Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Kata Hati Furqan


__ADS_3

Hasil dari konferensi pers yang dilakukan Erina, membuat Wajah Aldi dan Annisa menghiasi dunia Maya, surat kabar dan televisi. Hal itu terjadi, karena Darmajaya adalah pengusaha terkaya dan dermawan yang dikenal bukan hanya di negara sendiri bahkan sampai diluar negeri. Perusahaan yang menaungi Anggita pun adalah anak cabang perusahaan Darmajaya yang dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Jasanya pada orang yang pernah diangkatnya dari kemiskinan, kejahatan, dan dari kebangkrutan tidak dibalas dengan sia-sia. Sebaliknya, mereka rela pasang badan demi Darmajaya meskipun hal itu paling tidak diinginkan Darmajaya. Berbeda dengan kakak angkatnya Hartawan dan istrinya, mereka justru merenggut nyawa sang miliader, kemudian mengambil alih kerajaannya.


Istri Hartawan, Fani mulai merasakan ketenangannya hilang secara perlahan setelah munculnya Erina di media. Apalagi setelah konferensi pers dilakukan dan tertangkapnya preman suruhannya plus pesan dari Erina untuknya. Sudah sehari semalam, Fani tidak bisa tidur nyenyak. Bayang-bayang Darmajaya dan Berlian seperti hadir dalam mimpinya, hingga untuk menyentuh lembutnya tempat tidurnyapun sulit ia lakukan. Setrika bernyawa tepat disematkan pada dirinya saat ini. Dalam kepanikannya, Fani menghancurkan beberapa barang dalam kamarnya.


Prank! Prank! Prank!


Mendengar suara barang pecah Susi, Fiona dan mbok Iyem lari mendekati pintu kamarFani.


Tok! tok! tok!


"Bu... ibu! buka pintunya! ibu kenapa?" panggil Susi dan Fiona khawatir.


"Pergi...pergi kalian!" Bu Fani mengusir putrinya.


Mbok Iyem, Susi dan Fiona pasang telinga mendengarkan apa yang dilakukan Fani di dalam kamar. Sudah tak terdengar suara keras dari dalam. Susi, mbok Iyem dan Fiona meninggalkan kamar Fani.


Fani yang sedang dilanda kecemasan tingkat dewa mengambil beberapa bungkus rokok yang disimpan di laci meja riasnya. Ia duduk menghisap rokok tanpa henti. Tiga bungkus rokok habis tak tersisa. Suara gemuruh dari perutnya terdengar jelas dan ia rasakan. Pusing, panik dan khawatir membuatnya lupa menyentuh makanan. Fani menghubungi mbok Iyem untuk membawakannya makanan.


"Mbok...bawakan makanan ke kamarku!"


"Baik, nya!"


Mbok Iyem menyiapkan makanan untuk majikannya dan segera membawanya ke kamar.


Tok! tok! tok!


"Nyonya! ma...." belum selesai mbok Iyem bicara, Fani buka pintu dan merebut makanan dari tangan mbok Iyem, kemudian menutup pintu dengan keras. Mbok Iyem mengelus dadanya karena kaget dengan kelakuan Fani.


Nyonya kenapa? pake masker, merebut makanan, dan banting pintu, aneh! Mbok Iyem pun kembali ke dapur.

__ADS_1


Sedang terburu-buru menikmati makanan karena kelaparan, ponsel Fani bergetar. Ia melirik siapa yang menelponnya. Ia tak perduli lagi dengan gadis model itu.


Kalau bukan karena kebodohanmu, aku tak akan mengalami kehancuran seperti ini. Dasar gadis tidak tahu diri! Fani marah melihat nama Anggita tertera dilayar ponselnya.


Berkali-kali Anggita menelpon, tapi tetap tak di gubris. Anggita memutuskan untuk menemui Fani di rumah. Tak mau menunggu lama, Anggita meraih kunci mobil dan turun ke bawah. Lidia yang melihat anaknya terburu-buru mengejar Anggita dan berusaha menghentikannya.


"Anggita...! mau kemana kamu? Anggita...!" Lidia berteriak memanggil anaknya.


Anggita tak memperdulikan panggilan Lidia. Ia menyetir mobil sendiri. Diperjalanan ia memarahi pengendara lain karena tidak membiarkannya menerobos dan mendahului yang lain. Beberapa kali Anggita menekan klakson mobilnya dan membuat pengendara lain terganggu.


"Minggir doooong!" teriak Anggita pada pengendara lain.


"Kamu g lihat kalau jalanan macet, ha!" teriak pengendara lain.


Seorang pengendara mengenali Anggita. "Dia kan model yang bertunangan tapi di tolak ama laki-lakinya, ha ha ha!" Pengendara itu menertawai Anggita.


Anggita melempar mereka dengan botol air mineral dan mengenai pengendara lain.


Anggita menutup kaca mobilnya karena tak ingin lagi berdebat. Bukan pujian yang dia dengar, tapi hinaan. Menunggu macet berlalu, Anggita kembali menghubungi Fani, tapi g di respon sama mantan ibu calon mertua.


Jalanan mulai sepi, Anggita tancap gas menuju kediaman Fani. Tiba di rumah Fani, Anggita berpapasan dengan Furqan yang baru pulang dari kantor. Furqan masuk lebih dulu tanpa mengindahkan Anggita yang juga ada didepan pintu masuk. Anggita masuk dan langsung menuju kamar Fani.


Tok! tok! tok!


"Tante... buka pintunya!" Teriak Anggita mengharap dibukakan pintu oleh Fani. Bukannya membuka pintu, Fani melempar sesuatu ke arah pintu. Anggita menjerit karena kaget.


"Aaaaaaakh!"teriakan Anggita. Bunyi keras membuat seisi rumah berhamburan ke depan kamar Fani kecuali Furqan.


"Ada apa ini?" tanya Susi pada Anggita.

__ADS_1


Anggita mengangkat bahunya sebagai jawaban g tahu apa yang terjadi. Susi mengetuk pintu kamar ibunya.


Tok! tok! tok!


"Bu...ibu kenapa sih? dan Kamu Anggita, jika ibu tidak membuka pintu kamarnya, itu artinya dia tidak ingin bertemu denganmu. Ngerti dooong! jadi orang g peka banget sih. Kamu g ada kerjaan lain selain membuat masalah?" tanya Susi pada Anggita.


"Eh, jaga ucapanmu ya! siapa yang buat masalah? aku datang ke sini mau bertemu tante Fani, bukan bikin masalah. Jaga tu mulut ya!" Anggita marah dan memperingatkan Susi agar menjaga mulutnya.


"Tapi...Tante yang ingin kamu temui itu g mau ke temu kamu. Bisa lihat kan, kalau ibuku g mau buka pintu dan g mau bertemu dee ngan mu, ngerti!" Susi makin kesal dengan Anggita yang memaksakan diri ingin bertemu ibunya.


"Kalian bisa diam g? kak...kalau kak Anggi g mau pulang, aku panggilkan satpam untuk menyeret kak Anggi dari sini. Pergi g?" ancam Fiona.


Anggita pergi dengan perasaan kesal meninggalkan dua bersaudara itu. sementara yang lain hanya sebagai penonton. Furqan memilih duduk diam di balkon dan memikirkan konferensi pers tentang Aldi dan Annisa.


Furqan bertanya pada dirinya sendiri.


Apakah ada yang tidak ku ketahui tentang kerajaan Darmajaya? Aku harus cari tahu tentang Darmajaya, Furqan bertanya pada dirinya sendiri. Furqan tidak tahu sedikit pun tentang pamannya Darmajaya. Karena setelah meninggal, Hartawan bekerja keras untuk menghapus jejak Darmajaya dari keluarganya. Susi dan Furqan tidak diperbolehkan keluar rumah dari kecil oleh Hartawan dan Fani agar tidak mendengar desas desus tentang Darmajaya. Tak ada yang berani buka suara tentang Darmajaya. Setiap ada yang membahas kejayaan Darmajaya, keluarga mereka akan diancam oleh preman-preman suruhan Hartawan. Perlahan, kehidupan keluarga Darmajaya mulai terlupakan. Hartawanpun bebas mengelola perusahaan "Putra Jaya" hingga Ia sendiri meninggal dalam sebuah kecelakaan dan digantikan eh putranya yaitu Furqan yang kini semakin sukses sebagai pengusaha muda.


Furqan menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang pengusaha Darmajaya.


"Cari tahu tentang Darmajaya, jangan ada yang terlewatkan. Besok saya tunggu laporanmu!" perintah Furqan.


"Baik, pak!"


Furqan kembali ke kamar dan merebahkan diri. Dalam kesendiriannya, ia menatap langit-langit kamarnya, kemudian meluapkan kata hatinya untuk Annisa.


Annisa... Aku merindukanmu! jangan biarkan yang terjadi beberapa hari ini, menjadi penghalang dalam hubungan kita. Sungguh, engkau satu-satunya yang mengisi kesendirianku tanpa noda. Aku memang kuat dalam menghadapi badai dalam bisnis tapi aku tak sanggup menerima kenyataan jika aku kehilanganmu!


Annisa...Engkau datang dengan kesucian. Engkau tak rela ku sentuh walau hanya untuk menyingkirkan debu di pipimu. Aku tahu, kau jaga hati dan cintamu untukku. Yang kuyakini, cinta sejati ku adalah dirimu dan aku akan berjuang untuk memberikan ikatan suci padamu!.

__ADS_1


Setetes air bening menyentuh pipinya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika perjalanan cintanya dengan Annisa karam karena badai. Cintanya pada Annisa membuatnya lemah bagai batu karang hancur karena deburan ombak.


__ADS_2