Alvian Tungga Putra

Alvian Tungga Putra
ATP S2 : Perkara Mangga


__ADS_3

Al melihat sang istri menggeliat diatas sofa nyamannya mengerjap dan Al masih berpikir benarkah sang istri hamil?


ia bahkan mencari tahu setelah selesai membeli asinan buah dan tanda tanda yang dimiliki sang istri benar seperti


orang hamil


" mas,,, asinan buahnya mana?"


benarkan


" ada didalam kulkas tadi mau bangunin kamu, pules banget tidurnya." Al menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat.


" mas, ganti parfum?"


hah


" enggak kok, kenapa emang?"


" baunya enak, aku suka mas."


ini parfum mahal yang biasa Aku pakai, bedanya dimana?


tunggu?


jadi benar?


" kapan kamu terakhir periodik?" putri nampak berpikir kenapa sang suami bertanya demikian, tapi ia tidak mau ambil pusing.


" kayanya seminggu sebelum nikah soalnya aku nikah itu baru suci."


benar kan, spekulasiku mengatakan dia hamil.


" kita pulang gimana?"


" kenapa emang mas?"


" nanti juga tahu." segera keduanya membereskan perlengkapan mereka tidak lupa asinan buah yang tadi Al beli dipangkunya oleh sang pemilik.


Al mampir ke sebuah apotek besar untuk membeli beberapa perlengkapan, beruntung sang istri tidak menginginkan turun.


melewati beberapa pohon indah, putri melihat beberapa buah mangga yang tumbuh nampak subur dan besar.


" mas, turun bentar."


" kenapa?"


" aku mau mangga itu."


" kita beli ke supermarket aja ya, lebih Mateng lebih higenis dan terpercaya." entah mengapa tatapan sendu dan ingin menangis.


" kamu ngidam?" putri menghentikan aksinya dan menatap sang suami dengan bingung apakah ia dirinya sedang hamil?


" masa iya sih mas aku hamil."


" masih mau mangga?" dan dengan antusias dia menganggukan kepala


" tapi maunya Dikha yang ambil."


biasanya jika orang hamil yang diinginkan adalah suaminya yang mengambilnya, haruskah aku bersyukur atau bertanya tanya?


" oke."


kebetulan memang jarak pohon mangga sudah masuk kompleks perumahan elit kediaman rumahnya itu, Al menelpon Dikha


" ya mas."


" kamu udah dirumah?"


" udah baru sampe," mengingat jam menunjukan pukul tiga sore.

__ADS_1


" kamu bisa ke jalan Boulevar di jalan utama kompleks?"


" yang banyak manganya itu?"


" iya, pastiin pakai celana yang mudah digunakan."


" maksudnya?"


" celana pendek."


karna kakak mu sebentar lagi mau menyiksamu.


" yaudah aku ganti baju dulu sebentar." Tut....


" gimana mas?" sang istri menatap sang suami sudah selesai berbicara dengan adiknya.


" baru pulang, kita ijin dulu."


mencari sekuriti kompleks dan ketemu dengan pihak pengelola.


" oh, istrinya lagi ngidam ya mas, gapapa ambil aja sesuai kebutuhan nanti ngiler bahaya."


tuh kan konyol nya istriku meminta mangga yang langsung dipetik dari pohonnya membuat spekulasi jika sang istri hamil, padahal kebenarannya belum tentu.


Dikha baru sampai dengan motor yang dikendarai, ia melihat sang kakak ipar dan kakaknya dibawah pohon.


" mogok kak mobilnya?"


" enggak."


" terus?"


" dek,,, " mengeluarkan senjata puppy eyes terbaiknya, putri mendekati sang adik


" petikin kakak mangga yang itu."


hah


" udah ijin?"


" udah."


" oke."


sudah lama juga Dikha tidak merasakan naik ke atas pohon terakhir masa SD dan SMP ya.


ia lihat dalam menaiki pohon yang cukup tinggi tersebut, bahkan kaus Devada yang ia beli dengan harga ratusan ribu rupiah itu ditanggalkan begitu saja, hanya menyisakan kaos tipis lengan singlet saja yang ada.


Dikha, adik putri memiliki pesona tersendiri, putri dan Aisha mengakui itu hanya saja, ia tidak mau memiliki kekasih untuk saat ini sesuai janjinya dengan sang ibu.


ia harus bekerja dahulu dan membantu sang kakak membiayai adiknya baru diijinkan memiliki kekasih karna tidak ada yang tahu jika takdir mempertemukan Putri dengan sang kakak ipar yang kaya raya.


kedua adiknya tahu batasan, ia bahkan mau membantu pekerjaan rumah meski sudah ada sang asisten.


" yang mana kak?"


" yang itu yang tiga besar besar."


" ini?"


" sebelahnya dek."


Alvian hanya menatap pertunjukan yang tak pernah ia lihat itu.


" udah kak?"


" udah.."


Dikha turun dan kini memberikan mangga yang diinginkan sang kakak.

__ADS_1


" nih, buat keponakan om yang diperut."


eh


" emang udah dicek mas?"


" udah dibeli besok dicoba, enggak bisa hari ini."


" kan ada alat yang bisa dipake kapan aja mas, digital gitu biasanya."


Al menelisik sang adik " kamu kok tahu banget soal begituan?"


" jangan salah sangka, aku sering anter temen dulu disekolah lama buat beli begituan, aku sering disuruh temen aku yang malu belinya, lumayan kan ongkosnya bisa jajan Aisha sama aku tanpa minta embak."


Al terenyuh, segitunya mereka mengumpulkan uang sampai hal yang menjijikan dilakukan meski bukan mereka yang menggunakan?


" sekarang enggak lagi kan?"


" temen aku di JIS beda mas, ya walaupun masih ada satu dua orang yang dablek kayanya maksudnya melakukan hal itu, tapi mereka cerdas pasang alat supaya enggak jadi."


" begitu rupanya."


ia akan mencoba berbicara pribadi dengan Dikha, beruntung sifat adik iparnya mau terbuka dengannya.


sedang Putri, nampak tidak memahami pembicaraan kedua orang dewasa itu.


ia tampak bingung namun memilih masuk mobil, mangga ya selalu di pegang ya.


" nanti kita ngobrol banyak dirumah, sekarang kamu pulang gih."


" aku mau cari cemilan buat Aisha sama aku mas ke supermarket depan." Al mengambil dompet tebalnya namun langsung ditahan


" jangan mas, uang saku aku banyak, aku aja bingung bagaimana pakenya."


bayangkan, satu bulan diberi dua puluh juta sedangkan Aisha diberikan lima belas juta, karna mereka dulu hanya diberi saku paling banyak sepuluh sampai lima belas ribu satu hari itupun kadang masih mereka tabung.


" ya tabung kalo emang bingung pakenya, aku nyuruh hemat bukan berarti enggak boleh kamu pake buat beli barang yang kamu mau, nih anggap aja upah petik mangga." lima lembar warna biru yang diberikan bisa buat beli banyak camilan untuk nonton film etflix baru.


" oke, makasih mas lumayan bisa beli camilan buat nonton etflix yang baru."


" malem ini kakak gabung."


" oke." ketiganya berpisah beruntung sangat memang Dikha memiliki sang kakak ipar yang begitu menyayanginya, bahkan selalu menganggapnya sebagai adik sendiri.


tidak berulah, tidak neko-neko, dan satu pemahaman dan satu selera dalam bidang apapun membuat Alvian seperti memiliki sang adik.


Al sudah diberi tahu mana yang bisa dipakai kapan saja oleh Dikha berhubung anak itu belum pulang dari belanjanya .


sedang Putri sedang mandi dan membersihkan diri dikamar mandi.


bunyi pintu kamar mandi tanda putri sudah selesai.


" mas," Al tersenyum melihat sang istri


" udah seger?" dan dianggukan oleh putri.


ia memberikan dua alat tsb " kamu tampung pipis kamu disini, trus kalo udah masukin alatnya ke urin kamu."


" tespek?"


" ia mana tahu ada juniorku didalam sini." sambil mengelus perut rata sang istri


" kalo enggak ada gimana? nanti kecewa."


kemungkinannya kecil karna sudah minta aneh aneh


" ya kalo belum rejeki, berarti kita mesti sering main saham lagi." jawab Al dengan entengnya


" mas nih."

__ADS_1


tbc


__ADS_2