
Al dan Sakti memasuki ke rumah utama ini untuk pertama kalinya Alvian memasukinya. besar dan megah namun tak seperti di novel novel yang menemukan banyak maid, hanya tiga pembantu, satu tukang kebun dan dua satpam yang dan disini.
"selamat sore tuan" ucap bik Sri salah satu maid terlama disini, ia melihat tuannya menggendong seorang anak kecil namun bukan Kalista, sadar akan tatapan bertanya ya sakti langsung menjelaskan "kenalin bik ini anak kandung saya dengan Rahayu" bik Sri syok. dia salah satu saksi pertengkaran dan retaknya hubungan tuannya dengan mantan istrinya, setahunya mereka berpisah karena anak namun ini??
"bapak nggak salah?" ucap bik sri yang bertanya tanya dan langsung dijawab sakti "bener, ini anak kandung saya, bibik inget muka kecil saya kan?? memang nggak mirip" ucapan sakti membuat bik Sri menatap Al dengan menelisik mirip sih tapi "bukannya bapak dulu cerai karna belum punya anak??"
"papa bisa kita ke kamar?? aku lelah" Sakti langsung menoleh ke arah anak nya "oke yuk kita ke kamar kamu papa udah siapin kamar buat kamu dah lama banget, bik saya naik dulu ya tolong habis makan malam kumpulin semua orang disini" sakti memerintah dan langsung mengajak ke arah kamar yang memang sudah disiapkan, untuk barang barang sudah masuk ke kamar dahulu
"baik pak" sakti memang humble pada bik Sri karna sudah bekerja disini sejak sakti kecil.
.
.
"Rahayu udah siap belum??" Ahmad mengetuk pintu kamar karna ia sudah memberitahu sebelumnya akan mengajak makan malam, Sherina sudah siap dengan baju Sabrina warna soft pinknya namun sedari tadi anak perempuan yang genap berusia delapan tahun itu cemberut lantaran Alvian tidak ada di apart ketika ia kembali dari sekolah funday nya, sedang Rahayu sejak kejadian tadi sore tidak keluar kamar karna malu, Ahmad akan memberi kejutan kepada kedua perempuan berharganya nanti
Rahayu keluar, malam terakhir dijakarta ia akan habiskan menemani orang yang telah menolongnya, keluar dengan gamis berwarna soft pink sama seperti Sherina (karna memang Sherina diberikan Rahayu dan berwarna senada) dengan pasmina biru soft dan riasan nude dan simple, Ahmad melihatnya pun tak berhenti menatap, namun segera berucap "astagfirullah maaf" tentu membuatnya malu bukan main
"ayo ayah kita berangkat" Sherina langsung menggandeng tangan ayahnya dan mereka bersiap.
sudah sampai di restoran, ketiganya memesan makanan dan langsung menyantap makanan tsb, sedaritadi Ahmad gugup. entah apa yang dilakukannya sedang Sherina terus saja berucap jika dia merindukan Alvian si muka datar dan judesnya tsb.
makan selesai, mereka sedang mencicipi desert yang disiapkan, Ahmad gugup membuka suara "Ina sayang, ayah disini mau bicara sama mama ayu (Rahayu merasa namanya dipanggil langsung melihat kedepan) aku disini bukan sebagai ayah temen Alvian, ataupun teman yang membantu, namun disini aku sebagai seorang pria dewasa yang sedang mengutarakan isi hatinya, Rahayu maukah kamu menikah denganku, menemaniku dalam suka dan duka, menjadi ibu dari anak anakku, dan menjadi makmum halalku maupun pasangan halal ku?? jujur aku bukan type orang yang romantis karna termakan usia, bukan tokoh novel yang pandai merangkai kata, namun aku tulus karna sejujurnya setelah almarhum ibuku dan Ina, untukku saat ini kamu wanita yang aku cintai dan hargai setelahnya, jauh sebelum pengakuanku tadi sore aku sudah mulai merasakan hal yang berbeda denganmu" Ahmad gugup, mukanya merah Ina tak paham apa yang diucapkan hanya melihat keduanya sedang Rahayu syok bukan main,
"maaf, bisa kasih aku waktu sampai kepergianku esok?? aku harus bertanya baik pada anakku Alvian maupun pada Rabb ku" Rahayu menunduk, perasaannya bahagia campur sedih karna tak bisa langsung menjawab, ia bersyukur perasaannya ternyata terbalas. semenjak dirinya dijakarta, perasaan itu muncul hanya saja ia menepis jika itu perasaan wajar, karna sejujurnya pengalaman jatuh cinta hanya pada Sakti dahulu.
" iya gapapa aku akan tunggu sampai kamu siap"
.
.
.
bunyi ponsel berdering menandakan panggilan masuk, nomor tidak dikenal memanggil tengah malam, memang biasa buat Rahayu namun mengingat anaknya tak berada disampingnya, segera ia mengangkat
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam, mam im Alvian, what are you doing??"
" wah nomor siapa ini sayang?? mama baru mau telp kamu, mama mau bicara sama kamu boleh, kamu sedang sama siapa??"
__ADS_1
" papa sakti sedang mengerjakan pekerjaan sebentar diruang kerja, im alone, what do you want to talk about?"
"om Ahmad melamar mama, mama belum balas mau diskusi sama kamu, mama baru jawab besok, menurut kamu gimana sayang??" mamanya dilamar orang sebenarnya sudah sering hanya saja tak pernah ditanggapi baru kali ini dirinya dilibatkan mengenai hal pribadi
" mam, do you want to om Ahmad??"
"jujur mama menyukainya namun belum lama,"
"apa yang mama suka??"
"entahlah, mama merasa nyaman"
"aku setuju kalo mama mau jadiin om ahmad papa sambung"
"semudah itu.?"
"asal mama bahagia, im happy mam cause anything for the sake of mom's happiness, I support"
Rahayu bahagia anaknya menyuarakan pendapatnya "makasih sayang, mama mau istikharah dulu malam ini semoga aja dapat jawabannya,"
"oke.. oiya mam this is my new number, papa give me new handphone and more aku sampai bingung terimanya" Rahayu senang setidaknya ia sudah dekat dengan ayah kandungnya, terlebih sakti memperlakukan Alvian seperti raja "wajar kamu anak satu satunya kandung pula tapi jangan terbuai ya, ingat itu"
" of course mam, good nite mam"
.
sakti baru saja mengerjakan sedikit pekerjaan, saat ia kembali, ia mendengar anaknya menelpon seseorang
"waalaikumsalam, mam im Alvian, what are you doing??"
"...."
"papa sakti sedang mengerjakan pekerjaan sebentar diruang kerja, im alone, what do you want to talk about?"
"...."
"mam, do you want to om Ahmad??"
apa maksud ucapan Alvian ini?? mau?? Ahmad?? jangan jangan
"...."
__ADS_1
"apa yang mama suka??"
"...."
"aku setuju kalo mama mau jadiin om ahmad papa sambung"
tunggu jadi maksudnya Rahayu dilamar seseorang bernama Ahmad??
"...."
"asal mama bahagia, im happy mam cause anything for the sake of mom's happiness, I support"
"...."
"oke.. oiya mam this is my new number, papa give me new handphone and more aku sampai bingung terimanya"
"...."
" of course mam, good nite mam"
"hmm" Tut...
sakti mendengar semuanya, ia akan bertanya pada anaknya. sakti harus menyiapkan hati agar tidak sakit hati baginya Alvian sudah mau menerima dirinya lebih dari cukup.
"sayang, abis telpon mama" tanya sakti dan dianggukan oleh Alvian yang sedang memainkan laptop barunya memasang beberapa aplikasi namun tidak seperti laptop dirinya yang banyak aplikasi rahasia.
" tadi papa sempet denger mama dilamar??" dan dianggukan Alvian lagi
sakti menghela nafas, berbicara pada anaknya menyulitkan "siapa yang melamar??"
"om Ahmad, karyawan papa, ayahnya Ina si bawel, hhmmm kalo emang Ahmad jadi ayah sambung aku, maka aku bersiap serumah dengan si bawel Ina" sakti tak mengerti siapa Ina, yang ia tau Ahmad adalah yang menolong dirinya saat krisis.
"kamu suka dengan om Ahmad??"
"dia satu type denganku pa"
"maksudnya??"
" penyuka dunia cyber"
"apa kamu bakal lupain papa kalo mama menikah dengan om Ahmad??" Alvian menatap ayahnya ia lupa jika pria dewasa didepannya produk gagal move on "papa, aku pernah bilang kan untuk tidak memaksa mama jika mama tidak mau kembali?? papa mau aku lupain papa??" dan langsung dijawab dengan gelengan mantap "kalo gitu jangan menanyakan hal konyol yang jelas nggak akan aku lakuin" untuk pertama kalinya sakti dimarahi anak kandungnya sendiri namun bukannya marah justru malah senang bukan main.
__ADS_1
.
tbc