
Kuncoro menerima kiriman video dari Furqan dan Aldi. Kuncoro membuka dan melihat isi video tersebut. Bola matanya mau copot melihat isi dari video tersebut.
"Hermaaaaaaan!" teriak Kuncoro.
Herman yang sedang mendengarkan musik di kamarnya terkejut dengan teriakkan ayahnya. Buru-buru ia keluar dari kamar dan menemui ayahnya yang berada tidak jauh dari kamarnya. Ibunya pun lari dari taman belakang. Teriakan suaminya mengalahkan suara gajah yang sedang ngamuk. Kuncoro menatap Herman dengan penuh amarah. Herman merasa heran denga ayahnya.
"Ada apa pak?!" tanya istrinya heran.
"Iya nih Bu, ayah kenapa sih?!" Herman heran.
Plakk
Kuncoro melayangkan lima jari dengan sangat keras. Lima jari itu tercetak indah di pipi putih milik Herman. Tentu saja, tamparan itu membuat Herman dan ibunya bertanya-tanya.
"Kenapa ayah menampar aku?!" tanya Herman heran dan merasa seolah-seolah tak bersalah.
"Ayah...ada apa ini?!" istrinya juga heran.
"Tanyakan pada anak kesayanganmu ini, apa yang dia lakukan beberapa hari lalu. Tanyakan padanya!" Kuncoro menyuruh istrinya.
"Apa maksud ayahmu Her?!"
"Aku juga g tahu Bu!"
"G usah pura-pura g tahu kamu. Harus ayah yang melaporkan kamu ke pihak yang berwajib, baru mau ngaku, ha!" bentak Kuncoro.
"Apa sebenarnya yang terjadi Herman?!" tanya Laila ibunya Herman.
"Lihat video ini!"
Kuncoro memberikan ponselnya pada istrinya. Laila menerima ponsel tersebut dan melihat video yang di maksud suaminya. Laila syok dan ponsel ditangannya jatuh ke lantai. Herman mendekati ibunya dan mengambil ponsel ayahnya. Ia pun menyaksikan video dimana dia ingin berbuat jahat pada Susi. Dalam video tersebut, ada dua orang yang menyelamatkan Susi, tapi mereka menutup wajahnya dengan masker. Herman tak bisa mengetahui siapa kedua wanita tersebut. Aksi mereka benar-benar terekam dengan sempurna.
"Apakah kita kurang memberimu kasih sayang dan harta benda? kami harus bagaimana agar kamu bisa berubah Herman? tidak bisakah kamu menjadi anak yang bisa membuat orang tua bahagia? sudah cukup Herman, sudah cukup!"
"Aku melakukan ini karena mereka juga yah, Ibu". Herman berusaha membela diri.
Mendengar penuturan anaknya, Kuncoro kembali melayangkan tamparan ke pipi Herman.
"Dasar anak tidak tahu berterima kasih. Kami sebagai orang tua kecewa sama kamu, sangat kecewa. Kita tinggal menunggu polisi datang ke rumah ini untuk menahanmu!"!" Kuncoro menatap Herman dengan marah.
Di kediaman Aldi.
"Nis...Siska berharap dapat penghargaan, sementara wajahnya dan wajahmu tertutup begitu. Mana polisi tahu kalau itu adalah kalian berdua!" kata Kania.
__ADS_1
"Kamu tahu kan bagaimana Siska. Dia bisa saja mengaku kepolisi kalau itu memang kita berdua. Apalagi hanya pakai masker, sangat mudah untuk di identifikasi!" jelas Annisa.
"Kak...bagaimana tindakan kak Furqan?" tanya Annisa pada Aldi.
"Dia sudah melaporkan Herman. Kemungkinan Herman g bisa mengelak lagi untuk dipenjara lebih lama. Kakak sudah mengingatkannya waktu itu, tapi dia hanya berjanji di mulut, tidak di hatinya. Kali ini, kakak g bisa lagi membantunya".
"G usah di bantu kak. Orang seperti Herman g pantas untuk di bela. Di kasih hati malah minta jantung. Biarkan dia dipenjara selamanya!" Kania ikut kesal dengan Herman.
"Sebenarnya Nisa kasihan dengan ayahnya, tapi mau gimana lagi, dia sendiri yang mau".
"G usah pikirkan itu. Fokus saja pada urusan pernikahanmu. Biar masalah ini menjadi urusan Furqan dan Kakak!" jelas Aldi pada Annisa.
"Baiklah. Ayo kita pergi!" ajak Annisa.
"Kalian mau ke mana?" tanya Aldi.
"Ke panti". jawab Annisa.
"Ya sudah. Kalian berdua hati-hati!"
" Kami g berdua kak, tapi Siska, Egi dan Hendra akan ikut bersama kami. Aku sudah nelpon kak Furqan, dan kak Furqan ngizinin Hendra ikut kami. Untuk Egi dan Siska , boleh ya kak!" pinta Annisa pada Kakaknya.
"Boleh. Di kantor juga g terlalu sibuk". jawab Aldi.
"Waalaikumsalam!" jawab Aldi.
Annisa dan Kania pamit pada Aldi. Sebelum kaki mereka keluar dari rumah, Aldi menghentikan mereka.
"Tunggu!"
"Ada apa kak?!" tanya Annisa heran.
"Fitri g ikut kalian?!"
"Kalau kakak ngijinin, kenapa tidak!" jawab Annisa.
"Kakak ngijinin Fitri selama itu bersama kalian".
Fitri yang muncul dari belakang hampir saja lompat karena kegirangan. Cepat-cepat dia mengucapkan terima kasih pada Aldi.
"Terima kasih suamiku sayang!" ucap Fitri dengan senyum sumringah sembari mencubit pipi suaminya.
Aldi sangat menyayangi Fitri. Jika Fitri keliru, Aldi mengingatkannya dengan lemah lembut. Fitri pun akan demikian. Fitri melakukan kewajibannya sebagai istri ketika akan bepergian.
__ADS_1
"Go!" ucap Fitri penuh semangat.
Ketiganya berangkat untuk menjemput sahabat-sahabatnya yang lain di kantor.
Di kediaman Kuncoro.
"Tapi ayah, Herman belum lama bebas. Apa dia harus kembali lagi ke penjara?" tanya Laila.
"Dia lebih tahu Bu. Tapi lihat kelakuannya, dia masih saja melakukan perbuatan yang akan menghancurkan hidupnya. Kali ini, ayah g akan ikut campur. Biarkan dia mengurus urusannya sendiri!" Koncoro murka pada putranya.
Tok Tok Tok
"Ayah!" Laila menatap suaminya.
Kuncoro memberi kode pada asisten rumah tangga untuk membuka pintu. Kuncoro tidak kaget saat ada polisi di depan pintu rumahnya. Ia pun menemui polisi dan diantara polisi tersebut menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang ke kediaman Kuncoro.
"Saya sudah tahu pak. Silahkan bawa anak saya!"
"Lho yah, kok suruh polisi bawa Herman sih?! harusnya ayah membantu Herman supaya tidak di bawa sama mereka!"
"Sudah diam. Ibu mau, Herman di hukum lebih berat karena kita membelanya? biarkan dia bertanggungjawab terhadap perbuatannya. Ibu selalu memanjakannya, akhirnya apa terjadi bikin masalah lagi kan?"
"Tapi yah!"
"G ada tapi-tapian. Sudah cukup kita membebaskan dia. Ayah malu sama Furqan dan Aldi. Karena kebaikan Aldi, Herman bisa bebas. Jadi sudah, ayah tidak mau dengar apa-apa lagi!"
Polisi masuk dan membawa Herman. Herman tak bisa melawan lagi. Ibunya hanya bisa menangis dan ayahnya diam saja.
"Ayah, Ibu...tolong Herman Bu, Herman g mau di penjara!" ucap Herman meminta pertolongan pada ayah dan ibunya.
Ketika polisi mau meninggalkan kediaman Kuncoro, Kuncoro menghentikan mereka sejenak.
"Tunggu pak!"
Polisi menunggu Kuncoro. Kuncoro mendekati polisi dan berbicara dengan putranya.
"Ayah bukan tidak ingin membantumu nak, tapi kamu harus belajar lebih dewasa dan bertanggungjawab. Semoga kali ini, kamu mau menyadari kalau apa yang kamu lakukan itu adalah salah".
"Silahkan pak!"
Polisi membawa Herman ke kantor. Laila menangis melepaskan kepergian anaknya. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Laila menyadari, jika semua ini terjadi akibat dari kelalaiannya sebagai orang tua. Ia selalu membela putranya.
"Jangan menangis lagi. Ini pelajaran buat kita sebagai orang tua untuk selalu mengajarkan anak soal tanggungjawab. Ibu selalu memanjakannya dan selalu membelanya setiap dia melakukan kesalahan. Tanggungjawab kita sekarang adalah menyadarkannya sekalipun dia dalam penjara. Setidaknya dia masih punya kesempatan menjadi manusia yang baik. orang tua mana yang tidak tega melihat anaknya dipenjara". Kuncoro menasehati istrinya
__ADS_1
Pupus sudah harapan Kuncoro dan Laila kepada anaknya. Keduanya hanya bisa pasrah atas keputusan pengadilan nantinya.