
Berita tentang pertunangan Furqan dan Anggita membuat jagad maya dan dunia nyata menjadi heboh , terlebih lagi kejadian saat konferensi pers. Wanita-wanita sukses yang berstatus single sama seperti Anggita, tergila-gila dengan pengusaha muda bernama Furqan. Saat mereka menyaksikan berita tentang pertunangan itu kacau, mereka tersenyum bahagia dan merasa masih memiliki kesempatan untuk mendekatinya. Kehebohan juga terjadi di rumah makan Sahabat dan keluarga pak Hermawan
Di rumah makan
"What, apa aku g salah lihat? berita apaan ini?" Siska g suka dengan beritanya menyiarkan langsung pertunangan kekasih sahabatnya dengan wanita lain. Tapi kemudian, Siska tertawa terbahak-bahak karena merasa senang dan lucu. Fitri dan Kania mendekatinya dan menanyakan hal yang membuat dirinya tertawa seperti nenek lampir. Sedangkan Egi dan Hendra hanya melirik ke arah Siska.
"Siska! kamu kenapa? kesurupan?" tanya Fitri
"Kamu nonton apaan sih?" Kania ikut bertanya.
"Heboh non, heboh! kalian berdua ketinggalan informasi. Kalian tahu aku nonton apaan?"
"iya nonton apaan? cepat ngomong!" Fitri g sabar ingin segera tahu.
"Aku nonton siaran langsung pertunangan kekasih Annisa dengan seorang model yang pernah menjadi pelanggan kita. Siapa lagi namanya?"
"Anggita?!" jawab Fitri.
"iya!"
"Kamu bukannya prihatin dengan Annisa malah ikut senang dengan pertunangan itu?" protes Fitri
"Makanya, dengarkan dulu ceritaku!"
"Aku sempat emosi tadi, tapi setelah melihat akhirnya ingin rasanya aku berteriak. Dari pada pelanggan kita ketakutan karena teriakanku lebih baik aku tertawa terbahak-bahak. Oh ya, coba buka YouTube, pasti ada!" perintah Siska pada Fitri dan Kania.
Keduanya mengikuti perintah Siska. Setelah nonton sampai akhir, Fitri dan Kania pun tertawa.
"Ha ha ha, kamu kepedean sih! jadinya malu kan?" ucap Fitri yang sedang nonton saat Anggita menampar Furqan.
"Fit, Nia! aku terharu dengan ucapan si ganteng. Dia bilang Dia tidak akan bertunangan dengan siapapun selain Annisa, walaupun dia hanya seorang pelayan rumah makan. Itu artinya, cinta si ganteng teruji asli tidak berkarat, ha ha ha!" ucapan Siska membuat kening Fitri dan Kania berkerut.
"Emang besi berkarat! jangan sembarangan kalau ngomong. Aku senang, ternyata si cakep lebih memilih sahabat kita. Ayo, kembali bekerja." ucap Fitri pada kedua sahabatnya.
Di Rumah Hermawan
Keluarga Hermawan nonton sampai selesai. Hermawan merasa lega dengan keputusan Furqan.
"Untung nak Furqan memilih Annisa, kalau tidak Annisa pasti sedih dan ke cewa, Pak!" ucap Siti pada suaminya.
"Annisa sudah dewasa, Bu! dia bisa menerima segala keputusan dengan bijak. Bapak hanya khawatir, jika Annisa memutuskan hubungannya dengan Furqan."
__ADS_1
"Maksud, Bapak!" tanya Siti pada suaminya.
"Ibu tahu bagaimana hormatnya Annisa pada orang tua? jika orang tuanya Furqan tidak merestui mereka berdua, Annisa pasti akan mengalah. Dia tidak akan membiarkan seorang anak melawan orang tuanya karena dirinya. Semoga saja, ada jalan terbaik untuk mereka berdua!" doa Hermawan untuk Annisa dan Furqan.
"Aamiin! semoga ya, Pak!" Saat keduanya asyik ngobrol, Aisyah tiba-tiba muncul sambil marah-marah.
"Ais... kenapa kamu?"
"Bu! ibu itu g punya hati, masa dia sebut kak Annisa hanya seorang pelayan. Emangnya salah kalau kak Annisa seorang pelayan? mengapa dia melihat orang hanya dari pekerjaannya? dasar tua bangka!" ucap Aisyah membela kakaknya.
"Ais...siapa yang ajarin kamu ngomong kurang ajar? seburuk-buruknya dia, dia tetaplah orang tua. G boleh ngomong gitu, dosa nak!" Siti menasehati anaknya
"Astagfirullah! maafin Ais, Bu! Ais ke bawa emosi mendengar kak Annisa direndahkan."
"Ya udah, jangan diulangi!"
"iya, Bu!" jawab Aisyah. Kemudian Aisyah masuk ke kamarnya dengan menahan emosinya.
Di kediaman Aldi
"Benar apa yang Aldi katakan, kalau Furqan akan memberi kejutan untuk ibunya. Setelah Furqan dan wartawan meninggalkan hotel, Fani marah besar dan mengusir Anggita dan ibunya. Fani menyalahkan Anggita karena ucapannya di bandara. Lidia g terima putrinya disalahkan, diapun balik memarahi Fani. Keduanya hampir saja adu jotos. Kemungkinan Fani akan masuk rumah sakit jika ibu memberi tahu publik soal kami berdua." Aldi menceritakan kondisi Fani.
"Ibu akan membuatnya tidak bisa tidur walau hanya sedetik saja!" ucap Erina. Dua hari lagi, kita akan adakan konferensi pers di rumah makan "Sahabat". Hubungi pemiliknya agar lusa tidak buka untuk umum. Farah, nanti ibu yang hubungi. Soal media, nanti Andrew yang akan lakukan!"
"Ada apa, Al? sepertinya penting?!"
"Aku ingin menyewa rumah makan "Sahabat" untuk mengadakan konferensi pers dua hari lagi. Aku harap kamu tidak keberatan. Berapapun biayanya, akan aku bayar!" ucap Aldi pada Fendi.
"G perlu, Al! aku akan hubungi Bu Farah soal itu. Siapa yang akan konferensi pers?" tanya Fendi pada Aldi.
"Pengacara keluargaku!" Jawaban Aldi membuat Fendi kaget.
"Maksudmu?" tanya Fendi penasaran. Karena yang Fendi tahu, Aldi hanya tinggal berdua dengan adiknya dan tidak pernah tahu kalau Aldi memiliki pengacara keluarga. Itu artinya, Aldi dari kalangan atas.
"Jawabannya saat konferensi pers. Bila perlu kamu datang aja. Bagaimana?"
"Oke! aku akan datang." Kemudian, Fendi menghubungi Farah.
Kring kring kring
Farah yang sedang memeriksa laporan pemasukan dalam waktu satu Minggu, melirik ponselnya. Ia melihat nama dan segera menerima panggilan bosnya.
__ADS_1
"Halo pak Fendi!"
"Bu Farah! Dua hari lagi, akan di adakan konferensi pers di rumah makan. Tolong siapkan semuanya keperluannya. Biarkan meja dan kursi pada posisinya, karena semua media akan di undang, sekalian siapkan makan siang untuk semua awak media." Perintah Fendi pada Farah.
"Baik, Pak! akan kami siapkan semuanya." Farah bertanya-tanya, kira-kira siapa yang menyewa rumah makan untuk konferensi pers ditambah lagi semua awak media akan ditanggung makan siangnya. Selesai menerima telepon dari Fendi, Farah keluar dan menemui anak buahnya.
"Sebelum kita pulang, ada yang ingin saya sampaikan. Dan, kalian pasti akan senang mendengarnya."
Fitri, Siska, Kania dan yang lainnya penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Bu bos. Kemudian Farah menyampaikan kabar gembira itu pada anak buahnya.
"Dua hari lagi, rumah makan kita akan diboking untuk konferensi pers dan semua media di undang. Selanjutnya, makan siang awak media, kita yang siapkan. Artinya, pemasukan kita dua kali lipat melebihi pemasukan dalam seminggu, bahkan lebih." Saat sedang bicara, Farah di kagetkan dengan getaran ponselnya. Ia berhenti sejenak dan menerima panggilan masuk yang ternyata kakak iparnya.
"Halo, Mbak Erin!"
"Farah! dua hari lagi kami akan adakan konferensi pers di rumah makan "Sahabat". Mungkin pemiliknya akan menghubungimu, karena Aldi sedang menemuinya. Siapkan semua dengan baik. Beritahu Faruq untuk menemuiku besok. " pinta Erina pada adik iparnya.
"Siap, Mbak!" Farah menjawab sambil tersenyum senang sambil menatap ponselnya. Siska mencubit lengan Fitri. Fitri meringis karena menahan sakit. Siska berbisik pada Fitri.
"Fit! Bu Farah kenapa tu? sepertinya, dia bahagia setelah menerima telepon. Telepon dari siapa sih?"
"Kepo. Mau tau, tanya aja langsung!" jawaban Fitri membuat Siska kembali mencubitnya. Fitri hendak membalas tapi melihat Farah akan melanjutkan penyampaiannya, terpaksa ia batalkan. Dalam hatinya menggerutu, awas kamu, nanti aku balas. Cubit orang g pake perasaan.
"Yang lebih menguntungkan lagi, yang boking adalah Aldi dan Annisa. Dan yang nelpon ibu adalah pengacara keluarga Annisa, kakak ipar ibu!" Fitri, Kania, Siska dan yang lainnya melongo mendengar Farah menyebut pengacara keluarga.
"Bu...bisa jelaskan maksudnya apa ya?" Siska memberanikan diri meminta penjelasan. Fitri, Hendra dan Egi menepuk jidat karena Siska yang berani meminta penjelasan pada Farah.
"Simpan dulu rasa penasaran kalian, dua hari lagi akan terjawab di sini. Jadi, ibu g perlu repot-repot menjelaskan semuanya, paham!" Farah memberi pemahaman pada Abak buahnya yang sering kepo, selalu ingin tahu.
"Paham, Bu!" semuanya menjawab kecuali Siska.
"Bu...takutnya saya pingsan karena g bisa menerima kenyataan. Ibu tahu kan, kalau suka sesak napas kalau kaget dengan sesuatu yang waw gitu!" Siska masih saja ngotot.
"Kalau kamu pingsan, nanti kita lempar ke jalanan biar kelindas trek biar mampus sekalian." Hendra jadi kesal dengan ulah Siska.
"Kalau terknya g lewat, tenang ada pick up di parkiran. Itu sudah cukup untuk mengantarkan gadis kepo ke kuburan." Egi ikutan kesal.
"Kalian berdua awas ya! akan kucabut modal kalian biar g nikah selamanya!" Siska mengancam kedua sahabat prianya.
"Ha ha ha! semua tertawa karena ucapan Siska. Farah pun tak bisa menahan tawanya dan ikut tertawa sambil menahan perutnya. Terpaksa Farah menghentikan semuanya karena sudah waktunya pulang.
"Sudah! sudah! jangan tertawa lagi. Dan kamu Siska, akan kukurangi gajimu karena ulahmu membuatku sakit perut. Jangan protes, berani protes g terima sepersen pun!" Bu Farah pura-pura mengancam Siska agar berhenti berulah
__ADS_1
"Hummm, rasakan akibatnya. Wek Wek Wek!" Hendra mengejek Siska
"Semuanya, bubar!" Siska dengan muka kusutnya meraih tasnya dan segera keluar dari rumah makan. Begitu pula yang lain.