Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Antara obsesi dan direstui


__ADS_3

Waktu untuk membesuk Fani pun tiba. Annisa sudah menyiapkan makanan yang di sukai Fani. Lima menit kemudian, Furqan sudah ada di depan rumah Annisa. Tak menunggu lama, Mereka berdua meninggalkan kediaman Annisa menuju ke rutan di mana Fani di penjara.


Sesampai di rutan, Furqan dan Annisa dipersilahkan menuju ruang besuk. Petugas menjemput Fani untuk bertemu putranya. Fani segera menemui putranya.


Annisa dan Furqan duduk menghadap Fani. Annisa memulai obrolan walaupun sedikit canggung.


"Assalamualaikum, Tante!" sapa Annisa.


"Waalaikumsalam, Nisa!" jawab Fani sembari tersenyum. Furqan melihat kedamaian di wajah ibunya.


"Saya minta maaf karena baru membesuk Tante!"


"G apa-apa, Nis. Justru Tante berterima kasih padamu karena sudah mau membesuk Tante hari ini".


Kemudian, Fani menatap lekat Annisa. Annisa menundukkan kepalanya. Entah karena bahagia atau karena merasa bersalah, Fani tak mampu menahan air matanya yang turun tanpa diundang. Annisa mencoba bertenya pada Fani.


"Tante kenapa? saya minta maaf kalau kedatangan saya membuat Tante sedih". ucap Annisa.


"Tidak, Nisa. Tante senang karena kamu mau bertemu tante. Sebenarnya Tante menangis karena mengingat apa yang Tante lakukan pada keluargamu. Tante begitu jahat sampai menghilangkan nyawa orang yang mencintai dan menyayangi keluarga Tante. Kesalahan Tante sangat besar, tapi kamu memaafkan kami dan tetap menjaga nama baik keluarga Hartawan. Tante ingin sekali bertemu Aldi, tapi Tante khawatir kalau Aldi benci pada Tante. Maafkan semua kesalahan Tante, nisa!" pinta Fani dengan cucuran air mata.


"Tante...syukurlah kalau Tante sudah menyadari nya. Saya tidak berhak menghukum Tante terus menerus. Allah saja selalu memaafkan hamba-Nya yang mau bertobat, apalagi saya yang hanya manusia biasa. Saya hanya bisa memberi maaf. Setiap manusia tak luput dari kesalahan, Tante!" ucap Annisa membesarkan hati Fani.


Fani semakin tak mampu menahan air matanya. Semakin ia bicara dengan Annisa, air matanya semakin deras.


Furqan menatap ibunya penuh haru. Ia biarkan ibunya dan Annisa bicara bebas.


"Maafkan Tante, Nisa!"


"Tante jangan sedih lagi ya! Kak Aldi sudah memafkan Tante. oh ya Tante, Nisa bawain makanan kesukaan Tante. Di makan ya Tante!" pinta Annisa mengalihkan pembicaraan.


Fani meraih kotak makanan yang di bawa calon menantunya. Perlahan ia buka dan terkejut melihat isinya dan bergumam dalam hatinya.


Ternyata Annisa yang membawakan makanan itu. engkau sangat peduli pada Tante yang jahat ini. Tante benar-benar minta!

__ADS_1


"Waktu di rumah sakit, ibu menyukai makanan ini dan berikutnya hanya makanan ini yang mau ibu makan. Maafkan kami tidak memberi tahu ibu, kalau itu Annisa yang bawa. Takutnya ibu g mau makan". Jelas Furqan pada ibunya.


"Nisa...engkau tidak maukan menikah dengan Furqan tanpa restu Tante?' tanya Fani.


Annisa menundukkan kepalanya tak berani menatap wanita yang di hormatinya tersebut. Furqan mengerti dengan sikap Annisa dan dia menjawab pertanyaan ibunya.


"iya, Bu! Annisa tidak ingin Furqan melawan ibu".


"Hari ini, Tante merestui hubungan kalian berdua. Bersediakah jika Furqan melamar kamu, Nisa?" tanya Fani pada Annisa.


"Terima kasih atas restu Tante. Jika Allah berkehendak kami berdua akan menghalalkan hubungan kami. Maafkan Nisa ya Tante, karena sudah memaksakan diri untuk diterima di keluarga Tante!" ucap Annisa.


Karena jam besuk sudah hampir selesai, Fani memberi pesan pada Annisa dan putranya.


"Jagalah keluarga Tante. Hanya kamu yang bisa menjadi contoh yang baik buat anak-anak Tante. Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari keluarga Tante". pinta Fani pada Annisa dan diiyakan oleh Furqan. Fani di bawa kembali ke tempat seharusnya ia berada.


Furqan dan Annisa meninggalkan rutan dengan perasaan haru bercampur bahagia. Furqan langsung mengungkapkan kehendaknya pada kekasih pujaannya itu.


"Siapa yang g mau di lamar oleh kakak. Akan tetapi, sebaiknya ditunda dulu. Tante Fani baru saja memberi restunya. Sangat keterlaluan kalau kita langsung adakan acara lamaran sementara tante Fani masih mendekam dalam penjara".


"Terus...aku harus menunggu 20 tahun lagi untuk melamarmu. Aku keburu tua sayaaang!"


"G gitu juga, kak! Setidaknya jangan sekarang. Tunggu satu atau dua bulan lagi. Jangan karena sudah direstui, sudah mau buru-buru melamar. Kakak g ada perasaan sama orang tua sendiri". Annisa membuat kekasihnya makin pusing.


"Aku g mau tahu, seminggu lagi aku akan melamarmu dan langsung ijab kabul hanya itu juga. Siapkan dirimu, sayang!" perintah Furqan.


"Ya sudah kalau gitu. Tapi aku g bertanggung jawab, jika nanti ada yang akan ditolak". Ucapan Annisa membuat Furqan kalang kabut.


"Jangan membuatku melangkahi aturan, sayang. Berani menolakku, tahu sendiri akibatnya".


"Coba saja kalau berani!" tantang Annisa. Annisa menahan tawa dalam hatinya melihat reaksi yang ditunjukkan Furqan.


Furqan tidak langsung membawa Annisa pulang kerumahnya. Setelah Annisa keluar dan masuk ke dalam rumah, Furqan melanjutkan perjalanan menuju kantor. Saat akan memasuki lift khusus petinggi perusahaan, Furqan dikagetkan dengan teriakan seorang wanita yang suaranya tidak asing baginya.

__ADS_1


"Fur...!" teriak Anggita memanggil Furqan.


Furqan menoleh ke arah suara. Anggita mendekati Furqan dan langsung memeluknya. Furqan langsung melepaskan pelukan Anggita. Anggita makin mengeratkan pelukannya hingga semua mata tertuju pada mereka berdua.


"wanita gila itu g ada malunya. Udah ditolak mentah-mentah sama si bos, masih saja berani mendekati si bos. Dimana harga dirinya sebagai wanita berkarir dan terkenal?" celetuk salah satu karyawan Furqan.


"Kalau cinta sudah merasuk dijiwa, malupun g ada lagi. kadang nih, tai kambing rasa coklat, ha ha ha!" ucap Vania sambil bercanda.


"Emangnya kamu pernah merasakan itu?" tanya Anton yang g sengaja mendengar ucapan Vania.


"Itu kata pepatah, Anton!" elak Vania.


"Kirain kamu dah pernah mencicipi rasa tai kambing!" ejek Anton.


"ha ha ha!" yang lain ikut menertawai Vania. Anggita merasa kalau karyawan Furqan menertawainya. Ia pun melepaskan pelukannya dan mendekati Vania dan kawan-kawannya.


"He...kalian menertawakan aku kan? ayo ngaku?" tanya Anggita dengan nada marah.


"Situ merasa ya?" tanya Vania.


"Kalian semua belum tahu siapa saya, ha?" tanya Anggita dengan emosi.


"Mbak...! kami semua mengenalmu dengan baik. Kamu itu seorang model yang g laku lagi, terus...wanita yang cintanya ditolak tapi masih saja merendahkan diri dengan memeluk sembarangan, lalu apa lagi ya? emmmm, sok cantik, ya sok cantik dan g tahu malu!" jelas Vania.


"Berani-beraninya kamu menghinaku. Aku g selevel dengan kalian. Kalian hanya karyawan rendahan yang menggantungkan hidup pada perusahaan ini. Dasar kelas rendahan!" Anggita menghina Vania dan teman-temannya.


"Helloooo...kamu nyadar g? kamu itu terlalu terobsesi dengan bos kami hingga kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan. Kamu mempermalukan diri sendiri. Asal kamu tahu ya nona g laku, mbak Annisa itu sudah direstui oleh nyonya Fani untuk mendampingi bos kami. Tapi kamu? malah menggoda bos kami walaupun sudah dibuang seperti sampah. Satu lagi, antara obsesi dan direstui itu sangat jauh perbedaannya. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan bos kami!" Jelas Vania berapi-berapi.


Anggita g terima dengan ucapan Vania. Anggita melayangkan tangannya untuk menampar Vania, tapi Vania menangkap tangan Anggita dan mendorongnya hingga Anggita hampir jatuh. Anggita hendak meminta pertolongan pada pujaannya,tapi sang pujaan sudah berada diruangannya. Anggita kesal dan hendak menyusul Furqan.


"Security...bawa wanita ini keluar!" perintah Vania pada security.


Sebelum security menyeretnya keluar, Anggita keluar sendiri. Karyawan memuji keberanian Vania.

__ADS_1


__ADS_2