Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Kejadian di Restoran


__ADS_3

Kejadian penculikan yang terjadi padanya, membuat Susi semakin waspada. Susi hanya berharap kalau Anggita tidak mengulangi perbuatannya. Susi memperingati adiknya agar selalu waspada jika keluar rumah. Susi tahu betul arti dari tatap Anggita waktu menyekapnya.


"Fio...!"


"Iya kak, ada apa?" tanya Fiona.


"Kamu harus hati-hati terhadap Anggita. sepertinya, peringatan Furqan tidak berpengaruh padanya. Kakak khawatir dia semakin nekad".


"Aku juga berpikir begitu kak. Sepertinya dia sangat dendam pada kita".


"Ya, g ada salahnya kita lebih waspada setelah kejadian kemarin. Kamu ada kuliah hari ini?" tanya Susi pada adiknya.


"Nggak ada kak. Kak Annisa ngajak aku makan diluar hari ini".


"Kalian hati-hati. jangan sampai kalian kalah sama wanita gila itu". pesan Susi pada Fiona.


"Siap kak, tenang aja!" jawab Fiona sembari tersenyum pada Kakaknya.


Di Kantor Putra Jaya


Furqan menceritakan kejadian penculikan Susi pada Aldi.


"Al...tiga hari lalu Anggita menculik kak Susi?"


"What? kenapa g beritahu aku? terus bagaimana keadaan kak Susi?" tanya Aldi.


"Dia baik-baik saja, hanya luka sedikit".


"Anggita?!" tanya Aldi penasaran.


"Aku bebaskan dia. tapi aku sudah memperingatkannya untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi".


"Kamu terlalu baik jadi orang. Aku yakin, Anggita nggak mengindahkan peringatan kamu. Dia kan nekad. Entah siapa lagi selanjutnya?" Aldi mengingatkan Furqan.


Di Kediaman Aldi


Annisa sudah siap ke luar rumah bersama Kania dan Fitri untuk menjemput Fiona.


"Bu...Nisa pergi ya, assalamualaikum!" ucap Annisa.


"Alaikumsalam, hati-hati di jalan!"


"Iya Bu!" Jawab Annisa.


Annisa dan kedua sahabatnya pun menuju ke kediaman Furqan. Fiona sudah menunggunya di depan rumah. Setelah mereka sampai, Fiona langsung masuk ke mobil Annisa dan mereka meluncur ke tempat yang akan mereka tuju. Sesampainya di tempat tujuan, Annisa menyuruh Fiona, Fitri dan Kania agar masuk lebih dulu ke dalam restoran, sedangkan dirinya akan parkir mobil terlebih dahulu. Annisa tak menyadari jika ada yang membututi mereka sejak dalam perjalanan.


Annisa bergabung dengan yang lain. Karena asyik ngobrol, mereka tak menyadari apa yang dilakukan pelayan yang membawa pesanan mereka. Setelah pelayan tersebut pergi, Annisa dan yang lain dengan santai akan menyantap makanan yang disajikan. Saat makanan akan masuk kedalam mulutnya, seseorang g sengaja menabrak Annisa dari belakang. Makanan berhamburan di atas meja. Yang lain pun kaget. Orang itu segera minta maaf pada Annisa.


"Maaf...maaf Nona, saya g sengaja!" ucap yang menabrak.


"G apa-apa pak, bapak santai aja!" jawab Annisa sembari tersenyum pada bapak yang menabraknya. Kemudian, bapak tersebut pergi meninggalkan Annisa. Annisa meminta Fiona, Fitri dan Kania untuk melanjutkan makannya, sementara dia akan membereskan makanan yang jatuh. Ketika Annisa hendak membereskannya, ia kaget melihat perubahan warna pada makanan tersebut.


"Jangan ada yang menyentuh makanan!" larang Annisa pada yang lain.

__ADS_1


"Kenapa Nis?" tanya Fitri penasaran.


"iya kak, ada apa?" tanya Fiona yang juga ikut penasaran.


"Makanan ini beracun. Coba kalian perhatikan ini!" pinta Annisa sambil menunjukkan makanan yang jatuh.


Fiona, Fitri dan Kania pun mengikuti perintah Annisa. Mereka kaget dengan adanya perubahan warna pada makanan Annisa. Kemudian, mereka memeriksa makanan masing-masing. Hasilnya sama dengan Annisa.


"Kak...sepertinya ada yang ingin meracuni kita!" ucap Fiona.


Pengunjung lain penasaran dengan yang apa yang terjadi pada Annisa. Pengunjung yang duduk tidak jauh dari Annisa hendak berdiri dan ingin mendekat pada Annisa untuk mencari tahu apa yang terjadi. Akan tetapi, Annisa lebih dulu mengatakan pada mereka kalau semuanya baik-baik saja. Annisa tidak ingin terjadi keributan dan mengganggu pengunjung lain. Annisa memanggil seorang pelayan untuk membereskan makanan yang ada di atas meja. Setelah selesai dibersihkan, Annisa menyuruh seorang pelayan agar memanggil manajernya.


Dua menit kemudian, si manajer datang dan menemui Annisa.


"Selamat siang Nona! ada yang bisa saya bantu?" tanya si manajer.


"Saya ingin bicara empat mata dengan ibu, tapi bukan di sini!" ucap Annisa pada sang manajer.


"Mari keruangan saya!" ajak manajer.


"Kalian tunggu di sini!" perintah Annisa pada Foina dan yang lain.


Annisa mengikuti sang manajer dari belakang. Mereka berdua pun masuk keruangan yang sangat privasi tersebut. Si manajer langsung menanyakan maksud Annisa ingin bicara dengannya.


"Apa yang saya bantu?"


"Sebelum saya lanjutkan, saya minta rekaman cctv di mana saya dan teman-teman saya duduk. Ada yang akan saya tunjukkan pada Anda!" jelas Annisa.


Si manajer menekan intercom yang menghubungkannya dengan bagian pengawasan.


"Baik Bu!"


Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan manajer.


Tok Tok Tok


"Masuk!"


Seorang laki-laki paruh baya masuk dengan membungkukkan badannya. Setelah menyerahkan rekaman cctv yang di minta bosnya, ia segera keluar.


"Silahkan ibu periksa!"


Si manajer langsung memeriksa rekaman cctv di mana Annisa duduk. Ia terkejut dengan apa yang di lihatnya dalam rekaman tersebut.


"Ada yang mencoba meracuni kami, khususnya saya. Saya tidak ingin masalah ini diketahui pelanggan lain. Tapi, saya menginginkan orang yang mengantar pesanan kami!" pinta Annisa dengan tegas.


"Baiklah, akan saya panggilkan!"


Si Manajer segera memanggil pelayan yang di maksud Annisa. Pelayan tersebut masuk tanpa dengan perasaan tenang.


"Perhatikan rekaman ini!" perintah Manajernya.


"Maaf Bu, sebenarnya bukan saya yang harus mengantar pesanan mereka tapi Laila. Saya hanya membantunya karena dia beralasan hendak ke toilet karena perutnya sakit". cerita pelayan tersebut.

__ADS_1


Mendengar cerita itu, si manajerpun memanggil Laila. Laila datang tanpa ada perasaan bersalah dalam dirinya. Dengan pedenya ia menghadap bosnya.


"Ibu memanggil saya?" tanya Laila.


"Iya. Bisa kamu jelaskan maksud dari rekaman ini!"


"Saya tidak mengerti Bu!" sangkal Laila.


"Pak Kasim, tunjukkan rekaman cctv yang di mana Laila berada!" perintah Manajer.


Mendengar permintaan bosnya, Laila seketika menundukkan kepalanya. Pak Kasim memperlihatkan hasil rekaman yang menunjukkan kalau Laila yang menaruh racun pada makanan tersebut.


"Saya sebagai pemimpin di sini, saya minta maaf atas perbuatan anak buah saya karena dengan adanya kejadian ini tentu sangat merugikan pelanggan apalagi soal meracuni pelanggan. Dan kamu Laila, mulai hari ini kamu tidak boleh lagi bekerja di sini!".


"Bu...tolong jangan pecat saya, saya hanya di suruh Bu, saya mohon jangan pecat saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi, hiks hiks hiks!" Laila memohon dengan tangisan.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Annisa.


"Saya tidak kenal siapa orangnya, tapi wajahnya mirip mantan model terkenal". jelas Laila dengan menundukkan kepalanya.


Annisa mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan sesuatu pada Laila.


"Iya mbak, dia orangnya. Maafkan saya mbak, dia mengancam akan membunuh keluarga saya kalau saya tidak mengikuti keinginannya. Tolong Bu...jangan pecat saya dan jangan laporkan saya ke polisi!" pinta Laila pada Annisa dan manajernya.


"Saya maafkan kamu jika itu adalah alasan mengapa kamu ingin meracuni kami. Dan saya tidak akan memperpanjang masalah ini. Bu...tolong jangan pecat dia karena dia hanya ingin menyelamatkan keluarganya!" pinta Annisa pada manajer.


"Terima kasih karena Anda telah menjaga nama baik restoran kami. Kali ini kamu saya ampuni, dan ingat jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi!" ucap Manajer pada Annisa dan Laila.


"Saya janji Bu, saya janji. Terima kasih Nona, tidak membuat saya di pecat!" ucap Laila merasa bersalah.


"Kembalilah bekerja!"


"Baik Bu!" jawab Laila lalu keluar dari ruangan bosnya.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kebaikan Anda karena tidak melaporkan masalah ini kepada yang berwajib!" berulang kali manajer mengucapkan terima kasih atas kebaikan Annisa.


"Karena sudah selesai, saya mohon diri untuk menemui teman-teman saya".


"Silahkan!"


Annisa pun keluar keluar menemui Fiona, Fitri dan Kania.


"Gimana Nis, sudah dilaporkan pelakunya?" tanya Kania.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita pulang dan membahasnya di rumah bersama kak Aldi dan kak Furqan. Hal ini tak bisa dibiarkan". ucap pada sahabatnya dan Foina.


Mereka meninggalkan restoran dengan perut kosong. Annisa mengantar Fiona kemudian kembali ke rumah. Ia akan membahasnya esok hari.


"Tak boleh ada yang membahas kejadian di restoran dalam rumah. Kita anggap tidak terjadi sesuatu pada kita, oke!"


"Tapi Nis, aku masih kepikiran dengan kejadian tadi". ucap Kania.


"Buang jauh-jauh pikiranmu itu Kania. Jika kamu kelihatan g tenang, ibu pasti akan menginterogasi dirimu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana reaksi jika ada yang berusaha mencelakai Annisa?" jelas Fitri.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan berusaha. Semoga aku bisa setenang dirimu, Nis!"


Kania menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Kemudian, mereka bertiga masuk kedalam rumah dan Kania masih tidak tenang. Beruntung Erina sedang keluar rumah bertemu klien. Kania dan Fitri secepat kilat masuk kamar agar tidak ada bertanya pada mereka berdua. Annisa sampai tertawa melihat tingkah mereka berdua.


__ADS_2