
Setelah rencananya gagal, Anggita tidak keluar kamar beberapa hari. Lidia mengkhawatirkan putrinya yang terus mengurung diri. Entah karena kecewa atau malu pada Furqan akibat reaksi obat perangsang yang dialaminya. Lidia terus mencari cara agar putrinya keluar kamar, tapi g ada respon sedikitpun. Terpaksa Lidia menyuruh satpam untuk mendobrak pintu kamar putrinya. Lidia menjerit karena melihat putrinya tersungkur disamping tempat tidurnya.
"Anggita...! apa yang terjadi denganmu, nak?"
"Pak Din, bantu saya mengangkat Anggita ke tempat tidurnya!"
"Iya, nyonya!" Pak Din mengangkat Anggita ke tempat tidur. kemudian pak Din keluar untuk melanjutkan tugasnya.
Lidia menelpon dokter keluarganya. Sepuluh menit kemudian dokter paruh baya datang menghampiri Lidia. Dokter langsung memeriksa Anggita.
"Anggita over dosis. Dia minum obat penenang melebihi dosis. Saya sudah memberi suntikkan untuk menetralkannya. Dia akan segera sadar!"
"Terima kasih, dokter!"
"Ini sudah tugas saya. Saya permisi, nyonya!" Dokter pamit setelah memberikan obat pada Anggita.
Lidia menghubungi Fani untuk menyampaikan kondisi Anggita.
"Halo, Jeng! cepat kerumahku, Anggita pingsan!"
"Apa? Pingsan?! Aku akan segera kesana. Kamu tenang, jangan panik!" Fani segera keluar menemui pak Tio supir pribadinya.
"Pak Tio, antarkan saya ke rumah Lidia, cepaaaat!"
"Iya, nyonya!" Pak Tio segera mengeluarkan mobil dari garasi dan mengantar majikannya ke tempat tujuan.
Setelah mereka sampai di rumah Lidia, Fani buru-buru keluar dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Jeng Lidia, Jeng!" Fani berulang kali memanggil sahabatnya.
"Nyonya di kamar non Anggita. Nyonya ke sana Saja!" perintah pembantu Lidia.
Fani menuju kamar Anggita dan langsung masuk ke dalam.
"Kenapa Anggita bisa pingsan, Jeng?" tanya Fani
"Kata dokter, dia minum obat penenang melebihi dosis!"
"Kok bisa?!"
"Mungkin pikirannya kacau karena kejadian kemarin, Jeng! Aku khawatir dia bunuh diri."
"Seharusnya dia jangan bodoh seperti ini. G ada gunanya, dan hanya akan merugikan dirinya sendiri." Fani menyesalkan tindakan Anggita.
"Kita cari cara lain untuk mendekatkan Anggita dengan Furqan. Tapi, biarkan Anggita sembuh dulu baru kita lanjutkan rencana kita. Furqan harus menerima Anggita jadi istrinya. Ingatkan Anggita untuk tidak melakukan hal bodoh lagi!" Fani mengingatkan Lidia soal putrinya.
"Usahakan secepatnya, Jeng! Anggita harus kembali ke Australia bulan depan, dan itu g bisa di tunda lagi. Sudah terlalu lama dia di Indonesia. Jika dia terlalu lama di sini, Aku takut dia akan di depak dari pekerjaannya."
"Soal kelangsungan hidup Anggita, kamu jangan khawatir, ada Furqan yang akan menanggungnya!" Ucap Fani meyakinkan Lidia
"Iya kalau Furqan bersedia, jika tidak Anggita yang rugi, kehilangan cinta dan juga pekerjaannya. Aku hanya ingin Anggita mendapatkan kedua-duanya!"
__ADS_1
Satu jam kemudian, Anggita sadar dan melihat sekelilingnya. Anggita memanggil ibunya.
"Bu...!"
"Iya, sayang! syukurlah kalau kamu dah sadar. Kamu membuat ibu dan tante Fani khawatir."
"Jangan ulangi kebodohanmu itu. Seharusnya kamu tidak serapuh dan sekonyol ini, Anggi! Tante pikir kamu wanita tangguh, ternyata baru seperti ini saja kamu sudah mau bunuh diri." Fani menunjukkan kekesalannya.
"Maafkan Anggi, Tan! Anggi g tahu lagi harus gimana untuk meluluhkan Furqan. Rencana kita saja gagal total, malah aku yang menanggung akibatnya. Sangat memalukan, Tan!"
"Sekarang Tante pulang dulu. Nanti Tante hubungi kalian jika ada rencana baru. Tante harus lebih ekstra lagi mendekati Furqan. Jika Tante terus memaksanya, bisa-bisa dia keluar dari rumah dan kita g bisa berbuat apa-apa". Fani meninggalkan Anggita serta ibunya dan kembali ke kediamannya.
Di kantor Furqan
Meskipun Furqan sibuk dengan pekerjaannya, Ia sempatkan diri untuk menatap foto Annisa yang menjadi wallpaper handphonenya. Aldi yang masuk keruangannya pun tak digubrisnya.
"Bos, natap apaan sih?! serius amat. Aku masuk pun Abang tak tahu." Seketika Furqan meletakkan gawainya ke dalam laci mejanya.
"Jangan terlalu menatapnya, karena jika terlalu di tatap khawatirnya ada yang lupa diri, ha ha ha!"
"Meskipun menatapnya walau hanya lewat foto, sudah membuat semangat kerja meningkat seribu persen. Oh ya, hari ini tugas dia mengantar paket kan?" tanya Furqan.
Baru akan melanjutkan obrolan, kedua di kejutkan dengan ketukan pintu.
"Masuk!" perintah Furqan.
Annisa masuk dengan membawa dua paket makanan. Satu untuk Furqan dan satu lagi untuk kakaknya. Saat Annisa hendak keluar ruangan, Furqan menahannya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? ayo duduk, jangan membantah. Berani membantah, aku suruh Bu Farah memecatmu dan kamu akan jadi sekretaris pribadik!" ucapan Furqan membuat Annisa kesal.
"Jangan marah, cuma bercanda. Gitu aja marah!"
"Makanya, jangan membuatku kesal. Awas aja kalau bikin kesal lagi, akan kubuat kalian berdua patah tulang!" ancam Annisa.
"Eh eh, kenapa aku di bawa-bawa? itu urusan kalian berdua, aku no coment." Aldi menghindari adiknya.
"Kak, aku dah bisa balik kan?"
"Hmmm, kebetulan sebentar lagi kami ada meeting. nanti supir yang mengantarmu."
"G perlu, Kak! Aku bersama pak Bondan. Beliau menungguku di bawah."
"Hati-hati, sayang!" Furqan membuang rasa malunya untuk mengucapkan kata sayang pada Annisa. Aldi senyum sendiri mendengar ucapan bosnya.
Tanpa menjawab, Annisa meninggalkan kantor Putra Jaya. Ia seakan tak percaya akan menerima cinta dari seorang CEO sebuah perusahaan ternama dan terkaya di negaranya. Pak Bondan meluncur dengan santai karena jalanan sepi. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang siang ini. Annisa melamun memikirkan kisah cintanya.
Jika Allah menghendaki dia menjadi jodohku, semoga dia bisa menjadi imam yang baik untukku!
Meskipun sudah sampai di depan rumah makan, Annisa masih saja bengong. Pak Bondan mengagetkannya.
"Woe! Ya Allah neng, melamunnya kelamaan. Dah sampai ni!"
__ADS_1
"He he he, maaf pak!" Annisa turun dari kendaraan dan segera masuk ke dalam. Pak Bondan heran melihat Annisa.
Tu anak kenapa? g biasanya dia melamun. Mungkin dia sedang jatuh cinta, Pak Bondan bertanya pada dirinya sendiri.
Di lain tempat
"Ibu dari mana?" Fiona bertanya pada ibunya.
"Ibu dari rumah Anggita. Anggita pingsan karena minum obat penenang berlebihan. Semua terjadi gara-gara kakakmu."
"Gara-gara kakak? bukannya itu gara-gara ibu, Tante dan Anggita sendiri?! Bu, kenapa sih maksa kak Furqan dengan kak Anggita?" Fiona bertanya dan menyalahkan ibunya.
"Jangan kurang ajar kamu. Hanya Anggita gadis yang bisa mendampingi kakakmu. Kakakmu harus menikahi wanita yang sepadan dengannya!"
Susi yang muncul dari dapur, ikut berkomentar mendengar percakapan adik dan ibunya.
"Kalau Anggita terus memaksakan diri untuk mendapatkan Furqan, berarti dia g tahu malu. Jadi perempuan kok gatal banget sih! Ibu juga, tega mau menjebak anak sendiri. G seharusnya ibu melakukan itu pada Furqan." Susi ikut menyalahkan ibunya.
"Betul. waaah, kak Susi sekali bicara langsung tepat sasaran. Kirain akan diam seterusnya." Fiona memuji keberanian Susi.
"ya enggak lah. Kakak g suka aja sama cara ibu mencari pendamping untuk Furqan. Apalagi cara yang ibu lakukan dengan wanita gila itu, sangat me....." Belum selesai Susi bicara, Fani meneriaki kedua putrinya.
"Diam kalian berdua. Jangan ikut campur urusan ibu. Dasar anak kurang ajar, beraninya menyalahkan ibu!"
"Salah ya salah, Bu! g mungkin yang salah di benarkan, ya kan Fio?"
"Kak, percuma bicara sama ibu. Ibu tidak akan pernah mendengarkan kita berdua. Bu, Fiona pernah mendengar kak Furqan menelpon seseorang dan mengatakan, kalau ibu terus memaksanya dia akan meninggalkan perusahaan dan tinggal di luar negeri. Ibu mau kak Furqan meninggalkan perusahaan dan meninggalkan kita?!" Fiona bicara dengan Susi dan ibunya.
"Apa? berani sekali anak itu. awas kalau dia berani melakukannya, ibu akan mencoretnya dari daftar keluarga dan warisan!"
"Bagus dong kalau ibu mencoretnya dari daftar keluarga. Dengan begitu, Furqan akan bebas menentukan pilihannya sendiri, g akan ada lagi yang akan memaksanya bahkan menjebaknya!" omongan Susi membuat Fani naik darah
"Diaaaaaaam...! teriakan Fani membuat Susi dan Fiona berlari meninggalkannya sendirian.
Apa yang harus aku lakukan, jika anak itu benar-benar pergi dan meninggalkan perusahaan? bagaimana aku mengatasi putraku?
Keegoisannya membuat dirinya lupa akan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Memikirkan Anggita yang harus menjadi pendamping anaknya, belum lagi Furqan yang apabila dipaksa akan meninggalkan dirinya, membuat kepalanya seakan ingin meledak. Kepalanya pusing g bisa berpikir. Fani menyandarkan tubuhnya di kursi sofa. Empuknya sofa yang didudukinya tak membuat dirinya nyaman bahkan membuatnya makin gelisah. Ia mencoba pejamkan mata. Semakin lama matanya terpejam, semakin jelas penglihatannya akan kehancuran keluarganya jika Furqan pergi meninggalkan. Fani menarik napas perlahan dan menghembuskannya untuk bisa menenangkan dirinya.
Aku bisa mati berdiri kalau seperti ini. Lebih baik tidak memaksa anak itu untuk saat ini. Aku ikuti dulu apa yang diinginkannya, setelah dia percaya lagi padaku, baru aku bertindak. Biarlah Anggita ke Singapura dulu sambil menunggu rencana selanjutnya. Sudah jam berapa ini? Fani berbicara pada dirinya sendiri.
Fani melirik jam tangannya. Terlalu lama berkutat dengan pemikirannya, hingga tak menyadari jika ia telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memikirkan putranya. Perutnya sudah keroncongan meminta jatah makan malam.
"Bi, siapkan makan malam! G usah panggil dua anak sialan itu. Nanti mereka cari makan sendiri!"
"Baik, nya!"
Makan malam telah disajikan. Meskipun kepalanya masih pusing, tapi Fani tetap berusaha menghabiskan makanannya.
Aku g boleh drop, lebih baik aku istirahat, sebelum kepalaku meledak karena anak itu. Besok aku akan menemui Anggita dan jeng Lidia.
Selesai makan malam, Fani langsung ke kamarnya dan istirahat, sedangkan Fiona dan Susi memilih makan di luar karena tak ingin ribut dengan ibunya. Mereka pulang ke rumah dengan perasaan tenang karena ibunya tidur lebih dulu.
__ADS_1
"Kak, kita harus cepat masuk kamar sebelum ibu bangun. Ibu kan suka bangun tengah malam? kalau ibu bangun dan kita masih ada di sini, pasti perang lagi!"
"Iya, ayo!" keduanya masuk ke kamar masing-masing tanpa ada gangguan. Tak ada suara yang terdengar kecuali suara pak Min yang sedang ngorok.