Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Sadarnya Fani


__ADS_3

Fiona baru pulang dari kampus. Susi dan Fiona masuk ke ruang perawatan ibunya. Saat keduanya masuk, Susi melihat ibunya sedang menyeka air matanya.


"Kok ibu nangis?"


"Ibu teringat almarhum ayah kalian. Ibu kangen, nak!" Ucap Fani.


Fani membohongi putrinya. Ia menangis karena mendengar ucapan Annisa pada anak-anaknya.


Dalam hatinya, Fani menyadari kesalahannya pada keluarga Darmajaya, tapi...egois mengalahkan keberaniannya untuk mengakui dan meminta maaf pada Annisa dan Aldi. Fani tak menyangka, kalau anak-anak Darmajaya tidak dendam kepadanya.


"Ibu jangan banyak pikiran. Ibu harus tenang, agar cepat sembuh!" ucap Susi pada Fani.


"Maafkan ibu, nak! ibu sudah merepotkan kalian".


"Ibu g boleh ngomong begitu. Sudah kewajiban kami menjaga dan merawat ibu. Ibu harus semangat ya!" Fiona menunjukkan kedewasaannya.


"Aduuuhhh... aku lupa, kak!" ucap Fiona dengan ekspresi kaget.


"Ada Fardan diluar".


"Kenapa g disuruh masuk? kamu gimana sih?"


"Dia takut sama ibu. Dia kan sepupunya Annisa. Kalau ibu tahu, pasti ibu marah!" ucap Fiona pada Susi dan didengarkan ibunya.


"Diakan mau menjenguk ibu juga". Susi kesal dengan Fiona.


"Dia sepupunya Annisa? ngapain dia kesini?" tanya Fani pada putrinya.


"Dia mau jenguk ibu!" jawab Fiona. Fiona khawatir ibunya marah dan mempengaruhi kondisinya.


"Suruh dia masuk!" perintah Fani pada Fiona.


"Tapi, Bu?!"


"Ayo sana...suruh dia masuk!" pinta Fani lagi.


Fiona keluar dan menyuruh Fardan ikut bersamanya. Setelah berada di dalam, Fardan berdiri di samping kursi dekat pintu.


"Mengapa berdiri di situ? ke mari!" tanya Fani. Kemudian, Fani menyuruh Fardan mendekat padanya. Fardan mendekati Fani.

__ADS_1


"Apa tujuanmu mendekati putriku?" tanya Fani ke Fardan.


"Maksud, Tante?!" tanya Fardan.


"Jawab saja. G usah balik nanya". ujar Fani.


Fardan berpikir sejenak tentang Fani. Kemudian, dengan santai ia menjawab pertanyaan Fani.


"Saya dan Fiona hanya berteman, Tante!"


"Apa karena putriku gadis kaya?"


"Saya tidak tahu kalau Fiona anak miliader. Kalau saya tahu sejak awal, saya g mau berteman dengannya. Kebanyakan orang menganggap, seseorang yang berteman dengan yang lebih kaya hanya ingin numpang makan saja. Saya menjadikannya teman baik, karena Fiona juga baik dan tidak sombong meskipun dia dari kalangan atas. Saya minta maaf, karena telah berani berteman dengan Fiona!" ujar Fardan pada Fani.


Fani menarik napas panjang.


"Jagalah putriku, jangan sampai ada yang mengganggunya. Kamu adalah teman yang baik baginya!" pinta Fani pada Fardan.


Susi, Fiona dan juga Fardan, tak menyangka akan reaksi Fani. Jika sebelumnya, Fani akan mencaci maki teman putrinya yang berasal dari kalangan bawah. Tapi kali ini, Fani justru menyuruh Fardan menjaga Fiona.


"Tapi...!" Fardan menggantung ucapannya.


"Tante mohon, mungkin usia Tante tak lama lagi. Terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan di masa lalu. Jika Tante telah pergi selamanya dan Furqan sudah menikah, dia tidak akan lagi menjaga adiknya seperti ia masih sendiri. Furqan akan memiliki tanggungjawab terhadap keluarganya sendiri. Tante titip Fiona padamu!"


"Maaf, Tante! Tante jangan menentukan usia Tante sendiri. Ada yang mengatur hidup dan mati kita. Perbanyaklah berdoa, semoga Tante cepat sembuh agar dapat menjalani hari-hari dengan baik. Tante...! mungkin penjara bukan tempat yang baik, tapi dipenjara Tante bisa belajar menjadi lebih baik". nasehat Fardan.


Fani dan putri-putrinya tak menyangka, keluarga Annisa sangat bijak meskipun masih muda. pikiran mereka melebihi pikiran seusia Fani. Banyak anak muda di luar sana tak memiliki sikap seperti Fardan. Fani merasa beruntung putrinya menemukan teman sebaik laki-laki muda didepannya tersebut.


"Susi...adikmu mana?"


"Furqan dalam perjalanan ke sini". jawab Susi.


Tak kemudian, Furqan masuk dan langsung menyapa ibunya.


"Ibu...!" sapa Furqan.


"Fur...Susi dan Fiona, mendekatkan pada ibu!" pinta Fani.


Ketiganya mendekati Fani.

__ADS_1


"Furqan...Susi...Fiona...ibu minta maaf nak, ibu memang salah selama ini. Ibu dibutakan oleh harta sampai tega membunuh orang yang begitu baik pada ayah dan ibu. Maafkan ibu, nak!" Fani menangis didepan anak-anaknya.


"Bu...ibu sudah menerima hukumannya. Ibu tidak perlu minta maaf pada kami. Apapun yang ibu lakukan dimasa lalu, lupakan semuanya dan jalani apapun yang terjadi saat ini. Bu...semoga kedepannya, kita semua menjadi manusia yang lebih baik. Kami menyayangi ibu!" Susi menenangkan ibunya. Dengan perasaan haru Fani dan anak-anaknya berpelukan sambil menangis haru.


Setelah berpelukan dengan anak-anaknya, Fani menyeka air matanya dan menatap Furqan lebih dalam.


"Nak...pertemukan Annisa dengan ibu, ibu ingin bicara dengannya!" pinta Fani pada putranya.


"Tapi bagaimana dengan kondisi ibu?" tanya Furqan khawatir.


"Ibu g apa-apa nak, ibu akan baik-baik saja!" jawab Fani.


"Kalau itu yang ibu inginkan, Furqan akan bawa Annisa ke mari". ucap Furqan pada ibunya.


Susi merasa ragu dengan ucapan ibunya. Susi pura-pura keluar dan menarik Furqan.


"Fur...kamu yakin ibu akan baik-baik saja?!"


"Kak Susi lihat g, tidak ada lagi kebencian di mata ibu ketika nama Annisa di sebut. Malah, aku hanya melihat rasa bersalah ibu pada Annisa. Jika ibu masih benci Annisa, Fardan dah diusir sejak tadi!"


"Benar juga apa katamu. Semoga ini awal yang baik buat keluarga kita!" ucap Susi penuh harap.


Furqan dan Susi masuk kembali. Fardan merasa ada yang berubah dengan keluarga sahabatnya tersebut. Tak ada lagi kata kasar yang ia dengar tentang kakaknya. Fardan berharap, keluarga Fani menjadi lebih baik kedepannya. Karena masih pekerjaan di rumah yang harus ia kerjakan, Fardan pamit pada keluarga Furqan. Fiona mengantar Fardan sampai ia naik ojek. Fiona merasa beruntung memiliki sahabat sebaik dan seperhatian Fardan. Fiona kembali ruang perawatan ibunya dengan senyuman khasnya.


"Mengapa senyum sendiri neng?" tanya Susi meledek adiknya.


"Jangan kepo kak!" jawab Fiona.


"Fio...jika nanti Fardan tiba-tiba jatuh cinta sama kamu, kira-kira kamu terima g?" tanya Furqan.


"Siapa yang bisa menolak laki-laki seperti dia, udah ganteng, dewasa, pekerja keras, bertanggung jawab dan sholeh pula. Fardan itu laki-laki komplit. Kakak tahu g, dia g bergantung sama orang tuanya. Dia punya penghasilan sendiri sejak SMP!" jelas Fiona.


"Fur...sepertinya ada yang jatuh cinta nih!" ledek Susi.


"Kak Susi...jangan merendahkan diriku dong! Fardan itu g mudah jatuh cinta pada seorang gadis. Apalagi sama aku, anak dari orang yang memusuhi kakaknya. G semudah itu kak!" bantah Fiona.


"Hmmmmm...iya juga sih! semoga dia bisa jatuh cinta sama kamu. Hanya dia yang kakak harapkan untuk mendampingimu dan membimbingmu agar menjadi wanita yang lebih baik. Dia masih muda tapi kematangan pikiran dan pengetahuannya melebihi Furqan. Iya kan, Fur?" tanya Susi pada Furqan.


"Aku hanya pandai dalam berbisnis tapi kalah dalam menelaah kehidupan dunia dan akhirat". ucap Furqan.

__ADS_1


"ha ha ha! CEO kalah telak". Fiona menertawai kakaknya.


Fani tersenyum pada anak-anaknya. Ia bahagia melihat mereka menemukan orang-orang tepat. Meskipun dia dalam penjara, Fani bisa tenang, meskipun ia jauh dari anak-anaknya.


__ADS_2