
Setelah putranya ditetapkan sebagai tersangka penculikan dan mendapat hukuman yang setimpal, Kuncoro dan istrinya hanya bisa berdoa agar putra mereka bisa berubah, sabar dan ihklas menerima keputusan pengadilan. Tidak ada lagi yang bisa mereka perbuat. Istrinya terus menangis karena harus melihat putra kesayangannya kembali ke jeruji besi. Kuncoro mengajak istrinya untuk menemui Furqan dan minta maaf atas apa yang dilakukan Herman, tapi Laila menolak.
"Bu...berhentilah menangisi anak itu! sebaiknya kita menemui keluarga Furqan. Kita harus minta maaf Bu!"
"Tidak ayah, ibu g mau bertemu mereka. Ayah gimana sih, anak kita masuk penjara karena mereka. Ibu g Sudi bertemu mereka!" Laila bersikeras g mau ikut suaminya.
"Jaga omongan ibu! ibu seharusnya berterima kasih kepada mereka. Ibu tahu kondisi perusahaan kita? itupun karena Herman. Siapa yang membantu kita? Furqan dan Aldi. Kalau bukan karena mereka, kita sudah tidur dijalanan". Kuncoro kesal kepada Laila.
"G mungkin! ayah tidak perlu membela mereka dengan melibatkan perusahaan. Ibu g akan percaya, g mungkin. Ayah pasti bohong!"
"Apa ayah pernah bohong pada ibu selama ini? sudah dua kali Herman membuat perusahaan rugi milyaran rupiah. Ayah tidak pernah cerita karena nanti ibu stres. Ayah mencoba mencari bantuan, tapi teman-teman ayah tidak ada yang mau membantu. Mereka tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya karena ulah Herman. Furqan dan Aldi dengan tangan terbuka menyelamatkan kita. Apakah ini balasan kita kepada mereka. Ayah sudah sangat malu, Bu!" Kuncoro memberi penjelasan pada istrinya.
Laila menunduk setelah mendengar penjelasan suaminya. Ia tak menyangka, putranya akan melakukan hal bodoh itu berulang-ulang.
"Kalau ibu tidak mau ikut, ayah saja yang pergi".
"Ibu ikut pak. Ibu juga ingin minta maaf pada mereka". Laila berdiri dan menghampiri suaminya.
"Demi kebaikan kita semua, kita harus melakukannya". ucap Kuncoro pada Laila.
Laila menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian, suami istri itu berangkat kekediaman Furqan. Kuncoro berjuang untuk mendapatkan maaf, sementara Annisa dan sahabat-sahabatnya sedang bertugas dan sudah beberapa panti yang mereka datangi. Mereka membagikan undangan sekaligus pakaian yang akan .dipakai anak-anak saat datang dipernikahan nanti. Selesai membagi undangan, mereka berlima melanjutkan perjalanan menuju rumah bibi Fatimah.
Dalam perjalanan, mereka melihat seorang preman sedang memalak seorang anak kecil penjual air mineral. Annisa menyuruh Egi mendekati anak tersebut. Mereka keluar dari mobil dan bermaksud menolong anak kecil itu. Beberapa orang preman datang membantu temannya.
"Mau jadi dewa penolong ya? lebih baik kalian pulang dan jangan ikut campur urusan kami!" ujar seorang preman.
"Maaf bang, Abang usianya berapa?" tanya Annisa.
"Apa urusanmu dengan usiaku?"
__ADS_1
"Kalau Abang menjawabnya, kami akan pulang". jawab Annisa.
Baik tim Annisa maupun tim pemalak, mereka merasa aneh dengan pertanyaan Annisa. Kemudian, preman tersebut menjawab juga.
"42 tahun!"
Annisa bertanya pada anak kecil tersebut dengan pertanyaan yang sama. Si anak menjawab dengan senang hati.
"10 tahun kak!" jawab si anak.
"Jauh sekali selisihnya. Begini ya bang, masa yang usianya setua Abang bisa kalah sama anak kecil?" ucap Annisa.
"Apa maksudmu?!" tanya preman Heran.
"Anak sekecil ini memiliki cara untuk mendapatkan uang yang halal, sementara abang-abang ini sudah tua, badannya kekar dan sehat pula, tapi sayangnya g bermanfaat. Masuk akal g kalau kalian bisa dikalahkan anak sekecil ini?!" tanya Annisa.
"He, jaga ya ucapan kamu. Berani-beraninya kamu merendahkan kami. Beri mereka pelajaran!" perintah si ketua preman kepada anak buahnya.
"Dengar ya, kalian jangan salah dengan dua orang wanita ini. Kami saja takut sama mereka berdua. Mereka sudah berkali-kali menghajar orang bahkan sampai patah tulang. Kalau g percaya, kalian bisa coba!" Hendra menakut-nakuti kelompok preman.
Seorang preman berbisik kepada ketuanya.
"Bos...sepertinya omongan dia benar, kedua wanita ini g ada rasa takutnya. Apa yang akan kita lakukan boa?"
Ketua preman sedikit percaya pada anak buahnya. Ia memperhatikan dengan seksama dan menyadari jika kedua wanita didepannya itu g menunjukkan rasa takut.
"Apa lihat-lihat? kamu naksir ya sama aku? maaf ya bang, aku g suka dengan pria g ada harga diri. Kalian ini, menjatuhkan harga diri para pria!" ucap Siska sengaja memanas-manasi para pemalak.
Ketua preman tersebut balik berbisik pada anak buahnya.
__ADS_1
"Mungkin mereka hanya pura-pura g takut, agar kita tidak melukai mereka. Suruh si Beno untuk menyeret gadis cerewet itu!".
"Siap bos!" jawab preman yang diperintah.
Kemudian, preman yang diperintah tersebut memberi tahu Beno tentang perintah bosnya. Beno langsung sigap mendekati Siska dan langsung ingin menghajar Siska. Siska yang menyadari keadaan langsung mundur ke belakang beberapa langkah untuk menghindari serangan lawan. Gerakannya yang begitu lincah membuat Beno sedikit takut.
"G tahu malu kamu ya, beraninya nyerang aku. Karena kamu yang memulai, maka aku akan melayanimu sayang!"
Siska langsung menyerang Beno dengan beberapa pukulan. Gerakan cepat Siska membuat Beno kalang kabut. Siska hanya tersenyum tipis menyaksikan kepanikan Beno. Ketua preman berdiri dan menyuruh yang lain membantu Beno.
Siska tak tinggal diam. Ia segera mengambil jurus andalannya.
"Aku belajar beladiri untuk menghadapi orang seperti kalian. Ayo, biar aku pites kalian seperti kutu!"
Annisa, Hendra dan Egi pun tak tinggal diam. Mereka membantu Siska, sementara Kania mobil duduk manis karena takut keluar. Ketua preman menyaksikan dengan cemas pertarungan anak buahnya. Ia hanya bisa berucap dalam hati.
Aduh, bisa kacau kalau begini. Aku harus menghentikan mereka sebelum mereka dihabisi.
"Stop! sudah, kalian mundur saja. Tidak ada gunanya melayani mereka". ujar ketua preman pada anak buahnya.
Annisa, Siska, Egi dan Hendra mundur beberapa langkah kebelakang. Sedangkan Beno dan ke lima temannya langsung berhenti dan merasa bersyukur karena ketua mereka menyadari kekalahan ada dipihaknya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum polisi melihat semua kejadian ini. Ayo cepat pergi!" perintah ketua preman.
Ketika mereka hendak pergi, mobil patroli polisi lewat dan berhenti tepat di depan mereka. Mereka kelihatan panik dan menoleh ke arah Annisa dan yang lain.
"Selamat sore! ada apa rame-rame kayak begini? dan mengapa babak belur seperti ini? ada masalah?!" tanya seorang petugas dengan heran karena melihat beberapa orang preman sedikit memar.
"Sore pak! g ada apa-apa pak, kami hanya ngobrol sebentar. Mereka memar karena tadi kesalahpahaman dengan beberapa orang di sekitar sini. Mereka disangka mau nyulik pak, ternyata tidak". jawab Annisa.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Ingat, jangan membuat masalah di jalan!" ujar pak polisi dan kemudian meninggalkan mereka.
Setelah kepergian petugas patroli, ketua preman langsung mengucapkan terima kasih pada Annisa karena sudah rela berbohong demi keselamatan mereka. Kemudian, mereka langsung pergi dan anak kecil tersebut pun mengucapkan terima kasih pada Annisa dan sahabat-sahabatnya.