Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Harapan seorang Ibu


__ADS_3

Setelah pernikahan Aldi, Erina semakin bahagia karena anak asuhnya menemukan jodoh seorang gadis cantik, sederhana tapi memiliki attitude yang sangat baik, dan tidak matre begitupun Annisa. Annisa bahagia Aldi memiliki pendamping seperti Fitri. Annisa menemui kakak dan kakak iparnya diruang keluarga.


"Assalamualaikum kakak ipar!" Annisa mengucapkan salam pada Fitri.


"Waalaikumsalam, Dek!" jawab Aldi.


Sementara Fitri, hanya menjawab dalam hatinya karena kesal dengan panggilan Annisa.


"Nis...aku g mau dipanggil kakak ipar. Aku mau kamu panggil aku seperti biasa, titik!" titiah Fitri pada Annisa.


Erina dan Aldi tertawa melihat Annisa dan Fitri. Fitri memperlihatkan wajah kesalnya pada Aldi dan Annisa.


"Sekarang kamu adalah istriku. Jadi, kamu harus terbiasa dengan panggilan itu. Nis...tetaplah memanggilnya kakak ipar atau Kak Fitri!" pinta Aldi pada Annisa.


"G boleh, aku g mau. Kalau kalian memaksa, aku g mau tidur di kamar. Aku tidur di sini saja".


"G nurut sama suami itu dosa tauuuu!" ejek Annisa.


"Aku g mau, Nissssss!"


"Kak...aku mau temani Anggita menemui Tante Lidia. Doain ya, semoga Tante Lidia sudah mau berubah!" Annisa tidak memperdulikan ocehan Fitri.


"Oh ya, kakak sampai lupa ingin menanyakan Anggita. Apa Anggita sudah berubah? kakak melihat kalian berdua ngobrol. Sikap Anggita tak seperti biasanya, g arogan lagi" tanya Aldi pada Annisa.


"Ia kak. Waktu itu dia datang bersama kekasihnya, temannya Nisa. Namanya Deni, dia mantan penjahat. Tapi sekarang dia sudah sadar kak". jawab Annisa.


"Semoga mereka berdua saling melengkapi satu sama lain!"


"Aamiin!" Erina, Annisa dan Fitri mengaminkan harapan Aldi.


"Titip salam buat Tante Lidia ya!" ucap Aldi.


" Nanti Annisa sampaikan. Annisa berangkat ya kak, Assalamualaikum!" pamit Annisa pada keluarganya.


"Waalaikumsalam!" jawab Erina, Aldi dan Fitri.


Annisa meluncur menuju rutan dimana Lidia dan Fani ditahan. Annisa sudah janjian akan bertemu di rutan dengan Anggita dan Deni. Mereka tiba bersamaan di rutan. Anggita menemui ibunya di penjara bersama Deni dan Annisa. Sudah saatnya, Anggita jujur pada ibunya tentang dirinya dan Deni. Lidia menemui putrinya. Ia syok melihat siapa yang bersama Anggita. Ya, gadis yang ingin dihancurkannya. Selain itu, ia penasaran dengan pria yang menemani Anggita.

__ADS_1


Kelihatannya mereka dekat!" ucap Lidia pada dirinya sendiri.


Lidia duduk menghadap mereka bertiga. Anggita yang memulai percakapan.


"Bu...bagaimana kabar ibu?"


"Seperti yang kamu lihat sekarang. Mengapa kamu datang bersama Annisa? dan siapa laki-laki ini?" tanya Lidia.


Annisa dan Deni hanya diam mendengar pertanyaan Lidia. Anggita melihat wajah ibunya kesal melihat Annisa. Kemudian, Anggita menjawab pertanyaan ibunya.


"Annisa memang ingin membesuk ibu. Maafkan Anggi, Bu? Anggi sudah berteman baik dengan Annisa. Anggi sudah tidak ingin balas dendam. Anggi capek, Bu!"


"Apa? Apa ibu g salah dengar?"


"Ibu tidak salah dengar. Anggi sudah melupakan semuanya, melupakan masa lalu yang membuat Anggi lupa segalanya. Maafkan Anggi Bu!"


"Annisa yang mempengaruhimu?!"


"Tidak, Bu! aku sendiri yang menginginkannya. Aku ingin hidup lebih baik, Bu!"


"Hidupmu sudah hancur Anggita, apalagi yang ingin kamu ubah, apa? dan yang menjadi penyebab kehancuranmu adalah dia. Kamu tahu itu kan?" Lidia menahan amarahnya terhadap Annisa.


"Maaf Tante, saya minta maaf sebelumnya karena menyela pembicaraan Tante dan Anggita. Tapi saya mohon Tante, dukung Anggita agar dia tidak terpuruk dan semakin hancur. Dukungan Tante adalah energi terbesar yang bisa memberinya kekuatan besar dalam menjalani hidupnya. Apakah Tante tidak ingin melihat Anggita hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalunya? Anggita memang sudah hancur karena obsesi, tapi Tante, masih banyak waktu untuk kita memperbaiki diri dan menjalani hidup agar lebih baik. Dan, Anggita sudah melakukan itu Tante". Annisa memberi wejangan pada Lidia.


Anggita menundukkan kepalanya dengan air mata membasahi pipi mulusnya. Anggita berusaha menahan tangisnya. Deni mendekat dan menenangkan Anggita. Tentu hal itu mengagetkan Lidia.


"Lalu siapa dia?!" tanya Lidia heran.


Anggita menatap Deni. Deni mengerti maksud dari tatapan kekasihnya itu.


"Tante...Saya Deni, teman dekatnya Anggita!"


"Maksudmu!" tanya Lidia.


"Saya mencintai Anggita, Tante. ijinkan Saya menjaga Anggita. Saya akan membuatnya bahagia. Saya tidak perduli dengan masa lalunya, Tante!"


"Kamu yakin?!"

__ADS_1


"Sangat yakin, Tante!"


"Tapi...anak saya tidak perawan lagi. Dia pernah melakukan dan mengalami hal buruk. Saya hanya takut, kamu meninggalkan anak saya di saat dia sedang bahagia. Itu akan lebih menghancurkan hidupnya lagi".


"Saya janji, Tante!"


Lidia diam sesaat. Lidia mengarahkan tatapannya secara bergantian antara Annisa dan putrinya. Lidia melihat perubahan besar pada diri putrinya. Sekarang Anggita lebih pendiam.


Apa benar aku yang salah selama ini?!


Lidia menerawang jauh mengingat awal mula kehancuran keluarganya. Ia merasa ucapan Anggita benar kalau selama ini, merekalah yang memulai.


Maafkan ibumu ini Anggi!


Seketika Lidia mengucapkan terima kasih pada Deni. Anggita seolah tak percaya mendengarnya.


"Terima kasih nak Deni!"


Deni hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan terima kasih Lidia.


Anggita menggenggam tangan ibunya. Hatinya tenang mendengar ucapan ibunya, begitu pula Annisa. Lidia menatap Annisa sejenak.


"Annisa...terima kasih sudah memaafkan Anggita atas semua yang terjadi selama ini. Tante juga minta maaf padamu, karena Tante sudah menyusahkan hidupmu. Kamu mau kan maafin Tante?" pinta Lidia dengan menahan air matanya.


"Saya sudah maafkan sebelum Tante minta maaf. Saya tidak pernah dendam sama Tante. Apa yang terjadi selama ini, memang sudah takdir, Tante. Kita tidak bisa mencegah itu. Saya juga minta maaf Tante, karena saya Anggita melangkah jauh!"


"Tidak Annisa, Tante dan Anggitalah yang memulai semua ini. Jika Tante tidak memaksa Anggita untuk mendapatkan Furqan, Anggita tidak akan hancur. Tantelah yang merusak hidup Anggita". ucap Lidia diiringi dengan tangisan kecilnya.


"Sudahlah Tante, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah terjadi. sekarang, Tante harus menjalani hidup dengan baik walaupun ada di dalam penjara. Tante harus semangat ya!"


"Terima kasih Annisa! hatimu sungguh mulia. Tante harap, kamu bisa membimbing Anggita agar dia bisa lebih baik. Hanya dia satu-satunya anak Tante. Tante sudah menghancurkan hidupnya. Semoga dia bahagia bersama Deni!" lirih Lidia.


Anggita makin sedih mendengar ucapan ibunya. Ia berjanji pada dirinya untuk berubah lebih baik demi ibunya. Setelah lama berbicara dengan Lidia, Annisa, Anggita dan Deni pamit karena jam besuk sudah habis.


"Anggi pulang Bu! ibu jaga diri baik-baik ya. Anggi sayang sama ibu!"


"Ibu juga sayang sama Anggi. Hiduplah bahagia nak! cepatlah kalian menikah agar ibu bis tenang. Deni...terima kasih ya nak, kamu sudah mau menjaga putri ibu!" Lidia memeluk putrinya lalu kemudian Deni.

__ADS_1


Annisa bahagia melihat Lidia dan Anggita.Kemudian, mereka bertiga meninggalkan rutan dan kembali ketujuan masing-masing.


__ADS_2