
Furqan, Aldi, Annisa dan Erina telah menyelesaikan urusan perusahaan. Tidak ada hal yang merugikan bagi kedua belah pihak. Kedermawanan Darmajaya dan istrinya menurun pada kedua anaknya. Aldi dan Annisa tidak serakah dengan harta dan tidak ingin dikenal publik sebagai anak pengusaha terkaya dinegaranya sendiri. Setelah konferensi pers tentang hadirnya kedua penerus Darmajaya dan tertangkapnya pelaku penculikan kedua sahabat Annisa, tak ada lagi kegiatan yang menyertakan media. Erina atas permintaan kedua anak asuhnya dalam beberapa bulan, menutup akses media untuk membahas tentang keluarga Darmajaya.
Sementara, Susi yang dikenal bar-bar telah merubah gaya hidupnya dengan menjadi wanita yang lebih baik dan bertanggung jawab pada adiknya Fiona. Ia menggantikan posisi ibunya di rumah. Proses hukum Fani dan Lidia dilakukan secara tertutup atas permintaan Aldi dan Annisa. Keduanya menjalani hukuman 20 tahun penjara. Aldi dan Annisa menyadari dampak besar yang akan terjadi jika proses hukum dan segala masalah yang ada diketahui oleh publik.
Merasa keadaan keluarganya lebih baik, Furqan, Susi dan Fiona membesuk ibunya di penjara.
"Furqan, Susi, Fio...! kenapa baru besuk ibu sekarang? kalian sudah tidak sayang sama ibu?" Fani marah pada anak-anaknya.
"Maafkan kami, Bu! kami lama baru membesuk ibu karena mengurus perusahaan bersama Bu Erina, Aldi dan Annisa. Jadi, kami baru bisa datang sekarang!" Furqan menjelaskan alasan mengapa tak membesuknya.
"Apa? mengurus perusahaan dengan Erina, Aldi dan Annisa! apa maksud kalian?!" Erina penasaran dengan ucapan anaknya.
"Meskipun Furqan tidak jawab, ibu lebih tahu soal itu!" jawab Furqan pada ibunya.
"Sudahlah, Bu! itu bukan hak kita. Apa salahnya mengembalikannya kepada yang lebih berhak. Seharusnya kita berterima kasih pada mereka, karena kejahatan yang ibu lakukan tidak di ekspos ke publik. Meskipun ibu sudah merenggut kebahagiaan Aldi dan Annisa, tapi mereka masih memikirkan nasib dan nama baik kita di masyarakat. Aldi dan Annisa tidak mengambil perusahaan yang Furqan pimpin. Coba ibu pikir, kalau Bu Erina memberitahu publik tentang yang terjadi selama ini, bagaimana nasib kita Bu? kita akan di bully bahkan kita tidak bisa lagi menghirup udara segar. !" ucap Susi memberi pengertian pada ibunya.
"Sejak kapan kamu selemah ini? ibu tidak akan melepaskan mereka!" ucap Fani penuh amarah.
"Bu...seharunya ibu itu sadar, hilangkan keegoisan ibu, terima kenyataan Bu!" Fiona kesal pada ibunya.
"Kalian itu anak-anak ibu, seharunya kalian membantu ibu, bukannya memojokkan ibu!" Fani semakin marah.
"Selama ini, ibu menutup kebenaran dari kami. Jangan jadikan kami manusia yang tak berperikemanusiaan. Kami tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, Bu! Furqan menasehati ibunya.
"Kalian memang anak durhaka. Kalian tidak kasihan pada ibu!"
"Kami menyayangi ibu, kami ingin ibu bahagia dengan jalan yang benar Bu!" ucap Susi berusaha menyadarkan ibunya.
"Jangan besuk ibu lagi, jika kalian tidak mengikuti keinginan ibu!" Fani ngotot pada pendiriannya. Furqan geleng kepala melihat reaksi ibunya
"Bu... restui aku dan Annisa. Annisa tidak ingin menikah denganku jika ibu tidak memberi restu pada kami berdua!" Furqan meminta restu pada ibunya.
"Bagus! itu artinya dia tahu diri. Ibu tidak akan memberi restu pada gadis sialan itu. ibu akan merestui jika kamu menikah dengan Anggita! Pak, saya sudah selesai!" Fani sudah enggan berbicara dengan anak-anaknya dan meminta petugas jaga membawanya kembali ke dalam sel.
Furqan, Susi dan Fiona tak menyangka, jika ibunya sekeras itu. Mereka bertiga terpaksa pulang tanpa pamit pada ibunya. Saat dalam mobil Susi bertanya pada adiknya tentang Annisa.
"Fur...apa benar Annisa tidak mau menikah jika ibu tidak merestui kalian?"
"Ia, kak!" jawab Furqan singkat
"Bukannya dia mencintai kamu?!"
"Ya!"
"Tapi kenapa dia tidak menikah denganmu walau tanpa restu? kalian kan bisa nikah meskipun ibu tidak merestui kalian?!"
"Tapi Annisa g mau, kak! dia tidak ingin aku melawan ibu karena dia. Dia menginginkan keluarga yang tenang dan bahagia." jelas Furqan.
__ADS_1
"Hemmmm! ibu memang g punya perasaan." Fiona ikut menjawab.
"Fio...katanya mau ke rumah teman kamu, siapa namanya?" tanya Furqan.
"Fardan, kak!"
"Mana alamatnya?"
Fiona menyerahkan alamat rumah Fardan pada kakaknya. Furqan memperhatikan alamat yang diberikan adiknya. Dia merasa seperti pernah ke alamat tersebut. Furqan mengantar Fiona ke rumah Fardan. Setibanya di sana, Furqan tersenyum melihat Hermawan sedang santai di teras rumahnya. Susi dan Fiona heran melihat senyum bahagia saudaranya ketika melihat pemilik rumah.
"Kamu kenapa, Fur? senang sekali kamu melihat bapak itu?" tanya Susi di anggukin Fiona
"Itu pak Hermawan, pamannya Annisa! aku pernah ke sini bersama Aldi dan Annisa. Orangnya ramah, baik dan berwibawa. Satu lagi, satu keluarga taat ibadah, g seperti kita yang selalu lalai!" ucap Furqan memuji keluarga pak Hermawan. Ketiga keluar dari mobil dan menemui Hermawan.
"Assalamualaikum, paman!" ucap Furqan
"Waalaikumsalam, nak Furqan! jawab pak Hermawan sembari berdiri dari tempat duduknya dan menyambut tiga bersaudara.
"Mengapa g bilang dulu kalau mau ke sini, paman jadi takut di borong begini!" kelakar Hermawan membuat tiga bersaudara tertawa. Susi dan Fiona yang baru pertama kali ke rumah Fardan merasa adem dan nyaman.
"Tadinya mau ngantar adik saya paman, katanya mau ke rumah teman, ternyata ke rumah paman! Oh ya paman, ini kakak dan adik saya teman kuliahnya Fardan!" Ucap Furqan memperkenalkan kakak dan adiknya. Susi dan Fiona memperkenalkan diri.
"Ayo masuk!" ajak Hermawan. Mereka pun masuk dan dipersilahkan untuk duduk di kursi tamu yang tak sebagus di rumah mereka.
Aisyah yang baru pulang dari sekolah ke luar dari kamarnya dan hendak ke belakang menemui Annisa, tapi langkahnya terhenti karena panggilan Hermawan.
"iya, pak!" Jawab Aisyah.
"Suruh kakakmu buatkan minum untuk tamu kita ya!" perintah pak Hermawan.
"Iya, pak!" Jawab Aisyah sambil tersenyum pada tamu bapaknya.
Saat Hermawan menyebut kakak, jantung Furqan berdetak cepat. Ia yakin, kalau kakak yang di maksud Hermawan adalah Annisa.
"Annisa ke sini pak?" Furqan bertanya karena ingin tahu apakah Annisa benar ada di rumah Hermawan atau tidak. Susi memberi kode pada adiknya agar jangan bertanya yang aneh-aneh.
"Ia, udah dua hari dia di sini!" jawab pak Hermawan sambil tersenyum.
"Kalian berdua kalau mau bergabung dengan Annisa dan bibinya, mereka ada dibelakang. Kebetulan Fardan belum pulang dari mengantar makanan ke toko untuk pamannya!" tawar pak Hermawan pada Susi dan Fiona.
"Boleh paman?!" tanya Susi
"Boleh!" jawab Hermawan. Susi dan Fiona segera berdiri dan bergegas ke belakang. Aisyah yang keluar dengan nampan minuman di tangannya, kaget melihat tamu bapaknya mau ke belakang.
"Mau ke mana, kak?!" tanya Aisyah heran
"Mau bergabung dengan Annisa dan bibi. Kita disuruh paman ke belakang!" ucap Susi.
__ADS_1
"Tunggu di sini ya, aku bawakan minum dulu untuk bapak dan kak Furqan!"
"Iya dek! cepat ya, kami udah g sabar mau ke belakang." jawab Fiona.
Setelah meletakkan minuman untuk bapaknya dan Furqan, Aisyah bergegas menemui Susi dan Fiona serta mengajak mereka ke belakang.
"Mari, kak. Kebetulan aku juga mau ke belakang!" Ajak Aisyah. Ketiganya menuju ke bawah pohon mangga yang rindang di belakang rumah. Annisa dan bibinya tidak menyadari kedatangan mereka bertiga karena duduk membelakangi Aisyah.
"Assalamualaikum Bu, kak Nisa!" ucap Aisyah mengagetkan ibunya dan Annisa. Sontak keduanya menoleh dan menjawab salam Aisyah.
"Waalaikumsalam!" jawab Bu Tuti dan Annisa bersamaan.
"Kak Susi, Fiona, kok ada di sini?!" Annisa kaget dengan kedatangan Susi dan Fiona ke rumah pamannya, apalagi kakak beradik itu langsung ke belakang rumah.
"Maaf Nisa, bibi! kami sudah mengagetkan kalian. Kami kesini bersama Furqan. Tadinya mau ngantar Fiona ke rumah temannya, ternyata temannya itu adik sepupumu. Paman menawarkan kami untuk bergabung dengan kalian, siapa yang tidak mau dengan keadaan yang sangat membahagiakan ini!" jelas Susi pada Annisa sembari tersenyum karena senangnya.
"Bibi...! ini Susi kakaknya Furqan, dan ini Fiona adiknya. Bu Tuti menyambut mereka dengan ramah. Bu Tuti mengajak Susi dan Fiona untuk menikmati buah mangga yang baru mereka petik. Aisyah tak mau bergabung dengan yang lain. Ia memilih makan buah mangga sendiri di kursi panjang dekat pintu dapur. Saat sedang asik makan, Fardan merampas piring Aisyah dan membuat Aisyah merengek karena kelakuan kakaknya. Bu Tuti dan Annisa tertawa melihat tingkah Aisyah dan Fardan.
Sederhan tapi bahagia. Inilah kebahagiaan yang sebenarnya, bathin Susi
"Kak...rumah ini sederhana, tapi di dalamnya penuh kebahagiaan!" bisik Fiona pada kakaknya.
"Kakak juga merasakan itu." jawab Susi.
Berada diantara keluarga Annisa, Susi dan Fiona melupakan masalah yang pernah terjadi di keluarganya. Susi menerawang jauh membandingkan keluarganya dan keluarga paman Annisa. Ternyata, menikmati kebahagiaan sederhana saja, bukan harta yang diutamakan tapi ketenangan jiwa. Keramahan yang ditunjukkan keluarga Annisa, membuat asusi dan Fiona cepat akrab dengan mereka.
Setelah Fardan merampas piring Aisyah, ia langsung masuk ke kamarnya. Fardan tak mengetahui kalau sahabatnya ada dirumah dan melihatnya berbuat konyol pada adiknya. Fardan mengira kalau Furqan datang sendirian.
Annisa menyuruh Fiona untuk menghubungi ponsel Fardan. Ponsel Fardan berdering Tak menunggu lama, Fardan menerima panggilan dari sahabatnya.
"Dan...kamu di mana?" tanya Fiona
"Aku di rumah, baru saja pulang dari toko pamanku. Kamu di mana?" jawab Fardan
Annisa dan Susi menyuruh Aisyah memanggil Annisa. Aisyah berteriak memanggil nama kakaknya. Panggilan Aisyah yang terdengar oleh Fardan, membuat Fardan bingung dan bertanya-tanya, mengapa Fiona bisa bersama Aisyah dan Annisa.
"Kamu di mana, Fio?" tanya Fardan.
Sebelum Fiona menjawab, Annisa lebih dulu bertanya pada pada Fiona.
"Fio, kamu nelpon siapa? Aisyah mana?" tanya Annisa. Fardan sangat kenal dengan suara Annisa.
"Aku nelpon Fardan, kak Nisa! g tahu kak. Mungkin dia masuk ke dalam setelah piringnya diambil Fardan." Fiona menjawab pertanyaan Annisa. Fardan yang mendengarkan obrolan itu langsung keluar dan berlari ke belakang. Menyadari Fardan sedang menuju ke belakang, mereka kompak berdiri di depan pintu belakang dan akan menunggu Fardan. Saat Fardan akan keluar, serentak semuanya berteriak dan membuat Fardan kaget bukan kepalang. Semua menertawai Fardan.
"Fiona... kok kamu bisa ada di sini?!" tanya Fardan penasaran
"Aku datang dengan kak Furqan dan kak Susi. Aku suruh kak Furqan antar aku ke sini, tau-taunya dia sudah kenal dan pernah ke sini!" Akhirnya semua ngobrol sambil bercanda. Baru kali ini, Susi dan Fiona merasakan indahnya kebersamaan.
__ADS_1