Aku Tak Harus Memilikimu

Aku Tak Harus Memilikimu
Ingin Melamar


__ADS_3

Bulan berlalu begitu cepat. Hubungan Annisa dan Furqan semakin menunjukkan kearah yang lebih serius. Selama beberapa bulan, hubungan Annisa dan Furqan sangat tertutup hingga membuat para wartawan kesulitan mengungkapnya kepublik. Bisnis Annisa pun semakin maju. Selain tas dan jaket pria, Annisa juga sudah menjual jam tangan. Omset milyaran rupiah bisa ia raup hanya dalam waktu beberapa bulan.


Aldi dan Annisa berkunjung ke rumah makan untuk sekedar menemui sahabat-sahabatnya. Meskipun mereka selalu berhubungan lewat grup pekerja rumah makan tapi g ada yang tahu tempat tinggal Annisa.


Mobil mewah berwarna putih masuk ke parkiran. Sang pemilik keluar dan langsung masuk ke dalam. Annisa tampak lebih cantik dan anggun dengan memakai blus panjang berwarna maroon dipadu dengan kerudung warna senada, sedangkan bagian bawahnya menggunakan jeans navi agak sedikit longgar. Ketika sudah berada di dalam, Suasana menjadi gaduh. Fitri dan yang lainnya berebut ke arah Annisa. Tanpa sadar Fitri menyenggol Aldi yang berdiri disamping Annisa.


"Maaf kak, g sengaja!"


"G apa-apa!" Aldi menjawab seadanya.


"Nis...kamu kemana aja sih? Aku udah lama pengen ketemu kamu, tapi kamu malah menyembunyikan alamat rumahmu! Aku kangen banget sama kamu. Tahu g, kita g semangat bekerja sejak kamu berhenti. Kamu keluar g bilang-bilang ke kita!" Fitri terus nyerocos membuat Annisa tertawa.


"Benar tu! Kehilangan kamu, lebih baik kehilangan pacar. Pacar bisa aku cari lagi, tapi sahabat sampai mati non, sampai mati!" Siska mengeluarkan unek-uneknya.


"Siska...sok cantik itu boleh, tapi jangan keterlaluan. Emangnya nyari pacar semudah mencari kacang panjang di pasar?! Mulut itu jangan asal bunyi!" Kania mengingatkan Siska yang kepedean.


"Mungkin yang suka kamu orang buta. Kalau aku sih ogah nyari cewek kayak kamu. Udah muka pas-pasan, jorok lagi. Belum lagi cerewetnya minta ampun, bisa-bisa camer kena stroke, ha ha ha!" Hendra menertawai Siska begitu pula Egi.


"Awas ya, kalian berdua! Suatu saat kalian pasti akan jatuh cinta padaku, hummmm!" Siska nyumpahin Hendra dan Egi.


"Idih, idih, idih! bangun non, jangan mimpi!" ucap Hendra.


Ucapan Hendra membuat Pak Bondan dan semua koki g bisa menahan tawa.


"Sudah, sudah, kenapa jadi ribut sih? katanya kangen sama aku?!"


"Iyalah kangen. Kalau g kangen, g mungkin berkumpul kayak semut begini!" Fitri kembali memeluk Annisa. Aldi menjadi risih melihat tingkah sahabat adiknya.


"Oh ya, Bu Farah mana?" tanya Annisa.


"Sepertinya beliau belum datang!" Jawab Kania.


"Dikit lagi kan pelanggan datang, jadi aku g boleh lama-lama di sini, nanti kalian malah g kerja. Tapi, sebelum aku balik ada sesuatu buat kalian semua yang ada di sini!"


"Apaan?!" tanya Siska penasaran.


Annisa membagikan barang bawaannya sesuai nama yang sudah ia siapkan. " Kalau nanti g suka, dibalikin ya!" pinta Annisa.


"Emangnya apa ini?!" Siska penasaran.


"Penasaran amat sih, kamu! Buka aja kalau mau tahu, g perlu nanya." Fitri kesal dengan Siska.


Semua membuka isi bungkusan pemberian Annisa.


"What? Annisa, mengapa kasih aku barang semahal ini?" Egi syok dengan pemberian Annisa. Meskipun dia anak orang kaya, tapi g pernah membeli barang semahal itu, karena akses keuangannya disetir oleh ibu tirinya.


"Egi...itu hanya jaket biasa, berlebihan sekali responmu!" Siska menegur Egi.


"Dasar anak udik. Biasa katamu! Kamu tahu berapa harganya jaket ini?" tanya Egi sambil menjitak kepala Siska.


"Emangnya berapa?" Siska nanya balik.


"Ini jaket yang paling murah, harganya 40 jutaan." Jawab Egi


"Haaaaaaaaaa.....!!!Siska memposisikan diri seperti orang hendak pingsan.


"Fitri...cubit aku sekuat mungkin!" Fitri mencubit sekuat tenaganya.


"Auwwwwwwww...! Fit, mau membunuh ya?!"


"Kan kamu sendiri yang nyuruh cubit sekuat mungkin. Kalau g dilakukan, nanti disalahin. Siapa yang salah? kamu kan?" Fitri membela diri dan dikuti tawa dari yang lainnya. Aldi ikut tertawa memperlihatkan gigi ginsulnya dan membuatnya semakin tampan.


Siska mengosok gosok kulitnya yang kemerahan karena cubitan Fitri. Kemudian Siska membuka miliknya begitu pula yang lain.


"Kamu jangan bilang kalau semua barang ini harganya sama dengan jaket itu!"


Annisa tersenyum pertanda sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya. "Sebelum aku balik, kenalin dulu kakak aku namanya Aldi. Dulu dia yang sering ke mari bersama CEO "Putra Jaya."

__ADS_1


Aldi menyalami sahabat-sahabat adiknya. Aldi bisa merasakan bagaimana keakraban diantara mereka semua. Tak lama kemudian Farah dan langsung menuju keruangannya. Beliau tidak menghiraukan anak buahnya yang sedang berkumpul. Ia keluar dari ruangannya untuk memastikan persiapan rumah makan. Annisa mendekati Farah dan memberikan sebuah bungkusan yang berbeda dengan anak buahnya.


"Apa ini, Nis?"


"Hadiah kecil, Bu! Bu, saya minta maaf karena sudah mengganggu ibu. Terima kasih atas semua kebaikan ibu pada saya. Ibu memberikan saya pekerjaan dan banyak membimbing saya!"


"Sudah kewajibanku Annisa. Kamu datang dengan kakakmu?!"


"Iya, Bu!" jawab Annisa sambil menunjuk kakaknya.


Farah mendekati anak buahnya. Kemudian Annisa dan kakaknya pamit pulang.


"Terima kasih ya semua, terima kasih ya, Bu!"


Para wanita memeluk Annisa termasuk Farah. Aldi dan Annisa meninggalkan rumah makan.


Setelah Annisa pergi, Farah masuk keruangannya dan membuka bungkusan pemberian Annisa. Farah tersenyum senang melihat tas mahal yang ada ditangannya.


Anak itu tahu kesukaan saya, ucap Bu Farah dengan menunjukkan ekpresi bahagia karena tas yang diinginkannya ada didepan matanya. Farah kembali keluar dari ruangannya dan menuju bagian penyediaan makanan. Farah meminta untuk dibungkuskan beberapa menu istimewa yang akan dibagikannya kepada fakir miskin. Dalam hitungan menit semuanya sudah tersedia. Beberapa ratus bungkus makanan siap dibagikan. Farah memanggil Bondan untuk membagikan makanan tersebut.


"Pak Bondan...!"


"Iya, Bu!"


"Kamu bagikan makanan ini kepada yang lebih membutuhkan!" Perintah Bu Farah. Pak Bondan pun segera meluncur ke tempat dimana banyak anak-anak jalanan.


Di Negara lain


"Ibu...! bagaimana rencana Tante Fani? sudah berapa bulan berlalu, tapi g ada perubahan. Tante Fani pun g menyampaikan apa-apa ke kita," Anggita makin kesal dengan Bu Fani.


"Tunggu! ibu telepon dia dulu," Lidia segera menekan nomor telepon Fani


Kring kring kring


Fani mengeluarkan gawainya dari tas cantik miliknya. Melihat nama si penelpon, Fani sedikit panik karena ia pasti akan di cecar dengan pertanyaan. Meskipun begitu, Fani tetap mengangkat gawainya.


"Halo, jeng Lidia! apa kabar?"


"G perlu khawatir, jeng! semua akan berjalan sesuai rencana meskipun sedikit terlambat. Minggu depan, Furqan akan membawa ke kasihnya ke rumah. Katanya sih, mau ia kenalkan kepadaku. Kamu tahu, dia sudah percaya lagi denganku. Kalian tenang saja di sana, tunggu kabar dariku, oke!"


"Baiklah, kami tunggu kabar baiknya!"


"Aku tutup dulu telponnya, aku lagi arisan nih!" Ucap Fani pada calon besannya. Sebelum Lidia menjawab, Fani lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya.


"Gimana, Bu?" tanya Anggita penasaran.


"Tenang, sayang! Minggu depan Furqan akan memperkenalkan kekasihnya pada Fani. Disaat itulah Fani akan beraksi. Dia akan membuat gadis itu merasa mati tak mau, hidup pun enggan, kita cukup duduk manis menunggu hasil dari aksi Tante Fani. Kita akan memetik hasil dari pekerjaan orang lain, ha ha ha!" Lidia tertawa senang begitu pula Anggita.


***


Aldi dan Annisa sudah berada di kantor "Putra Jaya". Keduanya menunggu Furqan yang sedang ke toilet. Tak lama kemudian yang ditunggu muncul.


"Annisa...!" Furqan kaget melihat gadis kesayangannya ada di dalam ruangannya sendiri. Terbesit sedikit rasa senang karena Annisa datang sendiri. Dia pura-pura menanyakan Aldi.


"Aldi g ikut?"


"Kak Aldi ada diluar menemui Maya. Kakak pasti mengira aku datang sendiri kan?!" selidik Annisa.


"Siapa yang bilang begitu?"


"Aku!" Annisa menunjuk dirinya sendiri membuat Furqan gemas ingin menciumnya. tapi hal itu tak mungkin dilakukannya karena Annisa g mau di sentuh meskipun hanya berpegangan tangan. Kemudian Aldi muncul dan langsung duduk di sofa.


"Kenapa datang g memberitahuku? Aku bisa siapkan sesuatu untuk Annisa." Ucap Furqan


"G perlu, kami juga g lama. Kami akan kerumah paman Hermawan hari ini. Sudah lama kami tidak mengunjunginya, sejak Annisa terbukti adalah adikku!" jawab Aldi.


"Aku akan ikut dengan kalian, akupun harus mengenal mereka. Bagaimanapun mereka akan menjadi bagian dari keluargaku nantinya!" Furqan begitu yakin dengan ucapannya.

__ADS_1


Annisa tersenyum dan senyumannya berhasil membuat Furqan ingin meleleh. Annisa selalu membuat Furqan tak bisa bernapas. Dirinya sudah tidak sabar ingin menikahi Annisa agar secepatnya bisa memeluknya. Kemudian ketiganya meluncur ke rumah paman Hermawan. Kedatangan mereka bertiga membuat istri teman sekantor Hermawan julid. Beruntungnya Dudung selalu berhasil mensterilkan sifat istrinya karena dia tahu, Hermawan tidak seperti itu. Dia naik jabatan karena kerja kerasnya.


"Pak...siapa lagi tamu si Hermawan? coba lihat mobilnya, mewahkan? pasti si Mawan mengundang pejabat kerumahnya untuk cari muka. Dasar licik, mau naik jabatan nyogok pejabat!" omel istri Dudung.


"Tu lihat siapa yang datang? Annisa kan?" Dudung geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya. istrinya langsung masuk ke dalam karena malu salah menuduh.


Aldi, Furqan dan Annisa keluar dari mobil. Hermawan dengan senyum bahagianya menyambut mereka.


"Assalamualaikum, paman!" ucap Annisa dan Aldi.


"Waalaikumsalam!" jawan Hermawan


"Aldi, Annisa..., ayo masuk!"


Annisa dan Aldi menyalami dan mencium tangan pamannya. Furqan ikut melakukannya dan pak Hermawan salut di buatnya.


"Bu...masak yang banyak, ada Annisa dan nak Aldi dan juga temannya ni!" Hermawan memberitahu istrinya dengan sedikit membesarkan suaranya agar kedengaran sampai di dapur.


Mendengar suaminya, Tuti segera ke ruang tamu dan melihat tamunya.


"Annisa...!Tuti segera menghampiri keponakannya dan memeluknya.


"Kenapa baru ke mari? Aisyah dan Fardan nanyain kamu terus, Nis!"


"Mereka kemana, Bi? g kelihatan?"


"Mereka dibelakang rumah, sedang membersihkan tanaman. Nis...buatin minum gih!" perintah Tuti.


Annisa segera ke dapur membuatkan minuman untuk seisi rumah. Kemudian, Annisa keluar bersama nampan berisi minuman dan toples kue buatan bibinya. Setelah itu, Annisa kembali ke belakang menyusul adik-adiknya. Sementara Furqan merasakan kedamaian berada dirumah sederhana Hermawan.


"Paman...kenalin CEO Putra Jaya, bos saya!" ucap Aldi pada pamannya.


"Furqan, paman!" Furqan lebih dulu menyalami Hermawan.


"Saya pamannya Annisa. Jangan sungkan datang ke mari! teman nak Aldi dan Annisa kami anggap sama seperti mereka berdua."


"Iya, paman!" jawab Furqan


Mereka bertiga ngobrol hingga waktu shalat magrib tiba. Hermawan mengajak mereka semua shalat berjamaah di belakang. Furqan kagum dengan keadaan Hermawan, rumahnya sederhana tapi ada tempat khusus untuk shalat berjamaah. Furqan merasa malu memikirkannya. Setelah selesai berjamaah, mereka bertiga kembali ngobrol ditempat shalat. Tanpa ragu dan malu, Furqan mengutarakan niatnya untuk melamar Annisa.


"Paman... kebetulan saya sudah bertemu paman di sini, saya akan datang bersama orang saya untuk melamar Annisa. Kiranya, paman bersedia menerima kami!"


"Nak Furqan! terima kasih sudah punya niat baik pada anak kami, tapi semuanya tergantung Annisa. Jika Annisa setuju, tidak ada alasan bagi kami untuk menolak nak Furqan. Paman tahu, kalau nak Furqan laki-laki baik dan bisa menjaga Annisa, tapi semua keputusan ada ditangan Annisa. Bukan begitu,nak Aldi?" jelas Hermawan sembari bertanya pada Aldi.


"Iya, paman!"


"Sebelumnya, maaf nak Furqan, apakah Annisa sudah pernah dipertemukan dengan keluarga nak Furqan?"


"Belum pernah, paman!" jawab Furqan


"Sebaiknya, ajak Annisa bertemu keluarga terutama orang tua nak Furqan. Jika sudah bertemu, Annisa bisa mengambil keputusan dengan tepat. Paman tidak ingin Annisa dan nak Furqan terburu-buru mengambil keputusan!"


Obrolan mereka terhenti, ketika Fardan datang memberitahu Hermawan jika sudah waktunya makan malam. Semua laki-laki makan dalam satu meja, sedang Annisa, Tuti dan Aisyah memilih melantai di teras belakang rumah. Sebelum pulang Annisa memanggil Fardan dan Aisyah ke kamar Aisyah.


"Far...ais! kakak ingin memberikan sesuatu untuk kalian berdua. Jangan beritahu paman dan bibi dulu. Tunggu kami pulang baru beritahu paman dan bibi. Jika diberitahu sekarang, paman dan bibi pasti menolak!" Annisa mengeluarkan dua kartu sakti dan diberikan kepada kedua adiknya.


"Gunakan kartu ini jika kalian memerlukan sesuatu! PINnya tanggal lahir kalian berdua."


"Tapi kak?" Fardan ingin menolak tapi langsung di tolak Annisa.


"Jangan berani menolak pemberian kakak. Belajar dengan baik, dan semoga ikhtiar paman dan bibi menyekolahkan kalian bisa membawa berkah buat keluarga!"


"Aamiin!" ucap Aisyah dan Fardan.


Kemudian Annisa keluar dan bergabung dengan yang lain. Ketiganya pamit pulang. Tidak lupa dan Aldi menyalami paman dan bibinya serta memeluk adik perempuannya. Furqan berada paling belakang sedang ngobrol dengan Hermawan.


"Terima kasih, paman! Saya akan mengajak Annisa bertemu orang tua saya dulu".

__ADS_1


"Jika nanti ada yang tidak setuju, bicarakan baik-baik dengan Annisa! Annisa orangnya berjiwa besar!" ucap Hermawan


"Baik, Paman! Kami pulang dulu!" pamit Furqan pada Hermawan. Mereka masuk ke mobil dan mereka meninggalkan rumah Hermawan.


__ADS_2