Alvian Tungga Putra

Alvian Tungga Putra
Eps.30 : keadaan Rumah Tangga Vania dan Sakti


__ADS_3

Sakti sedang berada dirumah bermain bersama Kalista, ia senang dan menyayangi anaknya tsb. tak lama Vena datang


" mau sampai kapan kamu harus jagain anak orang tsb?? gak mau apa kamu main sama anak sendiri??" mendengar ucapan mamanya tsb sakti langsung menyuruh Kalista naik ke atas


" sayang papa ada urusan orang dewasa sebentar ya, nanti kita main lagi kalo udah selesai urusan papa sama omah ya"


" iya papah" ucap Kalista yang langsung naik ke atas


" mah bisa ga jangan ngomong gitu depan kalista, biar bagaimanapun Kalista itu anak aku mah" ucap Sakti namun langsung ditepis oleh mamahnya


" bukan anak kamu, tapi anak perempuan yang gak guna itu"


"bukannya dulu mama yang maksa maksa aku buat nikah sama dia? ya udah nikmatin aja punya menantu seperti dia seperti yang Mama inginkan" ucap Sakti


" tapi mau sampai kapan dia belum ngasih Mama cucu kandung? mama butuh cucu laki-laki supaya bisa meneruskan perusahaan keluarga kita yang dibangun sama papamu dari nol" ucap Vena dengan nada sedikit marah


" fania belum mau punya anak lagi mah" ucap Sakti dengan lirih


"sekarang mama mau tanya sama kamu apa kamu belum pernah melakukan hubungan suami istri dengan Vania?" tanya Vena dengan penuh selidik


"menurut mama?"


"usia pernikahan kalian itu sudah 7 tahun bahkan lebih ih apa kamu sanggup tidak mengeluarkan hasrat itu pada istrimu sendiri tidak mungkin kan?"ucap Vena


" bagi aku, rasa cinta dan hasrat itu sudah lenyap ditelan oleh waktu setelah perpisahan aku dengan Rahayu, karena bagi aku Rahayu adalah cinta pertama Dan terakhir aku" ucap Sakti dengan lirih

__ADS_1


," apa sih kelebihan perempuan kampung itu? tidak bisa kasih keturunan perempuan mandul, perempuan kampung yang hanya dari kasta rendah kenapa kamu bisa cinta sama dia? apa jangan-jangan dia sudah guna-guna kamu?" ucap Vena dengan penuh selidik


" aku males ngomongin ini percuma mama nggak akan ngerti. satu hal yang mesti Mama tahu, Rahayu tidak mandul karena dia telah memiliki keturunan dari aku." Sakti langsung meninggalkan Vena nomornya terus saja berteriak dan bertanya-tanya maksudnya diucapkan oleh Sakti


" Sakti mau ke mana kamu, apa maksud ucapan kamu? sakti kita belum selesai bicara omong kosong apa yang tadi kamu ucapkan?" Vena geram dengan kelakuan Sakti.


" apa iya perempuan kampung itu memiliki anak dari sakti?? tapi jika iya, kenapa dia tidak meminta pertanggungjawaban terhadap Sakti? aku harus selidiki dan cari tahu" Vena bermonolog sendiri dan menghubungi seseorang


" aku punya tugas untukmu, kau ingat dengan mantan istri Sakti yang pertama?? yang sempat aku tidak setujui hubungannya? tolong cari tahu seluk-beluknya nya terutama apakah dia sudah punya anak atau belum Dan jika sudah cari tahu apakah dia anak sakti atau bukan?? ingat, tidak boleh ada yang tahu masalah ini selain kita berdua"


" baiknya nyonya" bales ucapan di seberang sana


.


.


iya memandang foto pernikahan antara dirinya dengan Rahayu 8 tahun silam. sejujurnya Sakti masih mencintai Rahayu terlebih Rahayu memiliki anak dari dirinya hanya saja, ia terlalu takut menampakan diri di depan Rahayu karena ia mengingat kata-kata yang diucapkan Rahayu seolah menggambarkan betapa bencinya Rahayu pada Sakti. namun kadang sakti juga heran kenapa mantan istrinya tersebut sampai saat ini belum juga menikah lagi apakah karena trauma atau karena memang iya belum bisa move on dari nya.


" aku merindukan masa-masa dulu kita sewaktu baru menikah. kamu apa kabar dengan Alvian?? andai kita bisa bersatu namun aku terlalu takut untuk memulainya terlebih ada mama yang selalu menghalangi itikad baik itu dan aku pun belum siap dibenci lagi olehmu."


saat dia tengah mengenang masa lalu, ada pesan masuk dari Fandi, orang kepercayaannya


" bos bisa ke kantor malam ini juga, ada masalah serius ini mengenai perusahaan"


" saya meluncur"

__ADS_1


Sakti langsung bergegas menuju ke kantor ada masalah apa sehingga malam-malam begini Fandi menyuruhnya ke kantor mengingat sekarang sudah jam 10 malam.


.


.


Vania sedang berada di sebuah cafe tempat biasa dia merenungkan nasibnya dengan sakti. ia tak menyangka pernikahan yang ia jalani selama lima hampir tujuh tahun tak bahagia. ia jarang melayani suaminya sendiri lantaran setiap ia menggodanya, sakti justru malah memilih tidur ataupun menyibukkan diri si ruang kerja hingga ia tertidur. namun ia tak mau dicap sebagai wanita yang tak tahu diri karena biar bagaimanapun Sakti telah menolongnya nya dengan mau mengakui kalista sebagai anaknya.


" udahlah, lo tinggalin pria kurang ajar macam Sakti itu. dia udah sia-siain istri sebaik Lo." ucap pria bernama Tama. sahabat sekaligus orang terdekat Vania sedari masa SMA dulu.


Tama mengetahui semua cerita sahabatnya tersebut. karena memang dirinya lah yang sering dijadikan pendengar baik oleh Vania. sebenarnya nya Tama menyukai Vania sedari kuliah dulu. namun ia mengetahui ketika lulus kuliah ia menyukai seseorang bernama Mukti. yang tak lain adalah ayah kandung dari Kalista. Tama terus mempertahankan perasaan yang timbul bertahun-tahun lalu. kini dia bertekad mengejar cintanya terlebih semenjak Vania bercerita jika Sakti tidak memperlakukan dirinya layaknya nya istri pada umumnya. dengan menambah sedikit provokasi untuk segera menceraikan Sakti sehingga dengan mudah Tama akan masuk ke celah terkecil tersebut.


" gue juga bingung, gimana cara ngerubah laki gue itu yang udah cinta mati sama mantan istrinya. apa perlu gue datengin mantan istrinya tersebut??" ucapan ia menghela nafas dengan kasar


" emang mantan istrinya selama ini ngegangguin hubungan lo sama dia?? enggak kan?? jangan aneh-aneh deh Van. yang ada oh didamprat sama mantan istrinya itu?? kecuali dia selalu ngegangguin laki lo itu. di sini posisinya yang salah itu laki lo si produk gagal move on. Ayolah gue bakal bantu kalau emang lo mau pisah sama dia" ucap Tama


" nyokap gue juga nyuruh pisah terus tapi ya gimana kalau boleh jujur selama 7 tahun ini perasaan itu juga udah tumbuh walaupun Sakti selalu mikirin mantan istrinya tersebut. gue di sini bodoh banget ya" ucapan Vania menghela nafas


" Van, ini tuh bukan lo banget loh serius deh?? Vania yang gua kenal orangnya selalu mengambil keputusan yang bijak tapi di sini cuma gara-gara elo udah ada rasa sama dia lo tetap mempertahankan pernikahan konyol ini" Tama masih saja memprovokasi Vania


" gua tahu lu banget. lu lagi ngeracunin otak gue kan supaya gue mau pisah sama Sakti?? oke karena lo sahabat terbaik gue yang gua punya saat ini, gue bakal coba pikirin doain mudah-mudahan pilihan gue yang terbaik ya"


" gua doain hilal yang lo terima pisah sama tuh cowok brengsek" Tama sudah merasa kesal dan lelah meracuni otak Vania.


Vania, meskipun ia tidak bahagia dengan pernikahannya. iya tak pernah melakukan hubungan ons ataupun kencan buta. Tama lah yang selalu menjadi pendengar baik dan keluh kesah kisah hidupnya dengan Sakti sang suami.

__ADS_1


TBC


Tangerang, 25 September 2021


__ADS_2