Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Virus vs Penawar


__ADS_3

Dua hari setelah lamaran, Fitri kembali bekerja dengan Annisa. Annisa mewanti-wanti kakak dan sahabatnya untuk tidak selalu bertemu. Hal itu ia lakukan, untuk menjaga agar kakaknya jauh dari perbuatan tercela. Saat lamaran, Annisa pernah berjanji akan mentraktir sahabat-sahabatnya.


"Nia...bisa hubungi yang lain g?" pinta Annisa.


"Oke! aku akan hubungi mereka. Lalu kita akan ke mana?" tanya Kania.


"Terserah kalian saja". jawab Annisa.


"Kita belanja saja. Udah lama aku g belanja. Siska pasti senang kalau belanja gratis". jelas Kania.


Kania menghubungi sahabat-sahabatnya dan memberi tahu tujuannya mereka dihubungi.


"Kita bertemu di mana?" tanya Siska melalui telepon.


"Kalian bertiga, tunggu kita didepan mall, oke!" jawab Kania.


"Ayo kita berangkat!" Ajak Annisa pada sahabat-sahabatnya.


Mereka bertiga pamit pada Erina. Setelah itu, mereka berangkat ke tempat yang dimaksud. Siska sumringah saat melihat ketiga sahabatnya sudah ada di depan mata.


"Akhirnya...big bos nyampe juga". kata Siska.


Bagaimana? sudah siap? kalian pilih apa aja yang kalian suka, jangan sungkan!" Annisa membebaskan sahabat-sahabatnya untuk membeli apa yang mereka inginkan.


Satu sampai dua jam, mereka belum juga selesai belanja. Ketika sedang asyik memilih sesuatu, tiba-tiba ada seseorang yang menarik jilbab Annisa. Annisa mempertahankan posisinya agar tidak jatuh ke belakang. Annisa berbalik sambil menahan jilbabnya agar tidak terbuka. Annisa heran dengan wanita menariknya dan bertanya secara halus meskipun ia sudah dikasari.


"Kamu ini siapa? kenapa menarik jilbab saya?!"


"kamu g tahu siapa saya? saya Anggita. kaget?"


"Yang saya kagetkan adalah apa yang mbak lakukan pada saya?"


"Kamu memang pantas digituin. Kamu wanita g tahu malu ya, merebut tunangan orang. Aku harus memberimu pelajaran agar rasa malumu itu ada". ucap Anggita hendak menampar Annisa.


"Hentikan!" teriak Siska yang sudah selesai belanja.


"Jangan ikut campur kamu. Ini urusan saya dengan wanita tidak tahu malu ini!" Suara Anggita semakin keras dan mengundang pengunjung lain. Orang-orang berdatangan untuk menonton mereka. Annisa cukup tenang menghadapi Anggita.


"Siapa yang kamu maksud?" tanya Annisa.


"Furqan. Dia calon tunangan saya. Gara-gara kamu, aku dan dia gagal bertunangan. Mau mengelak, ha?" Anggita seperti singa kelaparan.


Annisa diam saja. Ia tidak terlalu menanggapi ucapan Anggita. Annisa memberi kode pada yang lain agar menjauh saja dari Anggita. Tapi Anggita, tidak berhenti sampai di situ. Saat Annisa dan Sahabat-sahabatnya hendak meninggalkan Anggita, Anggita meneriaki Annisa.


"Kamu malu kan sama orang-orang? dengar kalian semua yang ada di sini, wanita berhijab ini perebut tunangan orang. Merayu calon tunangan saya dengan tubuhnya!" Kata Anggita memberi yang lain.

__ADS_1


"Kelihatannya saja yang cantik dan alim, ternyata murahan, huuuuu!" Seorang pengunjung ikut merendahkan Annisa dan lain ikut menyoraki Annisa. Siska ingin menghajar pengunjung tersebut, tapi ditahan oleh Annisa.


"Jangan terpancing olehnya!" tahan Annisa.


"Dan juga, calon mertua saya sakit gara-gara dia!" ucap Anggita sembari menunjuk Annisa.


Egi, Hendra dan Kania lari mendekati Annisa dan Siska. Mereka bertanya-tanya mengapa banyak orang mengerumuni Annisa dan Siska.


"Ada apa Nis, Sis?" tanya Kania ingin tahu.


"Tanya sama wanita gila itu!" jawab Siska dan menunjuk Anggita.


Kania menoleh kearah yang dimaksud Siska. Seketika Kania naik darah.


"Kamu...?! oooo, jadi kamu penyebab sahabat saya jadi tontonan orang?"


"Eh kamu, g usah bela teman kamu. Dia itu wanita berbulu domba. Dasar perusak hubungan orang!" ucap Anggita.


"Tutup mulut kotormu itu! kamu g tahu apa-apa tentang wanita gila ini". ucap Kania sambil menunjuk Anggita.


"Jaga tu mulut ya, dasar pelayan!" Anggita menghina Kania.


"Emang kalau pelayan kenapa? masalah buat kamu! lebih baik jadi pelayan daripada kamu, model tak berakhlak. Ngaku calon tunangan Furqan, nyatanya dalam khayalan, ha ha ha!" Kania menertawai Anggita.


"Nia...ssst, sudah! jangan diteruskan. Biarkan saja dia ngomel sendiri. Kalau dah capek pasti berhenti juga!" Annisa mengingatkan Kania.


"Mbak...mau dapat uang g?" tanya Hendra.


"Mau dong!" jawabnya.


"Kirim video itu ke nomor ini, cepaaat!" Hendra memerintahkan pengunjung itu mengirim video ke nomor Furqan.


Dengan gerakan, dia mengirim video rekamannya ke nomor ponsel Furqan.


Di Rumah Sakit


Terdengar Nada pesan masuk dari ponsel Furqan. Furqan membuka pesan yang dikirim kepadanya oleh nomor tidak di kenal. Furqan geram dengan apa yang dia lihat dan dia dengar dalam video tersebut. Karena ia tidak bisa meninggalkan orang tuanya, Furqan keluar ruangan untuk menghubungi Annisa.


Kring kring kring


Annisa merasakan getaran ponsel. Ia menerima panggilan Furqan.


"Halo, sayang! berikan ponselmu pada Anggita".


"Tapi...!" Annisa ragu.

__ADS_1


Melihat Annisa menerima panggilan seseorang, Anggita langsung menyerangnya.


"Kalian perhatikan dia! dia dihubungi salah satu pelanggannya. Murahankan?!"


"Huuuuuuuuu, dasar murahan!" sorak pengunjung yang menonton mereka.


Annisa tidak menggubris ucapan kasar wanita yang ada didepannya.


"Ayo cepaaat, berikan padanya!" perintah Furqan.


"Anggita...ada yang mau bicara denganmu!" Annisa menyerahkan ponselnya pada Anggita.


"Siapa, Nis?" tanya Siska.


"Furqan!" jawab Annisa.


"Mampus kamu!" ejek Siska dan Kania. Sebelum Anggita bicara, Siska merampas ponsel Annisa dan mengaktifkan speaker agar semua yang menghina Annisa dapat mendengar langsung apa yang akan dikatakan Furqan. Kemudian, Siska menyerahkannya kembali kepada Anggita.


"Nih! kalian semua dengarkan ya!"


Anggita merampas ponsel Annisa dari tangan Siska. Sebelum Anggita bicara, Furqan lebih dulu membentaknya.


"Anggita...apa yang lakukan? siapa yang kamu sebut murahan? Annisa lebih baik darimu. Aku tidak pernah merasa pernah menjadi calon tunanganmu. Masih berani menghina Annisa, tahu sendiri akibatnya!" Furqan mengancam Anggita.


"Tapi...!" belum sempat ia meneruskan ucapannya, Furqan sudah mematikan ponselnya. Siska merampas ponsel dan mengembalikannya pada Annisa.


Kemudian, mereka semua dikejutkan dengan muncul seorang pengunjung yang melerai mereka. Pengunjung tersebut adalah orang yang pernah di lempar oleh Anggita dengan botol air mineral saat jalanan macet.


"Diam kalian semua!" dan kamu Nona, kamu g malu ngatain orang murahan? Nona masih ingat saya kan?" tanya pengunjung bernama Adelia.


"Saya tidak ada urusan denganmu. untuk apa aku mengenal orang tidak penting seperti dirimu, g ada untungnya!" kata Anggita.


"Dengarkan kalian semua. Kalian hanya mendengar mulut kotornya model satu ini. Kalian perhatikan baik-baik wajahnya! dia ini model yang waktu itu ditolak cintanya oleh seorang CEO dari sebuah perusahaan besar. Kalau g salah, namanya Furqan. Dia memilih seorang gadis yang hanya bekerja sebagai pelayan. Kalian semua ingat, konferensi pers yang diadakan di hotel "Madona"? kalian ingatkan?" tanya pengunjung tersebut pada yang lain.


Mendengar penjelasan dari pengunjung tersebut, pengunjung yang lain segera mencari informasi tentang konferensi pers tersebut. Setelah mereka menemukannya, mereka merasa malu karena sudah membela Anggita.


"He...kamu! gara-gara kamu, kami sudah menghina dan merendahkan orang lain. Ternyata kamu yang murahan. Udah tahu ditolak mentah-mentah, masih juga ngejar-ngejar. Kamu yang g tahu malu!" seorang ibu memarahi Anggita.


"Dasar model tak berakhlak. Mulut kotormu itu sudah meracuni kami. Untuknya, dia tak membalas dan melaporkan kami atas penghinaan dan pencemaran nama baik, kalau tidak aku tidak akan melepaskanmu. Kamu hanyalah virus sedangkan dia adalah penawarnya. Pantesan aja, sejak tadi diam saja. Rupanya dia sudah tahu siapa kamu! pergi dari sini, pergiii!" seorang ibu yang ikut menghina Annisa marah pada Anggita dan mengusirnya.


"Awas kalian semua!" ancam Anggita. Anggita segera pergi karena tak mampu menahan malu.


"uuuuuuuuu, dasar virus!" sorak yang lain.


"Sudah jelaskan? Gadis ini diam saja bukan berarti tuduhan model itu benar, tapi...dia ingin kalian semua tidak semakin tertular dengan virus model gila tersebut. Inilah pertarungan antara Virus versus penawar. Dan, kalian semua harus minta maaf padanya!" jelas Adelia.

__ADS_1


Mereka semua minta maaf pada Annisa. Annisa yang berjiwa besar sudah jelas memaafkan mereka. Karena, mereka hanya di hasut oleh Anggita.


__ADS_2