
Di rumah Fitri
Aldi dan keluarganya, akan kerumah bibi Fatimah. Bibi Fatimah adalah adik perempuan ibunya Fitri. Erina sebagai perwakilan kedua orang tua Aldi, meminta adiknya dan Farah untuk ikut bersama mereka. Sedangkan teman kerjanya akan muncul diakhir acara. Sebelumnya, Aldi dan Fatimah sudah bekerja sama untuk memberi kejutan pada Fitri. Aldi dan keluarga, sudah siap menuju kediaman Fatimah. Kania ikut serta bersama mereka.
Fatimah tak mengira, jika keponakannya akan berjodoh dengan orang baik dan sangat mapan. Fatimah pura-pura sakit dan Fitri terpaksa meninggalkan pekerjaannya untuk merawat bibinya. Fatimah pura-pura tidur dikamarnya. Kemudian, muncul dua buah mobil mewah dan parkir tepat di depan rumah Fatimah. Aldi dan yang lain keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah. Fitri mengira, Aldi dan yang lain datang untuk menjenguk bibinya. Saat Fitri sedang sibuk menjamu tamunya, Fatimah menghubungi seseorang agar segera membawa pesanannya. Sementara suaminya, sedang di kebun tak jauh dari rumahnya. Yono, suami Fatimah tersenyum setelah melihat dua buah mobil parkir di depan rumah tuanya. Ia segera pulang lewat belakang rumah. Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang bagus dan berpeci, Yono keluar dan menemui tamunya. Fitri heran dengan penampilan pamannya.
Tak lama kemudian, muncul sebuah mobil pick up penuh dengan muatan parkir tepat di depan rumah Fatimah. Warga datang membantu membongkar muatan dan langsung di atur sedemikian rupa. Fitri semakin heran dengan paman dan warga sekitar. setiap detik, warga terus berdatangan hingga rumah tak bisa lagi menampung warga. Warga kelihatan bahagia menyambut acara lamaran. Fitri berusaha mencari tahu dengan bertanya pada tetangga bibinya.
"Bibi...ini sebenar ada apa ya? kok, kue banyak sekali!"
"Bibi juga g tahu, Fit! bibi hanya membantu saja". jawab si bibi pura-pura g tahu apa-apa.
Fitri memperhatikan warga yang sibuk di dalam maupun diluar rumah. Melihat Fitri yang sedang kebingungan, Annisa pura-pura bertanya.
"Fit...bukankah bibi sedang sakit?! tapi... kenapa justru banyak kue di sini? bibi buat acara?"
"Aku juga bingung, Fit! paman juga ikutan aneh. coba perhatikan! baju bagus dan pake peci, aku makin bingung".
Diluar rumah, masing-masing warga bawa kursi untuk tempat duduknya. Apa yang dilakukan warga semakin membuat Fitri bingung dan pusing.
Apa bibi sudah meninggal? perasaan, bibi sedang istirahat. Tapi...kenapa orang makin banyak? Fitri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Fitri masuk ke kamar bibinya. Fatimah masih belum bangun. Fatimah ingin sekali menertawakan Fitri, tapi ia tahan agar tidak ketahuan. Karena bibinya belum juga bangun, Fitri keluar menemui Annisa. Disaat yang sama, seorang warga dipercayakan untuk memberi kode pada Fatimah jika semua sudah siap. Fatimah bangun dan keluar untuk duduk bersama suaminya serta tokoh masyarakat.
"Fit...itu bibi kan?!" tanya Annisa. Fitri mengalihkan pandangannya dan kaget melihat bibinya yang duduk manis di samping pamannya.
"Nis...aku g sanggup lagi untuk berpikir. aku benar-benar pusing memikirkan semua keanehan dirumah ini.
Seketika pamannya memberi kode pada semua yang hadir agar tenang. Semua diam dan menanti saat yang ditunggu-tunggu. Kemudian, Yono memanggil Fitri untuk duduk di sampingnya. Fitri ikut saja walau dalam hatinya bertanya-tanya.
__ADS_1
Erina dan Faruq ikut duduk berhadapan dengan Yono. Aldi menunggu diluar bersama warga. Faruq memulai pembicaraan.
"Pak Yono! Saya hanya ingin bertanya. Kita berkumpul di sini untuk apa? apa maksud pak Yono mengatakan pada Annisa, kalau Bu Fatimah sakit dan kami disuruh kemari. Ternyata kami disuguhkan dengan pemandangan seperti ini dan Bu Fatimah g sakit. Bapak mengganggu waktu kami". Yono kaget dengan ucapan Faruq. Yono pura-pura marah dan melotot pada Faruq. Yang ada berada diluar ikutan tegang.Faruq yang mudah tertawa, hampir terbawa suasana dan meledakkan tawanya.
"Apa maksud pak Faruq? siapa yang mengundang kalian kemari? saya tidak pernah mengundang siapa-siapa, apalagi kalian. Sebaik kalian semua pergi dari sini!" kata Yono dengan nada emosi dibuat-buat. Fitri yang melihat pamannya dalam keadaan emosi, air matanya seketika meleleh bagaikan es batu mencair karena pengaruh panas. Fatimah menenangkan Fitri.
"Maafkan kami pak Faruq! kami juga g tahu kenapa kalian bisa ada di sini. paman dan bibi sedang tidak melakukan acara apa-apa. Bibi saya sedang sakit, pak! hiks hiks hiks". ucap Fitri dengan menangis.
"Jadi, kamu g tahu apa-apa? paman dan bibimu tidak memberitahumu mengapa orang bisa sebanyak ini dirumahnya?" ucap Faruq.
"Saya g tahu apa-apa, pak! bibi...sebenarnya ada apa ini? malu sama tetangga, Bi!"
"Untuk apa malu. Toh, mereka datang sendiri ke sini!"
"Kalian tahu tujuan kami ke sini?" tanya Faruq pada Yono. Yono diam dan pura-pura menahan amarah.
"Maaf...Kami g tahu, pak! saya bingung dengan semua ini, apalagi paman dan bibi saya. Tolong jangan marah pada paman dan bibi saya, pak! kasihani mereka, pak!" Fitri mewakili paman dan bibinya meminta maaf pada Faruq dan yang lain.
"Terima kasih, sudah memilih anak kami untuk orang sebaik dan sekaya nak Aldi. Tapi...saya serahkan semuanya pada anak kami. Gimana sayang, kamu terima g pinangan Aldi?" tanya Yono pada Fitri.
Fitri merasa sangat malu dilamar oleh Aldi walaupun saling mencintai. Fitri malu karena dia dan keluarganya hanya berasal dari kalangan paling bawah.
"Bagaimana, Fit? kamu terima g?!" tanya Yono pada keponakannya.
"Jadi, semua keanehan dirumah ini sudah diatur oleh paman dan bibi?"
"Ini semua rencana Aldi untuk ngerjain kamu, nak! kamu mau terima dia atau tidak?" tanya Fatimah pada Fitri.
Terima...terima...terima!
__ADS_1
Semua yang hadir teriak terima. Tak ada alasan bagi Fitri untuk menolak Aldi. Fitri menganggukkan kepalanya pelan pertanda lamaran Aldi ia terima. Annisa mendekati Fitri dan memeluknya. Dua sahabat itu berpelukan dan saling menangisi satu sama lain.
"Alhamdulillah!" Ucap sahabat-sahabat Fitri yang muncul dari dapur. Fitri terharu melihat sahabat-sahabatnya sangat peduli dengannya.
"Terima kasih ya, Fit! udah menerima pinangan kakakku. Aku g nyangka, kakakku akan mendapatkan jodoh sebaik kamu. Makasih ya!" Annisa bahagia karena jodoh kakaknya adalah sahabatnya sendiri.
Annisa mengajak Fitri kebelakang dan bergabung dengan Hendra, Siska, Kania dan Egi. Siska dan Kania langsung memburu Fitri untuk di peluk. Di luar rumah, bapak-bapak dan ibu-ibu makan sepuasnya. Kebahagiaan mereka bertambah bukan hanya kue-kue lezat yang mereka dapatkan tapi juga amplop berisi uang ratusan ribu. Aldi
"Selamat ya, say! aku senang buanget deh, kamu dah di lamar. Seandainya nanti aku juga dilamar pangeranku dengan cara aneh seperti ini, rasanya dunia hanya milik berdua, he he he!" Siska mulai membuat gaduh dengan omongannya yang rada-rada kepeleset.
"Kalau dunia rasa milik berdua, terus kita kamu taro di mana?" Annisa memprotes Siska.
"Mana aku tahu, itu urusan kalian. Ha ha ha!" Siska menertawai sahabatnya.
Egi menjitak kepala kekasihnya yang selalu sembarangan kalau bicara.
"Aduuuh...caby, kenapa jitak kepalaku? sakit tahu".
"Caby! nama apa itu, Sis?" tanya Annisa.
"Cayang baby doong!"
"Sekalian aja cabai, biar hot! kamu ada-ada saja deh, Sis!" Annisa terus saja protes.
"ha ha ha!" semua menertawai Siska dan Egi.
"Udah...jangan bercanda lagi! karena Fitri sudah menjadi tunangan kakakku, maka kalian semua aku traktir!"
"Fit...jaga hubungan kalian. Banyak yang cantik diluar sana, tapi dia lebih memilih kamu. Kita semua harus saling mendoakan satu sama lain, agar kedepannya kita bisa menjalani kehidupan di masa yang akan datang dengan damai dan bahagia!"
__ADS_1
Aku hanya bisa berdoa, semoga aku bisa mendapat restu dari Tante Fani dan Furqan datang melamarku, bathin Annisa.