Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Melupakan yang Lalu


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Susi menghubungi Annisa. Susi ingin bertemu dengan calon adik iparnya untuk membicarakan yang menimpa Furqan meskipun sudah terbukti jika Furqan tidak melakukan perselingkuhan.


Kring kring kring


Nisa yang baru saja selesai menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah segera menerima panggilan di ponselnya.


"Assalamualaikum kak! Kenapa kak Susi nelpon pagi-pagi sekali?" tanya Annisa penasaran.


"Waalaikumsalam! Nis...nanti kita ketemuan di restonya Ainun. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Kamu ada waktu kan?"


"Ada kak, kebetulan aku g sibuk hari ini. Nanti ketemu jam 9 pagi saja supaya kita bisa sedikit lama ngobrolnya. Kak Susi setuju?"


"Oke! nanti kita ketemu di sana".


Setelah mengucapkan salam, keduanya menyudahi obrolannya di telpon dan segera melakukan kegiatan sebagai seorang wanita yang peduli dengan rumah. Setelah itu, Susi dan Annisa masing-masing menyiapkan diri untuk ketemuan.


"Ibu...Kak...aku keluar dulu sebentar, mungkin agak sorean baru pulang!" pamit Annisa.


"Mau ke mana kamu Nis?" tanya Aldi.


"Mau ketemuan sama kak Susi di resto kak Ainun, penting katanya".


"Jangan terlalu lama pulangnya, seorang gadis yang udah mau nikah g boleh terlalu sering keluar rumah. Seharusnya kamu udah duduk diam di rumah!" ujar Erina pada putri asuhnya.


"Setelah ini g keluar lagi Bu, boleh ya!"pinta Annisa dengan gaya manjanya.


"Ya sudah. Hati-hati bawa mobilnya!" Erina mengingatkan Annisa.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam wr.wb!" jawab Erina dan Aldi bersamaan.


Di Rumah Furqan


"Kakak mau kemana?" tanya Fiona.

__ADS_1


Susi yang tidak melihat Fiona hampir saja jantungan karena kaget dengan sapaan Fiona.


"Astagfirullah Fio...kamu ngagetin aja deh!" Susi kesal pada Fiona.


"Bukan aku yang ngagetin, tapi kakak yang sibuk sendiri. Aku segede ini g kelihatan?" Fiona ngeledek Susi.


"Kakak mau ketemuan dengan Annisa. Kamu selesaikan pekerjaan kakak di kamar, kakak pulang sudah harus selesai, oke!Assalamualaikum!" Susi buru-buru meninggalkan Fiona yang tidak sempat bicara dan hanya mampu menjawab salam kakaknya.


"Waalaikumsalam!" jawab Fiona dengan sedikit bingung.


Aku kan masih mau bicara kak, kok main pergi aja! Fiona bicara sendiri.


Kemudian, Fiona menuju kamar Susi untuk mengerjakan perintah Susi.


Susi dan Annisa memilih tempat duduk paling aman untuk bicara berdua. Setelah menemukan tempat yang cocok, Annisa memanggil pelayan untuk memesan minuman. Setelah itu, Mereka berdua ngobrol dengan santai.


"Nis...kakak minta maaf karena sudah mengganggu kamu dengan mengajak ketemuan di sini!"


"G perlu minta maaf kak, aku juga g sibuk. Ada hal penting apa sih kak, sampai nelpon pagi-pagi buta gitu?" tanya Annisa.


"Soal Furqan Nis. Kamu udah tahu kan yang terjadi dengan Furqan sama perempuan itu?"


"Syukurlah Nis. Kakak hampir saja mati berdiri saat melihat rekaman itu. Kakak marah pada Furqan dan g tahu harus berbuat apa. Kakak teringat sama kamu Nis. Kakak g bisa membayangkan betapa hancurnya hatimu jika Furqan benar-benar selingkuh!"


"Aku baik-baik saja kak. Meskipun yang dilakukan kak Furqan itu benar, aku g bisa marah. Kecewa sih ia, tapi aku juga harus bisa mengambil hikmah dibalik kejadian itu. Artinya, Kak Furqan itu bukan orang yang tepat untukku. Dan aku tidak bisa menyalahkan Kak Furqan sepenuhnya".


"Maksudnya?!" Susi heran dengan perkataan Annisa.


"Kak...jika benar kak Furqan selingkuh, mungkin dia mencari yang terbaik dari aku!"


"Nggak ada, nggak ada. Kamulah yang tepat dan terbaik untuk dia. Kakak nggak mau yang lain lagi!" Susi kesal mendengar penuturan Annisa yang dianggapnya terlalu merendah.


"Kan bukan kakak yang mau menikah denganku!"


"Jangan bercanda Nis, kakak serius nih!"

__ADS_1


"Aku memang sayang dan cinta sama kak Furqan, tapi bukan berarti aku harus kecewa, nangis meraung-raung karena dia selingkuh. Aku g mau terpuruk dan menangisi hal yang tidak baik untukku. Yang penting, dia g pernah menyentuhku sebelum sah jadi istrinya. Itulah sebabnya, aku selalu mengingatkan kak Furqan untuk tidak mencoba berani menyentuhku walaupun hanya jari tanganku. Dan, dia mampu melakukannya walaupun sebenarnya di dada berkecamuk kak, ha ha ha!" Annisa tertawa karena ucapannya sendiri.


"Ha ha ha, betul juga Nis! laki-laki itukan maunya nyosor aja. Untungnya dulu saat kakak belum mengenal kamu, meskipun kakak itu bebas keluar rumah dan bar-bar, tapi kakak tetap memegang prinsip bahwa tak boleh ada seorang pun yang menyentuhku kecuali suamiku nantinya. Alhamdulillah, semuanya masih terjaga. Dan hal itu, dikuatkan dengan keberadaanmu dikeluarga kami. Kamu tahu, hal yang paling membahagiakan adalah Furqan menemukan mutiara yang tersembunyi dalam lumpur karena tak ingin ada yang menyentuhnya dan dia mampu menjaga batasannya sebelum kamu menjadi adik ipar ku dan hadirnya kamu menjadi penerang dikeluarga kakak. Terima kasih Nis, sudah mau menerima dan memaafkan keluarga kami!" Susi meminta maaf atas luka lama yang pernah ditorehkan keluarganya pada keluarga Annisa.


"Kakak jangan berlebihan dan sudahlah kak, semuanya sudah berlalu. G baik mengingat yang buruk-buruk. Lebih baik kita menata masa depan agar hidup lebih baik, bermakna dan berguna. Dan, jika nanti aku sudah menjadi adik ipar kakak, tegurlah aku jika aku salah, jangan membicarakan keburukanku di belakang dan terimalah aku apa adanya". ujar Annisa penuh harap.


"Itu sudah pasti Nis. Kakak belajar banyak darimu. Meskipun kakak lebih tua darimu, tapi kamu lebih bijak dalam menghadapi hidup dan masalah. Jika yang terjadi diantara kamu dan Furqan menimpa kakak, mungkin kakak sudah bunuh diri. Kakak nggak mampu menerima kenyataan".


Annisa dan Susi saling curhat. Keduanya tidak menyadari jika ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Pemilik mata tersebut perlahan mendekati mereka lalu menyapa Annisa dan Susi.


"Annisa...kak Susi...!" ucap Anggita kaget dan senang bisa bertemu kedua wanita itu.


Annisa dan Susi menoleh ke asal suara yang menyebut nama mereka berdua. Annisa dan Susi bereaksi sama dengan Anggita.


"Anggita...!" ucap Annisa dan Susi bersamaan.


"Senang bisa bertemu dengan kalian berdua di sini!" ujar Anggita dengan tersenyum bahagia.


Annisa dan Susi sudah melupakan masa lalu. Keduanya pun senang bertemu Anggita yang sudah jauh berubah lebih baik.


"Udah lama?" tanya Susi.


"Ia kak, nih dah mau pulang. Kalian udah mau balik juga?!" tanya Anggita.


"Anggi...sebelumnya aku minta maaf ya. Bukan maksud aku mau menyakitimu, tapi aku tetap harus mengundangmu. Bagaimanapun kamu sudah menjadi sahabatku walau baru sesaat. Kamu datang ya kepernikahan aku dengan kak Furqan, nggak apa-apa kan?!" tanya Annisa ragu-ragu sambil menatap Deni.


"Ya ampun Nis, nggak apa-apa. Aku nggak merasa di sakiti kok. Aku justru bahagia mendengar kalian berdua akan segera menikah. Selamat ya Nis!" ucap Anggita bahagia dan tersenyum pada kekasihnya.


Deni pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ucapan Anggita. Deni tahu kalau Anggita kini bahagia bersamanya.


Annisa melihat keikhlasan di wajah Anggita. Senyum bahagianya tidak menunjukkan kalau dia merasakan sakit. Annisa pun turut bahagia karena jika dia menikah Furqan, tak ada lagi merasa di sakiti.


"Makasih ya Anggi, kak Deni. Kalian wajib datang lebih awal, oke!" Ucap Annisa penuh semangat.


"Nis...kak Susi! aku mau berterima kasih pada kalian berdua karena sudah menganggap ku sebagai orang terdekat kalian. Selain kak Deni, ada kalian berdua yang selalu mensupport aku hingga aku berada di titik ini. Terima kasih Nis, kak!"

__ADS_1


"Sudahlah Anggi, semua sudah berlalu. Semua yang buruk-buruk tinggalkan jauh-jauh dan lupakan. Kita punya hak untuk bahagia dan menata hidup di masa depan. Lebih baik kita jalani semuanya sesuai dengan alurnya. Daripada kita bahas yang nggak penting lebih baik kita pulang, ayo!"


Tak ada yang membantah. Mereka berempat menuju kendaraan masing-masing dan meninggalkan restoran dengan bahagia.


__ADS_2