
Jam delapan pagi, Fani sudah siap keluar rumah. Hari ini, Fani akan ke rumah sahabatnya. Pak Tio segera menghampiri majikannya.
"Mau saya antar, Nyonya?"
"G usah, saya bawa sendiri. Kalau Susi dan Fiona nanyain saya, jawab saja g tahu ke mana!"
"Baik, nyonya!" jawab pak Tio.
Fani menaiki mobil mewah miliknya. Kemewahan yang dimilikinya, membuatnya congkak. Ia memandang rendah orang lain yang berada di bawahnya. Perlahan mobil Fani memasuki kawasan Flamboyan dan mendekati rumah Anggita. Lidia dan Anggita sudah menunggunya di depan pagar. Hari ini, mereka bertiga akan keluar rumah bersama.
Mobil Fani berhenti tepat di depan Lidia. Anggita dan ibunya segera masuk ke mobil dan Fani tancap gas meninggalkan rumah Lidia.
"Kita santai di mana ni?" tanya Fani pada sahabatnya.
"Emmmm, kita ke rumah makan "Sahabat" aja!Rumah makannya sederhana tapi menunya enak-enak lo, iyakan sayang?"
"Iya, Tante! menunya selevel dengan restoran besar."
"Oke, kita ke sana!" jawab Fani menyetujui.
Saat sampai di rumah makan, Fani enggan turun karena merasa g level makan di rumah makan biasa seperti ini. Lidia menyadari sikap Fani.
"Ayo turun, jangan diam saja!" Fani terpaksa turun dan menyusul Anggita dan ibunya masuk ke dalam.
"Kita keruangan VIP saja, jeng!"
"Apa? restoran sekecil ini, memiliki ruangan VIP? g mungkin!" ucapan Fani mengundang tatapan jengkel dari beberapa pelanggan yang mendengarnya.
"Sudahlah Tan, ayo masuk!" ajak Anggita.
Fani terpaksa mengikuti mereka berdua. Sampai diruangan VIP, Fani seketika menatap sekeliling dan timbul rasa kagum dalam hatinya akan desain interiornya.
"Gimana Tan, baguskan desainnya?"
"Kami berdua sudah berkali-kali ke sini. G bosan dengan suasananya, apalagi makanannya, ngangenin!" ucap Lidia.
"G perlu bahas makanan. Kita ke sini untuk membahas rencana ke depan. Tante tidak ingin gagal lagi. Dan kau Anggita, ada baiknya kau jangan melakukan hal-hal yang akan membuat putraku makin benci padamu! Kita ikuti dulu apa maunya dia. Jika aku membebaskan dia, dia akan kembali percaya pada Tante".
Sebelum Anggita berbicara, Annisa datang membawa pesanan mereka. Fani seakan mengenal Annisa.
Berlian! Gadis ini mirip sekali dengan berlian, bathin Fani
"Siapa namamu?" tanya Fani pada Annisa
__ADS_1
"Annisa, Bu!''
Setelah meletakkan pesanan, Annis segera keluar dan Fani terus menatapnya.
"Aku setuju dengan saran Tante. aku ingin tahu, sebenarnya siapa wanita yang di cintai Furqan. Kalau sudah ketahuan, kita lakukan sesuatu pada wanita itu!"
"Tepat, mengapa otakmu baru berpikir jernih?"
" Aku ikut saja apa yang kalian rencanakan!" sela Lidia.
Selesai makan siang, mereka bertiga meninggalkan rumah makan dan berbelanja ria. Bu Fani membelikan Anggita barang-barang branded dengan harga yang fantastis.
"Ini sayang, untukmu! meskipun kamu model terkenal, belum tentu bisa membelinya. Dan ini untukmu, Jeng!" Fani memberikan sebuah tas untuk Lidia, dan kalung berlian untuk Anggita.
"Belum jadi menantu, udah royal begini apalagi sudah jadi mantu!" ucap Lidia bangga.
"Kalau sudah jadi mantu, semua Tante belikan untukmu sayang! apa sih yang tidak buat mantu cantikku ini?" Bu Fani memuji Anggita.
"Tante bisa aja deh!" Fani merangkul Anggita
Setelah berbelanja, Fani mengantar Lidia dan Anggita ke rumahnya. Kemudian, dia sendiri meluncur ke kediamannya.
***
Furqan dikagetkan dengan bunyi notifikasi pesan di gawainya. Furqan membuka pesan dari orang suruhannya untuk mengikuti ibunya.
"Bos, ibu anda dari rumah makan "Sahabat" kemudian pergi belanja. Yang saya lihat, ibunya bos membeli satu tas branded untuk temannya dan kalung berlian untuk seorang gadis. Dan ibunya bos sudah pulang ke rumah."
"Pantau terus apa yang ibu saya lakukan!"
"Baik, bos!"
Pasti berlian itu untuk Anggita. Kenapa ibu begitu royal untuk gadis yang tidak akan pernah jadi pendampingku? Maafkan aku ibu, aku tidak bermaksud menyembunyikan Annisa dari ibu, aku hanya ingin melindunginya dari keegoisan ibu!
Furqan kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Aldi ke rumah makan untuk menemui Farah. Aldi akan memberitahu Farah, kalau Annisa akan berhenti dari pekerjaannya. Aldi akan mengajari adiknya bisnis online barang-barang branded agar Annisa tidak bosan di rumah. Aldi sampai di rumah makan dan di sambut Farah. Aldi heran dengan cara Farah menyambutnya. Suaminya memberi tahu Farah kalau Aldi dan Annisa adalah anak dari bos kakaknya. Untuk itulah Farah menyambutnya dengan sangat baik.
"Mari pak Aldi! ada yang bisa saya bantu, pak?"
Aldi merasa aneh dengan Farah. Dia tidak ingin di sambut seperti seorang pejabat.
"Iya, Bu Farah! Saya ingin bicarakan tentang Annisa."
"Mari.. keruangan saya!"
__ADS_1
Aldi mengikuti Farah keruangannya. Aldi dipersilahkan duduk di kursi khusus tamu dan Aldi mengikuti perintah Bu Farah.
"Kira-kira, apa yang bisa saya bantu pak?"
"Saya hanya ingin memberi tahu Bu Farah, kalau besok Annisa akan resign dari rumah makan ini. Hari ini terakhir dia bekerja di sini."
"Baik, Pak! nanti saya akan sampaikan pada teman-temannya secara pelan-pelan agar mereka tidak kaget. Karena Annisa dan teman-temannya seperti perangko, susah untuk dipisahkan. Mereka berbagi suka dan duka. Sejak Annisa bekerja di sini, rumah makan ini sangat kewalahan melayani pelanggan. Dia membawa keberuntungan pada rumah makan ini!"
"Terima kasih atas pengertian Bu Farah. Tapi, jika Annisa membawa keberuntungan, mengapa Bu Farah tidak menanyakan alasan berhentinya Annisa?"
"Saya sudah tahu pak Aldi. Tapi, saya tidak bisa menjelaskannya pada pak Aldi!"
Aldi tidak percaya dengan apa yang disampaikan Farah. Aldi bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa sebenarnya yang Farah ketahui tentang Annisa dan dirinya. Meskipun diselimuti beribu pertanyaan, Aldi memilih pamit dan mencari sendiri kebenarannya.
Di rumah Aldi
Mbok Minaiya melakukan tugasnya dengan rapi. Meskipun Furqan sebagai CEO dari perusahaan "Putra Jaya", tapi dirinya tidak mengetahui aliran dana yang mengalir ke rekening keluarga Aldi. Mbok Minaiya di bantu oleh bawahannya yang menyamar sebagai karyawan di perusahaan "Putra Jaya". Kedua akan bertindak tegas apabila ada ketidakadilan pada pemilik sah perusahaan.
Aldi pulang kerumah bersama Annisa. Mbok Minaiya selalu menunggu mereka pulang. Setelah keduanya bertemu, mbok Minaiya semakin ketat menjaga mereka berdua. Aldi hanya mengetahui kalau mbok Minaiya tidak memiliki keluarga dan bekerja sebagai pembantu. Beruntungnya, Aldi sangat menghormati mbok Minaiya. Sebelum Annisa menuju kamarnya, Aldi lebih dulu mencegahnya.
"Dek, ayo duduk!"
"Mbok juga duduk!"
"Ada apa, Tuan?" tanya mbok Minaiya
"G ada apa-apa, mbok! aku hanya ingin memberitahu mbok kalau besok Annisa tidak akan bekerja lagi di rumah makan."
"haaaa...! kak, kenapa di suruh berhenti? nanti aku kerja apa? masa aku hanya makan tidur! kak, please... jangan menyuruhku berhenti bekerja!" Annisa kaget dengan keputusan kakaknya.
"Kamu tetap bekerja, tapi dari rumah. Dengan begitu kamu punya waktu istirahat, ke rumah paman dan mengunjungi panti. Setuju g?"
"Setuju sih setuju, kak. Tapi, kerjaannya apa?"
"Bisnis online barang-barang branded dan limited, seperti tas wanita, jaket pria dan jam tangan. Kakak yang akan menghubungi perusahaan yang mengeluarkan barang-barang tersebut. Barang hanya bisa diterima jika dikirim dari perusahaannya langsung di sertai dengan kode perusahaan. Dan kamu harus membuat akun khusus untuk prodak-prodak itu. G boleh ada yang tahu identitasmu yang sebenarnya. Kamu tahu kan cara dagang di dunia Maya?"
"Oke, siap bos!" Annisa sumringah mendengar rencana kakaknya.
"Mbok yang akan membantu mengurus legalitas produknya agar tidak dituduh menipu."
"Emang mbok bisa?!"
"Sudah saatnya kalian tahu siapa mbok sebenarnya. Sebenarnya, mbok pengacara keluarga tuan Darmajaya. Mbok menyembunyikan identitas mbok sejak tuan Darma dan nyonya Belinda meninggal. Nama asli mbok bukan Minaiya tapi Erina. Mbok adalah kakak ipar Bu Farah. Masih banyak yang tersembunyi tentang keluarga tuan Darma dan nyonya, akan tetapi belum saatnya mbok membuka rahasia itu. Cukup sekilas tentang mbok saja yang kalian ketahui. Dan ingat, Cukup kalian yang tahu tentang mbok!"
__ADS_1
"Baik mbok! Aldi dan Annisa menjawab bersamaan. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aldi mengingat apa yang dikatakan Farah. Mungkin inilah yang dimaksud Farah jika dia sudah tahu semuanya, ternyata dari mbok Minaiya.