Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Annisa Diculik, Kekasih Bertindak.


__ADS_3

Aku harus tenang, tidak boleh panik dengan kemunculan Erina dan penerus Darmajaya. Lebih baik aku memikirkan cara menyingkirkannya.


Fani bangun dari tidurnya karena sudah siang. Ia melakukan gerakan kecil untuk menyegarkan otot-ototnya. Fani keluar kamar dalam keadaan fresh dan cantik. Ia menyuruh mbok Iyem menyiapkan sarapan pagi secepatnya.


"Mbok...cepat siapkan sarapan pagi dan suruh semuanya sarapan bersama!"


"Baik, Nya!" jawab mbok Iyem. Setelah mbok Iyem menyiapkan sarapan, Furqan, Fiona dan Susi muncul dari kamar masing-masing dan langsung bergabung dengan ibunya. Susi senang melihat ibunya sudah normal seperti biasa.


"Beberapa hari ini, ibu kenapa sih uring-uringan di kamar, ibu putus cinta?" tanya Fiona pada ibunya.


"Btw, kalian udah nonton berita g soal kak Aldi dan kak Annisa? g nyangka, ternyata mereka anak konglomerat. Ibu pasti nyesal kan menjodohkan kak Furqan dengan kak Anggita? buang mutiara yang terbungkus karena tak ingin terjamah oleh tangan kotor, ibu malah milih sampah yang berkilau karena terpaan sinar mentari!" ucapan Susi sedikit mengganggu pendengaran ibunya. Fani berusaha mengendalikan diri, apalagi ada Furqan didepannya.


"Susi...meskipun ibu kecewa dengan Anggita bukan berarti kamu bisa menyebut Anggita sampah. Dia wanita berkelas, wanita karir dan cantik!" Fani membela Anggita.


"Cantik karena polesan. Lihat Annisa, kecantikannya natural tanpa embel-embel riasan, iya kan kak?" Fiona memuji Annisa.


"Hummm. waktu Annisa ke rumah kita, aku memperhatikan wajahnya dan aura positifnya membuatku terpesona, kecantikannya terpancar alami, tak seperti Anggita. Kalau tanpa riasan masih lebih cantik aku!" Susi membandingkan Annisa dan Anggita.


Fiona mengangkat jempolnya karena penilaiannya tentang Annisa sama dengan kakaknya.


"Setuju kak!" ucap Fiona.


"Yang paling menyedihkan, pembunuhan orang tuanya. Kakak akan membantu mereka menemukan pembunuh itu dan tidak akan mengampuninya. Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang keluarga Darmajaya!" Ucapan Furqan membuat tenggorokan ibunya tersendat.


"Minum, Bu!" Fiona memberikan segelas air putih untuk ibunya.


Susi dan Furqan saling pandang satu sama lain.


"Ibu kenapa, apa ibu tahu sesuatu tentang Darmajaya?!" lagi-lagi Furqan membuat ibunya sesak napas.


"Ibu g tahu apa-apa tentang mereka. Ibu saja baru tahu kalau 20 puluh tahun lalu ada pengusaha terkaya bernama Darmajaya."


"Ibu pasti tahu. Bukankah Aldi sepupu aku? itu artinya, ia keluarga dekat kita. G mungkin kan saudara sendiri ibu g tahu?"


"Dia bukan sepupumu. waktu itu, ibu kasihan padanya karena dia hidup sendiri dan tidak memiliki keluarga. Agar kamu peduli padanya, terpaksa ibu mengakuinya sebagai anak dari pamanmu!" Fani berbohong pada putranya.


Furqan memandang ibunya curiga.


"Paman yang mana, Bu? bukankah ayah dan ibu sama-sama anak tunggal?!" selidik Furqan.


"Pamanmu dari keluarga jauh ibu." Fani asal menjawab.


Aku tahu Bu, ada yang ibu sembunyikan dariku, bathin Furqan


"Lebih baik cepat habiskan makanan kalian, jangan ada yang bertanya ini dan itu!" perintah Fani pada ketiga anaknya.


Selesai sarapan, Fani keluar rumah untuk menemui sesorang yang akan membantunya menghadapi Erina. Dalam perjalanan, ponselnya berdering dan ia menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Halo...sayang, sudah di mana?" tanya Heru pada Fani .Heru adalah duda beranak satu dan merupakan pengusaha batubara. Mereka sahabatan sejak SMA.


"Aku sudah di jalan, tunggu aku di tempat biasa!"


"Oke!" Jawab Heru.


15 menit kemudian, mobil mewah Fani memasuki area restoran mewah tempat nongkrongnya orang-orang borjuis. Heru tersenyum melihat sahabatnya turun dari mobil.


"Apa kabar, Kety?" Heru menyapa Fani dengan panggilan masa SMAnya.


"Baik Tomjer!" jawab Fani.


Duda dan janda yang udah lama g ketemu, berpelukan ala teletubis.

__ADS_1


"Ayo duduk! udah lama lo kita g ketemu! gimana perusahaanmu?" tanya Fani.


"Sangat maju. Aku dengar, kamu salah satu miliader di negara kita ini!"


"Begitulah! Tapi sekarang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Fani.


"Tentang apa?"


"Keluargaku, terutama perusahaan yang ada ditanganku. Penerus Darmajaya kini sudah di ketahui publik. Pengacara yang mendampinginya membuatku tidak tenang, dia mempermainkan aku. Untuk melawannya melalui jalur hukum, aku pasti kalah. Yang paling kutakutkan, putraku akan membantu mereka. Kau mau membantuku kan?" tanyaFani penuh harap.


"Bantuan apa yang kamu inginkan?"


"Menghilangkan jejak mereka seperti aku dan suamiku menghilangkan jejak Darmajaya dan istrinya. Sudah berapa kali aku melakukan rencana untuk melenyapkan mereka, tapi selalu gagal. Mereka mengetahui rencanaku lebih dulu sebelum orang suruhanku bergerak."


"Berikan ponselmu!" pinta Heru. Fani memberikan ponselnya pada Heru.


"Pelayan!" panggil Heru.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Mana ponselmu?"


"Di loker. Untuk apa ya, pak?"


"Cepat ambilkan dan bawa ke sini!"


Pelayan mengambil ponselnya dan menyerahkannya pada Heru. Heru mengeluarkan simcard ke duanya. Ponsel pelayan ia berikan untuk Fani, ponsel Fani ia berikan untuk pelayan.


"Pak...kenapa ponsel saya dikasih ke ibu ini?!"


"Ambil saja. ponsel ini lebih mahal dari ponselmu, anggap saja sebagai bonus. Kamu boleh pergi!" Pelayan pergi dengan perasaan heran.


"Tomjer...ponselku?!"


"Apa? di sadap?!" Fani kaget dengan ucapan Heru.


"Kety...Kety! percuma kamu jadi konglomerat jika menangani hal kecil itu saja kamu tidak bisa. Seharusnya, kamu lebih bebas mengendalikan orang-orang seperti mereka. Sehebat apapun seseorang, pasti memiliki kelemahan. Cari tahu kelemahannya sebelum kamu bertindak. gunakan kuasamu untuk melawannya." Saran Heru untuk sahabatnya.


"Hal kecil katamu. Kamu tidak tahu sepak terjang Darmajaya dan pengacaranya. Mereka luar biasa, Heru! apalagi, pengusaha ternama lainnya juga ada dibelakang mereka." Heru berpikir sehebat apakah Darmajaya dan pengacaranya.


"Untuk sementara, aku akan mengirim beberapa orang suruhanku untuk membantumu. Aku sendiri harus tahu, siapa Darmajaya serta pengacaranya. Aku tidak ingin bertindak gegabah. Mendengar ceritamu aku yakin, musuhmu bukan orang sembarangan. Aku tidak bisa menemanimu, karena perusahaan membutuhkanku." ucap Heru pada Kety.


Heru menghubungi orang suruhannya untuk bertemu mereka. Pertemuan antara Heru, Fani dan orang suruhan Heru berlangsung secara tertutup.


"Ingat, jangan sampai gagal!" Heru memperingatkan anak buahnya


"Baik, bos!"


Heru kembali ke Kalimantan sedangkan Fani menyempatkan diri berbelanja ria. Lelah berbelanja, Fani merasa perutnya sudah keroncongan. Fani mencari restoran mewah disekitar pusat perbelanjaan. Saat hendak duduk, matanya melihat dua sosok yang di bencinya. Ia mensharelock lokasinya serta mengambil foto secara sembunyi-sembunyi lalu di kirim ke orang suruhan Heru.


"Saya tunggu kalian di samping restoran!"


Orang suruhan Heru datang kerestoran tempat Fani ingin makan. Preman-preman setia Heru mendekati Fani.


"Lakukan dengan baik, bila perlu bawa mereka ke hadapanku. Nanti saya beritahu tempatnya dimana kalian bertemu saya."


"Baik, bos!"


Preman-preman itu berpura-pura sebagai pelanggan resto dan duduk tidak jauh dari kursi Erina dan Annisa. Agar tak dicurigai, mereka memesan makanan. Sebelum pesanan mereka datang, seorang preman mengeluarkan sebuah pipa kecil dari jaketnya. pipa tersebut mengeluarkan asap yang apabila terhirup akan menyebabkan pusing bahkan pingsan. Annisa yang sedang menikmati makanannya tak sengaja menoleh ke belakang dan asap tersebut terhirup olehnya. Erina terlambat menyadari dan memberitahu Annisa untuk menutup hidungnya. Tanpa disadari, asap tebal menghalangi pandangan Erina dan pengunjung restoran panik. Erina bergerak menjauh agar bisa bergerak leluasa. Saat keadaan sudah normal, Annisa sudah tidak ada ditempat. Annisa di culik oleh orang suruhan Fani.


Erina segera menghubungi putranya.

__ADS_1


"Andrew, aktifkan alat pelacak pada Annisa, dia diculik!"


"Baik, Bu!"


Andrew mengaktifkan alat pelacak yang dalam sepatu Annisa. Andrew memantau ke mana Annisa akan di bawa, begitu pula Erina. Ia memantau kemana Annisa di bawa lewat ponselnya.


Ketua preman yang menculik Annisa menghubungi Fani untuk menanyakan ke mana Annisa harus di bawa.


"Halo Bos! kemana kami membawa gadis ini?"


"Kalian mendapatkan gadis itu? kerja yang bagus. Saya akan mensharelock lokasinya. Tunggu saya di sana!"


Ting!


Pesan masuk di ponsel sang ketua.


"Bawa dia ke alamat ini!" perintah kepala preman pada anak buahnya.


Dalam perjalanan, Erina menghubungi Aldi yang sedang berada di kantor.


"Aldi, temui ibu di dekat taman kota, Annisa di culik!"


"Apa? Annisa di culik? aku segera ke sana!". Aldi panik mendengar adiknya di culik. Furqan pun panik mendengar Aldi menyebut Annisa di culik.


"Aku ikut!"


"Ayo!" ajak Aldi. Kedua berlari menuju parkiran. Aldi yang menyetir mobil dan mobil meluncur tanpa kendala.


Karyawan keheranan melihat dua pria gagah itu panik dan lari ke parkiran.


"Van, itu para bos kenapa ya? tanya Marisa.


"Tanya aja sendiri, jangan tanya aku, aku sibuk!" Vania enggan menjawab walau dia sendiri heran dengan kedua big bos tersebut.


Marisa yang tak mendapat jawaban kesal dan pergi meninggalkan Vania yang sedang sibuk.


Aldi dan Furqan sampai di taman kota. Mereka bertiga akan naik mobil bersama.


"Bu...naik mobilku saja!" ajak Furqan.


Erina memberikan alamat terakhir preman itu membawa Annisa. Setibanya ditempat yang di tuju, Erina tak ingin buang waktu. Dia langsung masuk ke sebuah gedung tua sedang kan Aldi dan Furqan lewat belakang. Tak jauh dari pintu masuk, Erina melihat Annisa hendak digantung. Sedangkan Fani dalam perjalanan menuju gedung tua tersebut. Seorang preman menyadari kedatangan Erina.


"Akhirnya kau datang nenek tua!"


Erina melirik preman tersebut sembari melihat situasi untuk mendekati Annisa. Ia tak bisa bertindak gegabah, salah sedikit Annisa akan terluka oleh pisau yang ditodongkan padanya.


Aldi dan Furqan melumpuhkan beberapa preman yang berjaga-jaga di belakang gedung. Erina melihat Aldi hendak masuk dan menerobos beberapa preman tapi di beri kode oleh Erina agar tetap di tempat sebelum preman lain menyadari kedatangannya. Erina melirik sebuah balok, ketika ada kesempatan beliau bergerak cepat menendang balok tersebut dan mengenai punggung penodong Annisa. Furqan langsung menyerang sedangkan Aldi melepaskan ikatan tangan dan kaki Annisa. Erina menghadapi tujuh preman seorang diri. Usianya yang sudah tua membuatnya sedikit kewalahan.


"Fur...bantu Bu Erina!" pinta Aldi pad Furqan.


Furqan langsung menghajar sisa preman yang melawan Erina.


"Tak kubiarkan kalian menghirup udara segar!"


Buk! krek! uggghh!


Bunyi pukulan yang mengenai perut, bunyi tulang patah dan suara menahan sakit akibat tendangan kaki mengenai bagian bawah perut terdengar berulang kali. Furqan mencengkram seorang preman yang setengah sadar.


"Siapa yang menyuruh kalian menculik ke kasihku? katakan!"


Si preman diam tak mau menjawab.

__ADS_1


"Jangan salahkan saya kalau aku harus membunuhmu!" Furqan menyiapkan pukulan telak untuk melepaskan nyawa preman tersebut, tapi si preman langsung menjawab.


"Bu Fani tuan!" jawab sipreman ketakutan. Setelah menjawab pertanyaan Furqan preman ambruk tak sadarkan diri. Mendengar nama ibunya, Furqan seperti tersengat listrik dan langsung melepaskan cengkeramannya. Ia tak menyangka, ibunya rela melakukan kejahatan sebesar ini. Kemudian, Furqan menemui Aldi dan Erina yang sudah berada di mobil. Mereka berempat langsung meninggalkan gedung tua yang telah dihuni oleh preman-preman sekarat.


__ADS_2