
Hari terus berlalu, walau banyak masalah yang dihadapi, tapi tak membuat mahkluk bumi berhenti beraktifitas. Seperti halnya hari ini, pagi yang cerah, secerah penduduk bumi yang akan beraktifitas mencari rejekinya masing-masing.
Hari ini, Annisa akan menjalankan tugasnya mengantar paket makanan. Sebelum berangkat kerja, Ia tidak lupa menyiapkan paket misterius yang pernah diterimanya. Ia akan mengembalikannya hari ini karena sudah diketahui siapa yang mengirimkannya. Annisa menunggu sahabatnya Kania untuk menjemputnya.
Annisa telah berdiri di depan rumahnya menunggu Kania. Lima menit kemudian, Kania muncul dengan sepeda motornya.
"Ayo naik!"
Annisa segera bertengger manis dibelakang Kania. Lima belas menit kemudian, mereka sampai ditempat kerja.
"Nis...sepertinya ada yang mengikuti kita!"
"Yang benar?!"
"Iya. coba lihat ke seberang jalan, mobil itu ada dibelakang kita sejak kita keluar dari depan rumahmu. Apa dia pengagum rahasiamu?!"
"Biarin ajalah, yang penting tidak berbahaya. Ayo masuk!"
Mereka berdua masuk ke dalam. Fitri dan yang lain sudah berada di dalam, termasuk pak Bondan.
"Hendra, berkumpul di aula!" perintah Bu Farah
"Baik, Bu!"
Hendra memberi tahu semua teman kerjanya berkumpul di aula. Bu Farah segera menuju aula.
"Sengaja Ibu menyuruh kalian berkumpul di aula. Bu Ainun menginginkan perubahan setelah kejadian kemarin. Mulai hari ini, Siska dan Annisa melayani bagian depan dari meja 1 sampai meja 15, Kania dan Hendra melayani meja 16 sampai meja 31, Egi dan Fitri melayani meja 32 sampai dengan meja 47, VIP akan dikondisikan. Pak Bondan perhatikan bahan makanan di dapur, jika sudah menipis segera siapkan dengan bahan berkualitas. Bu Ayu, Pak Dedi, dan Bu Nani tetap pada tugasnya. Bila perlu coba menu baru. Meskipun rumah makan ini baru di buka, perkembangannya cukup baik. Pak Bobi, tetap waspada dengan tamu yang datang. Tapi jangan menampakkan kecurigaan. Jika kejadian kemarin terulang lagi, segera hubungi yang lain. Jika ada yang keberatan, silahkan ajukan usul. Karena semua diam, berarti kalian setuju! Semua kembali bekerja. Annisa, tugasmu tetap dikerjakan seperti biasa!"
"Baik, Bu!" Annisa paham dengan tugas yang disebut Bu Farah.
Semua kembali bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Pelanggan mulai berdatangan satu persatu. Rumah makan "Sahabat" menjadi favorit karyawan dan pekerja-pekerja dengan gaji tak seberapa. Selain makanannya enak, harganya pun terjangkau. Selain itu, pelayanannya juga sangat baik.
Beberapa jam kemudian, Annisa bergegas untuk mengantar paket makanan. Kali ini, pak Bondan yang mengantarnya. Sesampainya di kantor, Annisa segera menuju lift khusus petinggi perusahaan. Tak ada lagi yang berani mengusiknya.
Tok! tok! tok!
"Masuk!" perintah Maya
Annisa segera masuk. Sejenak dia berdiri didepan Maya, tapi Maya menyuruhnya langsung masuk keruangan bosnya.
"Permisi!"
"Masuklah!"
"Kak, ini pesanannya sekaligus saya kembalikan paket yang pernah Anda kirimkan buat saya, saya tak membutuhkannya!" ucap Annisa sembari meletakkan paket di atas meja Furqan
"Buang saja! Saya pun tak membutuhkannya. Saya mengira, kalau kamu adalah orang yang bisa menghargai niat baik orang lain, ternyata kamu terlalu sombong untuk melakukannya!" Furqan mencerca Annisa.
"Maaf, Kak! bukannya saya menolak, hanya saja saya tidak membutuhkan barang ini. Apa maksud kakak mengirimkannya buat saya? Memang saya hanya seorang wanita yang tak memiliki apa-apa, tapi saya juga masih bisa usaha sendiri. Kalau kakak punya niat baik, bawalah paket ini ke panti asuhan. Anak-anak di sana lebih membutuhkannya. Dan tolong, jangan lagi mengirimkan sesuatu kepada saya!"
"Ada apa ini?" Aldi pura-pura bertanya.
"Hei, kamu Annisa ya?!"
"Iya Pak!"
"Jangan memanggilku bapak, Saya hampir seumuran dengannya. Panggil kakak saja!" pinta Aldi seraya menunjuk Furqan.
"Ba... baik, kak!"
"Tugas saya sudah selesai, Saya permisi!" Annisa pamit keluar.
"Tunggu, dek Nis!" Aldi menghentikan Annisa. Perilaku Aldi pada Annisa membuat Annisa merasa dirinya memiliki seorang kakak.
Annisa menghentikan langkahnya. "Ambillah paket ini! Tidak baik menolak pemberian orang. Seperti apapun niat orang itu, biarkan dirinya sendiri yang tahu!" Aldi berusaha meyakinkan Annisa agar mau menerima pemberian Furqan.
"Tapi kak, Saya tidak membutuhkannya!"
"Suatu saat nanti, kamu pasti membutuhkannya. Kalau kamu tidak gunakan, kamu bisa menjualnya. Hasil penjualannya bisa kamu gunakan untuk panti jompo "Kasih Ibu"."
"Dari mana kakak tahu kalau Aku bagian dari panti itu?"
"Atasan saya yang menceritakannya."
Seketika Annisa menoleh ke arah Furqan, dan Furqan pura-pura membaca berkas yang ada di atas mejanya.
"Baiklah, saya akan menerimanya. Tapi bukan karena Kak Furqan!"
Meskipun kata yang diucapkan Annisa menyakitkan hatinya, tapi senyum bahagia nampak dibibirnya.
Ini akan menjadi awal yang baik. Bathin Furqan
Annisa menerima paket dari Aldi, kemudian pamit karena khawatir pak Bondan menunggu lama.
"Saya permisi, kak!"
__ADS_1
Annisa keluar ruangan. Baru akan memasuki lift, seseorang memanggilnya.
"Dek Nisa!" ternyata Aldi menyusul Annisa
"Iya, kak!"
"Mulai hari ini, kamu akan menjadi adikku. pergilah, nanti kita bicarakan lagi!"
Annisa tertegun dan terharu mendengarnya. seolah-olah dirinya sedang bermimpi. Entah mengapa, dirinya merasa sangat ingin menjadi adik dari laki-laki tampan yang baru dikenalnya itu. Ngobrol ia, tapi namanya ia g tahu.
Annisa masuk lift dengan perasaan berkecamuk.
Apa aku berlebihan menerima tawaran dia? aku melihat, dia laki-kaki yang baik, beda dengan bosnya. Tapi, namanya siapa ya? Aku benar-benar bego, lupa menanyakan namanya! nanti ajalah aku tanyakan. Pasti pak Bondan sudah lama menungguku.
sesampainya di depan kantor "Pak, ayo kita balik!"
"Kenapa lama, dek!" tanya pak Bondan.
"Di ajak ngobrol dulu pak, sama asistennya!"
Mereka berduapun langsung tancap gas menuju rumah makan.
"Al, ngapain kamu nyusul dia? jangan berani menikungku, aku akan membunuhmu kalau kau macam-macam!"
"Aku g macam-macam, cuma satu macam aja. Kalau dia lebih memilih aku, bagaimana? apa aku harus diam saja? siapa yang tidak menginginkan wanita seperti dia? Di antara seribu wanita, hanya ada satu yang berkarakter seperti dia. Baik, cantik, pekerja keras, dan g matre. Tentunya aku akan membuka hatiku untuknya!" Aldi memanas-manasi Furqan.
"Brengsek, berani melakukannya akan kupastikan kau tak bisa menghirup udara segar lagi!" ancam Furqan penuh emosi.
"Tenangkan dirimu! Kau seperti tak mengenalku. Untuk apa mengganggu percintaanmu, g ada untungnya? Yang ada malah apes tingkat dewa, ha ha ha!"
"Aku pegang kata-katamu!"
"Lalu bagaimana kerjasama dengan perusahaan "Agung Pratama" ?" tanya Aldi.
"Aku sudah menyuruh Maya membatalkannya. Kesombongan Herman akan menghancurkan apapun yang berkaitan dengannya."
"Editan video itu sudah aku kirimkan ke Fendi, dan belum ada respon darinya."
traat traat traat
Bunyi notifikasi pesan masuk di ponsel Aldi. "Sepertinya dari Fendi!"
"Apa balasannya?"
"Dia dalam perjalanan ke sini," jawab Aldi
"Pak, Pak Fendi mau bertemu!"
"Suruh dia masuk!" perintah Furqan pada Maya
Maya keluar dan mempersilahkan Fendi masuk menemui bosnya.
"Silahkan pak Fendi, pak Furqan sudah menunggu Anda!"
"Terima kasih!" jawab Fendi. Lalu Fendi masuk menemui sahabatnya.
"Hei broo! Furqan menyambut sahabatnya dengan gaya khas mereka berdua.
"Angin apa yang membawamu kemari?" canda Furqan
"Pertama, Aku ingin membahas video yang Aldi kirimkan. Kedua, Aku ingin membahas salah seorang wanita karyawan istriku. Mengapa kalian jadi bodoh karena seorang wanita, lebih-lebih kau, Fur?" ejek Fendi pada kedua sahabatnya.
"Sembarangan, apa maksudmu mengatakan kami bodoh?!" Furqan protes dengan sebutan bodoh yang dilontarkan sahabatnya.
"Kalian mengirimkan saya video editan, sedangkan aslinya ada aksi dua wanita dalam video itu. Ha ha ha, karena tidak mau ketahuan kau menyuruh Aldi menghilangkannya. Kamu benar-benar bisa bodoh beneran kalau nanti jadian dengan Annisa!" Fendi menertawai Furqan.
Spontan Furqan melempar Fendi dengan buku yang ada di tangannya. "Langsung saja pada intinya, supaya kau cepat pergi dari sini!" ucap Furqan dengan nada ketus.
"Kemungkinan Herman akan menemuiku. Dalam waktu dekat ini, aku akan membangun restoran mewah yang dilengkapi dengan wahana bermain anak-anak serta area olahraga mini. Aku memakai perusahaannya untuk menangani pembangunannya sampai bisa dibuka untuk umum. Tapi kejadian kemarin, terpaksa aku mengirimkan pemutusan hubungan kerja sama dengan perusahaannya. Aku tidak ingin bekerja sama dengan orang seperti Herman. Jika masih ayahnya yang memegang perusahaan itu, aku tidak akan melakukannya. Jika video itu nanti tersebar, kemungkinan besar akan mempengaruhi para investor diperusahaannya, itu yang akan membuatnya diujung tanduk!" jelas Fendi pada kedua sahabatnya.
"Aku pun sama".
"Apanya yang sama? Kau memutuskan kerjasama dengannya karena Annisa kan?"
"Karena kau sudah menjelaskan alasanmu, maka alasanku yang pertama karena Annisa, dan yang kedua sama dengan alasanmu!" ujar Furqan dengan memperlihatkan senyum liciknya.
"Sudah ku duga, akan ada yang copy paste di antara kalian berdua! dan pilihanku tepat, jatuh pada bosku sendiri. Sebenarnya aku malu mengakuinya sebagai bos, tapi apa dayaku yang hanya bawahan ini!" ejekan Aldi berhasil membuat Furqan naik darah.
"Dasar tikus sialan, beraninya kau merendahkanku! keluar kau dari ruanganku atau gajimu aku babat 50% !" Furqan mengusir dan mengancam Aldi.
"Silahkan, aku tidak keberatan! tapi ingat, aku tidak akan membiarkan kau mendekati Annisa! Kau pernah bertanya kan, mengapa tadi aku mengikuti Annisa? mulai hari ini, aku dan Annisa akan saling membantu dalam hal apapun, termasuk menentukan siapa yang akan mendampingi hidupnya. Karena gajiku akan kau babat seperti rumput, maka aku akan menjauhkan Annisa darimu. Bagaimana, setuju?!"
"Bedebah, awas kalau kau berani melakukannya!"
"Ha ha ha, sepertinya Annisa akan menjadi Bom bagi CEO perusahaan ini! Jika perusahaannya yang hancur, masih bisa dibangun kembali dalam waktu yang singkat, tapi jika hati CEOnya yang dihancurkan, akan membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan kemungkinan akan masuk rumah sakit jiwa!" Fendi menertawai sahabatnya dan menambah peluru candaan untuk membuat Furqan emosi.
__ADS_1
"Cukup! kalian berdua sama saja. Sama-sama tikus!" Furqan tak tahan lagi dengan guyonan sahabatnya yang makin membuatnya terpojok.
Di Perusahan Agung Pratama
Pak Kuncoro melemparkan berkas pemutusan hubungan kerjasama dari dua perusahaan raksasa sekaligus kepada anaknya.
"Ayah tidak mau tahu, Herman! Kamu harus bisa mendapatkan kembali kerjasama ini. Apapun harus kau lakukan, agar kedua temanmu menarik pembatalan kerja sama kita. Ini semua gara-gara kebodohanmu!" Murka pak Kuncoro pada putranya.
"Ayah jangan menyalahkan Aku! mereka saja yang kurang ajar. Tanpa alasan, mereka langsung memutuskan kerja sama!" Herman berusaha membela diri.
"Jangan menyalahkan orang lain, perhatikan saja dirimu. CEO macam apa kamu, tidak bertanggung jawab? Perusahaan ini akan hancur karena ulahmu. Puluhan tahun Ayah membangun perusahaan ini Herman, hingga kamu bisa menikmati kemewahan seperti sekarang ini. Baru berapa tahun Ayah percayakan perusahaan ini padamu, perlahan-lahan perusahaan ini mengalami kerugian!"
"Jadi, Ayah menganggap akulah penyebabnya?!"
"Tidak perlu heran dan bertanya lagi. Selesaikan masalah yang kamu buat, sebelum perusahaan lain menarik sahamnya dari perusahaan kita. Ayah beri kamu waktu satu Minggu untuk menyelesaikan kekacauan ini. Seminggu lagi akan diadakan rapat direksi. Ayah tidak ingin mendengar kegagalan. Jika kamu gagal, perusahaan ini akan bangrut!" Pak Kuncoro menekan Herman lalu keluar meninggalkannya.
aaaaaaakh sial! awas kalian berdua. Aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup karena melakukan ini padaku. *ini semua berawal dari wanita sialan itu. Aku akan berikan pelajaran hingga kalian tidak bisa melihat dunia ini* ! kecam Herman untuk ke dua temannya dan Annisa.
Setelah emosinya terkontrol, Herman membuka ponselnya. Herman membuka media sosial dan wajahnya terlihat jelas dalam video rekaman yang dikirimkan seseorang ke dunia maya. Ia membaca beberapa komentar. Hampir semua komentar buruk netizen ditujukan untuk dirinya.
Seorang CEO brutal seperti hewan mengamuk g jelas, koko@jeli
Penerus Agung Pratama mengacau. Norak amat sih, Hendra_cees
Ganteng-ganteng g ada etika , iiiih amit-amit jabang bayi, Lela_lolipop
Herman melemparkan handphonenya kelantai. Tentunya gawai bernilai puluhan juta hancur dalam hitungan detik. Dirinya dikuasai emosi yang memuncak hingga kepala terasa mau meledak. Ha ha ha, belum meledak ya, baru terasa 🤫🤫🤫
"Rika, sini kamu!" teriak Herman memanggil sekretarisnya
Rika bergegas menemui bosnya dengan perasaan takut. Rika tahu bagaimana temperamennya si bos, bisa saja ia akan jadi pelampiasan.
" Ia pak, apa yang perlu saya lakukan?"
"Duduk di sampingku, temani aku hari ini!"
"Tapi Pak, saya banyak pekerjaan yang belum diselesaikan!"
"Saya tidak butuh penolakanmu, mengerti!"
"Saya harus melakukan apa, Pak?"
"Peluk saya!"
"Ta...tapi, saya ti...!"
Herman tak perduli dengan apa yang ingin dikatakan sekretarisnya. Ditariknya wanita bohay itu dalam pelukannya. Tanpa aba-aba, diciumnya Rika dengan kasar, Rika merasakan seperti ada aliran listrik mengalir dalam darahnya.
Rika berusaha menyadarkan bosnya yang sudah kesetanan. Rika mendorong tubuh Herman. "Hentikan, pak!"
"Jangan pura-pura menolak, Rika!"
"Saya tidak pura-pura, pak! Saya memang hanya bawahan, tapi bukan berarti bapak bisa melecehkan saya!" Rika tidak terima dengan perlakuan bosnya.
"Kamu berani kurang ajar pada atasanmu? apa kamu ingin dipecat, ha?" Herman membentak Rika.
Rika tidak ingin direndahkan oleh Herman. "Yang bisa memecat saya hanya pak Kuncoro, karena beliau yang membawa saya ke kantor ini, dan jika bapak memecat saya, saya tidak akan segan-segan menceritakan apa yang bapak lakukan!" ancam Rika yang membuat Herman sedikit takut. Ia tahu, kalau ayahnya sangat percaya pada sekretarisnya itu.
Karena kesal dengan Rika, Herman memilih keluar dari kantor menuju parkiran mobil khusus petinggi perusahaan. Ia keluar dengan mengendarai mobil mewah Lamborghini Gallardo berwarna hitam yang harganya mencapai miliaran rupiah. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat favoritnya. Kemana lagi, kalau bukan ke kediaman wanita simpanannya.
Lupakan dulu masalah, aku ingin senang-senang dulu. Toh, yang kuhadapi bosok adalah temanku sendiri. mungkin saja mereka hanya memggertakku. Ayah, aku akan buktikan padamu kalau aku bisa dibanggakan! aku akan bermalam dulu di sini, menenangkan pikiran sambil menikmati surga dunia, ha ha ha!
Di kantor Furqan
"Herman pasti mengira, kalau kita hanya main-main dengannya," ucap Fendi
"Kita lihat saja nanti. Kita bahas masalah ini bersama. Kita bahas di rumah makan "Sahabat", agar aku bisa melihat cintaku!" sambung Furqan yang tidak malu pada kedua orang yang ada didepannya.
"Seharusnya rasa malu mesti ada walau sedikit, Bang! Karena Annisa belum menjadi kekasihmu, ia kalau dia terima Abang kalau tidak lebih baik menghilang dari muka bumi ini!" canda Aldi pada Furqan.
"Apa gunanya kalian berdua kalau tidak bisa mendekatkan aku dengan Annisa! lebih baik g usah lahir ke muka bumi ini!" balas Furqan tak mau kalah.
"Sudah mau magrib ni, sebaiknya kita pulang dulu. Besok kita selesaikan masalah ini. Soal Annisa, nanti aku serahkan pada istriku, bagaimana?!"sambung Fendi.
Mereka bertiga pun keluar dari kantor Furqan. Furqan menuju kediamannya begitupun Aldi, sedangkan Fendi balik ke restorannya.
Di Rumah makan
Waktu terus berputar. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21:30. Setelah beres-beres, Bu Farah dan anak buahnya menutup rumah makan. Kemudian, satu-persatu diantara mereka menuju kendaraan masing-masing, sedangkan Annisa diantar oleh Fitri.
Fitri sampai didepan rumah Annisa. Annisa turun dari sepeda motor dan mengajak Fitri masuk.
"Aku langsung pulang aja deh, nanti kemalaman di jalan. ingat tugas kita besok!" ucap Fitri.
"Beres, nanti kumpulnya di rumahmu ya!"
__ADS_1
"Siap! tapi jangan lupa bawa cemilan ya!" Fitri mengingatkan Annisa.
Annisa mengacungkan jempolnya tanda setuju. Fitri pun berlalu meninggalkan Annisa menuju ke rumahnya. Annisa masuk ke dalam rumahnya. Setelah ganti pakaian, ia bergegas ketempat tidur. Ia menutup dirinya dengan selimut tua yang dimilikinya hingga ia tidur dengan nyenyak.