Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Dua Sahabat Bekerja sama


__ADS_3

Setelah mendapat ancaman dari Furqan, Heru menghubungi Fani. Fani yang sedang sarapan pagi menerima panggilan Heru dan menjauh dari meja makan.


"Iya, Her! ada apa?'


"Fani...saya tidak mau tahu, bersihkan namaku dari masalahmu?"


"Apa maksudmu, Her?"


"Salah satu anak buahku ada di tangan Furqan. Aku baru saja berbicara dengannya dan dia mengancam ku, Fani! wanita yang diculik anak buahku adalah kekasihnya. Kalau aku tahu targetmu adalah kekasihnya Furqan, aku tidak akan membantumu. Furqan akan membawa anak buahku ke kantor polisi. Kamu tahu kan, apa yang akan terjadi jika sudah dikantor polisi?"


"Apa? kantor polisi?!"


"Kemana dia membawanya?"


"Aku lihat seperti di apartemen. Cepat kau bebaskan dia sebelum di bawa ke kantor polisi!"


"Oke, oke! kamu tenang dong, jangan membuatku g bisa berpikir!" Fani mematikan ponselnya secara sepihak. Tanpa basa basi, ia segera meluncur ke apartemen putranya. Saat akan masuk ke dalam, Fani di cegah oleh anak buah Furqan yang sedang jaga di depan.


"Nyonya dilarang masuk tanpa izin bos!"


"Kamu tidak tahu saya siapa? saya ibunya bos kamu. Minggir...saya mau masuk!"


"Siapa pun nyonya, kami tidak akan mengizinkan nyonya masuk sebelum di izinkan bos!"


Fani mencari cara agar bisa masuk. Dia pura-pura pingsan di depan anak buah Furqan. Anak buah Furqan heran melihat ibu bosnya pingsan tiba-tiba. Bukannya diangkat dan dibawa masuk ke dalam, seorang dari mereka justru minta izin untuk menampar Fani.


"Maaf nyonya, saya harus menampar nyonya. Mungkin agak sakit, karena saya akan menampar nyonya dengan sekuat tenaga saya!saya ini orang nekat nyonya, kalau tidak percaya jangan salahkan saya jika nyonya benar-benar pingsan. Permisi nyonya!"


Fani berusaha menahan diri untuk tidak terpancing dengan ucapan anak buah Furqan. Anak buah Furqan yang lain ikut menambah rasa takut Fani.


"Go...bagaimana kalau dia mati karena kuatnya tamparanmu?"


"Kalau dia mati, kita buang saja mayatnya. Bos g tahu kalau ibunya datang ke sini. Iyakan?" jawab Gogo.


"Benar, Go!" Lakukan saja, dari pada kita dapat masalah karena ibu ini!" ucap yang lain.


Fani merasakan kalau anak buah Furqan yang bernama Gogo akan menamparnya. Segera ia bangun dari kepura-puraannya dan memarahi mereka.


"Apa katamu? kamu mau menamparku?!"


Seketika tawa mereka berempat pecah karena berhasil membuat Fani terciduk.


"Kurang ajar! berani sekali kamu mau menampar ibu dari bosmu!" Fani memarahi Gogo.


"Nyonya memang ibu dari bos kami, tapi bos kami bukan nyonya tapi anak nyonya. Bos kami juga sudah mengingatkan, siapapun yang datang ke sini termasuk nyonya dilarang masuk tanpa izinnya. Silahkan nyonya pergi dari sini, sebelum kami seret keluar!" Gogo mengusir Fani dengan tegas. Fani terpaksa meninggalkan apartemen Furqan dengan kegagalan.

__ADS_1


Gogo menghubungi bosnya dan menceritakan kedatangan ibunya. Furqan paham tujuan ibunya datang keapartemennya. Sudah pasti ingin membebaskan preman yang disandranya. Furqan mencoba menghubungi ibunya dan Fani segera menerima panggilan dari Furqan.


"Fur...kamu di kantor! ibu keapartemen kamu, tapi ibu dilarang masuk oleh anak buahmu." Fani mengadu pada anaknya.


"Mereka hanya menjalankan perintahku, Bu!"


"Tapi, kenapa ibumu sendiri di larang masuk?!"


"Ibu sudah tahu kalau aku dikantor, tapi kenapa ibu malah datang ke apartemenku? seharusnya ibu ke kantor kan?!"


"Ibu pikir kamu di apartemen, nak!"


"Maaf, Bu! aku sudah menghabisi orang suruhan ibu." Furqan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Fur...Furqan! dasar anak sialan." Fani tak mampu menahan amarahnya, kepalanya seakan ingin pecah.


Brengsek itu pasti sudah buka mulut. kenapa aku tidak menghabisinya saat itu. Bodoh, benar-benar bodoh! Fani marah pada dirinya sendiri. Kemudian, ia tancap gas pulang ke rumahnya. Tiba dirumah, ia berondong pertanyaan oleh anaknya Susi.


"Ibu dari mana? sepertinya, akhir-akhir ini ibu ada masalah?!" tanya Susi diselimuti rasa penasaran pada ibunya.


"Bukan urusan kalian!" jawab Fani.


"Bukan urusan kami gimana, Bu? Furqan memberikan pekerjaan padaku untuk mengawasi ibu, kalau ibu terus menerus keluar rumah g jelas ke mana, terpaksa deh aku ikut jika ibu pergi!" Susi membuat ibunya pusing tujuh keliling. Tak mau berdebat dengan putrinya, Fani langsung masuk kamar kemudian, menghubungi Heru.


"Her...aku tidak bisa membebaskan anak buahmu, Furqan sudah menghabisinya!"


Furqaaaaaan! knp melawan ibumu sendiri. Ibu melakukan ini demi kamu, nak! Fani menyesalkan sikap Furqan padanya.


Ponsel Fani berdering. Fani memaksakan diri untuk melihat siapa yang menghubungi. Anggita terus menerus menghubunginya. Fani malas dan tak ingin berdebat dengan siapapun saat ini.


"Bu...Tante tidak ingin bicara dengan Anggita. Tante tidak bisa memperlakukan Anggita seperti ini, Bu!" keluh Anggita pada ibunya.


"Sepertinya Fani ada masalah. Sikap Fani berubah setelah adanya berita tentang siapa Annisa dan Aldi. Ibu harus cari tahu soal ini."


"Anggi...ibu ke rumah Tante Fani dulu!"


"Aku ikut!"


Keduanya langsung berangkat menuju ke rumah Fani. Fani dan Anggita langsung masuk ke rumah dan Susi menyambut mereka dan menatap lekat pada Anggita.


Dedemit ini g ada malunya, udah di usir masih juga nekad datang ke sini. Untung kau datang dengan ibumu, kalau tidak sudah ku usir kamu dari sini! ucap Susi dalam hati.


Tante, Anggi...ngapain kalian kesini?"


"Tante mau ketemu ibumu. Dimana jeng Fani?"

__ADS_1


"Ada dikamar. Aku panggilkan dulu." Susi langsung menuju kamar ibunya dan mengetuk pintu.


Tok! tok! tok!


"Tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Susi memberitahu ibunya tentang kedatangan Anggita dan ibunya.


"Bu...ada Tante Lidia dan Anggi tu, mereka ingin ketemu ibu!"


Mendengar putrinya menyebut nama Lidia dan Anggita, Fani merasa dongkol. Meskipun begitu, ia memberitahu Susi untuk menyuruh kedua orang itu masuk ke kamarnya saja. Susi heran dengan ibunya.


Anak sendiri dilarang masuk, giliran dedemit itu yang datang, malah di suruh masuk. Penting mana sih, anak atau teman?! Susi bertanya pada dirinya sendiri. Susi menemui ibu dan anak tersebut.


"Tante, Anggi...kalian ke kamar ibu saja!"


Anggita dan Lidia masuk ke kamar Fani. Lidia kaget dengan kondisi Fani. Bungkus rokok memenuhi tempat sampah. Kamar seperti kapal pecah.


"Jeng...kamu habis ngapain? ko' kamar seperti kapal pecah begini? kamu ada masalah? cerita dong ke aku, mungkin aku bisa membantumu!"


"Masalahku berawal dari kebodohan putrimu. Tapi sudahlah, percuma juga di bahas. Ada apa kamu ke sini? cepat katakan!" ucap Fani dengan nada kesal. Anggita ingin bicara, tapi ditahan ibunya


"Aku ingin membicarakan tentang Ang...."Ucapan Lidia terpotong karena bentakan Fani.


"Kalau mau membahas itu, lebih baik kalian pulang. Aku lagi ada masalah dan jangan menambah masalahku. Sebaiknya kalian pergi!" perintah Fani paa Lidia.


"Kamu kenapa sih jeng? cerita dong ke aku kalau ada masalah, jangan marah tidak jelas kayak begini!"Lidia menasehati sahabatnya.


"Kamu udah nonton berita kan? seharusnya kamu tahu masalahku dimana, jangan karena usiamu yang sudah tua, membuatmu lupa siapa Darmajaya dan Berlian. Apalagi kemunculan Erina dan kedua anak itu." Fani mengingatkan Lidia.


Lidia berpikir sejenak. Tiba-tiba ia berdiri karena terkejut.


"Aku ingat sekarang. Lalu apa rencanamu?" tanya Lidia


"Entahlah. sudah berulang kali aku ingin melenyapkan gadis dan wanita tua itu, tapi selalu gagal. Heru pun sudah membantuku, tapi gagal bahkan anak buahnya yang menculik Annisa sempat di tahan oleh Furqan dan kemudian menghabisinya. Aku khawatir, kalau sampai preman sialan itu buka mulut, entah apa yang harus aku katakan pada Furqan. Apalagi sekarang, Furqan sudah mulai mencurigai ku."


"Aku akan membantumu mengatasi mereka!"


"Gimana caranya? kamu saja hanya seorang janda sama seperti aku. Aku memang punya segalanya, tapi aku tidak bisa bertindak lebih."


"Kamu lupa siapa alm.suamiku? dia itu mantan bos mafia. anak buahnya di mana-mana. Soal berurusan dengan mereka, serahkan padaku!" ucap Lidia pada Fani.


"Benarkah? aku senang mendengarnya. Aku percayakan padamu. Ini baru namanya dua sahabat bekerja sama dalam menumpas lawan!" Mereka berdua berpelukan. Anggita bingung dengan apa yang dibicarakan wanita-wanita tua di depannya.


"Bu...Tante! kalian bahas apaan sih, aku jadi bingung. Apa urusan kalian dengan pengacara hebat bernama Erina itu? dan apa benar yang disampaikan oleh pengacara itu, kalau Aldi adalah putra dari orang terkaya di negara kita ini? kalau benar, berarti Tante ada di bawah mereka dong?!"


"Jangan membuatku makin benci padamu!" Fani kesal dengan Anggita yang membandingkan dirinya dengan Aldi.

__ADS_1


"Sudah, kalian seperti kucing dengan tikus. Anggi! ayo kita pulang, ada yang harus ibu selesaikan. Jeng aku pamit ya." Lidia dan Anggita pamit pulang. Fani merasa beruntung karena sahabatnya mau membantunya.


__ADS_2