
Setelah kejadian penculikan, Fitri dan Kania resign dari rumah makan. Annisa membantu sahabatnya dengan memberikan mereka pekerjaan. Fitri dan Kania membantunya dalam
menjalankan bisnis onlinenya. Omset yang mereka dapatkan sangat fantastis. Annisa tidak tertarik bekerja di kantor. Semua urusan perusahaan, ia serahkan pada kakaknya. Ketika sedang duduk santai bersama Fitri dan Kania, ponsel Annisa berdering.
"Nis...ada yang nelpon tu!" Fitri memberitahu Annisa
"Angkat dulu Fit, aku lagi sibuk ne!"
"Okayyyy!" Fitri memenerima panggilan yang ternyata adalah Siska.
"Halo Sis!" sapa Fitri
"Fit, rumah makan kebakaran!"
"Apa? kebakaran? Nis...Nia...rumah makan kebakaran, bagaimana nih?!" Fitri panik g tahu mau berbuat apa.
"Kalian cepat kemari ya, aku tunggu!" ucap Siska panik
"Iya, kami segera ke sana!" Fitri berlari ke belakang memberitahu Aldi soal kebakaran. Kemudian, ia bergabung dengan Annisa dan Kania yang sudah ada di garasi.
"Kamu dari mana? buru-buru malah hilang g jelas?!" Kania marah pada Fitri.
"Aku beritahu kak Aldi, siapa tahu bisa membantu kita!"
Ketika Annisa, Kania dan Fitri hendak masuk mobil, tiba-tiba Aldi muncul dari dalam.
"Tunggu...Kakak ikut! nanti kakak yang bawa. Kalau Annisa yang nyetir, kalian bukan menuju rumah makan tapi ke rumah sakit!" ucap Aldi meremehkan Annisa di depan sahabatnya. Fitri dan Kania menertawai Annisa.
"Jangan bercanda kak, aku dah bisa nyetir lo!" Annisa tak mau di remehkan.
"Pak...nanti kalau ibu pulang, beritahu beliau kami ke rumah makan!" ucap Aldi pada pak Sugi.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" jawab pak Sugi.
Aldi meninggalkan kediamannya menuju rumah makan. Setibanya di sana, warga, polisi dan petugas pemadam kebakaran sudah selesai memadamkan api. Siska segera menyambangi mereka. Mereka berempat keluar dari mobil dan mendekati Siska.
"Sis...kok bisa terjadi kebakaran sih?!" tanya Annisa heran.
"G tahu juga, Nis! Aku kebetulan lewat sini, aku lihat kayak ada asap keluar dari dalam. Aku cari bantuan untuk bisa masuk tapi g ada orang, mana pagar terkunci lagi. Akupun nelpon Bu Farah dan yang lainnya termasuk kamu. Sebelum semua nyampe ke sini, apinya semakin membesar. Tidak lama kemudian, Pak Fendi dan istrinya juga datang bersamaan dengan mobil damkar. Untung saja pak Fendi bertindak cepat, kalau tidak semua tinggal abunya saja!" jelas Siska.
Tak jauh dari mereka, Farah, Fendi dan Ainun serta karyawan sedang ngobrol. Farah dan semua karyawan rumah makan kelihatan sedih. Pasukan Aldi bergabung bersama Fendi dan istrinya.
"Fend...!" sapa Aldi. Aldi menoleh mendengar sapaan sahabatnya.
"Al...!"
"Kami ikut berduka atas musibah yang terjadi!"
"Terima kasih, Al!" jawab Fendi dan istrinya. Ainun tersenyum melihat Annisa, Fitri, Kania dan Siska. Annisa, Ainun dan yang lain menjauh dari Fendi dan Aldi karena sedang ngobrol dengan polisi.
"Kak Ainun gimana sih, bukannya sedih malah muji aku?!" Annisa heran dan juga malu dipuji oleh mantan bosnya.
"Kita sedang tertimpa musibah, Neng! kalian malah saling puji memuji. Gimana sih?!" Siska heran bercampur kesal.
"Siska...semua hanyalah titipan. Jika sudah seperti ini, harus gimana lagi? harus nangis meraung-raung karena kehilangan harta, gitu?!" ucap Ainun dengan ekspresi bercanda
"Ya g juga bos, tapi kan?" Siska g berani melanjutkan ucapannya.
"Siska...setiap kejadian atau musibah, pasti ada hikmahnya. Dan, hikmahnya akan selalu lebih baik. Lihat Fitri dan Kania, hikmah dari penculikan itu adalah Fitri dan Kania lebih dekat dengan Annisa dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Intinya, bersyukurlah karena tidak ada korban jiwa dalam kebakaran. Kalau hanya harta benda, itu masih bisa di cari!" Ainun menasehati Siska.
"Lalu bagaimana dengan kami, bos? rumah makan ini tempat kami menyambung hidup, sumber keuangan kami, tapi sekarang?!" tanya Siska mengkhawatirkan kelanjutan hidupnya. Berbeda dengan Siska yang berani bertanya Hendra, Egi dan yang lainnya memilih diam.
"Kalian tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Meskipun rumah makan ini terbakar, bukan berarti kalian kehilangan pekerjaan. Kalian jangan lupa, siapa Aldi dan Annisa serta siapa suami saya?" Ainun memberi lampu hijau pada karyawannya.
__ADS_1
"Maksud, Bu Bos?!" Siska penasaran dengan ucapan bosnya.
"Maksud kak Ainun, kalian mau kerja dimana setelah ini? apakah bekerja denganku atau dengan kak Ainun? sebab, Bu Farah akan dipindahkan ke restoran baru kak Ainun yang bekerja sama dengan perusahaan Furqan sebagai manajer, gitu Non!" Annisa menjelaskan maksud Ainun.
"Semudah itukah?!" Siska makin penasaran.
Ainun mengangkat kedua tangannya sebagai jawaban atas pertanyaan Siska.
"Biarkan polisi yang mengurus semuanya. Saya tunggu keputusan kalian, paling lambat besok ya!" Ainun meninggalkan Annisa dan yang lain, kemudian bergabung dengan suaminya.
"Nis...aku seolah tak percaya dengan semua ini. Rumah makan baru saja terbakar dan petugas saja belum pergi dari sini, tapi kalian sudah membahas soal yang lain!" Siska makin pusing memikirkan tindakan bos dan sahabatnya.
"Sis...Kak Ainun sudah merencanakan semua ini sebelumnya. Setelah kak Aldi sudah resmi menjadi CEO diperusahaan kami, kak Ainun dan aku membahas pekerjaan untuk kalian. Rencananya, kak Ainun akan mencari pengganti Bu Farah untuk mengurus rumah makan ini, tapi ke buru terbakar. Ya sudah, jadi lebih mudah kan prosesnya!" Annisa menjelaskan semuanya pada Siska.
"Nis...tau g, aku merasa sangat beruntung, sangat sangat beruntung, aku bisa bekerja pada Bu Ainun dan mengenal kamu. Kalian berdua adalah anugrah bagi kami. Selama ini, aku selalu berpikir negatif jika melihat orang tajir melintir karena mereka identik dengan keangkuhan, kesombongan dan juga pelit. Mereka membantu orang karena hanya ingin di puji. Bukan hanya itu, mereka selalu ingin dihormati dan diagungkan layaknya tuhan, sementara mereka hanyalah manusia biasa, hanya ciptaan dan apa yang mereka miliki hanyalah titipan. Jika orang tua kaya, maka anaknya akan bertindak seperti raja. Tapi kamu dan Bu Ainun berbeda. Kalian berdua tidak mau menampakkan kilauan permata pada diri kalian. Tak ada yang tahu, kebaikan yang kalian lakukan. Terima kasih sudah menjadi sahabat kami!" Siska menitikkan air mata sedih dan bahagia.
Kata-kata yang diucapkan Siska, membuat yang lain ikut sedih tapi bahagia. Mereka bersyukur bisa mengenal Ainun dan Annisa. Banyak hal yang mereka pelajari dari dua wanita tajir tersebut.
Tak lama kemudian, Furqan datang dan langsung menemui Fendi yang sedang ngobrol dengan Aldi dan Ainun.
"Fend...! maaf aku datang terlambat. Soalnya aku baru tahu dari Annisa kalau rumah makan terbakar!" Furqan merasa bersalah pada sahabatnya.
"G apa-apa, Fur! polisi sudah mengurus semuanya.
"Lalu bagaimana dengan karyawan Rumah Makan?" tanya Furqan
"Ainun dan Annisa sudah mengurus mereka. Bu Farah akan aku pindahkan ke restoran kita sebagai manajer. Sedangkan yang lain, akan memilih apakah bekerja di perusahaan Aldi atau di perusahaanku atau mungkin diperusahaanmu. Bagaimana?" Tanya Fendi
"No problem! aku setuju-setuju saja. Kalau kamu yang memilih mereka, sudah pasti kemampuannya tidak diragukan lagi!'" Furqan setuju dengan usulan Fendi.
Satu kali mendayung, dua pulau terlampau. Itulah kata yang tepat untuk disematkan pada Aldi, Fendi dan Furqan. Mengurus rumah makan yang terbakar sekaligus mengurus karyawan dan memberikan mereka pekerjaan.
__ADS_1