Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Sudah beberapa bulan, tak ada lagi yang mengganggu Annisa. Annisa lebih leluasa beraktifitas di luar rumah tanpa harus terganggu dengan Anggita dan anak buahnya.


"Nis...Anggita di mana ya? sudah beberapa bulan ini dia g bikin ulah. Dia udah sadar kali ya?!" tanya Kania.


"Kamu gimana sih, giliran Anggita g gangguin malah ditanyaiin, kalau dijahatin lagi baru mewek, ha ha ha!" Fitri menertawai Kania.


"Bukan gitu, Fit! aku cuma heran aja. Kamu tahu kan siapa Anggita, wanita gila".


"Jangan ngomong seperti itu. Lebih baik doakan dia agar tidak mengulangi perbuatan buruknya. Dan ingat, karma itu berlaku. Mungkin sebelumnya Anggita yang melakukan kesalahan, siapa tahu besok kamu yang melakukannya!" tegur Annisa.


"Amit-amit jabang bayi. Semoga aku dijauhkan dan jangan pernah masuk kejalur yang salah".


"Makanya, jadi orang jangan usil!" ejek Fitri.


Kania cemberut karena ejekan Fitri. Kemudian, Annisa mengingatkan Kania tentang persiapan pernikahan Aldi dan Fitri.


"Nia...bagaimana persiapan pernikahan kak Aldi dan Fitri?"


"Dikit lagi. Siska yang memantau di sana. Dan aku sudah beritahu kepala beberapa panti untuk hadir. Pakaian untuk anak-anak panti pun sudah aku kirim. Mereka sangat senang, katanya bajunya bagus-bagus!" jelas Kania dengan semangat.


"Syukurlah kalau mereka menyukainya. Dan calon pengantin wanita, mulai hari ini Anda di larang beraktifitas. Tidak boleh protes dan harus nurut!" perintah Annisa pada Fitri.


"Tapi Nis...aku suntuk kalau hanya berdiam diri dalam kamar. Aku ikut bantuin ya, please!" Fitri memohon pada Annisa seperti anak kecil yang minta permen.


"He cais...siapa yang nyuruh kamu diam dalam kamar? enak aja, kita yang lelah kamu yang bahagia".


Kania nyerocos dan menjauh dari Annisa dan Fitri. Ia tahu kalau Fitri akan menjitak kepalanya karena ucapannya itu.


"Kania...awas kamu ya!" Fitri mengejar Kania yang lari ke dapur. Mereka berdua seperti kucing dengan tikus. Tapi keduanya selalu bahagianya.


Kania dan Fitri muncul dari arah dapur dengan membawa beberapa piring kue untuk di makan sambil bekerja.


"Tunggu sebentar! Fit...dengar g tadi Kania manggil kamu apa?" tanya Annisa.


"Tahu nih anak. Sembarangan memberi nama pada orang lain. Dia menyebutku cais. Apaan sih?!"


"Cari aja di google. Aku jamin, kamu g bakalan dapat. he he he!" Kania membuat Fitri kesal.


Saat sedang bercanda, terdengar ada yang mengucapkan salam.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab mereka bertiga.


"Siska tu!" ucap Annisa pada Kania dan Fitri.


Kania bergegas buka pintu. Memang benar, yang datang adalah sahabat mereka yang rakus,tulalit tapi menggemaskan dan tangguh. Siska mendahului Kania masuk ke dalam karena ingin segera menyantap kue lezat yang ada di atas piring. Tanpa di beri aba-aba, Siska meraih sebuah piring yang berisi kue dan langsung memakannya. Annisa tertawa melihat tingkah sahabatnya. Sementara Kania dan Fitri cemberut karena mereka berdua belum makan walau hanya sepotong.


"Siskaaaaaa...!!!" teriak Fitri dan Kania.


Siska pura-pura kaget.


"Ada apa Nia, Fit? kalian kenapa?" tanya Siska tanpa rasa bersalah.


"Kamu ini kenapa sih? kenapa kamu habiskan kuenya?!" tanya Kania dengan kesal sembari menghentakkan kakinya dilantai seperti anak kecil.


"Ini saja aku belum kenyang. Masih ada lagi kan di dapur?!"


"Itu sudah semuanya, Sis! kami saja belum makan". ucap Fitri.


"Siapa yang nyuruh? harusnya kalau sudah ada di depan mata jangan dilewatkan begitu saja. Nyesalkan? Annisa aja g protes. Kalian harus menjamin isi perutku, karena pekerjaanku lebih berat dari kalian. Masih ada kan yang bisa di makan?" tanya Siska lagi.


"Nis...kamu sudah tahu?" tanya Siska.


"Soal?!"


"Herman anaknya pak Kuncoro. Aku dengar, dia sudah bebas. Sementara kak Aldi menyuruhku untuk mengundang pak Kuncoro. Apa perlu mengundang mereka?" tanya Siska pada Annisa.


"Kalau bosmu memberi perintah begitu, jangan menentang. Kamu mau di pecat?" jawab Annisa.


"Kak Aldi akan mengalami kerugian besar jika memecatku. Jarang ada sekretaris syantik, pintar dan tangguh sepertiku. Si Maya, sekretarisnya kak Furqan jauh di bawahku. Kalau g percaya tanyakan pada bos besar". ujar Siska penuh percaya diri.


"Kenapa ya, ada perempuan over dosis sepertimu?! udah rakus, tulalit, sombong pula. Siska...Siska, di atas langit masih ada langit. Jangan kepedean!" ejek Kania.


"Masih mau berdebat, aku tinggalin ni!" ancam Annisa.


"Mau ke mana?!" tanya Fitri.


"Antar kamulah. Kamu harus balik kerumah bibi. Kamu harus berdiam diri di sana, bukan di sini. Di sini rumah mempelai pria. Ayo, kita berangkat!" ujar Siska dan diiyakan sama yang lain.

__ADS_1


Mereka berempat berangkat menuju kekediaman bibi Fatimah. Dua puluh menit kemudian, mereka sampai ditujuan. Bibi Fatimah menyambut mereka dengan ramah. Bibi Fatimah senang dan bahagia karena mengenal sahabat-sahabat Fitri. Fatimah menganggap Fitri, Kania, Siska dan Annisa seperti anak sendiri.


"Assalamualaikum, Bi!" ucap mereka berempat.


"Waalaikumsalam, nak! ayo masuk, masuk!" ajak Fatimah.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah. Siska segera ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Annisa dan yang lain hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Siska. Annisa dan Kania menemui Fatimah di ruang tengah.


"Bi...maafin kami ya, karena baru bisa antar Fitri ke rumah!" ucap Annisa mewakili yang lain.


"G apa-apa, nak! yang penting jangan nanti hari h baru antar Fitri kemari, nanti dia g cantik di hari pernikahannya".


"Kok bisa gitu sih, Bi?!" tanya Kania penasaran.


"Ya iya. Seorang gadis itu, sebelum dinikahkan harus di pingit dulu. Dia tidak boleh keluar rumah atau melakukan pekerjaan, supaya aura kecantikanya keluar. Dulu bibi juga begitu, di pingit seminggu. Saat bibi keluar kepelaminan, semua mata takjub dengan kecantikan bibi. Apalagi paman, bola matanya hampir aja lompat keluar, ha ha ha!" bibi Fatimah tertawa mengingat momen pernikahannya dulu.


"Siska ke mana Nis?" tanya Fitri.


"Lah..tadi kan dia kedapur. Kenapa dia g muncul sejak tadi?!" Kania penasaran dengan keberadaan Siska.


Kania berdiri mencari Siska ke belakang, tapi Siska g kelihatan batang hidungnya. Kania terus mencari, tapi g menemukan Siska.


"Nis...kita tinggalin dia saja di sini, supaya dia membantu bibi!" ucap Kania.


Tak lama berselang, Siska muncul dengan santainya.


"Sis...kamu dari mana? dari tadi aku nyariin g ketemu. Kamu dari mana sih?!" Kania kesal dengan Siska.


"Mau tau aja urusan orang. Emang kamu cari aku di mana? dalam rumah? jelas saja g ke temu, aku di diluar cerita dengan tetangga yang cakep di sebelah. Orangnya cakep lo!"


"Cakep, cakep! aku laporin nanti ke kak Aldi biar sekalian di pecat. Kita ke sini itu kerja, bukan tebar pesona". Kania makin kesal mendengar alasan Siska.


"Kan pekerjaan kita mengantar calon pengantin sudah selesai, dari pada pulang kosong lebih baik tebar pesona dulu. Kan bisa ada teman baru. Tenyata tetangga bibi cowoknya cakep semua!" ucap Siska sengaja membuat Kania kesal.


Bibi, Fitri dan Annisa tertawa mendengar perdebatan kedua sahabat tersebut.


"Nis...ayo kita balik! Bi...kami pamit ya, assalamualaikum!" Kania lebih dulu pamit dan masuk ke mobil.


Annisa dan Siska pun pamit pulang pada Fatimah. Fatimah tersenyum bahagia menyaksikan tingkah gadis-gadis cantik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2