Alvian Tungga Putra

Alvian Tungga Putra
ATP S2 : kisah cinta Alvian


__ADS_3

aku nggak pernah bosen buat bilang makasih ke kalian karna kalo bukan karna kalian, aku nggak mungkin bisa buat karya ini.


aku mungkin nggak lama lagi akan menamatkan cerita ini sekitar beberapa bab lagi untuk itu ijinkan aku selalu author yang masih amatir dan absurd mengucap permohonan maaf yang sebesar besarnya.


aku ngerasa novelku ini jauh dari kata sempurna dan akupun juga masih akan terus berkarya karna jujur kalian lah penyemangat ku disaat aku berada dititik terendah dalam hal menulis.


karna jika kalian juga sebagai penulis pasti kalian juga merasakan bagaimana rasanya kalian nggak bisa nulis sedangkan kalian terus mesti berkarya. so thank you full for all.


dan aku juga nggak pernah bosen buat promo chat story baru aku judulnya group chat : tetangga masa gitu



itu ss lama dan aku udah up kok sampe beberapa bab cuss ditengok yaakk thank you.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Alvian sedang duduk dirumah utama karena setelah sakti empat tahun lalu menikah dengan Afanin, dirinya memilih tinggal dibandung dengan sang istri dan anak sambungnya.


Al menikmati kesendiriannya di belakang halaman rumah yang terdapat kolam renang dan taman kecil yang selalu di rawat asisten rumah tangganya.


dirinya memikirkan apa yang akan ia capai sekarang,


tak lama suara yang ia sangat kenal menghampiri pendengarannya


" mikirin apa sih anak bujang papa ini??" ternyata sakti, Afanin, dan Aleah, anak sakti dan Afanin berusia tiga tahun datang dari Bandung


" loh ibu sama papa kapan sampai??" Al mencium takzim keduanya


" barusan sampe, si cantik kangen kakaknya"


" kak Al ganteng" Aleah memeluk Alvian dengan hangat dan Al mencium pipi gembul adik kecilnya itu


" kok nggak bilang kakak mau kesini kan biar kakak siapin mainan banyak" Al mendusel pipi bakpao adik nya tersebut membuat Aleah kegelian


" kak all geuuullii kak kan Niall seeuullpliss hihihi" ucapan Aleah membuat semuanya tertawa


" oke trus kakakmu si Mala kemana?? apa dia nggak kangen sama kakak gantengnya ini??"


" kak Mala eeuunndaakk boleh ikutt ntall dia seulalu Pepet Pepet kak Al. aku eundak bisa main sama kak Al" mendengar ucapan Aleah membuat menengok ke kedua orang tuanya dan langsung dijawab Afanin " Mala kan lagi siapin sidangnya, trus toko kue nanti ngga ada yang jaga apalagi udah punya dua cabang ga bisa ditinggal trus Mala juga mau ketemuan sama pacarnya"


" pacar??" beo Al


" kamu kalah sama adikmu dia malah udah dilamar Ama pacarnya abis wisuda nikah" ucap sakti


" ibu nggak mau Mala nanti terjerumus yang nggak nggak lagian cowoknya udah mapan dan siap jadi yaudah di segerakan saja" ucapan Afanin dianggukan semuanya.


" assalamualaikum" suara perempuan baru datang sedang menunggu didepan pintu dan hendak dibukakan asisten rumah tangga


" waalaikumsalam, eh kamu udah Dateng" Al datang menghampiri tamu tersebut dan diikuti kedua orang tuanya sedangkan Aleah sedang bermain dengan asisten yang biasa memegang Aleah dirumah utama

__ADS_1


" siapa Al yang datang"


" eh lagi ada tamu mas??" ucap perempuan itu kepada Alvian


" ia dia orang tuaku dari Bandung Putri"


yang datang adalah putri, karna diminta mengantarkan kue yang dipesan Al untuk dirinya dan asisten rumah tangga Alvian, Alvian sering memesan tadinya mau dijemput Alvian dirumah putri langsung namun putri menolaknya.


" kamu pacarnya Alvian??" sakti langsung memberikan pertanyaan itu kepada putri karna menurut Al jika bukan orang yang spesial tidak mungkin Al berkata lembut kepada seseorang. sikap ketus dan dingin yang sudah mendarah daging tentu sudah dihafal oleh sakti selaku orang tua


sedang Afanin mencubit lengan suaminya dengan gemas karna pertanyaan nya membuat putri tidak nyaman dilihat dari gestur Putri yang kikuk.


" eh .. saya bukan" ucapan Putri langsung dipotong Al, dirinya tau jika putri akan berkata jujur jika memang keduanya tidak ada hubungan apapun namun agar papanya penasaran akan digantung Al


" papa kepo deh kaya nggak pernah remaja aja"


" kamu itu udah tua, dua puluh enam tahun muda darimana lagian juga kalopun pacar ya nggak masalah tapi buruan nikah biar bisa nyusul Sherina dia lagi mual mual tuh kayanya lagi isi" Al malas mendengar ucapan sakti sedang putri hanya menunduk dan Afanin yang gemas pada sang suami membuatnya menarik ke dalam


" mas aku cape mau istirahat temenin ya" ibunya memang the best penyelamat terbaik. saat Afanin menarik sakti, Afa sedikit menoleh kebelakang memberikan kode kepada Al dengan gestur mukanya dan diacungkan jempol oleh Alvian sedang putri sedaritadi hanya diam menundukan kepalanya.


" hei . dibawah ada apa??"


" eemmm nggak ada apa"


." yaudah masuk dulu yukk buat nyimpan kue kuenya didapur" dan dianggukan putri


sedikit cerita awal kedekatan Alvian dan putri empat tahun lalu.


saat gaji pertama ia terima, ia berkata pada sang ibu jika ingin dibuatkan kue untuk bosnya


" ibukk..."


" ia nak ada apa??"


" bisakah ibu buatin aku kue untuk atasan aku yang udah kasih aku pekerjaan sebagai rasa terimakasih??"


" mau kapan?? kalo hari ini ibu nggak bisa lagi ada pesanan nak"


" yaudah Putri bawa besok aja bisa kan Bu??"


" yaudah kalo gitu"


" ini uang gaji aku buat ibu dan ini buat biaya bikin kuenya." putri memberikan gajinya sebanyak 3.200.000 sebagai uang untuk kebutuhan dan 300.000 sebagai uang pembuatan kue


" ini banyak banget, buat kamu gimana?? jangan dikasih ke ibu semuanya"


" ibu tenang aja, ini aku udah pisahin buat aku sendiri kok. kan kerjanya jalan karna dekat dan makan bawa dari rumah jadi buat aku itu cukup banget Bu" karna memang jarak kantornya dekat dengan rumahnya


siibu berdoa menadahkan kedua tangannya sambil menangis terisak " makasih nak ibu bahagia banget"

__ADS_1


" yaudah jangan nangis sekarang aku berangkat kerja ya"


" ia assalamualaikum" putri mencium takzim sang ibu dan pergi meninggalkan sang ibu.


keesokan harinya putri menunggu kehadiran Alvian karna memang janitor ruangan putri berada satu lantai dengan Alvian.


melihat Alvian sudah datang, dirinya memberikan kue buatan ibunya tsb.


tok tok "permisi pak"


" masuk"


" pagi pak maaf ganggu, saya mau kasih ini buat bapak" putri memberikan sekotak kue ukuran besar berisi kudapan beberapa jenis kue basah dan bolu yang biasanya ibunya jajakan.


sedangkan Al termenung bukan karna tidak suka melainkan mengingatkan seseorang yang beberapa waktu lalu tidak sengaja ia tabrak dan diakhiri dengan dirinya membeli semua kue milik siibu tersebut


namun karna putri melihat ekspresi Al seperti itu membuatnya berucap " pak. pak Alvian"


" eh iya"


" bapak enggak suka?? kalo gitu saya buang saja"


" ah bukan begitu, kue itu mengingatkan saya kepada seorang ibu renta yang belum lama tidak sengaja dagangannya saya rusak karna hampir tertabrak mobil yang saya bawa" ucapan Al membuat putri berpikir ibunya belum lama ini juga bercerita hampir kecelakaan karna hampir tertabrak namun selamat dan dengan berbesar hati semua dagangannya hari itu dibeli orang tsb.


" kok cerita bapak kaya ceritanya ibu saya ya pak??"


" benar begitu??" dan dianggukan putri


" mungkin ibumu orang yang tak sengaja hampir saya tabrak itu saya minta maaf atas nama pribadi dan supir saya. kue ini saya terima terimakasih yah" Al tersenyum dan putri pamit undur diri dari Alvian.


seharian itu putri terus saja tersenyum mengingat bos yang dikenal dingin dengan orang lain tersenyum dengannya.


sedang Al penasaran dengan rasa kue buatan ibu putri tsb karna sewaktu kemaren membeli dagangan sang ibu, dirinya tidak mencicipinya sama sekali karna langsung ia serahkan kepada supir untuk dibagikan.


semua kue ia cicipi ada lima macam yang masing masing berisi sepuluh.


" enak juga ternyata, tapi ini terlalu banyak kalo aku bagiin ke karyawan lain disangkanya nggak menghargai" maka Al memutuskan memasukkan ke dalam kulkas yang ada di ruangannya dan membawanya pulang.


karna para artnya senang dengan kue buatan ibu putri, diri ya sering memesan sebagai bentuk terimakasih kepada para artnya jika dihitung setiap Minggu dan kadang dua Minggu sekali. ia juga berpikir jika dengan begitu, dirinya bisa membantu perekonomian sang ibu dan putri.


setahun seperti itu membuat Al senang jika putri datang membawa kue entahlah apa perasaannya itu bisa diartikan sebagai rasa suka atau hanya empati.


Al memutuskan untuk menyuruh putri memangilnya mas jika ke rumahnya karna itu diluar jam kerja, awalnya putri kaget dengan apa yang diminta Al namun sekarang malah sudah terbiasa.


hubungannya semakin lama semakin baik hingga tahun keempat. putri yang memang belum memiliki kekasih karna memang memikirkan sang ibu yang sakit dan setahun lalu ibunya berpulang harus menghidupi kedua adiknya yang masih sekolah.


selama putri terpuruk, Al selalu membantunya dan setahun belakangan ini juga Al sudah memastikan jika dirinya tertarik dengan putri namun masih trauma akan mendiang sang istri.


dan tahun ini rencananya ia akan merealisasikan keinginan terbesar yaitu kembali membangun rumah tangga dengan putri.

__ADS_1


tbc


__ADS_2