengeluarkan mobil dari bagasi dan tancap gas kerumah sakit "Sehat Bersama".
"Susi... itu Furqan kenapa?" tanya Fani pada putrinya.
"G tahu Bu! sepertinya ada yang urgen." Susi menjawab Fani seperlunya.
Susi menyalakan televisi di ruang tengah. Berita utama yang disiarkan adalah tentang penerus Darmajaya yang tertembak akibat menyelamatkan sahabatnya. Saat Fani hendak ke belakang, menahan langkahnya dan berbalik untuk mendengarkan berita tersebut. Di sana terlihat jelas saat Annisa di bawa masuk ke rumah sakit dan menuju ruang operasi. Fani tersenyum puas melihat dan mendengar berita tersebut.
Kerjamu luar biasa, Lidia! gumam Fani.
Kemudian, dalam berita tersebut Erina sedang di wawancarai tentang siapa dalang dari penculikan sahabat-sahabat nona Annisa. Jawaban Erina membuat Fani tersenyum dalam hati tapi juga membuatnya hampir tak bisa bernapas.
__ADS_1
"Bu Erina! siapa dalang dari penculikan ini?" tanya seorang wartawan.
"Kami tidak ingin menduga-duga, nanti jawaban pastinya ada pada pelaku penculikan tersebut. Mereka sudah ditangkap dan sekarang ada di kantor polisi. Untuk saat ini, ada seorang wanita bernama Lidia yang juga tertangkap sebagai pelopor dari penculikan ini. Dia yang akan menjawab semua!"
"Terima kasih, Bu! kami akan ikuti perkembangan selanjutnya!" jawab wartawan yang meliput.
"Silahkan!" jawab Erina.
Susi berdiri dan langsung menatap ibunya.
"Bu...apa yang ibu dan tante Lidia lakukan?" tanya Susi mencurigai ibunya.
"Apa Susi? ibu g melakukan apa-apa? jangan kurang ajar jadi anak."
"Siapa yang kurang ajar ibu? Susi hanya bertanya. Jangan sampai ibu juga terlibat kriminal!" Susi memperingati ibunya.
Fani menghindar dari putrinya. Fani khawatir soal Lidia yang tertangkap polisi.
Furqan menyetir mobil seperti orang gila. Ia memilih jalan yang g macet. Tiba di rumah sakit, Furqan segera keluar dari mobil dan lari masuk menemui Erina dan Aldi.
"Bu...Aldi! bagaimana keadaan Annisa?" Furqan bertanya dalam keadaan panik.
"Keadaannya kritis, dan dia diruang operasi." jawab Aldi.
"Mengapa ini bisa terjadi?"
"Kami menyelamatkan sahabat-sahabatnya yang diculik. Ternyata mereka memegang senjata dan menembak Annisa." cerita Aldi.
"Pelakunya?"
"Semua tertangkap termasuk Lidia. Lidia sebagai pelopor penculikan. Dia menginginkan ibu dan Annisa." jawaban Erina membuat Furqan meradang.
"Akan kupastikan wanita tua membusuk di penjara!"
"Tenangkan dirimu! Ibu akan mengurusnya setelah Annisa melalui masa kritisnya. Kemungkinan ibumu juga terlibat."
Furqan diam mendengar perkataan Erina.
"Kalau memang ibuku terlibat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa melindungi dia dari kejahatannya. Tapi aku berdoa, semoga dia tidak termasuk di antara mereka!" Furqan menundukkan kepalanya karena malu pada Erina dan Aldi.
"Semoga saja!" jawab Erina. Keadaan pun hening. Aldi, Erina dan Furqan diam menunggu Annisa keluar dari ruang operasi.
Tak lama kemudian, dokter keluar dan menemui Erina.
"Operasinya sudah selesai, kami berhasil mengeluarkan pelurunya. Pasien akan dipindahkan keruang perawatan seperti yang kalian inginkan."
"Terima kasih dokter!" ucap Aldi, Furqan dan Erina.
"Sama-sama, Bu! ini sudah menjadi tugas kami. Saya permisi!" dokter meninggalkan mereka bertiga.
"Silahkan, dok!" Erina mempersilahkan dokter untuk pergi dan perawat membawa Annisa keruangan perawatan VIP.
__ADS_1