
Zen melamun di depan pintu apartemen Ken bersama dengan Zavanya.
"Baiklah Zavanya sekarang tante antar pulang kamu ya?" Tawar Zen.
"Baik tante" Balas Zavanya.
Zen dan Zavanya keluar dari area apartemen menuju parkiran, Zen memasuki mobil nya begitu pun Zavanya.
Zen melajukan mobilnya menuju alamt hotel yang Kevin senggahi, setengah jam berlalu akhirnya Zen dan Zavany tiba.
Nampak dari lobi Kevin dan istrinya keluar, dengan cepat Zen dan Zavanya berlari menghampiri nya.
"Kevin" Teriak Zen.
Kevin dan Rose melirik pada arah sumber suara.
"Zen.. " Balas Kevin.
Zavanya berlari menuju ibunya.
"Kenapa Zavanya bisa ada dengan mu?" Tanya Kevin.
"Oh iya tadi Zavanya berada di apartemen Ken, dan aku datang untuk bertemu Ken namun sayang Ken tak ada" Tutur Zen menjelaskan.
Mendengar penjelasan Zen bahwa anak nya terus mengejar Ken membuat Kevin marah.
"Ayah sudah bilang jangan dekat dengan orang dewasa!!" Bentak Kevin pada Zavanya.
Zavanya ketakutan dengan memeluk ibunya.
"Vin, jangan begitu, Zavanya menganggap Ken hanya sebatas kakak saja" Tutur Zen tersenyum pada Zavanya.
"Benarkah Zen? Aku sungguh minta maaf atas kesalah pahaman yang melibatkan anak ku" Balas Kevin.
"Tak apa Vin, bay the way aku duluan ya Vin" Tutur Zen pamit.
"Baiklah, terimakasih" Balas Kevin.
Kini Zen berjalan menuju mobilnya, Zen masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan tak karuan karena Zen tak tahu Ken pergi kemana.
Karena Zen merasa bersedih, Zen memilih untuk pulang ke rumah saja dari pada kembali ke kantor.
--
Ken tiba di Paris dengan selamat, nampak paman Ken menunggu Ken dengan keluarga yang lainnya.
__ADS_1
Paman Ken memeluk Ken dengan mata yang berkaca-kaca bergantian dengan istri paman Ken, paman Ken ialah adik dari ayah nya Ken. Semenjak orang tua Ken meninggal, paman dan bibi nya lah yang mengurus Ken layak na anak kandung karena pamam dan bibi Ken tak di karuniai sang buah hati.
"Ken kau sehat disana?" Tanya bibi Ken dengan perasaan haru.
"Aku baik-baik saja bi, aku bahkan di perlakukan sangat baik oleh keluarga Nyonya Lista" Balas Ken.
Usai melepas rindu paman Ken dan bibi nya mengajak Ken untuk pulang menuju rumah peninggalan orang tua Ken.
Di perjalanan pulang Ken melamun duduk di jok belakang sambil melihat keindahan kota Paris, tak banyak berubah kota Paris masih sama saat Ken kecil dulu.
Dari bandara menuju rumah Ken jarak nya tak terlalu jauh sehingga tak memakan waktu yang lama, kini Ken beserta paman dan bibi nya tiba. Ken keluar dari mobil, Ken melirik ke arah sekitar rumah nya, rumah nya tetap sama seperti dulu.
Peelahan Ken mulai menitikan air mata nya mengingat kenangan dulu keluarga nya, bibi Ken yang melihat Ken menangis mulai memeluk Ken karena bibi Ken tahu alasan kenapa Ken menangis.
"Paman mu tak ingin merubah rumah ini semenjak kau pergi kembali ke Inggris" Tutur bibi Ken yang sama menangis.
Paman Ken ikut dengan kesediban pokanakannya.
"Terimakasih telah menjaga nya" Tutur Ken.
Larut dalam kesedihan, kini Ken menginjakan kaki nya lagi di rumah nya sejak beberapa tahun lalu tinggal di Inggris bekerja untuk Nyonya Lista.
Ken melangkah kaki nya di kamar nya dulu, saat Ken membuka kamar nya Ken sangat rindu akan sosok orang tuanya. Kamar yang sama dengan foto Ken dari kecil hingga dewasa beserta orang tua nya masih terpajang rapih dalam keadaan bersih.
Ken duduk di ranjang nya sambil memandang lurus ke arah jendela.
--
1 bulan kemudian.
Setelah kepergian Ken yang mendadak membuat Zen menjadi wanita yang selalu mengurugkan dirinya sendiri di makan, makan harus di bawa kan ke kamar, selalu tak ingin bekerja.
Ayah Zen hari ini berkunjung untuk ke Inggris untuk menemui putri, ayah Zen tak datang sendiri. Aya Zen datang bersama istri nya Elle dan juga dua anak tiri nya Satria dan Jessie.
Ayah Zen menginjakan kaki nya lagi di kediaman Nyonya Lista, dan Nyonya Lista menyambut nya dengan senang hati.
"Lama tak berjumpa Ali" Sapa Nyonya Lista.
"Iya bu, Ali sibuk dengan pekerjaan di Belanda sehingga Ali belum ada waktu untuk melihat Zen" Balas Pak Ali.
"Lebih baik kau Ali mantan menantu ibu yang masih ingin melihat anak mu, beda dengan Tari anak kandung ibu yang tak pernah datang kemari" Tutur Nyonya Lista sedih.
Elle merasa iba pada mantan mertua suaminya, Elle dengan sungkan memeluk mantan mertua suaminya. Nyonya Lista yang mendapat pelukan mendadak merasa kaget bercampur senang karena Nyonya Lista karena pasal nya Tari sudah tak pernah memeluk nya.
Ali kaget dengan keberanian istrinya, dengan cekatan Ali memisahkan pelukan istrinya.
__ADS_1
"Ibu maafkan Elle" Tutur Pak Ali.
"Tak apa Ali ibu senang" Balas Nyonya Lista.
Setelah pembukaan itu, Nyonya Lista mengajak keluarga Ali masuk ke dalam rumah.
Pak Ali dan keluarga di persilahkan duduk oleh Nyonya Lista, dan tak lama datang pembantu dengan membawa minunan.
"Diminum" Tawar Nyonya Lista.
"Maaf ibu, dimana Zen?" Tutur Elle mencari Zen.
"Zen ada di kamar nya, 1 bulan terakhir Zen mengurung dirinya di kamar setelah kepergian Ken" Balas Nyonya Lista sedih.
"Ken? Asistennya?" Tambah Pak Ali.
"Iyah, Zen dan Ken saling mencintai namun sayang Ken pergi ke kampung halamannya" Balas Nyonya Lista.
"Kenapa dia pergi bu?" Tanya Pak Ali.
Nyonya Lista menceritakan masalah terakhir kali yang Zen dan Ken alami, memang kesalah pahaman yang kecil itu dibuat menjadi besar oleh Zen.
"Kenapa asisten Zen tak kembali lagi?" Tambah Satria.
"Saya kurang tahu karena Ken tak bisa saya hubungi" Balas Nyonya Lista.
"Maaf bu apa saya bisa berjumpa dengan Zen? Mungkin Zen butuh teman" Tutur Elle.
Nyonya Lista mempersilahkannya, Elle berjalan menuju kamar Zen dengan di antar oleh salah satu pembantu.
"Ini nyonya muda kamar nona Zen" Tunjuk pelayan.
"Baik, terimakasih" Balas Elle.
Pelayan itu pergi melanjutkan pekerjaan nya lagi, sedangkan Elle perlahan mengetuk pintu kamar Zen.
Zen yang sedang di dalam kamar sambil mendengar musik dari kotak musik yang di berikan Ken seketika melirik pintu yang di ketuk.
"Masuk saja, tak di kunci" Tutur Zen.
Setelah ada perintah masuk, langsung saja Elle membuka pintu dan masuk nampak Zen sedang menatap kotak musik di meja nya tanpa melihat Elle.
Elle melihag sekeliling kamar Zen yang berantakan, baju, piring dan banyak remahan camilan yang berserakan.
Elle memangil nama Zen dengan lembut.
__ADS_1
"Zen" Panggil Elle yang masih berdiri di ambang pintu.