Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Semangat sang Perisai


__ADS_3

Fani g sempat ke tempat penyekapan karena ban mobilnya bocor.


Sialan, kenapa bocor sih? aku harus secepatnya sampai di sana.


Fani menghubungi sopir pribadinya untuk membawa mobil lain. Setelah ganti mobil, Fani segera meluncur ke gedung tua. Tiba di sana, Fani langsung masuk kedalam, alangkah kagetnya dia menyaksikan anak buahnya sekarat, bukannya target yang disekap malah sebaliknya.


Hei...bangun, ayo bangun! susah payah ia menyadarkan anak buahnya tapi sia-sia.


Erina...!!! aku benci padamu, aku benci kalian semua, aaaaaaaaaaah! Fani berteriak seperti orang gila.


Sudah puas berteriak, Fani menghubungi Heru.


"Heru, anak buahmu tak berguna. Untuk menjaga satu orang saja, mereka tak becus!"


"Mana mereka? aku ingin bicara."


"Mau bicara?! jangankan bicara, bernapas pun sudah tidak bisa. Mereka semua sekarat, Her!"


"Apa? mereka orang andalanku Fani, g mungkin mereka dikalahkan oleh wanita?!"


Fani mengubah panggilannya ke panggilan video dan mengarahkan kameranya ke anak buah Heru yang sedang mempersiapkan diri ke alam lain.


"Lihat, apa yang terjadi dengan anak buahmu? mereka semua tak berguna!" Fani langsung menutup telepon secara sepihak. Dia keluar dari gedung tua dengan kecewa. Sudah didepan pintu, ia berhadapan dengan putranya. Furqan kembali kegedung tua setelah mengantar Erina dan yang lain.


"Ibu...apa yang ibu lakukan di sini?" tanya Furqan menyelidiki ibunya.


"Ibu...ibu hanya lewat saja, nak! karena penasaran dengan gedungnya, ibu masuk dan memeriksa keadaannya."


"Mereka siapa, Bu?"


"Siapa? g ada orang di dalam!"


Furqan masuk ke dalam gedung sedangkan ibunya langsung pergi untuk menghindari pertanyaan dari Furqan.


Semoga semuanya sudah mati, kalau tidak Furqan akan mencari informasi dari mereka.


Furqan mendekati dan mengecek kondisi beberapa orang preman. Ada seorang preman yang masih bisa di bawa pergi.


"Ayo bangun!" Furqan memaksa seorang preman untuk bangun. Kemudian, dia mengikat kedua tangan preman tersebut dan menyeretnya ke mobil serta membawanya keapartemen miliknya.


Si preman yang masih setengah sadar meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Furqan menatap marah padanya.


"Sa... saya di mana?" tanya si preman terbata-bata dan ketakutan. Jiwa premannya hilang entah kemana.


"Kamu akan tetap disini hingga aku melepaskan atau mungkin menghabisimu!" Kemudian, Furqan menutup mulut sipreman dengan lakban serta mengikat kakinya. Furqan menghubungi beberapa orang anak buahnya. Tiga orang ia tugaskan untuk menjaga sandranya.


"Kalian jaga di sini, beri dia makan dan lakban kembali mulutnya!" perintah Furqan pada anak buahnya.

__ADS_1


"Siap bos!"


Furqan keluar dari apartemen, kemudian menghubungi adiknya.


"Fio...ibu sudah pulang?!"


"Belum kak! emang ibu ke mana?"


Bukannya menjawab, Furqan menutup teleponnya dan masuk ke mobil. Ia akan kerumah Aldi untuk melihat Annisa.


Di rumah, Aldi dan Erina membantu Annisa bangun dan memberinya air minum.


"Aldi... apa rencanaku selanjutnya? sepertinya Fani tidak akan kapok. Dia akan terus berusaha untuk menghabisi kita seperti dia menghabisi ayah dan ibumu, juga orang-orang yang setia dengan ayahmu!"


"Entahlah, Bu! aku juga bingung, dan masih banyak yang membebani pikiranku." ucap Aldi pada Erina.


Annisa yang menjadi pendengar setia memanggil Erina.


"Bu...aku ingin ketenangan seperti kehidupanku sebelumnya. Untuk apa aku memiliki segalanya, kalau selalu terancam!" Annisa ingin kembali kekehidupannya yang lalu.


"Annisa...bukan ucapan itu yang ingin ibu dengar darimu, tapi ketegasan sikap sebagai penerus Darmajaya. Takdir yang membawamu untuk mengambil hak yang dirampas oleh mereka yang bukan keluargamu dan kamu tidak bisa menghindar Annisa! Jika kalian lemah, mereka akan tetap akan menghancurkan kalian. Buang jauh-jauh sikap lemahmu itu, dan kumpulkan kekuatan dalam dirimu, agar bisa menghadapi ancaman apapun!" Erina memberi semangat pada anak asuhnya.


"Dek...benar kata ibu, kita tidak bisa diam seperti ini. Siapa lagi yang akan mempertahankan hak kita sebagai anak Darmajaya. Seandainya, mereka mengambil milik kita tidak dengan membunuh ayah dan ibu, kita tidak perlu susah payah melawan, cukup kita ikhlaskan semuanya dan meneruskan usaha kita sendiri. Sudah cukup ibu Erina melindungi hak kita sebagai penerus ayah, sekarang kitalah yang harus menentukan langkah. Jika kita terus diam, artinya kita membiarkan ibu dan ayah mati sia-sia. Kita berdua adalah perisai kedua orang tua kita. Kamu siap melakukannya bersama kakak?"


Annisa berpikir sejenak sebelum menjawab kakaknya.


Benar kata ibu, aku harus menghilangkan keraguanku. Ayah... ibu...maafkan aku yang lemah ini. Aku janji, aku akan menjadi Annisa yang kuat. Akan kubuktikan pada pembunuh-pembunuh itu, aku dan kakak tak selemah yang mereka kira.


Saat mobil Furqan akan memasuki kawasan rumah Aldi, ponselnya berdering. Ia berhenti dan mengangkat ponselnya sebentar.


"Halo bos! saya sudah dapatkan data tentang Darmajaya."


"Temui saya di kantor!"


"Baik, bos!"


Furqan batal ke rumah Aldi dan kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, anak buahnya yang sedang menunggu di pos sekurity segera menghadap Furqan.


"Semua data tentang Darmajaya ada di sini, bos!" ucap anak buah Furqan sambil menyerahkan sebuah flashdisk pada bosnya.


"Kamu boleh pergi!"


"Baik, bos!"


Furqan masuk ke kantor dan menuju ke ruangannya di lantai tujuh. Ia pun mengecek semua data yang ada dalam flashdick tersebut.


Data tentang Darmajaya yang diperoleh anak buahnya belum membuatnya puas. Furqan merasa kalau informasi tentang Darmajaya sengaja di tutup dari publik, sehingga yang diketahui semua orang hanya tentang kesuksesannya dalam berbisnis. Furqan segera meraih kunci mobilnya dan meninggalkan kantor. Ia kembali ke apartemen untuk menginterogasi preman yang ditahannya.

__ADS_1


"Bagaimana, dia berulah?"


"Tidak bos! kalian tetap di sini."


"Baik, bos!"


Furqan masuk dan langsung mendekati si preman, kemudian Furqan melepaskan lakban dari mulutnya. Si preman tunduk menahan rasa takut🥺. Furqan akan merekam percakapan mereka.


"Apa benar, ibu Fani yang menyuruh kalian?"


"Be...benar, pak!"


"Kamu tahu siapa yang kalian culik itu? dia kekasihku. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang telah berani menyakitinya."


"Ka...kami hanya di suruh, pak! dan baru kali ini kami melakukannya."


"Benarkah?"


"Kami tidak mengenal ibu Fani, tapi bos Kamilah yang menyuruh kami untuk membantu ibu itu. Tolong ampuni saya, pak!"


"Siapa bosmu?" Sipreman tak berani menjawab pertanyaan Furqan.


"Saya masih berbaik hati padamu. sebelum saya mencabut nyawamu, cepat jawab pertanyaanku!" Furqan mengancam si preman dengan tatapan tajam.


"Pak Heru, dia dari Kalimantan!" Si preman terpaksa menjawab.


Furqan mengingat-ngingat nama itu.


"Maksudmu Heru Mandala?!"


"Ia."


Furqan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Heru Mandala.


"Halo, om Heru!"


"Siapa kamu?"


"Om tidak mengenal saya lagi? saya Furqan Hartawan, putranya Fani, CEO Putra Jaya!" ucap Furqan menahan amarah.


"Furqan... putranya Fani? saya ingat sekarang. Bagaimana kabar kamu dan juga ibumu? sudah lama kita g bertemu!"


"Mungkin denganku om g pernah bertemu, tapi om sudah bertemu dengan ibuku kan? dan ya, om pasti mengenal orang ini!" Furqan mengubah panggilannya ke panggilan Video dan mengarahkan kameranya ke si preman. Heru kaget dan tak menyangka kalau Furqan berhasil meringkus anak buahnya.


"Om tidak kenal dengannya."


"Benarkah? saya akan membawanya ke kantor polisi dan akan saya pastikan, dia akan menceritakan semuanya pada polisi. Om siap?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Om pikirkan sendiri. saya ingatkan om, jangan pernah menyentuh kekasihku, kalau tidak akan kubuat om kehilangan segalanya!" ancaman Furqan membuat Heru pusing.


__ADS_2