
Pagi hari waktu di Indonesia, rumah Rara banyak di padati rekan kerja ibu nya. Karena ayah Rara yang telah meninggal memaksakan ibu Rara harus mengurus perusahaan milik peninggalan suami nya.
Rumah Rara akan ada acara pernikahan, lebih tepat nya pernikahan Rara dan Avin. Rara sedang di menunggu mempelai pria nya datang ditemani saudara nya Vinoy, Vinoy ialah anak dari kakak ibu nya.
*Kediam Ravin.
Keluarga besar Nyonya Hellen dan rekan kerjanya sudah siap pergi menuju rumah mempelai wanita, namun kehadiran Avin belum terlihat membuat semua keluarga dan rekan kerja Nyonya Hellen bertanya-tanya.
Nyonya Hellen yang tau dengan ucapan semua keluarga dan rekan kerja nya merasa malu, cepat-cepat Nyonya Hellen memanggil anak nya Salma.
"Salma, mana anakmu? Jangan buat malu ibu" Tanya Nyonya Hellen sedikit marah.
"Mungkin masih ada di kamar bu" Balas Bu Salma.
"Panggilkan cepat! Kita harus segera berangkat" Ucap Nyonya Hellen tegas.
"Baik bu, Salma akan kemarnya sekarang" Balas Bu Salma takut akan ibu nya yang sudah marah.
Bu Salma melangkah kan kaki nya menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar anaknya, setelah di hadapan kamar anak nya Bu Salma masuk ke dalam kamar anaknya, terlihat Avin sedang memandang ke arah luar jendela.
"Avin.. " Ucap Bu Salma mengagetkan Avin, karena sebelumnya Bu Salma tidak mengetuk dulu pintu.
"Ah ibu bikin kaget aja, apa kita akan berangkat?" Tanya Avin kaget.
"Maaf kan ibu nak, iya kita harus cepat berangkat karena nenek di bawah sudah marah-marah" Balas Bu Salma.
"Baiklah bu ayo ke bawah" Ajak Avin menggandeng tangan ibu nya.
Sebenarnya pikiran Avin sangat kacau, Avin memang menyukai Rara tapi menikahi bukan dengan cara seperti ini. Pikirannya sungguh tidak jelas satu sisi Avin menyukai Rara dan satu sisi lain Avin harus memperjuangkan cinta nya kepada Zen. Namun sayang harapan untuk menyatakan cintanya kepada Zen harus pupus.
Dengan langkah yang lamban, Avin dan ibu nya menuruni tangga dan bergabung dengan keluarga Hellen dan rekan kerjanya. Avin menyapa semuanya, Avin sebenarnya malas untuk menyapa nya namun lirikan nenek nya yang membuat takut.
Setalah siap semua keluarga Avin berangkat menuju rumah Rara, sengaja tidak di selenggarakan di hotel atau gedung mewah karena ini semua permintaan Avin.
Rara yang khawatir jika Avin tidak akan datang menjadi gelisah dan merana, dari tadi Rara mundar-mandir membuat Vinoy pusing melihat nya.
__ADS_1
"Diamlah! Kau membuat ku pusing saja!" Bentak Vinoy sebal.
Setelah berucap, Vinoy mendengar mobil yang terhenti dan di lihat nya Avin telah tiba, cekatan Vinoy memberitahu kan Rara yang dari tadi sibuk mundar-mandir.
"Berhentilah anak bodoh! Calon Suami mu telah tiba" Ucap Vinoy ketus.
"Benarkah ka? Apa aku sudah cantik?" Tanya Rara gugup.
"Cantikan juga aku" Balas Vinoy tertawa.
Vinoy dan Rara memang tidak akrab dari kecil, mereka hanya tau bertarung dan memaki satu sama lain sewaktu kecil. Seiring beranjak dewasa, Rara agak membaik kepada Vinoy namun Vinoy masih saja seperti menyebalkan.
Tak lama Bu Ira, ibunya Rara datang dan menyuruh Rara untuk keluar, Rara keluar dan melihat ketampanan Avin yang sangat menawan.
Singkat cerita, semua sudah selesai dan jalan dengan lancar kini Avin dan Rara sah menjadi suami istri, Rara sangat bangga atas kerja keras nya untuk mendapatkan Avin.
Arul datang menghadiri undangan Rara, Kevin dan istrinya pun datang hanya sebentar. Arul merekam detik-detik Avin mengucapkan ijab qobul dan di kirimnya ke Zen.
*Zen ini vidio tonton yah, ini rekaman Rara menikah. Waktu saat itu akan memberitahu mu tapi sayang kamu sudah keburu kembali ke Inggris.
Begitulah isi pesan Arul yang tak pernah lupa akan Zen sahabatnya, walaupun hanya beberapa tahun mengenal Zen, Arul sangat bangga karena Zen terlihat wanita mandiri, kuat dan pekerja keras.
*Kediaman Zen, Inggris.
Negara Inggris tanah kelahiran Zen, ketika Zen keluar kamar mandi sudah beres mandi ponsel Zen berderiang sebentar menandakan ada pesan masuk. Zen melihat nama yang tertera di layar ponsel ternyata Arul yang mengirim pesan.
Zen melihat isi pesan sahabatnya dan menonton vidio yang Arul kirim, hati Zen seketika hancur. Baru saja hati nya sembuh akibat ulah orang tua nya yang bercerai, kini hati Zen sakit melihat Avin menikahi Rara.
Kau tak berhak menangis Zen! Avin bukan siapa-siapa bagi dirimu!. Batin Zen.
Zen cepat berganti pakaina dengan pakaian kerja nya, usai siap Zen melangkah keluar tanpa menyapa nenek nya. Ken yang melihat kedatangan Zen langsung membuka pintu mobil dan benar saja Zen langsung memasuki nya.
Ken melajukan mobil yang ia kendarai dengan kecepatan sedang, Ken memikir kan wajah Zen dari tadi yang tidak bersahabat.
Apa yang terjadi pada nona Zen? Mengapa nona Zen terlihat sedih?. Batin Ken bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ken bawa aku ke tempat tenang yah, terserah kemana saja asal jangan ke kantor dulu ya" Ucap Zen.
"Baik nona" Balas Ken ragu.
Aku bawa nona kemana? Ah aku tau aku bawa nona ke tempat favorit ku saja. Batin Ken.
Setelah satu jam lebih Ken baru sampai di tempat tujuan nya, Ken membuka pintu belakang agar Zen keluar. Zen keluar melihat sekekeling tempat yang belum pernah ia kunjungi.
"Dimana kita?" Tanya Zen bingung.
"Ikuti saya saja dulu nona" Balas Ken tersenyum.
"Baiklah" Balas Zen.
Hampir 30 menit Zen dan Ken berjalan membuat kaki gadis cantik ini terasa sakit, namun Zen menahan rasa sakit nya karena penasaran denga tempat yang di tunjukan Ken.
Dan akhirnya Zen dan Ken sampai, cape yang di rasakan Zen terbayar dengan keindahan danau ini.
"Aku tidak pernah tau ada danau secantik ini Ken" Ucap Zen takjub.
"Ini tempat saya merenung nona, dikala saya rindu dengan orang tua saya dan merasa banyak masalah saya akan datang kesini. Setelah datang kesini semua kerinduan dan masalah terobati" Balas Ken menjelaskan.
"Apa aku boleh bercerita kepada mu Ken?" Tanya Zen gugup.
"Berceritalah nona, saya akan mendengar nya" Balas Ken tersenyum.
Zen menceritakan semua tentang kejadian orang tua nya kemudian menceritakan tentang kejadian kisah asmara nya yang bertepuk sebelah tangan. Tak tersangka Zen mengeluarkan semua unek-unek nya kepada Ken, dan Ken membalas ceritanya dengan penub rasa iba.
Zen menangis di hadapan Ken, membuat Ken refleks menghapus air mata Zen yang tumah melewati pipinya.
"Jangan menangis nona, tidak sepatut nya nona menangisi pria seperti dia" Ucap Ken menenangkan.
Zen mendengar ucapan segala kata yang ken kelurkan dan dengan refleks nya juga Zen memeluk tubuh kekar Ken, ada kehangatan tersendiri ketika memeluk Ken membuat Zen nyaman dan ingin berlama-lama memeluk Ken. Namun Zen sadar ia pun berterimakasih kepada Ken atas semua perhatian nya.
Yuuu dukungan nya mana sih readers, author nunggu nih.
__ADS_1