Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Gagal Total


__ADS_3

kring kring kring


Fani mengangkat gawainya.


"Halo, bos! kami...!"


"Bagaimana? kalian berhasil mengurus mereka?"


"Maaf, Bos! kami gagal. justru teman saya yang mati." jawab ke tua preman.


"Apa? gagal?! sialan! berani kau menelponku untuk menyampaikan kegagalanmu? puluhan juta saya membayar kalian, hanya kegagalan yang saya dapatkan, bedebah. Byuaaarr!" maki Fani pada orang suruhannya dan langsung melempar ponsel ke lantai. alhasil, ponsel hancur berantakan.


Susi dan Fiona yang kebetulan belum tidur langsung berlari dan masuk ke kamar ibunya saat mendengar suara barang hancur.


"Ibu kenapa? lo, kenapa hpnya di banting, Bu? ibu ada masalah?!" tanya Susi heran dengan apa yang dilakukan ibunya.


"Bukan urusan kalian, keluar!" Fani mengusir ke dua putrinya.


"Ibu kenapa sih, kak?" tanya Fiona pada kakaknya. Susi hanya mengangkat bahunya pertanda g tahu apa-apa.


Bagaimana ini? jika Annisa bersama Erina, sudah pasti dia juga akan mengetahui kejadian masa laluku dari wanita sialan itu. Aku harus melakukan sesuatu pada mereka berdua. Aku akan menyuruh Furqan untuk makan berdua bersama Annisa di restoran langgananku, menunya aku yang atur. Furqan tidak akan curiga denganku, Pikir Fani. Ia segera mengambil kartu SIM card nya dan mengganti ponsel dengan yang lain.


Kemudian, Fani menelpon pelayan yang akan melayani Furqan dan Annisa dan menjelaskan semua tujuannya.


"Halo! ada yang bisa bantu nyonya?" tanya pelayan melalui telepon genggamnya.


"Besok anak saya akan makan siang di sana bersama ke kasihnya. Tugas kamu adalah menaruh sedikit racun untuk si wanitanya. Usahakan racun itu bereaksi setelah beberapa jam. Ingat! jangan sampai ada yang tahu soal ini." Fani memperingatkan pelayan.


"Baik, nyonya! itu pekerjaan kecil." keduanya menyudahi pembicaraan dan Fani berniat untuk tidur tapi hatinya g tenang. Untuk menenangkan dirinya, Fani mendengarkan musik klasik kesukaannya. Karena pikiran dan hatinya lelah, ia pun tertidur di kursi panjang tempat ia santai.


***


Pagi hari


Erina menerima telepon dari putranya.


"Ada apa menelpon ibu?" tanya Erina pada putranya


"Bu! besok Furqan akan mengajak Annisa makan di sebuah restoran dan restoran itu adalah langganan ibunya. Fani ingin meracuni Annisa!" jelas Andrew pada ibunya.


"Tau dari mana?"


"Aku menyadap nomor telepon Fani. Dia baru saja menelpon seorang pelayan untuk membantu menjalankan rencananya. Dan, pelayan itu menyetujuinya." ucap Andrew.


"Bagus! lanjutkan pekerjaanmu. Jangan lengah mengawasi dia. Akan kubuat dia membayar semua kesalahannya di masa lalu."


"Baik, Bu!" jawab Andrew.


Ibu dan anak itu menyudahi obrolannya. Kemudian, Erina keluar kamar dan mengajak Annisa dan seluruh pekerja sarapan bersama. Sedangkan Aldi, keluar daerah untuk menyelesaikan urusan kantor uang dipercayakan Furqan padanya.


Di kediaman Fani


"Fur...g ngantor kamu?" tanya Fani.


"Tidak, Bu! lagi malas."


"Bagus kalau gitu, Fur! ajak Annisa makan siang di restoran langganan kita dong, udah lama pacaran tapi g pernah ngajak dia makan di sana, kamu g ada romantis-romantisnya! Sekali-sekali bawa dia ke sana, apalagi hari ini kamu g ngantor. Ajak dia gih!" perintah Fani.


"Baiklah, Bu! entar siang kami ke sana. Aku ke kamar dulu, Bu!"


"Tunggu, Nak! nanti kamu tanyakan siapa orang tuanya Annisa ya, kemarin ibu lupa menanyakannya."


"Oke ibuku sayang!" Furqan mencium ibunya karena bahagianya.


Sebentar lagi, kamu akan kehilangan gadis itu. Maafkan ibu, Nak! terpaksa ibu lakukan semua ini, agar masa lalu ibu tidak diketahui oleh siapapun, bathin Fani.

__ADS_1


Furqan memberitahu Annisa tentang keinginan ibunya dan Annisa mengiyakan. Sesungguhnya, Annisa sudah ingin menjaga jarak dengan Furqan akan tetapi dirinya g tega melihat kekasihnya tersebut patah hati. Bagaimana pun Furqan sangat mencintainya. Beberapa jam kemudian, Furqan pamit pada ibunya untuk mengajak Annisa makan siang.


"Bu! aku berangkat ya!"


"Selamat bersenang-senang, sayang!"


"Makasih, Bu!" Furqan merasa bahagia dengan perhatian ibunya. Furqan pun meninggalkan kediamannya untuk menjemput Annisa. Padatnya kendaraan dijalan, membuat Furqan harus meningkatkan kesabarannya. Ia menghubungi Annisa lewat pesan agar tidak membuatnya khawatir. Sementara Annisa yang sedang menunggu Furqan, mendengarkan penjelasan Erina tentang rencana orang yang ingin mencelakainya.


"Ingat, Nisa! Jika pelayan itu telah menyajikan makanannya, kamu jangan pernah menyentuhnya. Sebaliknya, kamu panggil pelayan itu untuk makan siang bersama kalian. suguhkan makanan itu padanya. Cari cara agar dia mau makan. Dia pasti akan beralasan, jika tidak sopan seorang pelayan ikut makan bersama dengan pelanggan VIPnya. Ibu akan memantau kalian dari sini lewat kamera yang telah ibu pasang di tas kamu. Jangan membuat pelayan itu merasa kalau kamu mengetahui rencananya." jelas Erina.


Setelah Erina selesai bicara, ponsel Annisa bergetar. Annisa tahu itu dari ke kasihnya karena nada pesan yang digunakannya khusus untuk Furqan.


"Sabar ya, sayang! Jalan macet ni"


Annisa membalas pesan dari Furqan. "G apa-apa, kak! aku akan menunggu sampai kak Furqan berdiri di depanku. Yang penting, selamat sampai tujuan!" jawab Annisa.


"Aku jadi g sabar sampai rumahmu, sayang!" goda Furqan.


"Udah, konsentrasi bawa mobilnya. Jangan mikirin yang lain!" Annisa menegur Furqan.


Furqan jadi tenang mendapat balasan seperti itu. Sedangkan Annisa penasaran siapa yang ingin mencelakainya.


"Bu! Nisa boleh nanya g?"


"apa, sayang?"


"Siapa yang ingin mencelakaiku, Bu?"


"Entahlah! ibu mencurigai seseorang, tapi ibu belum yakin kalau dia orangnya. Ibu akan mencari tahu siapa sebenarnya yang bermain-main dengan kita." Sesungguhnya Erina mengetahui, hanya saja dirinya belum ingin memberitahu Annisa.


'Lalu, ibu tahu dari mana kalau ada yang berencana seperti itu?"


"Dari putra ibu, Andrew. Dia ahli IT. Dia menyadap ponsel seseorang dan pembicaraan mereka membahas tentang rencana itu. Andrew langsung nelpon Ibu dan memberitahukan semuanya. Mulai sekarang berhati-hatilah! Jangan lagi menganggap kalau tidak akan ada yang ingin mencelakakanmu. Justru sebaliknya, keberadaanmu dan Aldi akan mengusik kehidupan seseorang. Apalagi jika mereka tahu kalian bersamaku, percobaan pembunuhan akan terus terjadi, baik itu pada kalian berdua ataupun padaku. Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Hilangkan keluguanmu dan tegarkan dirimu. Ketegaranmu adalah kekuatan ibu untuk melindungi kalian berdua." pesan Erina.


Tak lama kemudian, mobil Furqan telah parkir depan rumah. Furqan hanya menunggu Annisa di luar. Lima menit kemudian, Annisa keluar di antar Erina. Furqan terpana melihat kecantikan Annisa yang terpancar walau tanpa riasan. Annisa selalu tampil biasa saja. Keduanya pamit pada Erina dan Erina menjawab dengan senyuman.


"Sayang! gimana kalau Minggu depan kita ke Bali?"


"Dalam rangka apa, Kak?"


"Liburan dong! selama kita dekat, aku g pernah ngajak kamu jalan-jalan. Gimana, mau g?"


"Terus, kerjaan kantor?"


"Aku adalah bosnya, jadi terserah aku mau ngapain. Lagian kerjaan di kantor g terlalu padat, Maya bisa menyelesaikannya."


"Terserah kak Furqan saja! aku ikut aja."


"Gitu dong, sayang!"


"Lebayyyyy...!" Annisa dan Furqan tertawa bersama.


Asyik bersenda gurau, mobil Furqan memasuki area restoran yang di tuju. "Kenapa sih kita harus sampai secepat ini? aku inginnya lebih lama di jalan, dengan begitu akan lebih lama pula aku menggodamu." Furqan terus menggoda Annisa. Annisa hanya tersenyum dengan ucapan kekasihnya. Setelah mobil parkir dengan baik, keduanya keluar dan di sambut oleh pelayan suruhan Fani.


"Mari, saya antar keruangan khusus untuk anda berdua!" ajak pelayan tersebut.


Pelayan mengantar mereka berdua ke tempat yang biasa di tempati Fani dan keluarganya.


Furqan dan Annisa duduk berhadapan sambil ngobrol.


"Kak! biasa ke sini?"


"Iya. Restoran ini langganan keluarga kami. Ibu, Kak Susi dan Fiona sering makan di sini." jelas Furqan


"Restorannya mahal ya, kak?" Annisa bertanya dengan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Furqan. Iman Furqan sedikit goyah dan ingin mencium pipi Annisa. Annisa menyadarinya dan langsung merubah posisinya seperti biasa.

__ADS_1


"Lain kali jangan menggoda imanku, sayang!"


"Siapa yang menggoda? kakak saja yang g sabaran. Gitu aja udah bleng, apalagi aku duduk di samping kak Furqan, pasti remnya kak Furqan langsung g berfungsi." Goda Annisa.


"Awas kamu ya! sekali lagi menggodaku, akan tahu akibatnya!" Furqan kembali menggoda Annisa dengan ancaman.


Kak! akankah kebahagiaan ini bisa bertahan hingga kita berdua terikat pernikahan ataukah aku harus terus berpura-pura seperti ini untuk menjaga hatimu? Aku mencintaimu dan ingin engkau menjadi imamku tapi bagaimana dengan ibumu? ucap Annisa dalam hatinya. Annisa melamun menatap kekasihnya.


Furqan menyadari kalau Annisa menatapnya sambil melamun. Iapun menyadarkan Annisa.


"Sayang...sayang! ada apa? kok melamun?! melamun soal aku ya?"


"emmm, g ada apa-apa, kak! hanya mikir sesuatu aja." Annisa kaget dan merasa malu ketahuan melamun.


Tak lama kemudian, pelayan masuk membawa beberapa hidangan dan tentunya hidangan itu sudah di atur sedemikian rupa. Annisa meletakkan tasnya agak jauh dari meja makan agar kamera pengintai bisa leluasa mengawasi mereka di dalam ruangan. Annisa hanya menatap makanan lezat tersebut.


"Mengapa g di makan? g suka?" tanya Furqan


"Bisa di ganti g?"


"Bisa dong, sayang! pelayan, kemari!" Furqan memanggil pelayan untuk mengganti makanan Annisa


"Iya, tuan!" jawab pelayan


"Ganti makanan ini, kekasihku tidak menyukainya!"


"Wah, sayang sekali nona! itu menu spesial khusus untuk tuan dan nona. Tidak ada pelanggan lain yang memesan menu ini!" pelayan mencari alasan agar makanan Annisa tidak di ganti. Annisa mulai curiga dengan pelayannya.


"Aku tahu, tapi aku g suka. Gini aja, kamu ganti dan makanan ini untukmu. Kita bertiga makan bareng di sini ya!" ucap Annia


"Maaf, nona! pelayan di larang makan bersama tamunya apalagi tamu VIP." Pelayan mencari alasan.


"G apa-apa, kan aku sendiri yang ajak. G usah takut di marahin bosnya. Ayo sini!" ajak Annisa


Pelayan mulai gelisah bukan karena diajak makan bersama tapi karena dialah yang akan makan makanan beracun tersebut.


"Ti... tidak, nona! saya g bisa." pelayan itu terus menolak.


"Kamu duduk sini! ayo, g usah malu, g apa-apa kok!" Annisa terus mendesak si pelayan.


"Sayang... panggilkan pelayan yang lain, ya!" Annisa menyuruh Furqan untuk memanggil pelayan yang lain.


Furqan pun memanggil pelayan lain untuk mengganti makanannya.


"Pelayan...cepat bawa menu lain ke sini dan biarkan makanan ini di sini. Temanmu ini, akan makan bersama kami!" jelas Furqan.


Pelayan yang diperintah Fani gelisah ingin segera keluar. Tangannya berkeringat menahan rasa takut. Kalau dirinya tidak bisa mencari alasan, tamatlah riwayatnya.


"Kenapa kamu gelisah dan berkeringat begitu? bukankah kamu yang biasa melayani keluarga saya?" tanya Furqan penasaran.


"Benar, tuan! tapi baru kali ini saya di ajak makan bersama oleh tamu, jadi saya malu dan takut sama bos saya." si pelayan berusaha mencari alasan.


"G usah malu, mbak! santai aja." Annisa berusaha menenangkan si pelayan.


Furqan mulai menikmati makanannya, sedangkan Annisa hanya memesan minuman pada pelayan yang lain. Hanya minuman itulah yang masuk ke perut Annisa. Annisa menyuruh si pelayan untuk menyentuh makanannya, tapi bukannya di sentuh si pelayan malah izin ke toilet karena kebelet akibat rasa takut menyelimutinya. Annisa dan Furqan tak lagi peduli padanya. Lepas itu, Annisa meminta Furqan agar segera pulang.


"Kak! kita pulang saja ya, perasaanku g enak."


"Iya, sayang! kalau itu maumu." Furqan mengikuti keinginan Annisa.


"Kakak duluan ke mobil ya, Aku ke toilet sebentar!"


"Oke, sayang! jangan lama, aku tunggu di mobil." ucap Furqan. Furqan keluar dan menunggu di mobil sedangkan Annisa menemui si pelayan.


"Hai, kamu! sini!"

__ADS_1


"Iya, nona! ada yang bisa saya bantu?"


"Terima kasih sudah ingin meracuniku. Untungnya aku masih punya hati nurani sehingga aku tidak memaksamu untuk makan makanan itu. Hanya karena diiming-imingi uang, kamu jadi kehilangan kemanusiaanmu. Silahkan telepon bosmu, katakan padanya kalau rencanamu gagal total!" Kemudian Annisa meninggalkan si pelayan yang syok karena ketahuan dan menemui Furqan. Keduanya masuk ke mobil dan meninggalkan restoran mewah tersebut


__ADS_2