Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Hanya Ibu yang Tahu


__ADS_3

Keadaan Annisa semakin membaik, Furqan setia menemaninya dirumah sakit. Erina dan Aldi sangat berterima kasih pada Furqan. Jika bukan karena Furqan adalah anak dari pembunuh bosnya, Erina sangat setuju dengan hubungan percintaan mereka. Erina pun tak bisa berbuat banyak, ia serahkan sepenuhnya pada Annisa.


Aldi, Furqan dan Erina sedang ngobrol diruang rawat Annisa. Dokter yang khusus merawat Annisa masuk dan menyapa mereka.


"Pagi Bu Erina, pak Aldi dan pak Furqan!" sapa dokter


"Pagi juga dokter!" jawab Erina, Aldi dan Furqan.


"Pagi Nisa!"


"Pagi dok!"


Kemudian dokter memeriksa kondisi Annisa.


"Keadaan Annisa sudah membaik. Dia sudah bisa pulang hari ini. jangan terlalu beraktifitas sebelum luka sembuh total" ucap dokter pada Erina


"Terima kasih dokter!"


"Sama-sama Bu Erina. Saya permisi dulu karena masih ada pasien yang harus saya periksa!"


"Baik dokter!"


Dokter keluar dari ruangan perawatan Annisa. Erina menyuruh pkerjanya untuk membereskan barang yang ada karena Annisa akan pulang ke rumah. Setelah selesai beres-beres, Annisa duduk dikursi roda dan di bawa ke mobil oleh kakaknya. Mereka pun meninggalkan rumah sakit dan menuju kediaman Aldi.


Di Penjara


Sudah seminggu Lidia dalam penjara. Fani tidak pernah membesuknya. Polisi terus melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti terhadap kasusnya. Ponsel Lidia pun di sita sebagai barang bukti karena ada rekaman percakapan antara Lidia dan Fani soal rencana penculikan. Jam 11 siang, Polisipun mendatangi rumah Fani.


Tok! tok! tok!


Susi membuka pintu dan kaget ada 3 orang polisi di depan pintu.


"Selamat siang Bu?"


"Siang pak!"


"Apa benar ini kediaman ibu Fani?"


"Benar pak! saya anaknya."

__ADS_1


"Apa beliau ada di rumah?"


"Ada pak, baru aja pulang!"


"Ada apa ya pak?"


"Ini surat perintah penahanan ibu anda. Kami akan membawa ibu Fani ke kantor polisi!" ucap polisi sambil memperlihatkan surat perintah.


Fani yang baru keluar kamar, segera menemui putrinya dan menanyakan siapa yang datang.


"Susi...siapa yang datang?" tanya Fani


Susi tidak menjawab ibunya dan hanya menggeser sedikit tubuhnya agar ibunya bisa melihat siapa yang ada di depan pintu. Fani tersentak melihat tiga orang polisi ada di rumahnya. Ia ingin menghindar dengan segera masuk kembali tapi teriakan polisi terpaksa membuat langkahnya terhenti.


"Ibu Fani...segera ikut kami ke kantor!"


"Salah saya apa pak?" tanya Fani ingin menghindar


"Nanti kami jelaskan dikantor!" Polisi langsung membawa Fani ke mobil. Semua pekerja melongo melihat majikannya di giring polisi. Susi segera menghubungi Furqan dan Fiona.


"Fur...ibu di bawa polisi!" Susi bicara dengan suara gemetar.


"Aku sudah tahu!"


"Ibu terlibat penculikan dan percobaan pembunuhan pada Annisa dan pengacaranya!"


"Apa? g mungkin ibu melakukan itu! g mungkin, aku g percaya?!" Susi syok dengan ucapan adiknya


"Akupun g percaya ibu bisa melakukan perbuatan itu, tapi ternyata semuanya benar. Satu lagi, ada rahasia besar yang ibu sembunyikan dari kita semua. Nanti kita bicarakan di rumah." Furqan tak memberi kesempatan Susi untuk bertanya, ia langsung mengakhiri pembicaraan.


Susi yang kebingungan segera meraih tas dan pergi ke kantor polisi. Tidak lupa ia menghubungi Fiona dan memberitahunya untuk bertemu di kantor polisi. Susi tak memberi tahu adiknya kalau ibunya di tahan oleh polisi.


Fani berada satu sel dengan Lidia. Lidia tersenyum sinis pada sahabatnya.


"Untung saja aku merekam percakapan kita, kalau tidak aku tidak akan melihatmu di sini!" ucap Lidia pada sahabatnya.


"sahabat macam apa kau?" Fani menunjuk Lidia.


"Aku...aku sahabat macam apa? heiii! lihat dirimu sebelum kamu bicara. Sudah beberapa hari aku di sini, tapi kamu kemana? kamu enak-enakkan di rumahmu. kamu pikir aku mau di sini sendirian, aku di sini karena kamu Fani!"

__ADS_1


"Sepertinya kamu akan sulit keluar dari sini. Sekaya apapun dirimu kamu tidak akan pernah bebas kecuali Annisa yang membebaskanmu." Lidia mengejek Fani


"Kamulah yang akan bertahan di sini, bukan aku. Putraku akan membebaskanku. Sebentar lagi dia akan datang dan mengeluarkan aku dari tempat terkutuk ini!"


"Tidurlah dulu baru kamu bermimpi. Kamu tahu Fani, putramu pernah menemuiku dan dia sendiri yang mengatakan padaku, kalau memang kamu bersalah dia tidak akan membebaskanmu. Jadi, hentikan harapan omong kosongmu itu." ucapan Lidia mengganggu pikiran Fani.


Benarkah Furqan mengatakan itu? tidak, tidak! aku harus percaya pada putraku. Dia adalah harapanku satu-satunya. ucap Fani dalam hatinya.


Tak lama kemudian, Furqan, Susi dan Fiona tiba di kantor polisi. Fani di bawa keruangan dimana tahanan bisa bertemu keluarganya. Fani bahagia melihat putranya datang. Ia yakin Furqan akan membebaskannya.


"Fur...bebaskan ibu nak! bayar berapapun yang mereka mau, asalkan ibu bisa segera keluar dari sini!" pinta Fani pada putranya.


"Iya Fur! kasihan ibu kalau tidur di penjara." Susi membujuk adiknya.


"Kak, kesalahan apa yang membawa ibu ke sini?" tanya Fiona pada kedua kakaknya


"Ibu merencanakan penculikan dan pembunuhan pada Annisa dan Bu Erina!" jawab Furqan


"Ibu sejahat itu?!" Fiona seakan tak percaya pada apa yang didengarnya.


"Kalau memang ibu bersalah, kita g bisa berbuat apa-apa. Apalagi mau nyogok pihak berwajib, hukuman ibu makin berat. Ibu tahu kan siapa Bu Erina?" Furqan bertanya


"Apa hubungan antara Bu Erina dan ibu, Fur?" Susi penasaran


"Hanya ibu yang tahu siapa Erina dan kejadian 24 tahun yang lalu. Hanya ibu yang tahu, siapa Darmajaya dan istrinya Berlian, hanya ibu yang tahu penyebab meninggalnya paman Darmajaya dan Tante Berlian, orang tua Aldi dan Annisa. Hanya ibu yang tahu siapa pemilik sah perusahaan Putra Jaya, hanya ibu!" Furqan menatap ibunya.


"Fur...! kamu ngomong apaan sih? aku g ngerti arah pembicaraan kamu. Paman siapa sih yang kamu maksud?!" Susi pusing mendengar ucapan adiknya.


"Paman yang mana kak? bukankah ibu dan ayah sama-sama anak tunggal? dan, tentang meninggalnya Darmajaya dan Berlian, apa hubungannya dengannya ibu?!" Fiona bertanya pada kakaknya. Hatinya bertanya-tanya apa maksud ucapannya kakaknya.


"Cukup! kalian mau membebaskan ibu atau hanya ingin menghakimi ibu? lebih baik kalian pulang!" Fani kesal dengan ketiga anaknya.


"Bu...! ceritakan pada kami, kejadian 24 tahun lalu agar kami semua tahu yang sebenarnya. Ibu jangan menutup kebenaran dari anak-anak ibu. Furqan g masalah kehilangan perusahaan, asalkan kita hidup dengan bahagia." Furqan berusaha menyadarkan ibunya. Fani hanya menatap putranya dengan tatapan kesal.


Susi dan Fiona makin bingung dengan ucapan Furqan.


"Fur...! berhentilah ngomong g jelas. jangan membuat aku dan Fiona makin bingung?!"


"Kalian berdua tidak akan bingung kalau ibu menceritakan yang sebenarnya. Hanya ibu yang tahu dan hanya ibu pula yang bisa menceritakannya pada kita, ia kan Bu?" Furqan bertanya pada ibunya.

__ADS_1


"Kalian pulanglah. Pak! bawa saya kembali ke dalam, saya sudah selesai bicara dengan mereka." Fani menyuruh anaknya pulang dan memanggil polisi yang bertugas untuk membawanya kembali ketahanan.


"Bu...!" Panggil Susi dan Fiona. Fani menatap kedua putrinya dengan perasaan sedih. Furqan hanya diam saja dan menatap ibunya. Kemudian, mereka bertiga pulang ke rumah.


__ADS_2