Anak Broken Home Menemukan Cintanya

Anak Broken Home Menemukan Cintanya
Ken Berjuang Kembali


__ADS_3

Zen meninggalkan Ken berlalu menuju area parkiran, nampak Vanka dan Arul beserta anak nya. Zen mengambil Sean dari gendongan Vanka.


"Terimakasih Vanka, Arul dan juga Vio" Tutur Zen mencubit pelan hidung Vio.


"Tak masalah, jika kau butuh batuan kami hubungi saja" Balas Arul.


"Baiklah, jika begitu aku pamit yah" Tutur Zen.


"Silahkan Zen" Balas Arul.


Zen masuk ke dalam mobil bersama dengan Sean yang menangis, Zen melajukan mobilnya. Ditengah perjalanan Zen memarahi Sean.


"Mommy bilang jangan main dengan wanita yang menyebut dirinya ibu Sean!!" Tutur Zen.


"Sean bilang mamah bukan ibu" Balas Sean nyeplos.


"Jangan membantah! Mau ibu atau mamah jangan pernah!!" Bentak Zen marah.


--


Ken keluar dari area taman berpapasan dengan Vanka bersama suami dan anak nya.


"Ken apa kabar?" Tanya Arul.


"Arul lama tak berjumpa, kabar ku baik" Balas Ken.


"Ken aku ingin bertanya, apa kau ada niat untuk mendekati Zen lagi?" Tanya Vanka.


"Seperti nya begitu, apa ada masalah?" Balas Ken.


"Jika kau ingin mendekati Zen kembali jauhi Zavanya!" Tutur Vanka meninggalkan Arul dan Ken.


"Maaf kan Vanka, Ken" Tutur Arul.


"Tak apa, aku tahu karena Vanka khawatir pada Zen" Balas Ken mengerti.


"Baiklah jika begitu, terus lah ambil hati Zen. Aku, Vanka aku selalu mendukung mu" Tutur Arul.


Arul bersama dengan anak nya pamit menyusul Vanka sedang kan Ken pergi menuju apartemennya.


--


Zen tiba di kediaman Nyonya Lista dengan Sean yang berlari menangis, Tari dan Nyonya Lista yang mendengar tangisan Sean segera melihat nya.


Nampak Sean berlari sambil menangis, Tari merentang kan tangannya memeluk Sean.


"Cucuk grandma yang tampan kenapa menangis? Apa daddy memarahi mu" Tanya Tari menenangkan.


Sean menggeleng masih dengan tangisannya, dari arah luar nampak Zen dengan wajah emosi nya.

__ADS_1


"Ada apa ini Zen?" Tanya Nyonya Lista.


"Jangan biarkan Ken bertemu dengan Sean!!" Balas Zen marah.


"Ada apa, jelaskan Zen" Tutur Tari.


"Ikuti saja perkataan ku!! Dan Sean mommy marah pada mu!" Balas Zen melenggang pergi.


Sean menangis di pelukan Tari dengan tersedu-sedu, Tari dan Nyonya Lista saling pandang tak tahu apa yang terjadi pada Zen, Ken dan juga Sean.


Zen memasuki ruang kerja nya, Zen melihat berkas yang banyak di meja nya. Zen meraih tas nya mengambil ponsel yang ada di dalam nya.


Zen menekan nama Kenya lalu menelpon nya.


*Kenya. Sapa Zen.


*Ya nona, ada yang bisa saya bantu?. Tanya Kenya.


*Berkas yang kau kirim ke rumah ku, apa ini berkas penting?. Balas Zen bertanya.


*Berkas penanam saham dari Wijaya Corp perusahaan milik tuan Ken, beliau ingin menanam kan saham nya di perusahaan nona. Tutur Kenya menjelaskan.


*Tolak apa pun yang berhubungan dengan Ken! Memang nya perusahaan ku miskin sehingga butuh modal kembali!!. Gerutu Zen marah.


Tanpa menunggu jawaban dari Kenya, Zen menutup panggilannya, amarah Zen terus memuncak karena kecemburuan nya walau pun Zen tahu ia bukanlah siapa-siapa nya lagi Ken.


Zen berteriak di dalam ruang kerja nya.


"Ahhh!!! Ya aku cemburu, apa kau puas Ken?!!" Gerutu Zen sendiri.


Dari arah luar rumah datang lah Satria dan Jessie yang berkunjung kemari, Tari dan Nyonya Lista menyambut ke datangan Satria dan Jessie.


"Apa kabar sayang?" Tanya Tari memeluk Jessie.


"Baik ibu" Balas Jessie senang.


Satria memberi salam pada Tari dan Nyonya Lista, kemudian Nyonya Lista mempersilahkan mereka untuk masuk, karena sudah masuk waktu makan siang Jessie dan Satria di bawa menuju meja makan.


"Karena sudah masuk waktu makan siang, mari kita makan dulu" Tutur Nyonya Lista.


Nyonya Lista mempersilahkan duduk, Tari bersama pelayan menyiapkan makanan yang sudah di buat.


"Nek, Kak Zen dan Sean kemana?" Tanya Jessie.


"Ah Sean sedang tidur di temani suster sedang kan Zen sedang di ruang kerja nya" Balas Nyonya Lista.


"Begitu yah" Tutur Jessie tersenyum.


"Pelayan tolong panggil kan Zen" Perintah Tari.

__ADS_1


Satria menghentikan langkah pelayan.


"Pelayan kau di sini saja, ibu biar aku yang memanggil Zen" Tutur Satria.


"Baiklah silahkan Satria, Zen ada di ruang kerja nya" Balas Tari.


"Iya bu" Tutur Satria.


Satria meninggalkan meja makan berlalu menuju ruang kerja Zen, sebelumnya Satria sering kemari jadi Satria tahu letak ruangan di rumah ini.


Satria mengetuk pintu nya namun Zen tak bersuara, Satria memegang handle pintu yang kebetulan tak di kunci. Satria membuka perlahan dan nampak lah Zen sedang resah di meja kerjanya.


"Zen" Tutur Satria.


Zen menoleh melihat ke arah sumber suara, alangkah terkejut nya Zen menampaki kakak tirinya.


"Maaf Zen tadi kakak sudah mengetuk namun kau tak mendengar nya" Tutur Satria.


"Ah iya tak apa kak, silahkan duduk kak. Apa Jessie juga kemari?" Tanya Zen.


"Terimakasih, iya Jessie kemari juga. Kakak kemari mau memanggil mu untuk makan siang bersama" Balas Satria.


"Ah begitu, nanti aku menyusul kak" Tutur Zen dengan wajah resah nya.


Satria memandang wajah Zen yang lusuh dan resah.


"Apa ada masalah?" Tanya Satria.


"Ah tak ada kak, tak ada apa-apa" Balas Zen berbohong.


"Jika ada apa-apa beri tahu kakak, kau adik ku sudah seharusnya aku membantu mu" Tutur Satria beranjak kemudian mengelus kepala Zen.


Satria pamit keluar meninggalkan Zen yang masih diam di meja kerja nya.


Sungguh aku beruntung memiliki kakak yang baik dan juga tampan seperti mu Kak Satria. Batin Zen senang.


Zen keluar ruang kerja nya, kemudian Zen berlalu menuju kamar putra. Zen membuka perlahan, nampak Sean yang tengah tertidur dengan lelap.


Zen mendekat pada Sean, Zen duduk di pinggir tempat tidur Sean. Zen mengelus perlahan kepala putra nya.


Apa mommy salah jika mommy melarang mu untuk tidak mempunyai ibu baru? Apa mommy egois tidak memperboleh kan daddy mempunyai kekasih lagi. Batin Zen menangis.


"Mommy terlalu takut untuk melihat daddy mu bahagia, mommy masih mencintai nya tapi mommy masih takut untuk memberitahu kan nya sayang" Tutur Zen.


Sean terusik dari tidur nya, kemudian terlelap kembali. Zen merebaha dirinya di samping Sean sambil terus menangis.


Apa jika dulu aku tak mengambil keputusan itu kita akan bahagia? Apa Sean akan bahagia jika hari-hari nya ada daddy nya yang selalu setia menamani nya. Batin Zen menyesal.


"Damn!! Aku memang bodoh! Aku memang egois! Aku telah memisah kan anak ku dari ayah kandung nya. Gerutu Zen marah pada diri nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2