
Usai menyuguhkan camilan dan teh untuk Nyonya Lista, Ken pamit untuk memanggil Zen yang sedang berada di kamar. Perlahan Ken mengetuk pintu lalu membuka kannya nampak wanita cantik yang sedang duduk di sofa kamar dengan camilan sambil menonton drama korea kesukaannya.
"Sayang, maaf mas ganggu. Di bawah ada nenek katanya ingin bertemu" Tutur Ken pelan.
Zen menoleh kearah suaminya.
"Nenek?" Balas Zen bertanya.
Dengan cepat Zen berlari keluar kamar untuk menemui neneknya.
"Sayang jangan lari!!" Teriak Ken mengejar istrinya.
Zen berlari menuju ruang keluarga tempat nenek nya singghan, dari kejauhan Zen melihat sosok nenek nya yang sedang duduk menyurup secangkir teh. Keriputnya menghiasa wajah yang dulu sangat mulus dan cantik itu, perlahan Zen berjalan menghampiri nenek nya.
"Nek.." Panggil Zen dengan nada yang pelan.
Nyonya Lista mengarahkan pandangannya menuju sumber suara.
Zen menatap mata nenek nya kemudian Zen menangis memeluk neneknya, Ken yang baru sampai tahu akan kesedihan istrinya lalu Ken duduk di sofa sebelahan Nyonya Lista.
"Nenek maaf kan Zen, Zen jarang mengunjungi nenek di kala usia nenek telah menua" Tutur Zen dengan tangisan.
Mata Nyonya Lista mulai berkaca-kaca mendengar ucapan cucuk kesayangan nya itu.
"Cucuk nenek udah gede" Balas Nyonya Lista tersenyum.
"Zen cucuk durhaka, mas Ken selalu mengajak Zen berkunjung kerumah nenek namun Zen selalu ada alasan untuk tak jadi berkunjung, tadi saja Zen dan mas Ken mau kerumah nenek tapi Zen tiba-tiba mual" Tutur Zen menangis tersedu.
Nyonya Lista melepas pelukan cucuk nya, Nyonya Lista menghapus air mata cucuk nya.
"Jangan menangis, nenek tak apa Zen jika kau dan suami mu tak berkunjung" Balas Nyonya Lista dengan air mata yang ingin ia tumpah kan namun Nyonya Lista sekuat tenaga menahannya.
"Zen durhaka nek, Zen membiarkan nenek hidup dalam kesepain, Zen durhaka nek. Nenek dari dulu selalu ada untuk Zen disaat Zen sedih disaat Zen kesepian, namun Zen selalu tak ada di saat nenek sedih dan kesepian" Balas Zen terus menangis.
Ken yang tahu jika dari dulu nenek nya lah yang selalu mengurus Zen, perlahan Ken pun meneteskan air matanya karena larut dalam kesedihan.
"Cucuk nenek yang manja" Tutur Nyonya Lista menangis kemudian memeluk Zen kembali.
Dalam adegan haru itu terdengar suara bel rumah berbunyi membuat semuanya mengarah pada pintu.
__ADS_1
"Permisi nek, Ken membuka kan pintu dulu" Tutur Ken sopan.
"Silahkan Ken" Balas Nyonya Lista.
Ken berjalan menuju pintu utama rumah nya, Ken membuka pintu dan nampak sosok yang ia kenal.
"Ken" Sapa wanita itu yang tak lain ialah Tari ibu dari Zen.
"Ibu Tari" Balas Ken terkejut.
"Apa saya boleh bertemu dengan anak saya?" Tutur Tari berharap.
"Tentu saja, Zen dan nenek ada di dalam. Tapi saya tak menjamin jika ibu di marahi Zen" Balas Ken.
"Tak apa, saya tahu resiko nya Ken" Tutur Tari.
"Baiklah, mari masuk" Balas Ken.
Ken menuntun Tari menuju ruang keluarga nya, Zen dan Nyonya Lista yang sedang duduk bersama terkejut dengan kedatangan Tari.
Emosi Zen kembali saat melihat Tari berada di belakang suaminya, Zen berdiri dari duduk nya dengan emosi yang memuncak dengan sigap Ken memegang istrinya.
"Sayang sabar lah jangan emosi dulu" Tambah Ken menenangkan istri nya.
Kim yang menunggu Tari di dalam mobil seketika mendengar teriakan yang sangat kencang, dengan sigap Kim keluar dari mobil lalu memasuk kedalam rumah Ken tanpa permisi, nampak Tari tengah menangis di hadapan dua wanita dan juga seorang lelaki.
"Sayang kau tak apa?" Kim mengejutkan Tari.
"Siapa dia Tari?" Tutur Nyonya Lista.
"Ibu menikah lagi? Tanpa sepengetahuan anak dan orang tua ibu hah" Balas Zen dengan emosi.
Ken yang muak dengan sifat kekanak-kanakan Zen mencoba melepaskan tubuh Zen.
"Berhenti Zen! Kau harus sopan dengan ibu mu!" Tutur Ken tegas.
"Iya Zen berhenti seperti ini, izin kan ibumu menjelaskan semua nya!" Tambah Nyonya Lista.
Zen seketika tenang, usai Zen tenang Ken mempersilahkan Tari dan lelaki yang berada dengan Tari duduk.
__ADS_1
Tari dan Kim duduk di sofa yang bersebelahan dengan Nyonya Lista, sedangkan Zen merasa sedikit muak dengan ibu nya yang menikah lagi.
"Ada apa Tari?" Tutur Nyonya Lista.
"Kedatangan Tari kemari ingin meminta maaf pada ibu dab juga Zen" Balas Tari berjongkok di hadapan ibu nya dengan tangisan.
Perlahan Nyonya Lista mengelus kepala anak nya itu dengan air mata nya.
"Ibu sudah memaafkan segala kesalahan mu, bahkan ibu selalu mengharapkan kau datang" Balas Nyonya Lista menangis.
"Tari tahu banyak salah pada ibu, tapi Tari ingin menebus semua dosa Tari pada ibu juga pada Zen" Tutur Tari dengan tangisan.
"Ibu sudah memaafkan mu nak, jangan pergi dari ibu lagi nak" Balas Nyonya Lista.
Usai mendapakan maaf dari ibu nya, kini Tari melangkah menuju Zen, Tari menangis tersedu-sedu di hadapan anak nya sedangkan Zen melihat ibu nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ibu tahu kamu kecewa pada ibu tapi ibu mohon pada mu Zen maaf kan ibu, ibu memang bukan ibu yang baik untuk mu tapi ibu mu mau kau menjadi yang terbaik untuk anak mu kelak" Tutur Tari menangis.
Tak terasa air mata Zen kembali turun dengan sigap Zen memeluk ibunya, Tari dengan terkejut mendapat pelukan dari anak semata wayang nya itu merasa bahagia bercampur haru.
"Janji pada Zen untuk tidak pergi lagi, dan janji pada Zen untuk menjaga nenek" Tutur Zen sembari melepas pelukan pada ibu nya.
"Ibu berjanji nak" Balas Tari senang.
Tari mengenalkan Kim pada ibu dan anak nya, akhirnya keinginan Kim untuk mempunyai anak tetwujud walau hanya sebatas anak tiri.
"Saya senang karena Tari telah mengenalkan saya pada ibu dan anak kandung nya, saya ingin memiliki anak walau pun hanya sebatas anak tiri" Tutur Kim tersenyum.
Zen senang karena suami pilihan ibu nya kini bukan lelaki yang menjadi musuh keluarga nya.
"Zen harap, pak Kim bisa menjaga ibu saya dan saya mohon pada pak Kim untuk tidak menyakiti ibu saya" Ancam Zen.
"Kamu bisa mempercayai saya untuk menjaga ibu mu" Balas Kim tersenyum.
Karena semua sudah akur dan berkumpul, Tari dan Zen berencana akan memasak makanan untuk makan siang bersama, kebahagian Zen hari ini tak terukir karena semua yang ia wujudkan dulu telah tercapai. Tak berbeda jauh dari Zen, Tari pun sangat senang dan bahagia karena ibu dan anak nya kini telah menerima kehadirannya dan suaminya di terima dengan amat sangat senang.
--
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1