
percakapan garis miring menggunakan bahasa Inggris, bijak dalam berkomentar.
happy reading 💜💜💜
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
pagi menyapa, mata kedua insan yang barusaja melalui malam hangat terkesan panas masih terpejam.
suasana romantis hening ditambah lelah akibat pertempuran panas tsb membuat keduanya enggan untuk membuka mata.
hanya dibalik selimut keduanya masih polos.
mata Putri mengerjap akibat celah matahari yang masuk ke sela jendela. ia membuka mata perlahan melihat indahnya ciptaan tuhan yang sedang ia nikmati
suaminya
dengkuran halus masih menggema menandakan pemilik raga masih tertidur dan putri tersenyum.
tersenyum menikmati buah kesabaran yang ia selalu lakukan dahulu. benar kata orang jika kesabaran akan berbuah manis.
dulu, ia hanya dapat memandang ciptaan indah milik tuhan dari jauh dan kini, bahkan ia sudah menjadi miliknya
miliknya
" sudah puas memandang wajah tampanku sayang?"
" eh,"
mata alvian perlahan terbuka memperlihatkan mata indah miliknya dan sambil tersenyum,
senyum manis yang hanya diperlihatkan oleh istrinya, dan pipi rona terpancar di wajah sang istri.
" morning sayang," cup Al tanpa izin mencium bibir istrinya yang masih merona itu
" menggemaskan."
" mas,, aku kan malu," ucapan Putri hanya dijawab dengan tawa renyah Alvian hingga telinganya memerah
bisa bisanya
" aku bahkan sudah melihat dan menikmati semuanya sayang, masih saja malu lagipula aku suamimu kau ingat," mengacak pucuk kepala dan mendudukkan diri di sandaran tempat tidur
" mas hari ini agenda ya apa saja?" putri ikut mensejajarkan duduk dengan suaminya namun bagian atas ditutup dengan selimut karna masih polos
" kita bertemu Abigail dahulu setelah itu ia akan jelaskan apa saja yang aku harus kerjakan mungkin seminggu ini agak padat kalo mau jalan duluan, aku bisa hubungi seseorang disini untuk menemanimu, bagaimana?"
" aku akan ikut mas saja, aku kan memang tugasnya mengikuti mas."
" meski ke toilet?"
__ADS_1
" mas, ih nyebelin," pipinya kembali merona
" oke kita mandi bareng?" ucapan Alvian langsung dijawab dengan gelengan kepala " enggak mas aku bener cape semalem habis digempur kamu mas,"
lagi lagi Alvian tertawa " siapa suruh punya badan enak buat diajak olahraga?"
" hah." mata Putri membola "maksudnya?"
" olahraga ranjang," bisikan Alvian membuat putri kembali memukul bidang dada suaminya dan Al langsung kabur ke kamar mandi ia harus buru buru keluar mengingat sudah jam delapan pagi jika tidak, istrinya sudah akan menjadi santapan pagi sebelum sarapan yang sesungguhnya.
*****
mereka sudah turun ke resto halal yang ada di lantai dasar hotel, Abigail sudah nampak disebuah meja bersama seorang gadis yang usianya sekitar enam belas tahun dan seorang pria yang wajahnya mirip Ed Sheeran yang Al prediksi adalah suaminya.
" selamat pagi semua, maaf agak terlambat," mengingat jam menunjukan pukul 09.00 sedang Abigail bilang sarapan sekaligus pembahasan proyek akan dilakukan pukul delapan lebih tiga puluh menit.
" ya ya ya, aku juga yang salah menentukan hari kerjasama disaat masa honeymoon, jadi kau bisa sekalian."
Al hanya tertawa mendengar suara amarah Abigail itu,
" maaf, aku tidak bermaksud tidak mengundangmu, itu semua yang mengurus para tetua keluargaku," ucapan Alvian dibalas dengan kerutan dahi Abigail seolah bertanya dan mengerti maksud tsb Al menjawab " papa, ibu, mama dan ayahku dan Sherina pun terlibat aku hanya ikuti kemauan mereka saja, aku minta maaf,"
" oke aku akan maafkan, so mana oleh oleh ku?" tanya Abigail
" ada dikamar nanti aku ambil."
Abigail mengangguk nganggukan kepalanya. nampak gadis yang duduk sejajar dengan Abigail dan pria bule tsb memandang canggung dan putri menangkap jika ia kagum akan sosok suaminya.
Alvian pun hanya memandang ke arah sang istri seolah bertanya ah ternyata iya lupa memperkenalkan sang istri.
" Abi, ini istriku namanya Putri, dan sayang ini Abigail kolega sekaligus mantan calon mamahku dulu,"
" Abi. senang berkenalan denganmu"
" putri."
" dan ini suamiku namanya Justin berasal dari Britania juga, ini Evelyn anakku berusia enam belas tahun seharusnya anakku yang pria namanya John ikut hanya saja kakak pria ku melarang ya karna tidak ada teman bermain," jelas Abigail
" usia John?"
" sepuluh tahun, dia sangat tampan.".
" ya..ya.. aku tahu itu, apakah suamimu itu tidak capek mendengar celotehan mu setiap hari?" ucapan Al membuat Abi melempar tisu kearahnya dan Justin juga Evelyn tertawa, sedang putri yang tidak terlalu fasih bahasa Inggris hanya tersenyum kikuk melihat interaksi keduanya.
" aku sedang meledek Abi apakah suaminya tahan dengan celotehannya setiap hari?" Al membisikkan sang istri dan putri pun tersenyum
" kau, jika saja aku yang menjadi mamahku dulu, sudah ku buat kau tidak bisa berbicara seperti itu," marah Abi namun hanya dijawab dengan gelengan kepala semua orang."
" memang kenapa?" tanya Justin
__ADS_1
" dulu dia berminat menjadi ibu sambung ku hanya saja papaku tidak menyukainya," ucap Al
" apakah sekarang masih menyukainya?" tanya Justin
" sayang, jika aku masih menyukai nya, aku tidak akan punya John dan Evelyn sayang, itu hanya masa lalu saja."
" sudahlah aku hanya bercanda saja, jadi apa agendaku hari ini dan selama beberapa hari kedepan?" tanya Al
dan Abigail menjelaskan semua rencana yang dilakukan jika dihitung ternyata hanya memakan waktu lima hari saja, ia sengaja memberitahu dua pekan lantaran sakti berkata jika Alvian tidak jadi bulan madu lantaran sang istri berat dengan kedua adiknya dan tanpa diketahui ternyata sakti dan Abigail berkonspirasi untuk membohongi Alvian menjadi dua pekan agar sakti segera menimang cucu.
diumur yang sudah menginjak lima puluh tiga tahun, keinginan sakti hanya ingin menimang cucu sebanyak banyak nya mengingat anaknya Aleah masih kecil sedang Alvian generasi yang sudah siap memberikan cucu.
dan hal ini sudah dijelaskan oleh Abigail beruntung putri tidak memahami pembicaraannya karna hanya menatap keduanya lebih tepatnya ke Evelyn yang terus saja memandang Alvian bolehkah seorang putri cemburu?
raut wajah sang istri terlihat, Al menyadarinya hanya saja ia akan bertanya jika Abi sudah menjelaskan semuanya karna tidak baik menjelaskan ada orang lain.
di sebuah negara yang jaraknya beribu kilo meter tepatnya di Jakarta, Sherina barusaja bergulat panas dengan Fadly.
sejak menikah dan mengandung buah cintanya dengan sang suami, Sherina lebih suka berdekatan dengan sang suami bahkan kegiatan panas pun kini lebih intens meski tidak setiap hari karna masih hamil muda, sikap Sherina sangat posesif pada sang suami.
Fadly harus mengajak sang istri ketika mengajar karna Sherina takut Fadly tergoda dengan wanita lain dan ia tidak mau itu terjadi.
percakapan di jam tiga pagi setelah pergerumulan panas
" sayang," ucap Fadly
" humm," Sherina melihat sang suami
" kamu mau kita tinggal di apartemen terus atau cari rumah tapak?"
" hmmmm maunya sih cari rumah tapak tapi kalo bisa deket sama mama juga sama Al,"
" kenapa?"
" aku sudah biasa hidup ramai sayang, jika hanya berdua dan sepi aku akan terus berpikir yang tidak tidak mengenai mu sayang, kalo deket kan aku bisa ke rumah salah satu dari mereka apalagi aku belum dekat dengan istri Al itu,"
" nanti kita coba cari kalo gitu?"
" beneran?" dan dianggukan Fadly
saking berbinar nya, Sherina memeluk bahkan mencium sang suami dengan sangat lembut namun saat ingin dilepas, Fadly menarik tengkuk sang istri junior sang suami kembali on
shiittt Fadly mengumpat jika ia tidak ingat sang istri sedang hamil muda, sudah ia garap kembali sang istri.
Fadly melepas pagutan tersebut dan menatap mata indah Sherina selalu mengucap syukur tidak sia sia ia menunggu selama empat tahun memendam rasa pada Sherina
" i love you" bisik Sherina
" love you more,"
__ADS_1
tbc