
Setelah lamarannya diterima, Furqan semakin semangat bekerja. Ingin rasanya ia memutar waktu agar waktu sebulan jadi sehari. Dia sudah g sabar ingin segera menikahi Annisa. Di rumah ia mondar mandir seperti setrika sehingga Susi dan Fiona selalu menertawakannya.
"Ha ha ha, Fio...lihat kakakmu, dia seperti setrika. Hampir setiap hari dia seperti itu, apa g capek?!" tanya Susi pada Fiona.
"Namanya juga orang sedang kasmaran kak, Kak Furqan kan cinta mati sama kak Annisa. Apalagi udah mau nikah, pasti maunya cepat-cepat".
"Iya sih, tapi jangan seperti itu juga. Annisa kan sudah di lamar dan mereka akan menikah dalam waktu dekat, lalu untuk apalagi bersikap seperti itu. Jika ada orang luar yang lihat, pasti mereka mengatakan itu cowok ganteng tapi kok gila ya, ha ha ha".
"Ha ha ha, kak Susi bisa aja!" Fiona ikut tertawa.
Furqan menoleh ke arah Susi dan Fiona.
"Apa yang kalian berdua tertawai, ada yang lucu?!" tanya Furqan pada kakak dan adiknya.
"G ada, pengen tertawa aja. soalnya di rumah ini ada cowok sedang...". Susi tidak meneruskan ucapannya karena takut adik marah.
"Sedang apa kak?!" tanya Furqan penasaran.
"Sudah ya, kakak mau pergi belanja dulu!" Susi secepat kilat keluar karena takut nanti Furqan bertanya terus, begitu pula Fiona.
"Mereka berdua aneh, pasti mereka mentertawakan aku. Awas ya kak, Fio, akan ku sidang kalian berdua".
Kemudian Furqan mengira-ngira, dan dia tertawa sendiri. Mengapa tidak, beberapa hari ini, dia seperti orang gila karena terlalu bahagia. Tak ingin kegilaannya makin meningkat, Furqan berangkat ke kantor agar dirinya sibuk dan tidak terlalu kepikiran dengan pernikahannya, karena Susi yang akan mengatur pernikahannya dengan Annisa.
Susi menuju pusat perbelanjaan ternama. Ia ingin membeli sesuatu untuk ibunya. Selesai belanja, Susi menuju parkiran dan menuju ke mobilnya. Ia tidak menyadari jika ada yang mengikutinya sejak ia masuk.
Kania, Siska dan Annisa yang juga baru selesai belanja tidak sengaja melihat Herman dan anak buahnya berada diparkiran. Ketiga gadis cantik itu sepakat untuk merekam Herman dan anak buahnya karena gelagat mereka mencurigakan.
Mereka memperhatikan dengan cermat setiap gerakan Herman dan anak buahnya. Tidak lupa, Annisa menyuruh Kania merekam setiap gerakan mereka.
"Pasti mereka akan berulah lagi!" ucap Annisa.
Annisa, Siska dan Kania kaget saat melihat apa yang mereka lakukan. Ternyata benar, seorang anak buah Herman merusak Cctv yang ada diparkiran, sedangkan Herman menarik lengan Susi.
"Heeee...kamu kenapa sih narik-narik orang?!" tanya Susi penasaran dengan orang yang menarik lengannya karena ia membelakanginya.
Susi mencoba mengangkat kepala agar tahu siapa yang menariknya.
Bukannya dia Herman. Dia mu ngapain ya?
__ADS_1
Susi bertanya pada dirinya sendiri.
"Kamu...apa yang ingin kamu lakukan ha?!"
"Hummm, aku akan membawamu kesuatu tempat. Jangan coba-coba melawan, kalau tidak aku akan berbuat lebih jahat padamu. Ikuti saja keinginanku!" ancam Herman.
"Apa yang kamu inginkan?!"
Sedang bersitegang dengan Herman, seseorang ada dibelakang Susi dan langsung menyekap Susi dengan sesuatu yang sudah diberi obat bius. Susi pun pingsan dan Herman menyuruh anak buahnya untuk membawa Sisi ke mobil.
"Bawa dia ke mobil. Jangan lupa, ikat tangan dan kakinya. Sekalian, tutup mulutnya dengan lakban!" perintah Herman pada anak buahnya.
"Siap bos!"
Anak buah Herman menyeret Susi ke mobil.
"Jaga dia. Kamu boleh melakukan apa saja padanya. Kami akan ke dalam sebentar!"
"Oke bosss!" jawab seorang anak buah Herman yang bernama Tono kegirangan.
Herman masuk kedalam bersama ke empat anak buahnya, sedangkan Tono kegirangan seolah mendapat durian runtuh. Tono cepat-cepat menutup pintu mobil. Ia akan melakukan hal menjijikkan pada Susi. Sementara itu, Annisa menyuruh Kania merekam dari jarak dekat karena parkiran sedang sepi. Annisa dan Siska mendekati mobil di mana Susi di sekap.
"Oke!" jawab Siska.
Annisa dan Susi mengedor-ngedor kaca mobil. Tono segera keluar dan membentak Annisa dan Siska.
"Heee, siapa kalian? beraninya mengganggu kesenanganku. Tapi g apa-apa, kalian boleh menemaniku. Aku lihat, kalian berdua cantik dan aduhai. Ayo sayang, temani aku!"
Tanpa basa-basi, Siska melayangkan tamparannya. Tono kaget dengan kerasnya tamparan gadis cantik yang ada di depannya. Siska mengurus Tono, sedangkan Annisa membebaskan Susi dan menyiram Susi dengan air mineral agar cepat sadar. Perlahan Susi memuka mata. Ia menggoyang kepalanya beberapa kali untuk menormalkan pandangannya. Ia kaget ada Annisa di dalam mobil.
"Cepat keluar kak, jangan sampai Herman dan anak buahnya datang. Ayo cepat!"
Susi berusaha semaksimal mungkin agar cepat keluar dari mobil tersebut. Sementara diluar mobil, Tono menahan sakit yang teramat sangat karena Siska menendang *********** dengan sedikit keras. Siska menertawainya.
"Ha ha ha, wajahmu lucu sekali. Makanya, jadi cowok jangan kurang ajar. Dapat pelajaran kan!" Siska menertawai Tono yang sedang kesakitan.
Kemudian, Siska balik arah dan membuang gas tepat di depan Tono. Tono tak mampu menahan sakit dan aroma gas beracun yang dikeluarkan Siska. Ia hanya mampu meringis dan mengumpat.
Awwww sialan, bau banget sih kentut gadis itu. Cantik-cantik tapi jorok. Aduuuh!
__ADS_1
Annisa, Siska dan Susi sudah berada dalam mobil. Mereka segera meninggalkan parkiran sebelum Herman datang.
Merasa sudah aman, Annisa segera minta maaf pada Susi.
"Kak, aku minta maaf karena sudah menyiram kakak dengan air. Aku siram dengan air supaya kakak cepat sadar sebelum Herman keluar. Maaf ya!"
"G apa-apa Nis, justru kakak yang harus berterima kasih padamu. Kalian tepat waktu menyelamatkan aku, kalau tidak aku g tahu apa yang akan mereka lakukan!"
"Kami udah rekam semuanya kak. Sis...menepi dulu sebentar, kita nonton hasil rekamannya dulu!" pinta Annisa.
"Oke!" jawab Siska.
Siska menepi. Kemudian, mereka berempat melihat hasil rekaman diponsel Kania. Sambil melihat hasil rekaman itu, Susi mengucap syukur karena Tono belum melakukan apa-apa padanya. Di akhir video, mereka berempat tertawa karena melihat aksi Siska membuang gas tepat di depan wajah Tono saat posisinya jongkok menahan sakit.
"Ha ha ha, kamu bisa aja Sis! kasihan sekali dia, sudah modalnya di tendang, kamu kentut lagi tepat di wajahnya. iih, pasti menyebalkan!" Kania tak mampu menahan tawa.
"Oh ya, sebelum video ini kamu kirim ke kak Furqan dan kak Aldi, sebaiknya di edit dulu. Yang terakhir dipotong aja, itu memalukan!" ucap Annisa.
"Jangan di potong. Justru di situ serunya, he he he!" Siska keberatan.
"Tapi Sis, kamu mau video itu di tonton orang lain? soalnya, masalah ini g bisa di biarkan. Kak Furqan harus bawa ke kantor polisi. Dan...jika sudah di kantor polisi, barang buktinya harus ikut serta, ya video ini!" jelas Annisa.
"G apa-apa Nis. Aku malah senang, siapa tau aku dapat penghargaan mengalahkan penjahat dengan gas beracun, ha ha ha!" Siska malah bercanda.
"Nanti aja perdebatannya. Sebaiknya kita pulang!" ucap Susi.
"Setuju!" ujar Kania.
Siska pun melajukan mobil menuju kediaman Furqan, sementara Herman marah-marah pada Toni karena gagal menjaga Susi.
"Tono...kenapa bisa kecolongan?! laki-laki macam apa kamu ini, dasar banci. Siapa yang menyelamatkan gadis itu, ayo jawab?" tanya Herman.
"Maaf bos, ada dua orang wanita. saya tidak menyangka wanita yang menyelamatkannya sangat kuat. Ia bahkan hampir membuatku kehilangan senjata utamaku. Belum lagi dia buang angin tepat di wajahku". Tono bercerita sambil menahan malu.
"Apa? buang angin tepat didepanmu, ha ha ha!" Herman menertawai Tono.
"Iya bos". jawab Tono.
"Sekarang, cepat masuk ke mobil sebelum ada yang curiga sama kita. Herman pulang dengan kesal lda Tono.
__ADS_1